Menikahi Duda Tampan

Menikahi Duda Tampan
BAB 58


__ADS_3

Angga mengerutkan dahinya, Alysa mau bicara apa? Karena mungkin Alysa akan berbicara formal terhadapnya, jadi ia segera naik dan duduk di pinggiran kolam.


"Mau bicara apa?" tanya Angga.


"Hmm...Sebaiknya Mas mandi dulu, aku siapin air hangatnya," ucap Alysa segera pergi.


"Ada apa dengan Alysa? Biasanya gak kayak gini kalau mau bicara," gumam Angga.


Karena Alysa sudah pergi ke kamar, akhirnya Angga pun segera pergi untuk mandi. Setelah lima belas menit kemudian, Angga keluar dari kamar mandi. Ia mendekati Alysa yang sedang menyiapkan pakaian untuknya.


"Mau bicara apa?" tanya Angga semakin penasaran.


"Ayo pakai pakaiannya dulu, Mas."


Angga menuruti saja semua ucapan Alysa. Setelah selesai ia menanyakannya kembali. "Ayo katakan saja,"


"Kita udah nikah selama dua bulan setengah. Dan itu artinya tinggal setengah bulan lagi. Aku masih mengingatnya, waktu itu Mama bicara kalau dalam waktu tiga bulan aku tidak hamil, dan itu artinya berarti kita akan pisah, Mas. Lagi pula aku juga belum punya anak lagi sampai sekarang," jelas Alysa tanpa menatap Angga, kini matanya berkaca-kaca.


Angga menatap Alysa, terasa sakit hatinya. Pernikahan yang terasa harmonis tanpa ada masalah apa-apa harus berpisah begitu saja. Ia waktu itu menuruti ucapan Matanya kalau dalam waktu tiga bulan Alysa tidak bisa hamil, maka ia harus segera menceraikannya dan menikah dengan pilihan Mamanya. Angga terdiam, dari tatapannya ada sejuta pancaran yang sulit dijelaskan. Mungkin ia akan benar-benar harus merelakan kepergian Alysa. Tapi itu tidak mungkin ia lakukan, ia akan mempertahankannya.


Edward masih kecil dan membutuhkan kasih sayang dari Mama tirinya. Dan begitu juga dirinya yang menginginkan Alysa tuk ada di sampingnya sampai tua nanti. Itu sangat sakit. Sesakit inikah pernikahannya?


Apa yang harus aku lakukan. Semua ini begitu cepat berlalu. Aku tidak akan pernah menceraikannya apalagi menjauh darinya. Aku akan tetap mempertahankannya. Lagi pula apa yang harus Mama lakukan terhadap kebahagiaan anaknya. Kalau memang Alysa belum hamil saat ini, mungkin nanti ia bisa hamil kembali.


Aku harus bagaimana? Sebenarnya aku gak mau pisah dari keluargaku. Mas Angga dan juga Edward, dua laki-laki yang sangat aku sayangi. Hanya untuk merekalah hidupku saat ini. Berat hati ini jika harus melepaskan mereka.


Alysa menangis tersedu-sedu dan mencoba tegar menghadapi semua ini. Angga memperdekat jaraknya dan segera memeluk Alysa dengan erat. Tak terasa bulir air matanya menetes. Alysa menyandarkan kepalanya di dada bidang Angga.


"Mas, tidak akan pernah menceraikanmu sayang. Kamu harus percaya sama Mas ya. Ingat, kamu tidak usah takut dengan ancaman dari Mama. Kamu akan hamil secepatnya, mungkin Allah akan merencanakan sesuatu yang lebih indah daripada sekarang. Mas sangat mencintaimu dan juga Edward. Kita masih punya Edward yang membuat kita kuat. Walaupun Edward bukan anak kamu, tapi Mas bisa melihat kesungguhanmu sangat menyayangi dia." Angga semakin mendekapnya dan air matanya terus saja mengalir. Alysa menangis menjadi-jadi, ia tidak bisa kalau memang harus pergi meninggalkan mereka.


"Mas..." ucap Alysa lirih sembari memukul dada bidang Angga, namun Angga tak bergeming sedikitpun.


"Udah, jangan terlalu dipikirin. Gimana kalau hari ini kita jalan-jalan ke suatu tempat?" ajak Angga agar Alysa tidak memikirkan masalah itu lagi. Alysa langsung mendongakkan wajahnya dan menatap Angga.

__ADS_1


"Kemana?" tanya Alysa sembari menghapus air matanya.


"Rahasia. Ayo dandan dulu yang cantik, Mas akan ke kamar Edward untuk membangunkannya. Ayo, jangan nangis lagi. Mas tunggu di bawah ya sama Edward," ucap Angga lalu mencium kening Alysa dan segera pergi.


Kenapa kamu masih menginginkan aku Mas? Apa aku memang sangat berharga daripada orangtuamu? Apa aku mampu membuat hatimu yang dulu membeku dan kini mencair. Kalau misalnya aku benar-benar pergi, aku tidak akan pernah melupakanmu, Mas. Aku akan mengingat masa-masa dimana kita pertama kali bertemu dan sampai sekarang aku menjadi istri kamu.


