
Willy mendatangi kantor kepolisian lagi di hari berikutnya. Ia harus menuntaskan masalah ini. Ia berharap, semua bisa berjalan kembali dengan normal tanpa ada masalah apapun mengenai Direkturnya.
"Bagaimana, Pak. Apa bukti masih belum kuat?" tanya Willy.
"Kami sudah memprosesnya. Bapak harap menunggu hasilnya. Saya yakin jika Pak Angga tidaklah bersalah dalam hal ini. Saya mau bertanya, apa mereka berdua sudah melakukan hubungan suami istri? Karena orang tua dari pihak wanita selalu mengatakan ini, jika anak mereka sudah tidak suci lagi!"
"Saya kurang tau Pak untuk masalah ini. Tapi yang jelas, Direktur saya sudah dijebak wanita itu. Saya harap, Bapak tidak akan memberatkan kasus ini dan Direktur saya bisa bebas."
"Baiklah, Pak. Kalo memang bukti sudah cukup kuat semuanya, saya akan segera menangkap wanita itu."
"Pak, satu lagi orang yang sudah merencanakan ini namanya Adryan. Dia kabur setelah meeting dengan Direktur saya. Saya mohon untuk mencari keberadaannya dan menjebloskannya ke penjara," titah Willy dengan nada penekanan.
Polisi mengangguk setuju, "Kami akan melakukan pencarian terhadap saudara Adryan. Bapak jangan terlalu cemas. Kami akan mengerahkan pasukan kami di berbagai, Kota."
***
Beberapa hari setelah kepergian Alysa, Angga menjadi pria dingin dan kejam. Amarahnya selalu tidak bisa dikontrol ketika karyawannya melakukan kesalahan hal sepele. Ia masih tidak rela istrinya pergi meninggalkan cinta yang mendalam di hatinya. Sosok Alysa mampu membuat Angga menjadi pria lemah lembut pada siapapun.
Si kecil terus saja menangis meminta Alysa untuk pulang ke rumahnya. Angga yang mendengar itu langsung memarahinya. Sudah berkali-kali ia mengatakan, jika Mamanya susah pergi dan tidak akan pernah kembali lagi. Di hari selanjutnya pun masih dengan pertanyaan-pertanyaan yang sama. Edward merindukan Mamanya. Ia ingin bermanja-manja, bermain, pergi ke sekolah dan di jemput oleh Mamanya. Ia sangat merindukannya sampai menangis setiap hari dan mogok sekolah.
Angga sudah mencari kesana kemari, hingga mengerahkan orang-orang kepercayaannya untuk mencari keberadaan Alysa. Namun hasilnya nihil. Alysa tidak bisa di temukan. Sebenarnya Alysa tidak pergi jauh dari Angga. Ia masih berada di satu Kota yang sama, agar dirinya bisa melihat putra kecilnya, walaupun itu sangat sulit.
Ketika Alysa merasa rindu dengan putranya, ia akan datang ke sekolah hingga menunggunya pulang dari kejauhan, agar Edward mengerti dan tidak akan pernah memikirkannya lagi. Hatinya sakit, saat melihat wajah putranya tanpa ceria dan keantusiasannya. Ingin sekali ia memeluknya, menciuminya dan bermanja-manja dengannya. Ia rindu di saat-saat seperti itu.
__ADS_1
Alysa selama beberapa hari ini merahasiakan identitasnya pada orang-orang sekitar yang mencoba menanyakan identitasnya. Ia selalu menghindar ketika orang-orang mencoba mendekatinya. Ia begitu trauma jika harus mengenal orang-orang baru. Alysa hanya ingin hidup menyendiri untuk saat ini. Ia tidak akan memikirkan Angga dan Edward lagi. Namun ia tidak bisa melupakan mereka begitu saja, jika ia teringat kembali dengan mereka, sudah pasti ia akan menangis sepanjang hari.
Saat ini Angga akan mencari keberadaan Alysa yang ke lima hari. Di hari-hari sebelumnya ia tidak menemukan titik terang keberadaan istrinya. Ditelepon pun Alysa tidak pernah menjawabnya. Ia rapuh dengan kepergiannya. Ia menginginkan sosok itu dan kembali kepadanya. Dengan niat kerja keras dan sebuah foto Alysa, akhirnya ia segera pergi dan meminta Willy untuk mengurusi perusahaan untuk sementara waktu. Ia juga menitipkan Edward pada pembantu barunya, untuk menjaganya ketika ia sedang berada di luar. Wajahnya penuh dengan kecemasan. Hatinya sakit, fikirannya tidak bisa dikendalikan dengan baik.
Mobil sudah melaju sekitar satu jam. Angga terus mencari ke berbagai pelosok di Kotanya. Ia berharap Alysa ada disana dan ia akan segera membawanya pulang.
"Ma, kamu dimana? Mama gak sayang lagi sama Papa dan Edward? Edward setiap hari menangis, Papa gak bisa nenanginnya. Papa juga sangat merindukan Mama. Mama pulanglah. Hiks...!" Angga menekan stir mobilnya cukup keras dan menangis sepanjang jalan. Jiwa kelaki-lakiannya kembali memudar jika mengingat Alysa.
Mobil terhenti di sebuah toko kecil. Angga memarkirkannya dan keluar. Ia akan menanyakan Alysa pada orang-orang disana. Angga berjalan sembari menggenggam erat foto Alysa.
