
Alysa mulai sadar dan menggerakkan kepalanya dalam keadaan matanya masih tertutup. Dan ia merasakan sesuatu pada perutnya. Ia meraba-rabanya dan mengelus perut dengan lembut. Ia mengira jika anak yang dikandungnya masih ada disana, namun kenyataannya itu salah. Lama sudah Ia memegangi perutnya, Alysa membuka matanya dan memperhatikan disekelilingnya. Ini dimana? Apa yang terjadi dengan dirinya? Semua pertanyaan-pertanyaan itu ada dibenaknya.
Alysa tidak menyadari jika Angga dan Edward ada disana. Kepalanya sedikit pusing dan ia mencoba untuk bangun namun itu tidak bisa. Ia melihat tangan kirinya pakai selang infus membuatnya panik dan matanya mulai melihat kesana-kemari hingga tatapannya tertuju pada Angga dan Edward. Suami dan Anaknya ada disana juga? Ada apa ini? Aku kenapa?
Alysa mencoba mengangkat tangannya, namun ia tidak punya tenaga lagi dan sepertinya perlu bantuan Suaminya. Alysa mencoba memanggil Suaminya. "Ma-mas...Mas..."
Angga masih tertidur dengan pulas. "Mas..." teriaknya lagi.
Mendengar ada yang meneriakinya, Angga pun membuka matanya perlahan dan melihat Edward masih tertidur dengan pulas. Setelah itu ia menatap wajah Alysa yang sudah siuman dan segera pergi mendekat. Angga mencium kening Alysa.
"Alhamdulillah, Kamu udah sadar," ucap Angga tersenyum dan wajahnya terlihat sembab membuat Alysa menanyakannya.
"Mas nangis?" tanya Alysa mengernyitkan dahinya sembari meraba pipi Angga.
"Enggak sayang. Gimana udah baikan?" tanya Angga mengalihkan pembicaraan dengan memegangi tangan Alysa lalu menciumnya.
"Perutku sakit sekali Mas. Alysa kok ada disini? Kan tadi Alysa lagi ditaman sama Edward," Alysa menatap tajam pada Angga.
"Tadi kamu pingsan sayang," ucap Angga dengan lembut.
"Pingsan?" tanya Alysa tidak percaya.
"Iya Kamu pingsan. Untungnya ada yang membawamu kesini, Kamu istirahat aja ya jangan banyak gerak. Mas keluar dulu mau beli bubur. Kamu tunggu disini ya, Mas gak lama," ucap Angga mencium kening Istrinya lalu segera pergi.
"Kok ada yang aneh sama Mas Angga? Sebenarnya ada apa ya? Dari tadi mengalihkan pembicaraan terus," ucap Alysa setelah Angga keluar dari ruangannya.
Angga melangkahkan kakinya dengan lunglai. Ia masih terpikir dengan anak yang dikandung Alysa. Ia mulai memaki dirinya dalam hati. Ia tidak bisa menjaganya hingga akhirnya Alysa harus keguguran. Angga mulai mencari cara untuk mengatakannya pada Alysa jika ia keguguran, namun ia takut jika Alysa tidak akan menerimanya dan melakukan hal-hal yang membuat dirinya terluka.
Ketika Angga sedang berjalan menuju kantin, tiba-tiba seorang Suster menyapanya dengan mendorong meja yang berisi bubur untuk pasien.
"Ini Pak Angga ya? Suaminya Nyonya Alysa?" tanya Suster.
Angga memberhentikan langkahnya. "Iya saya Suaminya Nyonya Alysa."
"Ini buburnya Pak. Maaf saya baru memberikannya," ucap Suster tersenyum ramah.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Terima kasih ya," ucap Angga segera pergi dengan membawa semangkuk bubur dan satu botol air mineral.
Angga masuk ke ruangannya Alysa. Ia meletakkan bubur dan air mineral di nakas, lalu membantu Alysa untuk duduk diranjang. Alysa ingin sekali menanyakan tentang mengapa ia bisa pingsan saat di taman, namun ia membungkamnya. Angga duduk dikursi dan mulai menyuapi Alysa.
"Makan yang banyak ya, biar cepat sembuh," ucap Angga tersenyum agar Istrinya merasa lebih baik dari sebelumnya.
"Iya Mas, Alysa laper banget. Mas udah makan?" tanya Alysa sambil mengunyah makanannya.
"Mas belum makan," ucap Angga dengan menyendokkan bubur yang ada ditangannya lalu menyuapi Alysa kembali.
"Lah kok belum makan? Makan dulu Mas, sini buburnya kasiin, Mas harus makan nanti sakit kayak Alysa," Alysa mulai mengomel-ngomel dengan mengambil bubur yang ada ditangan Angga, Angga hanya tersenyum melihat tingkah Istrinya yang begitu menggemaskan dan juga perhatian pada dirinya. Sedangkan ia juga sedang dalam kondisi sakit.
"Ayo buka mulutnya, aaaa..." Angga membuka mulutnya dan Alysa segera menyuapinya.
