
Alysa segera menanyakannya pada pedagang.
"Permisi Pak, ee- anu.." ucap Alysa menggantung. "Apa Bapak lihat anak kecil berusia empat tahun disekitaran sini?" tanya Alysa.
"Anak kecil? Disini banyak sakali anak kecil Mbak. Coba Mbak jelaskan ciri-cirinya, siapa tahu tadi saya melihatnya," balas pedagang.
"Hmm...Ciri-cirinya usia empat tahunan, pakaiannya berwarna abu-abu dan celana pendek Pak. Rambutnya agak pirang, apa Bapak melihatnya?" tanya Alysa. Ia benar-benar tidak tahu lagi harus kemana mencari Edward.
"Sebentar, saya ingat tadi ada anak kecil dan pakaiannya seperti yang disebutkan oleh Mbak. Dia minta ice cream pada saya, dan saat saya minta uang dia mengelaknya dan akan dibayar oleh Mamanya. Jadi Mbak Mamanya?" jelas pedagang itu.
"I-iya Pak saya Mamanya. Terus kemana anak saya Pak?" tanya Alysa.
"Tadi dia lari ke arah komedi putar Mbak," ucap pedagang dengan menunjuk tempat komedi putar yang letaknya tidak begitu jauh.
"Ya sudah, terima kasih ya Pak. Ini uang ice creamnya, kembaliannya untuk Bapak saja," Alysa langsung pergi setelah mendapat informasi mengenai anaknya.
"Iya Mbak, terima kasih. Semoga anaknya cepat ditemukan," teriak pedagang.
Alysa segera pergi menuju komedi putar yang berada di taman. Ia tidak menyadari dering teleponnya yang berada di dalam tasnya. Karena saking khawatirnya dengan Edward, Alysa tidak meraih ponselnya itu. Tiba di depan komedi putar, Alysa segera mencarinya. Dan ia melihat Edward sedang bermain dengan orang-orang disana.
Astaga Edward. Kamu ternyata disini? Mama capek banget nyariin kamu sayang.
Alysa melangkahkan kakinya dan segera menarik tangan Edward. Edward menoleh dan segera memeluk kaki Alysa. Alysa mengsejajarkan posisinya lalu memeluk tubuh mungil anaknya. Nafasnya tersengal-sengal mulai tidak beraturan.
"Sayang kemana aja? Mama nyariin kamu, ternyata ada disini?" Alysa mengeratkan pelukannya.
"Mama... Tadi Mama kemana? Edwald cali Mama, tapi Mama gak ada," ucap Edward.
"Mama tadi ke toilet sebentar. Pulang yuk, Mama gak enak badan," ucap Alysa dan Edward pun mengangguknya.
Alysa segera menuntun tangan Edward. Dalam hatinya ia menangis, ia tidak bisa menjaga anaknya dengan benar. Tiba-tiba perutnya terasa sangat sakit akibat benturan tadi saat ia terjatuh. Pandangannya mulai menggelap dan tiba-tiba saja ia jatuh pingsan membuat Edward berteriak meminta pertolongan pada orang-orang yang ada disekitar sana.
__ADS_1
"Mama bangun. Mama kenapa?" teriak Edward sambil menangis.
Teriakan Edward mampu menyita mata yang ada disekitarnya. Mereka segera membantu Alysa dan membawanya ke kursi yang berada di taman. Mereka membantu mengoleskan minyak kayu putih pada bagianl bawah hidungnya agar Alysa segera siuman. Naman tidak ada tanda-tanda membuat petugas yang berada disana segera mengangkat tubuh Alysa dan segera membawanya ke dalam mobil.
***
Sementara itu, Angga masih menunggu Alysa untuk menjawab teleponnya. Ia menjadi khawatir dengan keaadaan Istri dan Anaknya yang tidak kunjung memberi kabar padanya. Beberapa panggilan pada Alysa tapi tidak ada jawaban sedikitpun. Tiba-tiba terdengar suara ponselnya berdering. Ia mengira Alysa menelponnya, namun itu nomor ponsel yang asing. Tanpa berpikir panjang, Angga mengangkatnya siapa tahu penting atau Alysa mengganti nomor ponselnya.
"Siapa?" tanya Angga.
"Apa ini dengan Pak Angga?" ucap penjaga taman yang mengantarkan Alysa ke Rumah Sakit.
"Iya saya Angga. Ada apa Pak?" tanya Angga terlihat cemas diwajahnya.
"Oh ya. Pak, Istri Bapak pingsan dan kini sedang berada di Rumah Sakit X. Bapak dimohon untuk segera kesini,"
"APAAA? ISTRI SAYA DI RUMAH SAKIT?" tanya Angga terkejut dan tatapannya kosong. Telepon ia matikan dan mulai mencerna ucapan yang ada dibalik telepon itu.
Angga melajukan mobilnya dengan cepat, dan tak terasa bulir-bulir air matanya mengalir deras di pipi yang penuh brewoknya. Ia menangis memikirkan Alysa. Tidak berada lama, mobil sudah terparkir di sebuah parkiran Rumah Sakit yang di tuju. Angga segera turun dan berlari menuju ruang Administrasi untuk menanyakan ruangan yang di huni Istrinya.
