
Angga membungkukkan punggungnya dan tangannya mulai mencari-cari ikan yang ada disekitarnya. Kolamnya berukuran empat meter, jadi tidak terlalu susah. Mungkin kalau Angga yang menangkap ikannya, bisa sampai berjam-jam wkwk. Alysa dan Edward sedari tadi tidak bisa diam. Ia terus bersorak-sorai menyemangati Angga, ketika Angga akan menangkap ikan-ikan yang mulai mendekatinya, ikan-ikan itu tiba-tiba kabur dengan cepat membuat Angga kebingungan dan segera berpindah tempat.
"Papa semangat ayeee....!" Ucap Alysa pada Edward dengan mengacungkan tangan Edward, agar Edward menuruti ucapannya.
"Papa cemangat ayeee.... Holeee..! Papa cemangat, nanti ikannya Edwald yang makan!" Teriak Edward.
"Iya..! " Teriak Angga yang sedang fokus menangkap ikan-ikan, namun tak kunjung dapat satupun.
"Nak?" Tanya Ibu pada Alysa yang sedang antusias.
"Iya bu?" Sahut Alysa tanpa menoleh pada Ibunya.
"Apa kamu sangat mencintainya?" Tanya Ibu membuat Alysa memutar bola matanya dan menatap Ibunya.
"Iya bu, Alysa mencintainya!" Ucap Alysa tersenyum.
"Apa kamu tidak keberatan dengan dia yang sudah mempunyai seorang anak?" Tanya Ibunya lagi membuat Alysa menghela nafasnya dan memegangi tangan Ibunya dengan lembut.
"Tidak apa-apa bu! Alysa akan menerimanya dengan sepenuh hati. Edward sangat menyayangi Alysa dan begitu juga dengan pak Angga. " Ucap Alysa dengan mengusapi rambut Edward. "Bu, pak Angga itu bos Alysa dia kantor!" lanjutnya.
"Benar calon suamimu itu bos kamu sendiri?" Tanya Ibu merasa tidak yakin dengan ucapan anaknya.
Alysa menghela nafasnya. "Iya bu, dia adalah bos Alysa. Entah mengapa, pak Angga mencintai Alysa. Yang jelas waktu beberapa hari lalu, Mamanya pak Angga selalu menyuruhnya untuk menikah. Namun, pak Angga tidak menghiraukan ucapan Mamanya. Dan alhasil dia malah mengajak Alysa menikah!" Jelas Alysa.
"Jadi dia menikahimu karena terpaksa?"
"Bukan Bu, Alysa bisa melihat ketulusan pak Angga. Bukan hanya karena desakan, tapi dia juga memang mencintai Alysa. Apa Ibu tidak yakin kalau dia tidak mencintai Alysa?"
"Ibu hanya berpikir kalau semua ini hanya karena desakan, lebih baik kamu tidak usah menikah dengannya. Ibu tidak mau kalau anak Ibu yang cantik ini harus menelan pahitnya berumah tangan. Apa orangtuanya sudah merestuimu?"
"Waktu itu, pak Angga ngajakin Alysa ke rumah Mamanya. Dan Mamanya marah jika anaknya akan menikahi gadis kampung sepertiku.." Ucap Alysa terpotong oleh Ibunya.
"Terus gimana?" Tanya Ibu penasaran.
"Terus pak Angga marah pada Mamanya, dan tadi pagi ketika di bandara Mamanya telepon, kalau dia sudah merestuinya tapi dengan syarat dalam waktu tiga bulan jika Alysa tidak hamil maka pak Angga harus menceraikan Alysa!"
"Ibu macam apa itu yang tega mempermainkan pernikahan anaknya!" Kesal Ibu. "Apa kamu sudah siap mengandung? usiamu masih 20 tahun dan itu masih terlalu muda Nak!" Lanjutnya.
"Kalau memang sudah diberi kepercayaan, Alysa akan sangat bersyukur bu!" Ucap Alysa dengan nada yakin.
