Menikahi Duda Tampan

Menikahi Duda Tampan
S2-BAB 91


__ADS_3

Devi dan kedua rekan kerjanya segera pamit pada Ibu dan Ayah Alysa. Mereka mengiyakannya dan langsung pergi menemui Alysa yang kini sudah berada di kamarnya. Ibu terlihat panik dan mencoba menanyakan keluhan yang di derita putrinya itu.


"Kamu sakit apa, Nak? Dimana yang sakitnya? Tangannya sakit? Kepalanya? Atau kakinya? Yah, tolong bawain teh anget sama air anget ya, Ibu mau kompresin," Alysa yang mendengar cerewetan Ibunya langsung tertawa puas. Ibunya begitu mengkhawatirkan dirinya.


Ayah langsung mengedarkan pandangannya pada Ibu. "Satu-satu dong, Bu. Jangan terlalu cerewet."


"Udah, nanti aja bicaranya. Ambilin sekarang, Yah." Ayah langsung pergi ke dapur setelah mendapat lirikan tajam dari Ibu.


Alysa masih saja tertawa melihat kelucuan itu. Ibu beranjak membawa pakaian ganti. "Kamu mau ganti pakaian kerja dulu?" tanya Ibu saat pakaian ganti sudah berada di tangannya.


"Nanti aja, Bu. Alysa mau istirahat dulu." jawab Alysa. Namun, tiba-tiba perutnya mulai berteriak lagi ingin memuntahkan semua isi perutnya. Alysa langsung lari ke kamar mandi, hingga akan menabrak Ayahnya yang sedang berjalan menuju kamar.


"Ehh. Maaf, Yah. Alysa..." Alysa langsung berlari sekenceng mungkin. Sampai di kamar mandi, ia memuntahkan semuanya.


OEK... OEK...


Ibu segera menyusul Alysa dan mencoba membantunya.


"Kenapa, Nak? Kamu masuk angin? Kita panggilin Dokter?" tanya Ibu panik dan berusaha membantu Alysa yang kini masih memuntahkan isi perutnya.


OEK..


"Ya Allah, Nak."


"Bu, bantu Alysa ke kamar. Alysa gak kuat berdiri."


Sampai di kamar, Alysa membaringkan tubuhnya dan Ibu menawarkan teh hangat agar kondisi tubuh Alysa tidak terlalu lemah. Alysa menggelengkan kepalanya dan mencoba untuk tidur, agar kondisinya semakin membaik.


Alysa tertidur, Ibu segera pergi membuatkan bubur. Ayah pergi keluar untuk membeli obat di apotik. Tidak berapa lama, Azkia dan Zaki datang.


"Assalamu'alaikum. Ibu...Ayah..." ucap Azkia dan Zaki bersamaan. Mereka masuk ke dapur dan mencium tangan Ibu.


"Waalaikumsalam. Udah pulang nih?" tanya Ibu.


"Udah, Bu. Kan sebentar lagi kita mau ujian. Ibu masak bubur? Siapa yang sakit?" tanya Azkia.


"Iya, Bu. Siapa yang sakit?" tanya Zaki.


"Kakak kalian sa..." ucap Ibu terpotong.


"Kak-kak Alysa? Sakit apa, Bu?" tanya Azkia terkejut, ia langsung lari ke kamar Alysa dan mencoba melihat kondisi sang Kakak. Disusul pula oleh Zaki yang tak kalah terkejut.


TOK TOK TOK


"Kak?"


"Kak, boleh masuk? Katanya, Kakak lagi sakit." Karena tak ada jawaban apapun dari si pemilik kamar, mereka segera masuk.


CEKLEK


"kak..." Azkia berusaha menggoyangkan tangan Alysa.


"Bangun, Kak. Kakak, sakit apa?" Zaki menyimpan punggung tangannya di dahi Alysa. "Panas, Kia. Mungkin demam."


Alysa terbangun, karena suara berisik dari sampingnya. Ia membuka matanya perlahan dan mencoba mengamati siapa yang membuat kegaduhan dikamarnya.


"Udah pulang?" tanya Alysa. Tiba-tiba, perutnya bereaksi kembali. Ia langsung lari ke kamar mandi.


"Kak..." teriak Zaki saat Alysa pergi dari kamar dengan menutupi mulutnya. "Kenapa sih? Sakit apa itu? Demam? Atau...Atau, Kak Alysa hamil..." ucap Zaki spontan membuat Azkia menatapnya tidak percaya.


"Hamil? Aaaa... Hamil? Iyakah? Mau punya ponakan lagi dong," ucap Azkia menggoyangkan badannya sambil tersenyum.


