
Sementara itu, Destia kini sedang mencari cara agar Alysa bisa segera pergi dari kehidupan Angga. Ia menatap di cermin dengan tatapan misteriusnya.
"Alysa, sebentar lagi kau akan pergi dari kehidupan, Mas Angga. Gue harus cari cara biar lo segera keluar dari rumah mewah itu biar gue bisa masuk dan menjadi, Nyonya."
Destia mengambil ponselnya di nakas dan ia segera menghubungi seseorang yang disebut anak buahnya untuk melancarkan aksi jahatnya.
"Kita ketemuan di Caffe X. Dan bawa anak buahmu yang lainnya, sekarang!"
"Baik, Nyonya. Saya akan segera kesana, sesuai permintaan."
Destia menutup teleponnya dan segera berganti pakaian. Malam ini ia akan merencanakan sesuatu, jika rencananya gagal maka ia akan mencebloskan anak buahnya ke penjara. Begitu penuturan otak liciknya.
Destia diantarkan oleh supir pribadi ke Caffe tujuannya. Ia memandangi wajah Angga di sebuah ponsel. "Mas Angga, sebentar lagi kau akan menjadi milikku. Dan aku akan menjadi Nyonya Angga."
Mobil tiba di parkiran Caffe X. Destia turun dengan menggunakan kacamata hitam membuat seseorang dari kejauhan menatap dirinya dengan tersenyum misterius. Ia berjalan masuk dan duduk di salah satu kursi pojok agar tak ada yang mendengar ucapannya nanti dengan anak buahnya.
Ia duduk dan membuka kacamatanya perlahan. Ia mengamati semua pengunjung yang tidak begitu ramai. Setelah itu ia memesan minuman pada pelayan.
"Buatkan minuman yang istimewa di Caffe ini!" ucap Destia dan pelayan itu pun mengangguknya.
"Baik, Nyonya."
Seseorang yang tadi memperhatikan Destia, kini ia sedang duduk tak jauh dari Destia. Ia menatap lekat wajah Destia dan tersirat sesuatu dipikirannya.
"Malam yang mencekam. Kau hanya sendirian, membuatku akan melancarkan aksi itu," gumamnya sembari menatap Destia. Namun Destia tak merasa ada yang aneh dengan laki-laki itu.
Pesanan datang dan segera disajikan di meja. Destia mengeluarkan ponselnya lagi dan menghubungi anak buahnya.
"Dimana kau?"
"Saya lagi diperjalanan, Nyonya. Harap tunggu sebentar."
Lima belas menit kemudian, akhirnya yang ditunggu-tunggu pun datang juga. Ia menghampiri Destia dengan empat anak buah lainnya.
"Maaf, Nyonya."
"Ya tidak apa-apa. Duduklah," Destia mengamati semua laki-laki yang ada di depannya yang berjumlah lima orang tersebut.
"Saya akan memberi pekerjaan pada kalian. Kalian harus mencelakai wanita yang bernama Alysa besok. Kalau kalian bisa mencelakainya, bonus pun akan lebih besar dari uang yang saya kasih hari ini. Ini uang DP-nya, kalau kalian benar-benar sudah mencelakainya, uang pun akan bertambah." jelas Destia dengan memberikan amplop berwarna coklat.
"Fotonya?"
"Saya tidak punya fotonya. Tapi akan saya beri alamat rumahnya," Destia mengirimkan alamat rumah Angga pada anak buahnya.
"Ingat, kau harus mencelakainya."
"Baik, Nyonya. Asalkan uangnya lebih besar dari ini, hahaha..."
__ADS_1
"Beres. Asal kalian juga benar kerjanya."
"Kalau begitu saya dan yang lainnya permisi, Nyonya. Besok saya akan segera melakukan tugas yang Nyonya pinta," semua laki-laki suruhan Destia segera pergi dan meninggalkan Destia seorang diri.
Laki-laki yang berada di seberang Destia masih terus memperhatikannya. Sepertinya dia ingin berkenalan dengan Destia. Tanpa berfikir panjang, ia berjalan mendekati Destia.
"Hai? Boleh duduk?" sapanya dengan tersenyum.
"Ohh...Hai, boleh," sahut Destia dan memperhatikan wajah laki-laki yang ada di depannya.
"Sendirian aja?" tanyanya.
"Ya. Kau juga sendiri!"
"Haha...Kita pindah ke ruang privasi di Caffe ini yuk?" ajaknya.
"Hmm...Sepertinya ide yang bagus," Destia dan laki-laki itu pun segera pergi menuju ruangan privasi di Caffe itu yang berada di lantai dua.
***
"Kau suka minum?" tanyanya ketika sudah sampai di lantai dua di ruangan privasi.
"Dulu sih. Tapi sekarang jarang," sahut Destia. Ia tahu maksud laki-laki yang ada di sampingnya.
"Gimana kalau hari ini kita minum. Ya sebagai teman baru gitu," ajaknya membuat Destia berfikir sebentar.
