
Alysa bangun pada pukul 05.00 WIB, ia merasakan tubuhnya seperti habis ditindas, terasa pegal Dan nyeri dibagian kem*luannya. Alysa berusaha untuk bangkit karena tangan Angga masih terkingkar ditubuhnya. Setelah melepaskan pelukan Angga, ia langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan wajahnya. Setelah itu, ia pergi kedapur untuk memasak dan membantu pekerjaan yang lain.
Disana sudah ada Bi Sarinah yang sedang memasak nasi goreng kesukaan Angga. Alysa menghampirinya dan ikut membantunya. "Bi, Alysa bantu ya" ucap Alysa dan Bi Sarinah pun mengangguknya.
Alysa mengambil bahan masakan di dalam kulkas. Ia mengambil daging dan juga bumbu penyedap. Setelah itu, ia memakai celemek dan memasangkannya. Alysa sangat cekatan dalam memasak, karena ia memang sangat gemar memasak ketika ia masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Bi Sarinah yang tadinya tidak tersenyumpun malah ikut tersenyum, melihat Alysa yang begitu cekatan, dibanding anaknya yang tidak terlalu cekatan dalam memasak.
Alysa mengambil piring besar dan meletakkan ayam kecap dengan rasa yang menggiurkan. Setelah itu, ia mengambil cangkir dan bubuk kopi karena Angga sudah terbiasa dengan secangkir kopi di pagi hari. Siska belum juga menampakkan wajahnya dan membuat Alysa menanyakan keberadaannya pada Ibunya. "Bi, Siska kemana? Belum bangun?" tanya Alysa.
"Belum Nyonya. Dia susah banget kalau bangun pagi," sahut Bi Sarinah.
"Ya sudah tidak apa-apa Bi. Saya ke kamar dulu ya Bi," ucap Alysa segera pergi ke kamarnya.
Bi Sarinah masih memperhatikan punggung Alysa yang semakin menjauhinya. Ia merasa bersalah atas apa yang telah ia perbuat dengan anaknya. Disisi lain ia menginginkan anaknya menjadi istri Angga, namun disisi lain Angga tidak akan pernah menikahi anaknya dan lebih memilih Alysa sebagai istrinya.
Anak yang baik. Maafkan Bibi ya Nya, Bibi terpaksa seperti ini karena keinginan anak Bibi (Siska). Harusnya Bibi gak kayak gini sama Nyonya. Batin Bi Sarinah.
Alysa membuka pintu kamarnya dan segera membangunkan Angga dan juga Edward. Angga dan Edward masih pulas membuat Alysa menepuk-nepuk tangan kedua laki-laki itu. "Mas bangun, ini udah subuh" ucap Alysa, namun Angga tidak juga bangun. "Mas?" lanjutnya.
Perlahan-lahan Angga membuka matanya dan menguceknya. Angga tersenyum dan segera bangun, lalu mencium kening Alysa. "Selamat pagi sayang. Gimana tidurnya tadi, nyenyak gak?" tanya Angga tersenyum dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Pagi Mas. Nyenyak banget, sampai-sampai masih kerasa sakitnya," ucap Alysa menatap Angga dengan kesal.
"Biar didalam perutmu ada adiknya Edward sayang," ucap Angga dengan memegangi perut datar Alysa.
"Tapi Mas, Alysa masih belum siap untuk hamil. Usia Alysa masih 20 tahun," pekik Alysa dengan wajah muram.
"Sayang dengerin ya. Kamu harus segera hamil, kalau kamu hamil pasti Mama juga akan sedikit lebih baik padamu. Masalah usia tidak menjadi masalah. Banyak kok diluaran sana yang masih berusia belasan tahun yang sudah punya anak. Dan diusia kamu yang sekarang itu sudah saatnya kamu hamil" ucap Angga membuat Alysa menatapnya dengan dalam. "Kamu harus hamil ya. Mumpung saya masih muda dan masih kuat haha. Kalau di cancel terus, nanti saya cepat tua Alysa," lanjut Angga terkekeh.