"Yeaaa...Kakak hamil. Ye ye ye ye..."

__ADS_1


"Kalo nanti anaknya lahir cowok. Kita kasih nama apa ya?" tanya Azkia.


"Tommy, bagus gak?" tanya Zaki yakin.


"Enggak-enggak. Yang bagus gitu! Ayo dong berfikir. Soalnya, kan kita mau punya ponakan. Gak sabar banget, pasti ganteng banget kalo cowok."


"Ehh, emangnya kamu yakin, kalo nanti lahirnya cowok? Kalo cewek gimana?" tanya Zaki merasa tidak suka dengan Azkia.


"Lho, inikan feeling, Kia. Kalo kamu gak percaya, ya udah," Azkia segera pergi meninggalkan Zaki. Zaki segera berlari menyusul Azkia.


"Kita taruhan. Kalo memang nanti keluarnya cowok, nanti aku kasih permen satu biji. Tapi, kalo aku yang menang. Kamu harus beliin aku coklat silverqueen dua. Gimana-gimana?" ucap Zaki dengan menaikan kedua alisnya sembari tersenyum puas.


Azkia melototkan matanya. "Apa-apaan ini. Taruhannya kok gak asik. Masa iya, aku dikasih permen satu biji. Dan kamu malah minta coklat. Itu gak kebalik? Aku yakin, Kakakku anaknya cowok."


Mereka berdebat kembali sampai Alysa dan Ibu datang dan mencoba menanyakan apa yang terjadi dengan mereka. Alysa duduk di sofa, Ibu mendekati keduanya.


"Ributin apa? Kasihan Kakak lagi sakit, kok malah ribut."


"Ibu tau gak?" pertanyaan dari Azkia membuat Ibu dan Alysa sedikit penasaran.


"Ibu gak tau. Kalian juga belum ngasih tau."


"Ehh, enggak jadi deh. Takutnya aku salah bicara. Ayo, Ki. Kita ke kamar nonton film drakor, kan hari ini udah tayang nih." mereka segera pergi ke kamarnya masing.


Alysa dibuat penasaran dan mencoba berfikir.


Apa yang mau mereka bicarain?


Alysa kembali ke kamarnya dan mencoba mengambil ponselnya. Beberapa panggilan tidak terjawab sudah memenuhi notifikasinya.


"Oh, iya. Hari ini kan mau ketemu sama, Kak David. Aku batalin ajalah. Lagian, akunya juga lagi gak enak badan."


Setelah mengirimkan pesan pada David, Alysa langsung teringat kembali dengan Edward. Si anak kecil yang menggemaskan dan tentunya kini ia sangat merindukan anak itu.


Entah apa yang terjadi dengan Alysa, sampai-sampai ia teringat dengan anak tirinya itu. Alysa sangat teringin bertemu dengan anak itu. Ia sudah tidak bisa menunggunya terlalu lama.


Aku harus kesana.


Alysa segera berganti pakaian. Ia harus bertemu dengan anak tirinya. Sudah lama ia tidak melihatnya. Rasa kerinduannya sudah memuncak. Ia tidak mempermasalahkan kondisi kesehatannya sekarang. Alysa sudah bersiap dan hendak pergi. Tapi, ia merasa ada yang janggal.


Lho, motornya kemana ya? Tadikan, aku ke kantor bawa motor. Terus...Oh, iya kan motor aku di kantor. Terus gimana aku kesananya?


Tiba-tiba, Ayah datang dari apotik dengan membawa beberapa macam obat. Alysa langsung membawa obat itu dan meminumnya.


Aku udah minum obat, sekarang aku harus kesana.


Belum sempat ia pergi, Ayah segera menghentikan langkahnya. "Mau kemana, Nak? Istirahat aja, kan lagi sakit. Besok kita periksakan ke Dokter."


"Hmm...Hmm..." Alysa gelagapan. Ia tahu jika orang tuanya sudah membenci Angga, karena sudah membuat anaknya menjadi seperti ini. Kalaupun ia mencoba berbohong, ia pasti akan di interogasi.


Gimana nih? Aku pergi enggak ya? Soalnya aku pengen banget ketemu sama Edward. Tapi, kalo aku bicara jujur, pasti Ibu dan Ayah ngelarang banget.


"Hmm...Aku mau keluar sebentar, Yah. Bolehkan? Mau cari angin. Hehe.." Alysa tersenyum manis membuat Ayahnya menggelengkan kepalanya. "Bolehkan, Yah? Sebentar aja kok. Nanti pulangnya, Alysa beliin martabak kesukaan Ayah, ya?"


