Menikahi Duda Tampan

Menikahi Duda Tampan
BAB 27


__ADS_3

Keesokan paginya, Alysa terbangun dan segera pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya. Setelah itu, ia membangunkan Angga dan juga Azkia untuk menunaikan sholat subuh berjamaah. Perlu butuh waktu membangunkan Angga yang sedari tadi tidak bangun-bangun. Alysa menghela nafasnya dengan kasar, dan mencoba kembali membangunkan Angga dengan mencubit janggutnya. Karena cubitan itu sangat keras, membuat Angga mengaduh kesakitan dan perlahan-lahan membuka matanya walaupun itu terlihat sangat berat baginya.


"Aww sakit!" Angga mengaduh kesakitan dengan suara khas bangun tidur dengan memegangi bagian janggutnya.


"Bapak Angga yang terhormat, ayo bangun ini siang!"


"Beri saya waktu untuk bangun. Punggung saya sakit nih, ditambah kamu malah nyubit janggut saya!"


"Astaga, pak ini udah siang! Ayo sholat berjamaah dulu, Ayah udah nungguin tuh!"


Tanpa berpikir panjang, Angga langsung bangun dan bergegas pergi ke kamar mandi. Alysa menatap kepergian Angga dengan aneh.


Lho tadi katanya gak mau bangun dulu? Memang aneh duda satu ini!. Batin Alysa.


Setelah kepergian Angga, Alysa langsung duduk di tepi ranjang dengan menatap Edward yang masih pulas. Alysa mencium pipi gembul Edward dengan berkali-kali, membuat Edward merasa tidurnya terganggu. Edward membuka matanya perlahan-lahan meskipun sangat susah. Anak dan Papa memang tidak jauh sifatnya. Alysa tersenyum dan mencoba menciuminya lagi, namun Edward menahannya.


"Jangan dicium telus tante. Nanti Edwald gak gemes lagi!" Pekik Edward dengan setengah kesadarannya.


"Tante akan terus menciumnya kalau anak tampan yang satu ini enggak bangun. Muachh..."


"Tante...Peluk Edwald peluk!" Ucap Edward merentangkan kedua tangannya agar Alysa memeluknya.


Alysa pun mendekatinya dan memeluknya dengan erat. "Bangun ya, anak tampannya Papa Angga harus minum susu biar sehat!"


"Enggak mauu..."


"Susu kan enak. Ayo bangun dulu sayang" Alysa mencoba memangku Edward dan membawanya ke ruang makan yang menyatu dengan dapur. Ia mendudukkan Edward di salah satu kursi lalu mengambil gelas dan susu formula yang sudah disiapkan oleh Angga di dalam kotak kecil. Setelah itu, Alysa memasukkan susu formula itu ke dalam gelas dan menuangkan sedikit air panas dengan dicampur air dingin, dan mengaduknya dengan rata. Setelah itu, ia memberikannya pada Edward untuk meminumnya.


"Minum susu dulu ya, biar Edward cepat besar!"


"Iya tante!" Ucap Edward lirih dan langsung meminumnya.


***


Sementara itu, perusahaan Angga kini sangat professional dengan adanya beberapa keamanan khusus agar karyawannya bisa bekerja dengan maksimal. Perusahaan Hardware Group terbesar itu kini sedang merancang system yang baru untuk diperkenalkan kepada seluruh masyarakat. Para karyawan mulai menyibukkan diri tanpa ada perbincangan seperti hal kemarin, karena Angga menyewa keamanan khusus dan beberapa cctv yang akan memantau setiap karyawannya. Willy tampak sedang menelpon seseorang di lobby.

__ADS_1


"Hallo pak!".


"Iya Will? Gimana kondisi perusahaan sekarang, apa masih sama seperti kemarin?".


"Sangat baik pak. Dan kita akan merancang system yang baru untuk memperkenalkannya pada masyarakat. Untuk system yang sebelumnya, kita ada kenaikan hingga 40%. Dan mudah-mudahan untuk yang sekarang bisa meningkat hingga 70%!".


"Bagus! Kau harus terus awasi mereka, karena saya masih beberapa hari lagi untuk pulang. Oh ya, untuk klien dari luar kota saya serahin sama kamu. Dan jangan lupa! pesankan catering untuk hari Minggu di Hotel saya!".


"Baik pak, saya akan menjalankan tugas bapak dengan sebaik-baiknya!" Ucap Willy memutuskan teleponnya.


Pak Angga itu sebenarnya lagi kemana? Dan ini malah minta pesanin catering di hari Minggu ke Hotel miliknya. Mau apa coba? Mau syukuran keluarga? Apa mau nikah?. Batin Willy.


Willy segera pergi dari perusahaan itu untuk menemui pemilik catering dan ia akan memesan beberapa makanan mewah untuk hari Minggu mendatang. Ia ditemani oleh Fia sekaligus calon istrinya itu.


