Menikahi Duda Tampan

Menikahi Duda Tampan
BAB 65


__ADS_3

Melangkah beriringan dengan si buah hati yang tampak kegirangan. Alysa menuntun jari-jemarinya, melangkah lebih jauh dari tempat ia duduk tadi. Dercak air masih terdengar ditelinganya walaupun sudah melangkah lebih jauh. Sang suami menyambutnya dengan senyuman yang terukir dibibir manisnya. Papa mertua segera memangku si kecil, terlihat dari raut wajah Mama mertua sangatlah berbeda akan hal itu.


Membungkuk dan rasa berterima kasih terucap didalam hatinya. Mencium tangan usang itu dan mencoba tegar dengan nasibnya.


"Assalamu'alaikum, Ma," mencium telapak tangan Mama mertua dengan tersenyum. Sang mertua seperti biasa menampakkan wajah kesalnya pada menantunya itu.


"Waalaikumsalam!" ucapnya tanpa menoleh siapa yang memberi salam padanya.


Alysa berjalan menuju Papa mertua yang kini sedang memangku anaknya. Ia mengambil tangan usangnya dan menciumnya dengan lembut. "Assalamu'alaikum, Pa."


"Waalaikumsalam, Nak. Duduklah bersama suami dan juga mertuamu. Papa mau main dulu sama cucu tampan ini," perintahnya dan Alysa pun menurutinya duduk disamping suaminya.


Tak ada perbincangan apapun diantara mereka. Mereka menyibukkan kembali aktivitasnya. Tak terlebih dengan Alysa yang memang sangat canggung jika berkunjung ke rumah mertuanya. Tatapan mertua begitu mengintimidasi pada menantunya. Alysa yang melihat itu hanya tertunduk.


"Kenapa kau belum hamil?" tanya Mama basa-basi menatap tajam Alysa membuat Alysa cukup terkejut. Sudah jelas-jelas dirinya yang sudah merencanakan semuanya agar menantunya tidak memberikan keturunan pada anaknya. Diam-diam Alysa dan Angga menyembunyikan itu dan membuang semua obat-obatan yang sudah diberikan mertuanya.


"Belum tumbuh, Ma!" ucap Angga membuat Mamanya menatap Angga.


"Mama tanya istrimu!" ucap Mama menunjuk Alysa.


"Kalau pun Mama yang tanya padanya, pasti akan sama jawabannya!" ucap Angga langsung pergi ke dapur untuk membawa cemilan.


Saat ini di ruang tamu hanya ada Alysa dan juga Mama mertuanya. Mama menatap Alysa dari atas hingga bawah. Penampilan yang sedikit berbeda. Ya, karena Alysa sudah bekerja dan mungkin saja fashionnya akan merubah penampilanya.


"Enak ya, nikah sama anak saya?"


Alysa terdiam dan menunduk. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang sudah menghampirinya. Angga kembali menghampiri keduanya dengan membawa cemilan ditangannya.


"Tegang banget! Nih Ma, makan dulu (menyodorkan cemilan pada Alysa)" ucap Angga membuat Mamanya menatap dengan keanehan.


Mama? Kenapa wanita kampung itu di sebut, Mama? Kayak gak ada yang lain aja. Awas kau tinggal dua minggu lagi pernikahanmu. Saya pastikan kau akan keluar dan pergi dari kehidupan anak saya.


Destia, sayang. Tenang ya, tante akan segera menikahkannya dengan anak tante. Tante akan mengusir wanita kampung ini.


Sikecil Edward begitu bahagia bermain dengan kakeknya. Ia berlari hingga kakek mengejarnya. Alysa melihat itu dan ada kesedihan dalam dirinya. Mungkin Mama mertuanya sendiri benar-benar akan mengusirnya dan membuat diri harus jauh dengan keluarga kecilnya. Tidak bisa dipungkiri. Semua ini atas kehendaknya dan ia hanya bisa pasrah menjalaninya.