"Ya udah, tapi hati-hati ya jalannya."


"Iya, Ayah sayang. Assalamu'alaikum." Alysa mencium punggung tangan Ayahnya dan setelah itu ia segera pergi.


Untung Ayah gak begitu curiga. Kalo tau, aku pasti udah di kurung di kamar, gara-gara mau ketemu sama Edward.


Alysa melangkah lebih jauh, ia akan memesan ojek online. Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya ojek online pun datang. Alysa langsung naik dan motor segera melaju dengan cepat. Alysa tersenyum, akhirnya keinginannya itu bisa tercapai.


"Ehh, kalo nanti ada Mas Angga disana gimana ya? Ahh, mungkin belum pulang, inikan masih jam kantor. Pokoknya, aku harus kesana."

__ADS_1


Motor melaju lebih jauh dan sekarang sudah melewati beberapa rumah mewah dan megah. Semuanya rumah-rumah Konglomerat kaya. Saat Alysa melihat rumah yang tidak begitu asing, ia segera menghentikan ojeknya.


"Berhenti disini, Pak. Jangan pergi ya, Pak. Saya hanya sebentar." Ojek itu mengangguk setuju.


Alysa tersenyum lebar saat melihat rumahnya dulu.Tidak ada yang berbeda disana. Masih sama dan tentunya semua kenangan-kenangan dulu membuatnya teringat kembali. Suka duka yang ia alami waktu itu membuatnya menjadi wanita tegar dan juga sabar.


"Mas, aku mau lihat Edward, bolehkan? Dia juga anakku. Aku sangat merindukan dirinya. Ehh, tapi kalo nanti ada Mbak Destia gimana?" Alysa masih belum mengetahui pra kontra masalah antara Angga dan Destia. Ia masih mengira jika mereka sudah menikah. Namun, karena ia sangat ingin bertemu dengan Edward, ia tidak mempermasalahkan semuanya. Ia akan bicara baik-baik dengan Destia.


Alysa masuk, karena tidak ada penjaga di rumah itu. Ia berjalan masuk dan hendak memencet bel rumah. Ia mengatur nafasnya yang memburu.


Tenang Alysa.


TING TONG TING TONG


Pintu terbuka yang menampakkan seorang pembantu paruh baya. Alysa tersenyum dan segera mencium tangan pembantu itu.


"Assalamu'alaikum. Bi, saya Aly..." ucap Alysa terhenti. Ia berfikir sejenak.


Aku tidak boleh mengatakan nama itu.


"Saya Gita, sepupunya Mas Angga."


"Oh, sepupunya ya? Ayo mari masuk, Mbak." Alysa masuk dan melihat situasi di rumah itu. Rumah itu tidak ada perubahan sedikitpun, masih sama seperti dulu.


"Ayo duduk dulu, Mbak. Saya buatkan teh ya?"


"Enggak usah, Bi. Saya kesini cuma mau ketemu Edward. Dia udah pulang sekolah kan?"


"Den Edward hari ini gak sekolah, Mbak."


"Terus, dimana dia sekarang? Ada di kamarnya?"


"Den Edward ada di rumah, Nyonya besar."


Alysa tampak terdiam, mencerna ucapan dari pembantu itu. Nyonya besar? Maksudnya, Nyonya besar yang mana? Mama mertua? Atau Destia?


"Jadi, gak ada disini?"


"Gak ada, Mbak. Disini hanya ada Bibi aja. Tuan juga belum pulang dari kantornya."


"Terus, Nyonya di rumah ini kemana?"


"Nyonya? Disini gak ada Nyonya, Mbak."


Tiba-tiba, ponsel Alysa berdering. Azkia? Alysa langsung mengangkatnya.


"Assalamu'alaikum, iya Kia gimana?"


"Waalaikumsalam, dimana Kak?"


"Di jalan. Sebentar lagi Kakak nyampe ke rumah." Alysa langsung menutup teleponnya dan ia harus cepat-cepat pulang ke rumahnya. Alysa segera pamit pulang. Karena percuma saja, toh Edwardnya juga gak ada di rumah.


"Ya udah, Bi. Lain kali aja saya kesini. Bi, jangan kasih tau Tuan ya?" Alysa memegangi tangan pembantu itu dengan erat.


"Kenapa, Mbak?"


"Udah, Bi. Rahasia kita aja ya? Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam. Hati-hati ya, Mbak."


***


Alysa hamil gak nih? Kita cari tahu aja di BAB selanjutnya. Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya kakakšŸ¤—ā¤

__ADS_1


__ADS_2