
Lain halnya dengan Destia yang dibuat pusing. Mamanya sendiri terus saja menanyakan perkembangan antara dirinya dan juga Angga. Ditambah Adryan kini langsung menghilang bak ditelan bumi setelah kejadian itu. Hanya ada satu cara yang harus ia selesaikan sendiri. CCTV Hotel yang belum sempat ia tanyakan pada petugas.
Gimana kalo gue ketauan? Si Adryan kabur lagi gak bertanggungjawab banget. Si tante gak ada perkembangan yang menyakinkan buat gue bisa milikin Mas Angga lagi. Harusnya kan dia paksa terus Mas Angga, secara kan dia dah tau kalo gue dah gak perawan karena anaknya. Kalo gini, gue juga bingung. Perut udah makin buncit lagi. Gue sembunyiin bangkai pun pasti tercium juga. Destia lo harus berfikir dengan jernih.
Destia keluar dari kamarnya sembari berfikir. Ia benar-benar sulit untuk berfikir saat ini. Kondisi perut yang sudah membuncit sudah tak sewajarnya lagi untuknya memikirkan secara luas. Destia mondar-mandir di depan kamar sembari memegangi perut buncitnya. Pakaian yang sering ia pakai pun sudah tidak bisa dipakai lagi. Destia takut jika anggota keluarganya sendiri mengetahui anak yang dikandung bukanlah anak Angga.
Duh, gimana nih gue makin bingung. Polisi juga kayaknya lagi cari bukti. Gue nyuruh siapa lagi coba? Kalo gue gugurin, kasian banget anak gue. Dia gak salah, tapi gua sebagai orangtuanya yang salah.
Ia mencoba melupakannya sesaat, namun semua kembali ke awal. Rencana menggugurkan kandungan pun sempat ia tutup kembali, lantaran tidak ingin anaknya meninggal. Tiba-tiba Mamanya datang dan melihat dengan jelas yang terjadi dengan perut buncit anaknya.
"Destia...!" teriak Mama dengan membulatkan matanya.
Orang yang dipanggilnya pun menyautnya dengan gelagapan. Perut buncitnya harus ia sembunyikan lagi.
Ahhh, habis sudah hidupku. Belum punya suami udah kek gini nasib gue.
"Iya...!" sahut Destia dengan wajah khawatirnya. Sang Mama semakin mendekat dan segera memegangi buncit anaknya.
"Astagfirullah, ini apa Destia? Ini ulah siapa sampe seperti ini? Ini ulah Angga?" tanya Mamanya masih dengan wajah terkejutnya membuat Destia tidak bisa berkata apapun selain menundukkan wajahnya.
"I-iya. Ini ulah Mas Angga!"
Gue bohong ajalah. Biar gue juga cepet-cepet nikah.
"Ini gak bisa di biarin. Kamu harus nikah sekarang juga sama dia. Jadi laki gak bertanggungjawab banget dah hamilin anak saya! Mau enaknya doang, harga diri saya langsung turun kalo seperti ini!" ucap Mamanya dengan nada marah dan benci.
"Gak habis fikir sama anak zaman sekarang. Mau enaknya aja, emang bayinya gak mau difikiran apa gimana? Mama harus segera kesana! Kamu sudah berapa kali begituan sama dia?"
"E-enggak tau, Ma."
"Enggak tau? Berarti kalian sering begituan?" Destia hanya mengangguk saja. "Dasar laki-laki bej*t. Saya kira dia anak baik-baik. Kita periksakan dulu kandunganmu!" Mama segera memboyong Destia untuk menuruni anak tangga.
Mereka pun segera pergi ke Dokter kandungan bersama Ifan sang bodyguard. Ifan yang merasa aneh dengan tingkah Nyonya besarnya, ia pun menanyakannya.
"Nyonya besar, kita akan kemana?" tanya Ifan sedikit ragu.
"Ke Dokter kandungan!"
"Iya, memang harus segera diperiksakan...Ups..." Ifan langsung membungkam mulutnya sendiri setelah mendapat lirikan tajam dari Destia.
"Kau sudah tau?" tanya Mama Destia.
"E-enggak, Nyonya. Sejak kapan saya tau mengenai ini?" ucap Ifan.
__ADS_1
"Ya sudah. Cepat!"
"Baik, Nyonya."
Jadi,yang sedang di kandung Nyonya Tia anaknya siapa sih? Anak saya atau anak laki-laki lain? Apa ini anak laki-laki lain? Kenapa Bapaknya gak bertanggungjawab, mau bikinnya doang!
Mobil melaju menuju Dokter kandungan. Tidak berapa lama mereka pun tiba. Mamanya Destia segera memboyong anaknya masuk, sementara Ifan mengekorinya, ia harus tahu anak yang sedang dikandung Nyonya-nya. Apakah itu anaknya atau anak laki-laki lain.
"Silahkan duduk dulu, Bu, Pak." Dokter mempersilahkan mereka duduk di kursi. Wajah Destia semakin cemas. Ia tidak tahu, jika Mamanya sendiri akan mengetahui kehamilannya.
Tenang Destia.
"Mau ngecek kandungan, Bu? Kalo gitu, mari kita pindah ke ranjang pasien," ajak Dokter dan Destia pun mengikutinya.
Dokter segera mengeceknya, dan bayinya sudah semakin membesar. Destia yang melihat pun merasa lemas.
"Bayinya sehat, Bu. Ibunya juga sehat," ucap Dokter dengan pandangan masih pada layar dengan menggerakkan alat-alat kehamilan.
"Kandungan saya udah berapa minggu, Dok?" tanya Destia sedikit ragu.