"Tapi..." ucap Alysa terpotong.
__ADS_1
"Jangan ada tapi-tapi. Kamu harus hamil sayang," Angga mencium bibir Alysa dengan lembut, dan Alysa pun menerima ciuman panas itu hingga membuat sesuatu milik Angga berdiri. Angga menekan miliknya agar Alysa tidak melihatnya.
Angga membuka pakaian Alysa dan m****** ******** Alysa dengan lembut, hingga Alysa mengeluarkan suara-suara aneh di bibirnya. Angga semakin ******* bibirnya dan j*niornya semakin mengeras. Angga memposisikan dirinya dan menidurkan Alysa. Ia naik ke atas tubuh Alysa dan mempersempit jarak untuk Alysa. Angga membuka celana Alysa dan memainkan bagian ***** Alysa yang sudah basah karena ulahnya.
Tanpa berfikir panjang, Angga menyatukan miliknya dan membuat Alysa merengis kesakitan. Angga menyumpal mulut Alysa dengan tangannya, agar tidak menimbulkan suara keras. Angga semakin cepat memainkannya hingga Alysa menitikkan air matanya. Dan sampai pada klimaks, Angga memberhentikannya hingga membuat mereka yang sedang bermadu cinta merasakan kenikmatan yang tiada tara.
Angga menciumi kening Alysa dan menyeka air matanya. Setelah itu ia membaringkan tubuhnya disamping Alysa. Untung saja Edward masih pulas tidur dan tidak menggagalkan aksinya dipagi hari ini.
"Sayang, benih-benih sudah saya simpan didalam perutmu. Kau harus menjaganya ya, cup" Angga mengecup pipi Alysa. Alysa menoleh pada Angga dengan tersenyum.
"Iya Mas" ucap Alysa dengan lemas.
Setelah percintaan pagi tadi, Angga dan Alysa langsung membersihkan badannya bersama. Alysa merasa tidak malu lagi dengan Angga, dan ia berfikir mungkin dengan cara ini ia bisa berbakti pada suaminya. Setelah itu, mereka segera berpakaian. Angga memakai pakaian kemeja berwarna putih dengan rompi. Alysa melilitkan dasi dileher Angga, dan membuat Angga mencium keningnya.
Edward sudah Alysa mandikan dan sekarang ia sedang berlari-lari di dalam kamar, membuat Angga dan Alysa tersenyum melihat tingkah lucu anaknya.
"Udah Mas. Ayo kita sarapan dulu, aku udah masak ayam kecap," ucap Alysa tersenyum.
"Iya. Mas mau bilang makasih untuk dua hari ini, kamu tidak menolak Mas sedikitpun. Semoga saja adiknya Edward akan segera ada didalam perutmu," ucap Angga menjongkokkan tubuhnya lalu menciumi perut Alysa.
"Iya Mas, semoga saja. Ayo Mas, nanti kamu terlambat" ucap Alysa. "Ayo sayang jangan lari-lari, kita sarapan dulu yuk," ucap Alysa pada Edward, dan Edward pun mengangguknya. Angga menggendong Edward ke pangkuannya dan segera memboyong Alysa disampingnya.
Setelah selesai sarapan, Angga pamit pada Alysa karena ia harus mengantarkan Edward ke sekolahannya. Alysa mencium tangan Angga dan Angga mencium kening Alysa. Siska yang sejak tadi melihat adegan panas itu membuatnya memukul dinding dengan tangannya sendiri. Alysa mencium pipi gembul Edward hingga berkali-kali, membuat Edward terasa risih.
"Mama jangan dicium telus, nanti Edwald gak tampan lagi" pekik Edward dengan menampilkan wajah gemasnya membuat Alysa menciuminya kembali.
"Anak Mama tampan terus kok. Sekolahnya yang rajin ya sayang, nanti pulang sekolah Mama jemput" ucap Alysa.
"Iya Mama. Holee Edwald dijemput sama Mama..." ucap Edward antusias.
