Menikahi Duda Tampan

Menikahi Duda Tampan
BAB 29


__ADS_3

Angga pun datang dan segera mendekati Alysa. Alysa terkejut karena Angga benar-benar sangat tampan, ehh udah tampan sih, tapi kali ini lebih tampan dengan balutan jas berwarna cream dengan perpaduan corak-corak di bagian kerahnya membuat Alysa menatapnya dengan tersenyum.


Ini benarkan pak Angga? Tampan banget ish. Kok aku jadi insecure ya lihatnya. Batin Alysa.


"Wah pangerannya tampan banget. Aku juga pengen punya kayak gini!" Ucap Azkia dengan mata yang berbinar-binar lalu melipat tangannya sendiri dan melingkarkan ke pundaknya.


"Halu mulu nih!" Pekik Zaki dengan memalingkan wajahnya.


"Yeaa kamu tuh sirik banget sama Kia!" Ucap Azkia menjulurkan lidahnya.


"Stttt..!".


"Gimana nih? bagus enggak sayang?" Tanya Angga.


"Alah pake panggil sayang lagi, kan aku juga mau!" Sahut Azkia.


"Diem gak? malu-maluin aja!" Pekik Zaki.


Alysa mendekati Angga dan berkata. "Bagus pak, tampan lagi hehe".


"Gimana nih adik-adik? cocok gak?" Tanya Angga tersenyum dengan memperlihatkan jas yang dikenakannya.


"Cocok banget, serasi lagi!".


Angga membawa Alysa ke dalam ruang ganti dan ia segera mendudukkan Alysa di sebuah sofa. "Nikah sekarang aja yuk hehe!" Ucap Angga terkekeh membuat Alysa memutar bola matanya.


"Ihh besok aja pak. Gak sabaran banget sih!" Pekik Alysa dengan raut wajah kesalnya.


Lama-lama bisa kesemsem nih lihat duda yang satu ini. Batin Alysa.


"Besok lima ronde ya sayang hehe" Ucap Angga dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Lima ronde? Maksudnya gimana pak? Bapak mau ngajak Alysa tinju gitu? Nanti Alysa kalah lah pak, gak mau ahhh gak seru!"


"Hahaha lucu banget kamu. Bukan ngajak tinju, tapi anu lho, e-anu" Ucap Angga dengan menggaruk kepala yang tidak gatal.


"Anu apa? Yang jelas dong pak!"


"Pokoknya kamu harus hamil dalam waktu satu bulan setelah menikah"


"Hah? Itu kecepetan pak, kalau Alysa gak hamil-hamil gimana?"

__ADS_1


"Ya kita usaha terus tiap hari!" Ucap Angga membuat Alysa hanya bisa menelan ludahnya.


"Pak, kita ke rumah Mama yuk? Alysa mau ngucapin terima kasih karena udah ngerestuin pernikahan kita" Ucap Alysa.


"Ayo. Saya yakin, Mama akan menerimamu!" Sahut Angga yakin.


Alysa dan Angga segera berganti pakaian seperti semula, karena ia harus ke rumah Mama. Perjalanan dari toko gaun ke rumah Mama hanya membutuhkan waktu kurang lebih empat puluh menit. Alysa tersenyum ketika Angga mulai membisikkan sesuatu di telinganya. "Besok dandan yang cantik ya sayang" bisik Angga membuat Alysa memberikan senyuman termanisnya.


"Iya" Sahut Alysa.


"Kok iya doang sih?" Tanya Angga kesal tanpa melirik pada Alysa.


"Lah terus terus harus gimana?" Pekik Alysa yang masih tetap dengan pandangannya pada jendela.


"Harusnya kayak gini, 'Iya sayang, kamu juga yang tampan ya besok' nah kayak gitu".


"Haha. Itu lebay banget pak!" Kekeh Alysa.


"Lah itukan bagus untuk kesehatan hati!".


"Apa hubungannya sama hati?".


"Gitu aja gak paham sih yang!".


Angga keluar di ikuti Alysa, Azkia dan Zaki. Para security tidak ada disana, jadi Angga langsung masuk. Dalam beberapa menit, akhirnya pintu dibuka oleh pembantu Mama dan segera mempersilahkan masuk. "Ayo Tuan, Nyonya masuk" Ucap pembantu dengan menundukkan wajahnya.


"Iya bi. Mamanya ada? Apa sedang keluar?" Tanya Angga setelah duduk di sofa, karena ia tidak memberitahu Mamanya jika ia dan Alysa akan berkunjung ke rumah.


"Ada Tuan. Biar bibi panggil dulu" Sahut pembantu dan segera pergi.


Tidak lama kemudian, Mama dan Papa datang menemui kedatangan tamu ke rumahnya yang tak lain adalah anak dan calon menantunya. Mama dan Papa segera duduk Angga segera mencium tangannya, begitu juga dengan Alysa, Azkia dan Zaki. Entah mengapa, kali ini Mamanya Angga tidak merasa jijik bersentuhan tangan dengan Alysa, tapi dari raut wajahnya ia masih seperti dulu. Mungkin ada rencana yang akan ia rencanakan selanjutnya? Hanya dia yang tahu.


"Wahh rame-rame nih sekeluarga!" Ucap Papa tersenyum membuat Alysa menundukkan kepalanya.