***


Angga dan Ayahnya Alysa pulang dari masjid yang terletak di ujung jalan. Angga langsung merebahkan tubuhnya di ranjang dan berusaha memejamkan matanya, karena ia masih mengantuk. Sementara itu, Alysa sedang masak di dapur dan ditemani Azkia dan juga Edward. Ibunya pergi ke warung untuk membeli beberapa sayur-mayur.


Kini Alysa sedang memasak beberapa macam hidangan dengan di bantu oleh Azkia. Tak lupa juga ia membuatkan kopi untuk Angga dan juga Ayah. Alysa menemui Ayahnya yang berada di teras, namun ia tidak menemukan Angga disana. Kemana dia? Pikirnya.


"Hmmm... Saya masih ngantuk Alysa!" Ucap Angga lirih dengan matanya yang masih tertutup.


"Ayo bangun dulu pak, ini Alysa buatin kopi biar bapak enggak ngantuk terus!".


Dengan sangat berat hati dan masih mengantuk, akhirnya Angga pun bangun juga dan menerima kopi dari Alysa. "Terima kasih calon istri!" Angga mulai menyeruput kopi itu.


"Iya pak!" Sahut Alysa.


"Manggilnya jangan bapak terus ahh, gak suka! Kalau manggil bapak, kayak saya udah berumur 40 tahun!" Kesal Angga.


Alysa menghela nafasnya. "Iya Pangeranku, maafkan Ratu mu ini!" Ucap Alysa membuat Angga langsung tertawa.


Lebay banget sih haha. Sekalian panggilnya Kakanda, Ayahanda!. Batin Alysa.


"Hahaha Pangeran berkuda kali!" Jawab Angga terkekeh.

__ADS_1


"Woiya dong. Kan Pangeran itu pasti bisa berkuda, ehh tapi bapak bisa enggak?" Tanya Alysa dengan mengedipkan sebelah matanya.


"Jangan ditanya!" Ucap Angga yakin.


"Wahh pasti jago banget ya?" Tanya Alysa terkagum-kagum jika Angga jago dalam berkuda.


"Saya gak bisa berkuda takut kudanya ngamuk haha!" Ucap Angga membuat Alysa memukul tangannya.


"Ihh nyebelin banget! Kalau nanti Alysa hamil, mau ngidam naik kuda aja!" Kesal Alysa.


"Ngidam kok minta yang aneh-aneh? Minta naik kuda segala!" Pekik Angga.


"Lah kan dede bayinya yang minta haha!" Alysa terkekeh dengan ucapannya sendiri, seakan-akan ia benar-benar sedang dalam keadaan hamil.


"Tapi sayangnya kamu belum hamil" Bisik Angga.


"Udah Pangeran jangan bahas yang begituan, Ratu jadi takut. Kita makan yuk?".


"Ayo!".


Pagi berubah menjadi malam, kini saatnya membereskan barang-barang karena besok semua anggota keluarga akan pergi untuk menghadiri pernikahan Angga dan Alysa. Alysa begitu sibuk membereskan semua barang-barang, tak terlebih dengan Ibunya. Lelah dan letih bercampur menjadi satu. Angga membereskan kopernya dan memasukan pakaiannya dengan rapi. Edward sedari tadi tidak bisa diam dan terus berjalan kesana kemari, membuat Angga perlu sedikit mengejarnya.


Ketika pekerjaan sudah selesai, Alysa membaringkan tubuh kecilnya di ranjang dengan menatap langit-langit kamar yang terbuat dari bilik bambu itu. Angga dan Edward tiba-tiba masuk membuat Alysa sedikit terkejut dan langsung bangun.


"Dua hari lagi kita menikah. Dan besok kita akan pulang. Setelah itu, kita pergi untuk mencari kebaya untukmu dan juga mencari pakaian untuk Ayah dan Ibu nanti!" Angga memulai pembicaraannya.


"Iya pak. Nikahnya jangan terlalu mewah pak!" Sahut Alysa.


"No, no. Pernikahan itu satu kali dalam seumur hidup. Jadi, kita harus merayakan kebahagiaan ini. Saya tidak mau menikah untuk yang kesekian kalinya, ini adalah pernikahan terakhir saya!" Jelas Angga.


"Tapi bapak enggak akan buat Alysa jadi janda muda kan?" Tanya Alysa dengan memelas.


"Saya tidak akan menceraikan kamu, tenang saja! Ayo cepat tidur, besok pagi kita berangkat!" Ucap Angga.


Alysa mengangguknya dan segera menidurkan Edward. Begitu juga dengan Angga, ia segera tidur di kamar sebelah dengan Zaki, karena pinggangnya masih sakit.

__ADS_1


__ADS_2