Kalau gue minum, bisa gak sadarkan diri nih. Batin Destia.
Gue juga lagi pusing nih. Lebih baik gue minum aja, mikirin Mas Angga jadi suami gue, entah kapan itu terjadi. Batin Destia.
Sepertinya wanita ini cukup intens dengan ucapan gue. Kalau dia udah mabuk, gue sikat aja. Batin laki-laki itu.
Laki-laki itu segera memesan minuman tiga botol. Dan membawanya lalu menyerahkannya pada Destia.
"Ayo kita minum. Gue lagi ada masalah," ajaknya dan Destia pun menerima botol itu dan meneguknya.
"Sama, gue juga punya masalah hidup."
Setelah beberapa menit kemudian, Destia sudah tak sadarkan diri akibat terlalu banyak minum hingga satu botol habis. Laki-laki itu mulai menyeringai dan matanya merah hendak menerkamnya.
Kayaknya udah teler nih. Gue sikat aja ahh. Lumayan body-nya, kayaknya masih p***wan nih.
***
Pagi hari, Alysa bangun dan mendapati Angga masih tertidur dengan memegangi perutnya. Ia segera beranjak dan menguncir rambutnya, lalu pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya. Setelah itu ia segera membangunkan Angga untuk melakukan shalat subuh.
"Mas, bangun! Shalat dulu sana," Alysa menggoyangkan tangan Angga.
__ADS_1
"Mas?" Angga perlahan membuka matanya dan ia menatap Alysa yang terlibat begitu cantik dengan memperlihatkan leher putihnya.
"Hmm...Iya sebentar lagi," ucap Angga dengan suara serak khas bangun tidur.
"Ini udah pukul 05.00 WIB, Mas."
"Iya-iya, Mas bangun."
"Alysa ke kamar sebelah dulu mau bangunin Edward dan setelah itu mau masak."
"Iya sayang," Angga mendekati Alysa dan menciumnya.
Alysa segera pergi menuju kamar yang berada di sebelahnya. Ia masuk dan segera membangunkan anak gembulnya.
"Sayang, ayo bangun," Alysa menepuk lembut pipi Edward.
"Gak mau..."
"Ayo, kamu harus sekolah sayang. Nanti kalau abis pulang sekolah kita jalan-jalan lagi sama Papa," Alysa berpura-pura agar Edward bangun.
"Yang benel, Ma?" tanya Edward lalu bangun dan segera melipat selimutnya
"Iya. Ayo kamu mandi dulu."
***
Setelah memandikan Edward, Alysa segera pergi ke dapur untuk masak. Setelah Bi Sarinah dan Siska tidak kembali lagi kesini, kini ia harus mengerjakannya sendirian. Ditambah, Pakde Slamet juga tidak kembali lagi kesini membuat Alysa harus naik ojek ketika tidak ada Angga. Tiba-tiba, Ibu datang dan membantunya masak.
Hari ini akan kedatangan tamu yang cukup istimewa bagi Azkia. Siapa lagi kalau bukan Ryan. Membayangkannya saja pasti berbunga-bunga, apalagi kalau bertemu secara langsung. Kini Alysa di sibukkan membuat ayam kecap dan masakan lainnya. Ibu bertugas menanak nasi. Tak lupa juga, Alysa membuat kopi untuk Angga dan juga Ayahnya.
Waktu menunjukkan pukul 06.00 WIB. Alysa pergi ke kamarnya untuk menyuruh Angga dan Edward segera sarapan, karena Angga hari ini akan let kantor lebih pagi. Edward sudah dimandikan oleh Azkia karena Alysa begitu repot hari ini. Tiba di kamar, ia melihat Angga belum memakai dasinya dan Alysa pun berinisiatif memasangkannya.
"Alysa bantuin ya, Mas," ucap Alysa dan segera memasangkan dasi pada leher Angga. Angga tersenyum dan mencium kening Alysa.
"Mas, pulangnya jangan sore banget. Nanti kan ada Pak Ryan mau kesini," ucap Alysa setelah selesai memasangkan dasi.
"Iya sayang."
"Ayo, Mas. Kita sarapan dulu," mereka pun segera pergi dan tiba-tiba Edward masuk.
"Papa, nanti jadikan kita jalan-jalan?" tanya Edward dengan antusias membuat Angga mengernyitkan dahinya.
"Kapan Papa bicara kayak gitu?" tanya Angga tidak mengerti.
"Tadiii...Kata Mama, katanya Papa mau ngajakin Edwald jalan-jalan," memasangkan wajah gemesnya membuat Angga tidak bisa menolak keinginan anaknya.
Angga menoleh pada Alysa membuat Alysa nyengir, "Hehe...Kali-kali, Mas."
__ADS_1
"Ya sudah. Nanti sore ya, kalau Papa udah pulang."
Jangan lupa untuk dukung Author dengan cara Vote, Like, Comment sebanyak-banyaknya ya😄❤