Menikahi Duda Tampan

Menikahi Duda Tampan
BAB 86


__ADS_3

Satu Minggu kemudian, Angga duduk di tepi ranjang sembari menatap foto Alysa. Ia menangis harus kehilangan cintanya. Ia menciumi foto itu dan berharap Alysa akan datang kembali ke rumahnya.


Mama dimana? Pulanglah, Papa dan Edward sangat merindukan Mama. Lihatlah anak kita, dia ingin sekali bertemu dengan Mama.


Pintu terbuka dengan lebar, menandakan kedatangan si kecil yang baru bangun dari kamar sebelah dan langsung naik ke ranjang.


"Mama mana, Pa? Katanya mau pulang!" tanya Edward dan langsung membaringkan tubuh kecilnya.


"Papa udah bilang, Mama gak akan pulang lagi!" Angga langsung marah membuat Edward menangis


"Huuaaa...Mama...."


"Jangan nangis! Ayo buka pakaianmu." Angga langsung melucuti pakaian Edward dan membawanya ke kamar mandi. Ia harus memandikan putranya sebelum mencari keberadaan Alysa. Hari ia akan mencari Alysa kembali dan menitipkan Edward pada pembantu rumahnya.


Setelah selesai memandikan Edward, Angga segera memakaikan pakaiannya dan menata rambutnya. Edward terus menangis membuat Angga memarahinya kembali.


"Diam, jangan nangis terus! Papa akan cari Mama!"


Bukannya tangis itu langsung reda, malah semakin besar dan teriakannya semakin kencang. Angga langsung membawanya ke lantai dasar dan menitipkannya pada pembantu.


"Bi, tolong jaga anak saya. Saya akan keluar dulu," titah Angga dengan wajah yang sulit di artikan.


"Sarapan dulu, Tuan," ucap pembantu rumah.


"Saya sarapan di luar aja. Anak-anak Bibi suruh kesini aja makan disini, biar anak saya juga ada temen mainnya. Saya pergi sekarang." Angga langsung pergi ke garasi mobil. Pembantu hanya bisa menghela nafasnya. Ia sudah mengetahui masalah yang sedang di alami majikannya ini. Ia hanya bisa berdo'a agar istri majikannya segera pulang.


Angga melajukan mobilnya, sebenarnya ia ingin sekali pergi ke rumah orang tuanya Alysa, namun ia merasa takut dan sebaiknya ia akan mencari informasi di sekitaran sini. Tak lupa, ia juga menelpon seseorang untuk membantu mencarinya. Semua tergabung dalam beberapa kelompok dan tentunya ia bisa lebih mudah mendapatkan informasi dari mereka.


Angga menelpon Willy dan memintanya untuk ikut sementara, dan perusahaannya akan di ambil alih oleh Fia. Semua sudah ia rencanakan dengan matang. Ia berharap dengan banyaknya orang yang akan mencari keberadaan istrinya, maka akan lebih mudah untuk mendapatkannya. Semua mobil sudah berpencar ke daerah pelosok dan perkotaan. Mereka begitu kompak dan tentunya bisa melaksanakan pekerjaan ini dengan baik.


Semoga saja Mama bisa cepat ditemukan. Papa rela harus dibentak-bentak sama Mama. Asal Mama tidak akan pernah meninggalkan Papa lagi. Hatinya menjadi terenyuh kembali mengingat wajah Alysa yang selalu saja menghantuinya.


Seseorang menelponnya dan Angga pun mengaktifkan speaker untuk menyambungkan dengan ponselnya.


"Bagaimana? Sudah ada titik terang?"

__ADS_1


"Kami akan mencari ke daerah pelosok dan mungkin Ibu Alysa akan bersembunyi disana. Do'akan saja, Pak!"


"Baiklah. Ingat, harus segera di ketemukan secepatnya!"


"Baik, Pak."


Angga menjadi tidak fokus mengendarai mobilnya. Fikirannya selalu saja pada Alysa.


"Ma, dimana sih? Mama gak kasihan sama Papa disini? Ayolah pulang sayang, kita bermanja-manja lagi, jalan-jalan lagi, makan ice cream lagi. Papa merindukan momen-momen seperti itu. Ku harap, Mama juga merindukannya." gumam Angga sembari memegangi dahinya.


Mobil berhenti di sebuah warung makan padang. Angga langsung keluar untuk sarapan terlebih dahulu. Ia butuh tenaga untuk mencari Alysa seharian.


"Bu, nasi padangnya satu tapi komplit!" ucap Angga dan segera duduk sembari membuka ponselnya dan membaca pesan yang dikirimkan oleh Willy.


"Baik, Mas!" jawab Ibu-ibu penjual. Warung ini merupakan warung yang berdekatan dengan rumah yang Alysa tinggali sekarang. Hanya saja, rumahnya masuk ke dalam gang lagi, jadi Angga tidak mengetahui pasti jika Alysa tinggal di daerah sini.


Deringan telepon membuat Angga segera mengangkatnya. "Hallo, gimana?"