__ADS_1
"Kalau kamu udah nikah nanti, ingat harus patuh pada suamimu jangan pernah membantah ucapannya. Karena tugas Ayah dan Ibu untuk sudah selesai!" Ucap Ibu lalu memeluk Alysa dengan mengusapi rambut Edward.
"Iya bu, makasih atas semua do'a-do'anya. Alysa tidak akan pernah melupakan Ibu. Ibu kalau Alysa udah nikah, lebih baik Ibu tinggal disana ya bu!"
"Enggak ahh, Ibu enggak mau. Nanti kalau besan Ibu tahu pasti langsung diusir haha!"
"Bukan gitu bu, nanti pak Angga akan mencarikan rumah untuk ibu biar kita enggak jauhan kayak gini. Azkia sama Zaki sekolahnya disana, kan sebentar lagi mereka mau masuk SMA. Iyakan Dek?" Tanya Alysa pada Azkia dan Zaki yang berada di samping kirinya.
"Iya bu, biar deket terus sama kak Alysa. Nanti Kia mau jagain bayinya kak Alysa, pasti cantik dan gemes, iya kan Zak?" Sahut Azkia sumbringah.
"Iyalah, kan kak Alysa nya cantik jadi bayinya juga cantik. Calon suaminya juga tampan pasti anaknya tampan-tampan dan cantik-cantik hehe!" Celetuk Zaki.
"Kalian ini, kakak nikahnya juga belum malah mikirin bayinya haha!"
"Ya sudah nanti saja Ibu bicarain sama Ayah. Kamu mau nginep disini berapa hari?"
"Alysa nikahnya tinggal lima hari lagi bu, jadi mau nginep tiga hari disini!" Jelas Alysa.
Setelah berbincang panjang lebar, Alysa kembali fokus pada Angga yang sibuk menangkap ikan. Namun ikan-ikan itu belum Angga dapatkan. Wajah Alysa menjadi khawatir dengan permintaan Ayahnya sendiri untuk meminta restu. Sebenarnya ia juga ingin ikut andil dalam mencari ikan itu, namun Ayahnya melarang dan itu adalah tugas laki-laki yang akan meminang anaknya, jika ia mendapatkan ikan itu mau besar atau pun kecil, pasti ia akan merestuinya karena ia sudah berusaha untuk mendapatkannya.
Lama sudah Angga menangkap ikan, namun tak ada satupun ikan yang tertangkap, membuatnya kelelahan dan berpikir untuk mengakhiri permainan ini. Namun ketika Angga akan ke tepi kolam, tiba-tiba ikan gurame yang cukup besar mendekatinya, seolah-olah ia ingin membantu Angga menyelesaikan misinya. Ayah Alysa yang mengetahui ada ikan di dekat Angga langsung bersorak ria, begitu juga dengan yang lainnya. Ayah Alysa tidak ingin membuat Angga semakin kebingungan dengan perintahnya.
"Saya dapat ikannya Yah!" Teriak Angga tersenyum bahagia dengan mengacungkan ikan gurame yang ia tangkap.
"Itu juga karena Ayah yang membantumu haha!"
"Hehe! Terus ini gimana Yah? Apa saya sudah diterima dan direstui?"
"Ayo naik dulu. Nanti Ayah yang menjawabnya!"
Ayah mendekati Angga dengan membawa wadah yang berukuran besar untuk menampung ikannya. Angga menyerahkannya dan langsung naik dibantu oleh Ayah Alysa. Alysa tersenyum puas, akhirnya ia benar-benar direstui oleh kedua orangtuanya sendiri.
"Gimana Yah jawabannya?" Tanya Angga penasaran ketika sudah naik dari kolam ikan.
"Karena kamu sudah berusaha menangkap ikan sampai-sampai tadi terpelesat dan akhirnya ikannya juga dapat. Saya terima dan saya merestuinya!" Ucap Ayah dengan lantang.