"Permisi, Bu," ucap Angga pada Ibu-ibu yang sedang melintas.
"Iya, kenapa Mas?" tanya Ibu itu.
"Coba saya lihat, Mas." Angga segera menyerahkan foto itu. "Hmm, saya gak pernah lihat wanita ini. Apa kamu pernah lihat wanita ini?" tanyanya pada Ibu satunya lagi yang berada di sampingnya.
"Saya juga gak pernah lihat." jawabnya.
"Ya sudah, terima kasih Bu." Angga segera kembali ke mobilnya lagi. Ia harus mencari ke beberapa tempat.
Mobil melaju menuju daerah perkotaan kembali. Matanya kesana kemari melihat trotoar jalanan. Ia berharap Alysa ada di situ. Namun ia tidak menemukannya.
Seharian ini ia habiskan untuk berkeliling mencari keberadaan Alysa. Tapi tak ada satupun yang mengetahui keberadaannya. Angga sempat pasrah, namun sang hati tetap ingin mencarinya. Hari sudah semakin malam, Angga masih mencarinya dan berharap ada keajaiban di saat itu juga.
__ADS_1
"Saya harus segera pulang. Takutnya Edward masih nangis sama pembantu." Angga memutuskan pulang. Ia mengingat putranya di rumah.
Satu jam perjalanan sudah ia lewati. Angga memarkirkan mobilnya di garasi rumah dan segera pergi. Rumahnya sangat sepi. Hanya ada dirinya, Edward dan pembantu barunya. Angga bergegas menaiki tangga, namun pembantu batunya segera menawarinya makan malam terlebih dahulu.
"Pak, makan malamnya sudah siap. Bapak mau makan dulu, apa mau minum kopi dulu?" tawaran pembantunya tidak pernah di hiraukan, Angga segera bergegas menuju kamarnya. Ia membuka pintu kamar dan menampakkan putranya sudah tertidur dengan lelap. Angga mendekat dan menciuminya.
"Maafkan Papa ya, Nak. Papa belum bisa bawa Mama kesini. Tapi kamu gak boleh nangis ya, Papa akan berusaha. Hari ini Papa gak menemani kamu di rumah, Papa sibuk nyari Mama biar kita bisa bertemu lagi. Do'ain Papa ya, Nak. Supaya Mama bisa pulang lagi ke rumah." Angga mw ciumnya dan mengusapi rambutnya.
Setelah lama menatap putranya, Angga segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Hari ini cukup membuatnya kelelahan dan sangat menguras energinya. Perlahan ia surut dalam guyuran air membasahi tubuhnya. Rasa lelah sudah tidak ia rasakan lagi setelah melihat wajah putranya.
***
Selama lima hari terakhir, Alysa hanya berdiam diri rumahnya. Ia sudah menelpon orangtuanya jika dirinya sudah tidak bersama lagi dengan Angga, membuat Ibunya sedih sekaligus kecewa atas apa yang sudah dilakukan Angga terhadap anaknya. Ibunya marah dan menyuruh Alysa untuk pulang ke kampung. Alysa menolak pulang ke kampung, jika ia pulang, maka ia tidak akan melihat wajah putranya lagi ketika ia merindukannya.
Siang ini, Alysa berniat untuk mencari pekerjaan di sebuah perusahaan makanan. Ia tidak ingin terus berdiam di rumahnya tanpa melakukan kegiatan apapun. Uang tabungannya semakin menipis dan membuatnya harus bekerja kembali. Alysa sudah siap dengan pakaian yang dikenakannya. Ia menata rambutnya tergerai dengan indah. Senyuman terlihat dibibir manisnya.
"Alysa semangat. Hidup butuh perjuangan. Kamu tidak boleh bersedih lagi dan lupakan masalahmu untuk saat ini. Ibu, Ayah do'akan Alysa ya. Alysa mau cari kerja, biar bisa transfer uang lagi ke kampung. Edward Mama sangat merindukanmu, kamu merindukan Mama tidak? Apa kamu sudah bahagia sama Mama baru? Kamu masih ceriakan, Mama barunya baikkan? Semoga kamu bahagia ya, kan sekarang mau punya adek kecil. Kamu jangan nangis terus, jangan mikirin Mama Alysa disini ya." tak terasa bulir-bulir air matanya menetes kembali. Ia sangat rapuh jika mengingat putra kesayangannya. Walaupun itu bukan putra kandungnya, tapi rasa sayangnya sangat mendalam.
Alysa melangkah keluar dari rumah dan segera mengunci pintunya. Ojek online sudah ada di depan rumahnya dan Alyaa segera naik motor. Motor melaju dengan kecepatan sedang. Diperjalanan, tatapan Alysa begitu kosong. Ia melamun kembali, fikirannya masih belum normal. Akhir-akhir ini ia sering melamun dan memikirkan nasib hidup kedepannya seperti apa. Apa mungkin ia akan menemukan sosok laki-laki baru yang begitu menyayanginya atau akan bertemu lagi dengan suaminya (Angga).
Maaf baru update lagi. Kemarin-kemarin banyak kerjaan😂 Semoga tetap suka sama alur ceritanya xixi😆😚
Jangan lupa vote, like, comment❤
__ADS_1