Alysa segera beranjak dari ranjang, lalu pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya. Setelah itu, ia segera berganti pakaian dan menata rambutnya. Tak lupa ia membawa ponsel dan tas kecilnya dan segera pergi menuju lantai bawah.


Angga dan Edward sudah menunggunya disana, Alysa tersenyum dan segera mendekat.


"Ayo, Mas. Sayang sini sama Mama," ucap Alysa dan Edward pun mendekatinya.


Edward menatap lekat wajah Alysa. "Mama kenapa nangis? Apa Edwald nakal ya, Ma?" tanya Edward membuat Alysa menatap Angga dan ia ingin sekali menangis kembali namun ia menahannya.


"Mama tidak menangis sayang. Emangnya Mama nangis, Pa?" tanya Alysa mengalihkan pandangannya pada Angga. Angga tersenyum dan segera memangku Edward.


"Mama tidak menangis sayang. Mama tadi kelilipan saja. Ayo kita pergi, Ma." Angga menggandeng tangan Alysa menuju keluar.


Maafkan Mama sayang.


"Mas, kita mau kemana? Kok ke hutan? Mau lihat singa beranak?" tanya Angga membuat Angga tertawa melihat kelucuan istrinya.


"Haha.. Iya mau lihat singa beranak," ucap Angga masih terus saja tertawa.


"Ihh malah ketawa. Kita pulang aja, Mas. Kalau singanya menyakiti kita gimana? Aku gak mau meninggal di usia muda," pekik Alysa semakin panik karena Angga terus saja melajukan mobilnya semakin jauh.


"Mas..." teriaknya.


"Kan Mas mau bawa ke tempat rahasia. Yang pastinya nanti kamu bakalan nyaman disana."


Edward yang sedari tadi diam pun segera ikut berbincang. "Mama, singa itu apa?" tanyanya tidak mengetahui singa.


"Singa itu yang suka makan manusia. Nanti jangan keluar dari mobil ya, biar Papa aja yang keluar," ucap Alysa dan segera mendekap Edward.

__ADS_1


Setelah melewati beberapa hutan yang cukup menyeramkan, akhirnya mereka pun sampai di sebuah danau yang sangat indah. Danau itu benar-benar indah membuat Alysa tersenyum senang karena Angga tidak membawanya ke tempat singa beranak. Alysa segera keluar dengan memangku Edward, lalu berlari kecil menuju pinggiran danau.


Angga segera keluar dan mengikuti langkah Alysa. Alysa duduk di sebuah batu dan bermain air. Tak lupa ia memotret pemandangan yang begitu indah dan menakjubkan itu. Ia memotret dirinya dan juga kedua laki-laki yang kini berada di dekatnya.


"Mas, senyum dong!" ucap Alysa saat memotret Angga dan Edward.


"Senyum...Susah banget senyumnya ihh...Sayang kedepan tatapannya ya. Mama foto nih, 1...2...3...CEKREK"


"Sekarang gantian, Mas yang fotoin aku sama Edward," Alysa menyerahkan ponselnya pada Angga dan segera memangku Edward untuk bersuap foto.


Alysa bergaya dengan tersenyum merekah di bibirnya. Karena Angga lama sekali memfoto dirinya, membuat Alysa cemberut.


"Mas...Udah belum? Kok lama banget, pegel nih!"


"Sebentar," ternyata Angga sudah memfoto Alysa lebih dari sepuluh kali. Ia memfoto Alysa ketika Alysa belum siap, membuat dirinya ingin sekali tertawa melihatnya.


"Haha...Perfect!"


"Apanya yang perfect?" tanya Alysa penasaran dan langsung merebut ponselnya. Dan begitu terkejutnya saat ia melihat foto dirinya yang belum siap. Alysa langsung memukul tangan suaminya, namun Angga malah tertawa.


"Nyebelin deh..."


"Ayo sini. Kita main dekat batu yang ada disana yuk? Viewnya pasti dapet banget tuh, enak lagi suasananya." ajak Angga.


"Danaunya gak ada buayanya kan, Mas? Kalau ada buaya gimana?" tanya Alysa bergidik ngeri.


"Gak ada, kan ini danau buatan. Cuma ada ikan, tuh lihat aja ikannya besar-besar (menunjuk beberapa ikan yang terlihat di pinggiran danau)"


"Kok Mas bisa tahu ada danau disini?" tanya Alysa.


"Waktu kecil Mama suka ngajak Mas kesini sama si Mira. Mas selalu main disini. Dan di sebelah sana (menunjuk area yang dekat dengan hutan) waktu itu ada rumah-rumah penginapan, mungkin sekarang karena jarang ada yang kesini maka rumahnya dibongkar. Mas suka mancing sama Papa, sampai-sampai ikannya segede betis, Mas. Ayo kita duduk disini," ucap Angga segera duduk di atas batu yang cukup besar.


***

__ADS_1


Alysa akan benar-benar pergi atau tetap bersama Angga ya? Hayoo pada penasarankan?><


Jangan lupa dukung terus novel ini ya❤


__ADS_2