__ADS_1


Waktu semakin dekat. Perasaan dulu yang sempat terasa sakit, kini terulang kembali. Ucapan-ucapan mertua yang membuat Alysa seperti sudah dicabik-cabik hatinya. Entah sampai kapan ia bisa terbebas dari ucapan yang menyakitkan itu.


Menjelang sore, Angga serta istri dan anaknya masih berada di rumah orangtuanya. Alysa memasak untuk makan sore dan dibantu oleh para pembantu rumah. Edward sudah tidur di kamar kakek dan neneknya sehabis bermain. Waktunya makan sore pun segera, Angga menarik kursi untuk istrinya duduk. Ia duduk di dekatnya dan segera mengedarkan pandangannya pada siang istri.


"Pa, aku ambilin ya?" pinta Alysa pada Angga seperti biasa, jika di rumah pun ia selalu seperti ini pada Angga. Angga mengangguk kecil.


"Mama sama Papa juga, Alysa yang ambilin ya?" pinta Alysa kembali dan Papa mertuanya pun mengangguk.


Setelah memberikan sepiring nasi dan lauknya, mereka pun segera menyantapnya. Papa mertua sangat memuji masakan Alysa yang sangat lezat. Ia tidak menyangka, jika menantunya ini sangatlah pandai memasak. Walaupun Alysa masih terlihat seperti seorang gadis kecil baginya, namun Alysa bertarung nyawa demi keluarganya. Di usia 20 tahunnya itu ia habiskan mengurus keluarga kecilnya. Suami serta anaknya yang sangat ia sayangi.


Acara makan sore sudah selesai, para laki-laki segera pergi ke ruang keluarga untuk menonton acara televisi. Alysa segera membereskan piring-piring dimeja. Walaupun pembantu rumah tidak mengizinkannya, tapi Alysa tetap saja mengeyel dan kekeh. Pembantu tidak bisa menahannya lagi, itu semua keinginan Nyonya mudanya.


"Nyonya muda, biarkan. Ini pekerjaanku, Nyonya bisa duduk disana," ucap pembantu.


"Enggak apa-apa, Bi. Alysa bantu ya, biar bibi enggak terlalu capek bekerja untuk hari ini," ucap Alysa tersenyum ramah.


"Tapi, Nyonya..." ucapnya terpotong.


"Biarkan dia yang membersihkannya. Bukankah seorang menantu juga sama sepertimu?" celetuk Mama dari ruang makan yang melihat kejadian antara menantu dan pembantu rumahnya.


Alysa begitu semangat mencuci piring dan menaruhnya kembali di rak piring dengan sempurna. Ia mengelap semua yang terasa kotor saat dilihatnya. Mamanya Angga memperhatikan semua gerak-gerik Alysa. Ada rasa kagum di hatinya, tapi itu tidak membuat dirinya merasa kasihan dengan menantunya.


Mungkin wanita kampung itu hanya ingin saya melihatnya. Lagi pula, saya tidak akan pernah menerimanya.


Hari semakin malam, Alysa menggoyangkan tangan suaminya yang sedang asyik berbincang-bincang dengan Papa dan Mamanya. Angga tak bergeming dengan Alysa. Alysa menyandarkan kepalanya pada bahu Angga membuat Angga menoleh dan mengerutkan dahinya.


Ada apa nih? Pasti ada sesuatu.


"Kenapa, Ma?" tanya Angga.


"Ayo pulang, Pa. Ini sudah malam," ucap Alysa.


Papa mertua yang mendengar ucapan merekapun segera menyuruhnya untuk menginap disini malam ini saja. Alysa sempat menolak, namun Angga mengutak-atik fikiran istrinya. Akhirnya Alysa pun mengiyakannya. Ia segera pamit pada Mama dan Papanya untuk melihat Edward.