"Mbak, atas nama Nyonya Alysa ada diruang mana ya?" tanya Angga dengan nafas tersengal-sengal dan suara yang berat.
"Sebentar Pak, saya cek dulu. Nyonya Alysa ada di lantai 3, di ruangan VIP no 15, sebelah ruang operasi," kata petugas Administrasi.
"Terima kasih," ucap Angga.
Angga segera pergi setelah menerima arahan dari petugas Administrasi. Ia menaiki lift dan perasaannya kembali berkecamuk saat ia tepat di depan ruangan Alysa. Angga menghela nafasnya dengan kasar dan segera membuka pintu. Tampak Alysa masih terbaring lemah, wajahnya pucat dengan selang infus ditangan kirinya. Edward menangis sesegukan sambil menatap Alysa yang belum juga siuman. Dan seorang Suster yang menjaga keduanya membuat Angga melangkahkan kakinya masuk.
Terdengar pintu dibuka, Edward menoleh dan segera berlari menuju Papanya. Angga memangkunya dan membawanya mendekati Alysa. Tiba-tiba air matanya kembali mengalir saat ia memegangi tangan Alysa. Ia merasa tidak bisa menjaga Istrinya yang sedang hamil muda seperti ini.
"Mama...Kenapa seperti ini? Apa yang terjadi dengan Mama?" Angga menciumi kening dan tangan Alysa. Suster yang berada diruangan yang sama hanya bisa menundukkan wajahnya dan ia tahu betapa sakitnya hati Suami pasiennya itu.
__ADS_1
"Nak, kenapa Mama bisa sampai begini?" tanya Angga ketika ia mendudukkan Edward di samping Alysa. Angga pun berjongkok.
"Gak tahu Pa. Tadi Mama nyaliin Edwald, telus udah ketemu Mama ngajakin pulang dan langsung sepelti ini," jelas Edward, ia hanya tahu jika Mamanya mencari keberadaannya dan setelah menemukan dirinya Mama langsung pingsan seperti ini.
Tiba-tiba Dokter datang dengan membawa alat untuk memeriksa keadaan Alysa yang masih belum juga siuman. Angga langsung berdiri dan mencoba tegar ketika Dokter mulai mengambil alat stetoskopnya. Setelah Dokter menyimpan alatnya di saku, Angga segera menanyakan keadaan Istrinya setelah Dokter memeriksanya.
"Gimana keadaan Istri saya Dok? Apa dia baik-baik saja? Dan bayi yang sedang dikandungnya juga baikkan Dok?" tanya Angga panik karena Dokter tak memberi penjelasan mengenai kondisi Istrinya.
"Mari duduk dulu Pak," ucap Dokter segera duduk di sofa. Angga mengikuti perintahnya dan segera duduk.
"Istri saya kenapa Dok?" tanya Angga lagi.
"Istri Bapak pingsan dan sepertinya perutnya terkena benturan atau ia terjatuh hingga menyebabkan perutnya agak memar," jelas Dokter.
"Terus bayinya Dok? Apa sehat?" tanya Angga semakin panik karena Dokter terlalu bertele-tele menjelaskannya.
"Maaf sekali Pak. Janinnya keguguran akibat benturan keras," ucap Dokter ragu dan tidak mau membuat seorang Ayah yang ada di depannya semakin panik.
DUARRRR
Angga terkejut dengan ucapan Dokter jika Istrinya keguguran. Angga melototkan matanya dan terlihat dari sudut matanya ia tidak bisa membendungnya lagi. Iamenangis, ia menundukkan wajahnya dan sesekali menatap pada Alysa yang masih terbaring.
"Kenapa Istri saya belum siuman juga?" tanya Angga dengan wajah yang masih menunduk dan satu tangannya menyangga dahinya.
"Tunggu saja Pak. Mungkin beberapa menit kemudian, Istri Bapak akan segera siuman. Saya permisi dulu Pak," ucap Dokter memegangi bahu Angga dan mencoba memberi semangat, lalu segera pamit bersama Sister yang sedari tadi berada di ruangan itu.
Angga beranjak dari sofa untuk mendekati Istrinya. Ia menciuminya dan mengusapi rambutnya. Angga berfikir untuk tidak memberitahu Mama dan Papa. Ia merasa mengantuk setelah menangis dan akhirnya ia kembali ke sofa dengan menggendong Edward yang sudah tertidur.
Author tidak lupa mengingatkan untuk selalu Vote sebanyak-banyaknya agar novel ini naik rankingnya. Tinggalkan jejak dengan Like dan Comment. Author hari ini udah nulis 3 BAB. Kalau ada yang mau kritik novel saya silahkan Comment aja ya, biar saya juga tahu kesalahan-kesalahannya dan bisa diperbaiki☺
Dan terima kasih yang sudah setia menunggu up novel ini. Dan mensupport saya agar semangat nulisnya😘
__ADS_1