"Mungkin Ibu Alysa pulang ke kampungnya, Pak. Saya sudah menanyakannya pada orang-orang sekitar disini, tapi mereka tidak ada yang mengetahuinya."


Angga langsung memutuskan teleponnya dan segera makan. Karena Angga penasaran dengan komplek di perumahan ini, ia pun menanyakannya juga pada Ibu-ibu penjual itu.


"Bu, saya boleh tanya sesuatu?"


"Tanyakan saja, Mas. Insya Allah, Ibu bakalan jawab." sahut Ibu-Ibu penjual dengan ramah.


Mendengar hal itu membuat Angga segera mengambil ponselnya dan membuka galeri yang menampakkan wajah Alysa. Angga menyerahkan ponselnya dan si Ibu penjual segera mengambilnya.


"Apa Ibu pernah melihat wanita ini?" Ibu itu memperhatikan wajah Alysa dan membuatnya berfikir kalau wanita yang ada di ponsel itu memang ada di sekitaran sini. Dan ia pun pernah mengajaknya berbicara bahkan bercerita dengannya, namun ia tidak mengetahui namanya.


"Ibu pernah lihat, dan wanita ini juga pernah makan disini." jelas Ibu penjual.


"Ha, yang bener, Bu? Terus dia dimana sekarang? Dia tinggal dimana, Bu?" tanya Angga antusias, raut wajahnya kembali tersenyum saat si Ibu menceritakan jika istrinya ada di sekitaran sini.


"Rumahnya itu masuk lagi ke dalam, Mas. Ibu juga kurang tau yang mana. Tapi tanyakan saja pada tetangga-tetangga disana."

__ADS_1


"Makasih ya, Bu." ucap Angga tersenyum penuh kemenangan.


Mama ternyata ada disekitaran sini. Papa gak sabar mau ketemu sama Mama. Batin Angga wajahnya tampak begitu berseri.


Setelah selesai sarapan, Angga bergegas pergi menuju komplek perumahan yang ada di dalam gang itu. Ia melangkahkan kakinya dengan gesa agar ia bisa cepat bertemu dengan Alysa. Hatinya berdebar seakan bertemu wanita pujaannya yang sudah lama tak bertemu. Ia menggenggam erat ponselnya dan langkahnya semakin cepat. Perjalanan masih jauh membuatnya segera berlari dan mencoba menanyakannya pada tetangga-tetangga disana.


Namun anehnya, mereka tidak mengetahui wanita yang di cari Angga. Mereka seakan tidak pernah melihat keberadaan wanita itu. Selama ini Alysa sudah merahasiakan identitas dan juga wajahnya pada tetangga-tetangga disana. Dan sudah jelas, jika mereka tidak mengetahuinya. Selama bekerja, ia selalu berangkat pagi dan pulang malam hari, dan itu membuat tetangga perumahan pun tidak ada yang mengetahuinya secara pasti.


Kok tetangga disini pada gak tau ya? Apa Alysa tidak tinggal disini? Ahh, saya cari saja. Siapa tau rumahnya ada di ujung jalan itu.


Angga kembali melangkahkan kakinya. Setiap orang yang lewat, ia menghentikannya dan mencoba menanyakannya kembali. Namun hasilnya nihil. Mereka sama sekali tidak pernah melihat wajah Alysa.


Angga sempat prustasi dan entah harus apa yang dilakukannya sekarang. Sampai saat ini Alysa belum juga di temukan. Apa sebaiknya ia pergi ke kampungnya dan mungkin Alysa ada disana? fikirnya.


Apa saya besok ke kampungnya saja? Tapi, orang tuanya pasti tidak akan menerima saya kembali menjadi menantunya. Angga gak usah di fikirin. Yang terpenting sekarang kamu harus kesana dan mencoba membawa Alysa kembali ke rumahmu.


Setelah mencari dan hari pun sudah mulai sore, Angga segera pergi dari sana. Ia harus membeli tiket pesawat untuk besok.


Sampai di rumah, Angga mengedarkan pandangannya pada laptop. Pekerjaannya semakin menumpuk dan membuatnya harus bekerja malam ini. Deringan telepon membuatnya segera mengambil teleponnya dan mengangkatnya sembari fokus pada laptop.


"Hallo?"


"Malam, Pak Angga. Saya Indra dari kepolisian yang menelusuri kasus, Bapak."


"Oh, iya. Malam, Pak Indra. Bagaimana, apa sudah ada titik terangnya?"


"Bapak besok ke kantor polisi saja. Bukti sudah terkantongi dan Bapak tidaklah bersalah dalam kasus ini."


"Terima kasih, Pak Indra." telepon pun terputus. Angga langsung tersenyum, akhirnya ia bebas dari rencana Destia.


Destia selamat membungkam di penjara. Ternyata wanita sepertimu sangatlah licik!


***


Jangan lupa vote sebanyak-banyaknya ya kakak-kakak. Biar ranknya juga naik hehešŸ˜‚ā¤

__ADS_1


__ADS_2