__ADS_1
"Ayo Mas berangkat, takutnya Edward kesiangan sekolahnya. Hati-hati ya Mas dijalannya" ucap Alysa.
"Iya sayang. Mas berangkat dulu ya, kamu jaga diri baik-baik disini, kalau ada apa-apa kabarin Mas ya" ucap Angga.
"Iya Mas" ucap Alysa. Angga segera pergi dengan menggendong Edward, Edward melambaikan tangannya pada Alysa, dan Alysa pun ikut melambaikan tangannya. Alysa memperhatikan mobil Angga sampai tidak terlihat lagi.
***
Keadaan rumah terlihat sepi. Bi Sarinah dan Siska entah ada dimana, pak Slamet akhir-akhir ini sedang sakit dan pulang ke kampung halamannya yang berada di Kota Semarang. Alysa merasakan haus pada dahaganya, dan ia segera pergi ke dapur untuk mengambilnya. Setelah sampai didapur, ia meneguk air putih dalam satu gelas penuh hingga membuat perurnya terasa kembung.
Tiba-tiba terdengar pintu diketuk dari arah depan, membuat Alysa segera meletakkan gelasnya dan segera pergi untuk melihat siapa yang mengetuk pintu. Pintu terus diketuk, dan Alysa pun membukanya. Tampak Mamanya Angga dan juga Destia ada dihadapannya dengan tatapan kesal. Mereka berdua masuk dengan menyenggol bahu Alysa. Alysa menundukkan wajahnya dan segera menutup pintu.
Mama dan Destia sudah duduk dikursi, Alysa pun segera menghampirinya dan mencium tangan Mama mertuanya itu. Namun belum sempat ia memegangi tangannya, Mama menepis tangan Alysa dengan keras, membuat Alysa tidak seimbang dan akhirnya jatuh ke lantai.
"Dasar wanita lemah. Gitu aja langsung jatuh!" ucap Mama dengan ketus. Destia menatap Alysa dengan tatapan tajam dan menusuk.
Alysa berusaha bangkit dan tersenyum. Namun hatinya menangis, ia diperlakukan dengan tidak manusiawi oleh mertuanya itu. Mama beranjak dari duduknya dan menghampiri Alysa.
PLAK...
Ia menampar pipi Alysa dengan keras, membuat Alysa merengis kesakitan dan pertahanan air matanya tidak bisa ia bendung lagi. Alysa menangis, Mama dan juga Destia hanya tertawa melihat wanita yang ada dihadapannya itu.
"Heiii wanita kampung. Berani-beraninya kau tinggal dirumah ini, kau harus pergi dari sini" ucap Mama dengan nada tinggi dan tatapannya tajam menusuk. "Saya selaku Mamanya Anggara Pradifta, tidak akan pernah menerimamu sebagai menantuku. Kau tidaklah pantas bersanding dengan anakku. Kau itu sampah yang ada didalam rumah ini. Seharusnya kau jadi pembantu dirumah ini, bukan menjadi Nyonya!" lanjutnya dengan menunjuk-nunjuk pada dada Alysa.
Alysa hanya bisa diam dan menangis dengan menundukkan wajahnya, ia hanya mendengarkan ucapan Mama mertuanya. Ia tidak bisa berkata apa-apa. Destia tiba-tiba mengeluarkan sesuatu dari tas kecilnya. Ia membuka kotak kecil yang berisikan obat, lalu memberikannya pada Mamanya Angga.
"Tante nih berikan obat ini," ucap Destia dengan memberikan kotak yang berisi obat.
"Kau harus minum obat ini untuk mencegah agar kau tidak hamil. Kalau kau tidak minum obat ini tiap hari, akan saya pastikan untuk memaksa kau kaluar dari rumah ini. Ingat tiap hari harus di minum. Ayo sayang kita pulang!" ucap Mama ketus dan segera pergi. Sebelum keluar, Destia mendorong bahu Alysa dengan keras, membuat Alysa terjatuh tidak berdaya.
__ADS_1