Alysa masih takjub dengan isinya rumah mertuanya ini. Karena ini pertama kalinya ia masuk ke ruangan-ruangan tertentu yang ada di rumah ini. Sebelumnya ia hanya duduk di sofa ruang tamu tanpa menginjak kaki ke ruangan lainnya. Alysa menaiki anak tangga menuju kamar mertuanya untuk membawa Edward dan menidurkan nya di kamar tamu. Alysa segera mencari keberadaan kamar, kamar di rumah ini cukup banyak membuatnya kebingungan.

__ADS_1


"Kamarnya yang mana sih? Banyak banget!" gumam Alysa.


Alysa membuka pintu kamar satu per satu, namun ia tidak menemukan anaknya disana. Ia sudah membuka pintu kamar yang ke empat, tinggal satu kamar lagi yang belum ia buka. Kamar itu sangatlah besar, fikirnya. Alysa berjalan dan membukanya. Yang pertama ia lihat adalah ranjang. Anak kecil sedang terlelap di bawah selimut tebalnya. Alysa menghampirinya dan mengecup pucuk kepalanya.


Alysa melihat seisi kamar itu, memang sangat besar dari kamarnya. Di dekat balkon terlihat ada alat fitnes dengan berbagai macam alat yang tersedia disana. Foto-foto semasa suaminya kecilpun ada disana terpajang dengan sempurna. Alysa mendekat dan mengambil foto Angga ketika berusia 8 tahunan. Sangat tampan.


"Papa tampan banget sih? Wajahnya kayak Edward nih (menoleh ke arah putranya yang masih tertidur)"


"Waktu itu, Papa ceritain kalau dia punya adik perempuan namanya Mira. Mungkin Mira juga tak kalah cantik pastinya. Mama mertua juga cantik, tapi aku takut melihat matanya seperti akan copot begitu saja!" Alysa tersenyum kecil dan menaruh fotonya kembali di nakas.


Alysa membawa tubuh putranya keluar dari kamar. Ia masuk ke salah satu kamar tamu yang tidak begitu jauh dari kamar mertuanya.


"Capek banget!" merebahkan tubuhnya di ranjang sembari menatap wajah putra semata wayangnya. Tak terasa rasa kantuk pun mulang menyerangnya dan membuatnya tertidur.


Angga yang berbincang pun segera pamit untuk menyusul istrinya yang sudah berada di kamar. Mereka mengangguk setuju. Angga menaiki anak tangga dan mencoba membuka satu per satu kamar. Ia tidak tahu jika istrinya akan tidur di kamar yang mana.


Setelah terlihat wajah istri dan putranya, Angga masuk dan merenggangkan dasi dan pakaiannya. Ia akan membersihkan diri sebelum merebahkan tubuhnya. Setelah selesai, Angga mengambil pakaian tamu yang sudah disiapkan disana.


"Ma...?" menggoyangkan tangan istrinya yang kini sudah terlelap ke dunia lain.


"Emmhhh..." menepis tangan suaminya yang menempel dan kembali tertidur.


"Cintaku..." bisik Angga, ingin sekali ia tertawa mendengarnya.


"Mama ngantuk. Lain kali aja!" ucap Alysa, entah itu ia menyadarinya jika Angga akan memintanya atau mengingau saja.


Angga yang tak pantang agar istrinya bangun pun terus saja menggodanya membuat Alysa menatap tajam padanya.


"Papa mau ngapain? Ini udah malam banget! Sebaiknya Papa tidur sekarang ya, besok Papa harus bekerja!" ucap Alysa membuat Angga segera mencium bibir merah istrinya. Alysa yang mendapat serangan tiba-tiba dari suaminya pun ia tidak bisa lagi menolaknya.


Malam itu dua insan sedang memadu cinta di atas kasur empuknya. Membuat alunan irama dari keduanya dengan seiring gerakan-gerakan memompa keringat. Malam yang mencekam bagi para jomblo, namun tidak dengan mereka. Ditambah guyuran air hujan yang menambah kenikmatan bagi kedua insan dibawah selimut tebal.


***


Jangan lupa Vote sebanyak-banyaknya ya hehešŸ¤§ā¤

__ADS_1


__ADS_2