"Yang benar Yah? Jadi benar-benar diterima?" Ucap Angga merasa bermimpi dengan ucapan yang dilontarkan Ayahnya Alysa.
"Iya diterima!"
__ADS_1
"Alhamdulillah...!" Angga menari-nari dan menghampiri Alysa yang sedang tersenyum memperhatikannya. Angga ingin sekali memeluk Alysa namun dihadangnya oleh Ayah dan Adik-adik Alysa.
"Ehh, ehh. Jangan maen peluk-peluk aja om, belum muhrim lho haha!" Celetuk Azkia.
"Iya Nak nanti saja pelukannya lagian pakaian kamu ini sangat kotor!" Sahut Ibu dengan tersenyum.
"Ehh iya lupa haha. Ya udah saya mandi dulu ya, itu ikannya dibakar aja kita makan sama-sama!"
"Setuju tuh! Kita bakar aja" Ucap Azkia dan Zaki secara bersamaan.
"Tos dulu dong!" Angga menempelkan tangannya pada Azkia dan Zaki.
"Holeeee.. Papa dapat ikan yang besal!" Teriak Edward dengan meninggikan tangannya.
"Papa kan jago soal menangkap ikan" Ucap Angga dengan kepedeannya.
"Hmm.. Nangkap ikannya udah empat puluh lima menit lho pak!" Kesal Alysa.
"Hehe, kalau saya jagonya diranjang!" Bisik Angga membuat Alysa memukul lengan Angga.
"Ih... Udah sana mandi dulu, kotor banget!"
"Iya sayang!" Angga langsung pergi ke kamar mandi yang berada di samping rumah.
Jago diranjang? Dasar mesum tingkat dewa nih kalau soal begituan. Batin Alysa lalu segera pergi ke dapur dengan menggendong Edward yang sedari tadi tidak ingin jauh-jauh darinya
***
Angga langsung pergi ke kamar mandi, dan Alysa segera masuk ke dapur untuk membuat hidangan ikan bakar. Ayahnya sedang memancing ikan, karena ikan yang didapat Angga hanya ada satu. Alysa mulai mengiris-iris tipis bawang merah, tomat dan juga cabe rawit. Setelah itu ia menambahkan kecap manis agar semma bahannya menyatu. Sementara itu, Ibunya sedang menumis kangkung dan berbagai hidangan yang lain untuk makan sore hari ini. Azkia dan Zaki bertugas membakar ikan guramenya sembari meniupkan bara api.
Alysa kembali ke dalam kamarnya untuk menyiapkan pakaian untuk Angga. Karena Angga belum juga keluar dari kamar mandi. Setelah itu, ia kembali ke dapur untuk membantu Ibunya memasak dan tidak lupa menggendong Edward. Edward cukup diam namun ia tidak mau berpisah dengan Alysa. Biasanya ia akan ikut melakukan sesuatu, agar ruangan menjadi terasa hidup. Tidak berapa lama, Angga keluar dari kamar mandi dan segera masuk ke kamar Alysa lewat dapur dengan menampakkan perut kotak-kotaknya membuat Alysa menatapnya dengan menahan ludah.
Hot Daddy nih. Ehh astaghfirullah, kamu ini berdosa banget Alysa. Batin Alysa.
Angga hanya tersenyum dan segera pergi ke kamar Alysa dan meninggalkan Alysa yang sedari tadi terus menatapnya. Alysa kembali membantu Ibunya dan mempersiapkan hidang yang sudah jadi di meja makan. Setelah itu, Alysa kembali ke kamarnya untuk membawa pakaiannya karena ia akan mandi. Ia mencari keberadaan Angga namun tidak ia temukan juga.
Kemana pak Angga ya? Ah sudahlah, biarin aja palingan juga diteras depan. Batin Alysa.
Alysa segera membuka kopernya dan membawa beberapa pakaian miliknya. Tiba-tiba selembar foto terjatuh ke lantai membuat Alysa penasaran dan langsung mengambilnya.
__ADS_1