Mereka terlihat sangat romantis ketika sedang berduaan seperti itu. Mereka saling suap-menyuap sampai bubur itu habis. Angga mengambil air mineral dan memberikannya pada Alysa. Setelah itu ia duduk di tepi ranjang disamping Alysa, ia memeluknya dengan erat membuat Alysa sesak nafas.
"Mas Alysa sesak nafas, uhuk..uhuk."
"Hehe, Mas kangen banget," Angga mencium tangan Alysa dengan lembut.
Dedek udah tenang sekarang. Kita harus mengikhlaskannya, Allah lebih sayang padanya. Batin Angga tak terasa bulir-bulir air matanya membasahi pipinya.
"Mas, kok diem?" lanjutnya membuat Angga tersadar dari lamunannya dan segera menghapus air matanya agar Alysa tidak melihatnya jika ia sedang menangis.
"Hah? Kamu bicara apa?" tanya Angga membuat Alysa menatapnya.
"Mas kok malah nangis? Ada apa sih Mas? Kok enggak cerita sama Alysa," ucap Alysa dengan tatapan dalamnya. Dan terpancar di wajahnya jika ia sangat ingin tahu dengan cerita yang ditutupi oleh Suaminya.
"Tidak apa-apa. Mas kelilipan saja," imbuh Angga.
"Mas bohong sama Alysa," Alysa memalingkan wajahnya membuat Angga menggodanya agar Alysa tidak ngambek lagi.
"Yang pengen, kamu pengen gak?" ucap Angga terkekeh sambil memeluk Alysa dari samping. Mendengar ucapan Suaminya seperti itu membuat Alysa memukul lengan Suaminya.
"Aku enggak pengen," ketus Alysa tanpa menoleh pada Angga.
__ADS_1
"Mas lagi pengen nih. Ayo," goda Angga sengaja untuk membuat Alysa menatapnya dan tidak ngambek lagi.
"Gak mau Mas. Ini di Rumah Sakit memalukan," pekik Alysa lagi-lagi tidak menoleh pada Angga.
"Ya sudah ayo pulang. Biar kita bisa anu.." ucap Angga menggantung.
"Mas.." Alysa memutar bola matanya dan menatap Angga dengan tajam.
"Iya haha. Mas pengen nih, ayo udah gak kuat."
"Gak mau. Kalau tiba-tiba ada yang masuk gimana?"
"Gak bakalan. Kan pintunya dikunci dari dalam."
"Mas kok maksa? Gak kasian sama Alysa ya, kan Alysa lagi sakit. Hiks.. Hikss..." Alysa nangis karena Angga selalu saja memintanya.
"Kok nangis? Cup cup cup. Mas hanya bercanda kok sayang, Mas juga tahu ini di Rumah Sakit. Udah jangan nangis lagi," Angga mencium pipi Alysa dan segera membaringkannya. Ia tahu Alysa harus banyak-banyak istirahat agar proses pemulihannya cepat sembuh.
Angga membaringkan tubuh Alysa dan menyelimutinya. Ingin sekali ia memberitahu masalah keguguran pada Alysa, namun lagi-lagi ia seolah-olah tidak bisa berkata untuk itu. Alysa memejamkan matanya ketika Angga duduk disampingnya.
***
Sementara siang itu, Destia semakin stres karena ia tidak bisa memiliki Angga seutuhnya. Ia berpikir jika ia menyuruh seseorang untuk mencelakai Alysa maka itu akan sangat berhasil dan membuat dirinya akan menjadi lebih dekat dengan Angga. Destia masih berpikir dan mencerna disetiap ucapan-ucapanya. Setelah cukup lama ia berpikir, ia beranjak dari tempat duduknya lalu mengambil tas dan segera pergi.
Hari ini ia akan menemui seseorang untuk mencelakai Alysa. Ia tahu jika cara ini berhasil maka Angga akan segera menjadi miliknya. Tiba di sebuah Caffe, Destia duduk sambil memesan minuman penyegar dahaganya untuk menunggu kedatangan seseorang. Orang itu belum saja menampakkan batang hidungnya membuat Destia segera menelponnya kembali.
"Dimana?" tanya Destia kesal.
"Maaf Nyonya saya terlambat. Ini sebentar lagi sampai," ucap suara di seberang telepon.
"Cepat.."
Selama menunggu beberapa menit, akhirnya orang itu pun sampai dan segera duduk di depan Destia. Destia mulai memperbincangkan rencana-rencana dari pikirannya. Destia begitu serius dan tatapannya tajam. Laki-laki itu mengangukkan wajahnya tanda ia mengerti dan siap dengan perintahnya. Setelah perbincangan itu selesai, laki-laki itu segera pergi dan meninggalkan Destia sendiri yang sedang tersenyum misterius dengan rencananya.
"Habis kau wanita kampung. Jangan coba-coba kau menentang keinginan gue. Kau pikir dengan Angga menikahi kau dia tidak bisa berpaling pada gue? Gue bisa membuatnya berpaling dari kau," gumam Destia dengan tersenyum misterius.
__ADS_1
Destia-Destia, kau wanita licik haha. Batin Destia.