Dasar wanita kampungan. Mau enaknya aja nikah sama anak saya. Lihat aja nanti, saya akan buat kau untuk menjauhi anak saya. Sebenarnya saya tidak rela menikahkan Angga dengan kau, tapi demi kebahagiaan anak saya, saya terpaksa menikahkan kalian selama tiga bulan. Batin Mama.


"Iya rame-rame kesini!" Ucap Mama tersenyum kecut.


"Iya Ma, Pa. Sebenarnya ini keinginan Alysa mau bertemu dengan Mama dan Papa, mau ngucapin terima kasih karena udah ngerestuin pernikahan kita!"


"Oh masalah itu. Ya sebenarnya gak harus kesini juga, lagian kan dia udah Mama restuin sama kamu Ga!" Sahut Mama membuat Angga dan Alysa tampak keheranan.

__ADS_1


"Iya Ma. Tadi lewat aja sih, ya udah mampir dulu sekalian ada yang mau Angga bicarain!" Ujar Angga. l


"Mau bicara apa?" Tanya Mama.


"Kita bicara di kamar aja Ma!" Ucap Angga dan segera beranjak dari sofa dengan diikuti Mamanya dibelakang.


Setelah sampai di kamar, Angga langsung membuka pembicaraannya. "Ma?" Ucap Angga.


"Iya mau bicara apa?" Tanya Mama penasaran.


"Apa Mama benar-benar sudah merestui pernikahan Angga dan Alysa?" Tanya Angga, membuat Mamanya tersenyum kecut dan segera beranjak dari ranjang.


"Sebenarnya sih Mama gak setuju kamu mau nikahin wanita itu. Dan Mama lebih setuju kamu menikah dengan wanita yang Mama pilih dan juga setara dengan derajat kita!" Ucap Mama tanpa menoleh pada Angga yang berada di belakangnya.


"Kok Mama kayak gini? Lantas buat apa waktu itu Mama ngerestuin?" Tanya Angga kesal.


"Mama hanya berpikir, kalau kamu nikah sama wanita itu pasti tidak akan bertahan dengan lama. Ingat Ga, dia itu wanita kampung dan juga bisa saja dia mau ngambil uang kamu setelah kalian menikah. Makanya hati-hati kalau wanita itu ada niat buruk buat kamu. Mama gak mau kalau uang kamu dibawa oleh wanita itu!" Pekik Mama.


"Cukup Ma. Alysa tidak seburuk yang Mama kira. Dia itu wanita lemah lembut, penyayang, dan juga wanita mandiri yang jauh berbeda dengan Destia. Alysa tidak akan pernah berpikiran seperti itu. Kalau memang dia menginginkan harta Angga, kan dia juga istri Angga, Alysa berhak atas semua apa yang Angga punya, termasuk uang, rumah, dan fasilitas lainnya. Dia perlu nafkah dan fitrahnya Ma. Sebaiknya Mama jauhi Destia, karena dia punya pengaruh tidak baik untuk pikiran Mama!" Jelas Angga.


"Dengerin Mama Ga. Destia itu wanita cantik, berprofesi dan bisa cari uang sendiri, mandiri, udah punya rumah, keluarganya setara dengan kita, dan yang terakhir dia adapah keturunan dari Kerajaan yang hartanya tidak akan pernah habis tujuh turunan. Jadi kalau kamu menikah dengan dia, rumah tangga kamu pasti aman!".


"Keturunan Kerajaan mana dia? Angga enggak menginginkan semua itu, tapi yang Angga inginkan hanya istri yang solehah yang bisa menuntun Angga dan anak-anak dalam situasi apapun. Alysa wanita yang baik dan juga solehah pakaiannya selalu tertutup, dan lantas bagaimana dengan Destia? Apa dia seperti Alysa?".


Sementara itu, Alysa sedang berbincang-bincang dengan Papanya Angga. Papanya Angga begitu baik dan sepertinya ia benar-benar menyukai sifat calon menantunya ini. Alysa begitu terlihat senang, akhirnya Mama dan Papa dari calon suaminya benar-benar merestuinya.


Ketika sedang berbincang-bincang, datanglah Angga dan Ibunya. Angga segera mengajak Alysa pergi. "Ayo pulang, udah mau malam!" Ajak Angga dengan raut wajah datar.


"Masih sore Ga, nanti saja pulangnya!" Sahut Papa.


"Udah malam Pa. Alysa harus istirahat biar besok ia terlihat fresh kembali. Ayo!" Ajak Angga.


"Ya udah, Pa, Ma Alysa pulang dulu. Assalamualaikum!" Alysa mencium tangan Mama dan Papa secara bergantian, diikuti oleh Angga dan kedua adiknya.


"Iya waalaikumsalam. Hati-hati ya di jalannya!" Ucap Papa.


"Iya Pa. Jangan lupa Ma, Pa besok hadir ke acara pernikahan Angga!" Pekik Angga tersenyum.


"Iya Ga. Papa sama Papa pasti hadir!".


Tanpa berpikir panjang, Angga segera pergi dengan di ikuti alysa di belakangnya. Alysa sangat kebingungan dengan sikap Angga. Apa dia debat lagi dengan Mamanya? Pikir Alysa. Tidak berapa lama, Angga mengemudikan kembali mobil dengan kecepatan sedang menuju kontrakan Alysa.

__ADS_1


Kenapa lagi?.


__ADS_2