"Kandungan Ibu udah memasuki 8 minggu. Ibu harus lebih banyak istirahat dan tidak boleh memikirkan sesuatu. Kalo Ibu stres berat, pasti akan ngaruh sama janinnya. Harap yang saya ucapkan, Ibu bisa mendengarkannya dengan baik." jelas Dokter yang dibalas anggukan oleh Destia. "Ayo Bu, mari saya bantu."
Mereka segera kembali ke kursi. Destia menekuk wajahnya. Ia punya firasat jika Mamanya pasti akan menginterogasinya kembali.
Ancur banget idup gue. Masih muda, gak punya suami, ehh tau-tau udah punya anak. Nasib gue gini banget.
"Alhamdulillah, bayinya sehat. Hanya saja, Ibunya harus banyak-banyak istirahat dan tidak boleh terlalu memikirkan masalah. Dan Bapak (menatap ke arah Ifan). Bapak seharusnya jangan mau buatnya doang, Bapak harus menjaga istri Bapak dengan baik," jelas Dokter.
"Maksudnya apa?" tanya Mama menatap tajam pada Ifan.
"E-enggak, Nyonya." balas Ifan terbata.
Ngapain harus nengok ke saya sih? Dokternya gak bisa di ajak becanda nih. Kalo gini, saya yang diinterogasi Nyonya besar!
"Inikan suaminya (menunjuk Ifan)." ucap Dokter.
"Suami? Sejak kapan?" Mamanya Destia mulai tidak bisa berfikir dengan baik.
Setelah keluar dari klinik Dokter kandungan, mereka segera pergi menuju kediaman Mamanya Angga untuk menanyakan kembali pernikahan yang akan dilangsungkan.
"Maksudnya tadi apa? Ifan ngaku jadi suami Destia?"
"I-iya, Nyonya. Saya disuruh Nyonya Tia melakukan ini!"
__ADS_1
"Apaan sih, Fan?" lirik tajam Destia membuat Ifan menelan salivanya dengan kuat.
Keadaan kembali canggung, Destia masih terus memikirkan cara agar Angga secepatnya akan menikahi dirinya.
Apa gue kirim aja ya foto gue sama Mas Angga sama bininya. Ide yang bagus Destia. Otak lo emang cerdas kalo masalah merebut.
***
"Saya mohon, segera nikahkan Angga dengan anak saya! Lihat gara-gara anak kamu, anak saya jadi seperti ini! Mana tanggungjawab anak kamu? Segera ceraikan istrinya dan nikahi anak saya. Saya tidak mau menundanya, kalo anak saya sudah sangat membuncit gimana? Saya juga yang malu!" Mama Destia sangat marah.
"Iya jeng, sabar dulu. Saya juga udah usahain kalo Angga harus nikahin Destia. Saya juga tidak mau kalau cucu saya tidak punya seorang ayah."
"Pokoknya dalam satu minggu ini Angga tidak nikahin anak saya, saya pastikan Angga akan masuk penjara!"
"Jangan dong jeng, Angga pasti akan nikahin Destia secepatnya."
Dari dulu sabar-sabar, kasabaran gue udah gak bisa di tahan.
***
Willy saat ini sudah berada di Hotel yang sudah dikunjungi semalam. Ia menanyakan ruangan CCTV pada pihak Hotel di sana. Sangat sulit untuk bisa mengecek CCTV. Pihak Hotel tidak bisa memberikan CCTV pada siapa pun termasuk Willy, ini masalah privasi Hotel miliknya.
"Pak, izinkan saya untuk melihat CCTV malam tadi! Direktur saya sudah dijebak oleh wanita itu. Apa Bapak tidak merasa kasihan padanya? Saya hanya ingin memastikan kebenaran yang terjadi semalam," pinta Willy dengan memasang wajah cemasnya.
"Tidak bisa, Pak. Ada aturannya."
"Aturan seperti apa? Harus bayarkah? Saya akan membayarnya sekarang, dan berikan CCTV itu pada saya!"
"Bukan seperti itu. Bapak tidak boleh menyebarkan luar kan video ini."
"Baiklah, Saya tidak akan menyebarkannya. Bolehkah saya melihatnya sekarang?"
"Mari, Pak." mereka pun segera pergi menuju ruangan khusus CCTV. Willy merasa lega, akhirnya ia bisa melihat dengan langsung yang terjadi dengan Direkturnya.
Semoga saja dugaan saya benar, kalo Pak Angga memang tidak bersalah dalam kasus ini.
Mereka pun masuk dan Willy mengedarkan pandangannya pada salah satu komputer disana. Ia segera mempercepat langkahnya, dan melihat apa yang terjadi di malam tadi. Pihak Hotel segera menyetel ulang CCTV, ia mulai mempercepat setiap menitnya. Hingga akhirnya yang ditunggu-tunggu pun sudah didepan mata.
Saat sedang diputar pada jam tersebut, Willy terkejut sekaligus marah dengan apa yang dilihatnya itu. Didalam video itu Angga di gotong oleh anak buah Adryan. Disitupun terlihat Destia sedang berlari.
Dugaannya benar, jika Destia biang dari masalah ini. Willy segera mengalihkan video yang di tontonnya ke file miliknya untuk diberikan pada polisi sebagai bukti jika Angga meltidak bersalah.
Wanita gila! Awas kau, kau akan membungkam dipenjara!
__ADS_1
Willy segera menelpon Angga untuk melaporkan hasil kerjanya. Angga tersenyum dan berterima kasih pada Willy yang sudah menyelesaikan tugasnya dengan baik. Setelah pergi dari Hotel, Willy melajukan mobilnya menuju kantor.
***