
Sesuai permintaan Alysa, Angga melajukan mobilnya menuju perusahaan miliknya yang kini sudah dipegang oleh Istrinya. Sejak kemarin fikirannya selalu was-was jika Alysa akan bertemu lagi dengan Willy. Ia sudah mengetahuinya jika Willy sangat mencintai istrinya.
"Aku tidak akan membiarkan Alysa ditatap oleh asisten ku sendiri. Ingat, sampai kapanpun aku tidak rela jika Alysa dimiliki laki-laki lain walapun itu bukan hanya Willy saja!" gumamnya.
"Aku juga akan menentang keinginan Mama. Hubungannya apa coba dengan Mama jika anaknya hanya bisa menikah selama tiga bulan? Ibu macam apa itu? Walaupun dia wanita yang sudah melahirkanku, aku tidak akan segan untuk menepis semua ucapannya. Lagian aku yang menjalani pernikahan ini, kenapa dia yang harus repot-repot mengurusnya!"
Mobil berhenti tepat di sebuah hotel. Disana ia melihat istrinya yang sedang berbincang-bincang dengan seorang laki-laki. Sepertinya mereka sudah cukup mengenalnya membuat Angga membuang mukanya. Karena kecemburuan pada Alysa sudah membara dihatinya, Angga bergegas untuk membawa istri ke dalam mobil.
"Permisi, sudah selesaikan?" tanya Angga membuat Alysa tersenyum dan segera pamit pada laki-laki itu.
Angga menarik tangan Alysa membuat Alysa kebingungan karena Angga tidak seperti biasanya. Didalam mobil Angga terlihat sangat marah dan enggan untuk bertanya pada istrinya. Alysa yang kini sudah berada didalam mobil pun segera menanyakan hal tersebut pada suaminya.
"Kenapa sih, Pa? Aku juga gak macam-macamkan, cuma bicara mengenai proyek aja," ucap Alysa menatap jendela.
Angga tak menjawab pertanyaan demi pertanyaan dari Alysa. Ia melajukan mobil menuju sekolah untuk menjemput Edward. Dalam perjalanan tampak hening, tak yang berbicara antara suami istri itu. Mereka sibuk dengan dirinya sendiri.
"Aku merasa terkekang aja!" ucap Alysa tiba-tiba membuat Angga yang sedang fokus menyetir pun segera menghentikan mobilnya.
"Merasa terkekang? Sejak kapan Papa mengekang Mama?" tanya Angga merasa tak suka dengan ucapan istrinya.
"Gak usah didengerin, gak penting juga!" ujar Alysa tanpa menoleh sang suami yang sedang marah padanya. Angga segera melajukan mobilnya kembali dengan amarah.
Masalah terus...
Tanpa Angga sadari, Alysa kini sedang menangis tanpa suara dibalik jendela. Alysa merasa sakit hati dengan sikap Angga yang semakin tempramental. Apa dia sudah tidak mencintainya lagi? Apa dia benar-benar akan berpisah dengannya? Pertanyaan demi pertanyaan melayang di fikirannya.
Mobil memasuki kawasan area sekolah TK. Alysa segera pergi untuk menunggu anaknya keluar. Angga terdiam sembari memperhatikan Alysa dari dalam mobil. Entah mengapa fikirannya selalu tentang Alysa. Ia bersikap seperti itu agar Alysa tidak bermain dengan laki-laki lain. Angga harus keras sekarang, mengingat kemarin ia mendengar sendiri ucapan istri dengan laki-laki lain.
Arrrggghhh...Punya istri cantik malah disukai rekan kerja sendiri. Benar-benar harus waspada.
Si kecil Edward keluar dari gerbang dan berlari menuju sang Mama yang sedari tadi sudah menunggu kedatangannya. Ia memeluknya dan menciumi anaknya. Alysa sudah menganggap Edward seperti anak kandungnya sendiri. Ia merasa tidak keberatan melakukan sesuatu hanya demi anak tirinya itu bahagia dekat dengannya.
"Mama...Aku sayang sama, Mama..." ucap Edward masih terus memeluk sang Mama membuat Alysa meneteskan air matanya karena haru. Anak tirinya sangat menyayangi dirinya melebihi Papanya sendiri yang sudah mengurusnya sejak dulu.
Mama tidak akan pergi sayang. Mama akan selalu dekat denganmu. Mama tidak ingin melihat wajah tampan ini menangis.
Melihat adegan yang begitu memilukan di dekat gerbang membuat Angga segera pergi dan menyusul keduanya.
"Ayo, Ma," ajak Angga tersenyum. Ia merasa bersalah pada Alysa. Seharusnya ia tidak egois seperti itu padanya. Dia wanita yang kuat, sabar dan mandiri. Seharusnya ia mensupportnya bukan memperbesar masalah.
Angga memangku Edward dan Alysa segera beranjak mengikuti langkah sang suami. Alysa menatap wajah suaminya dengan lekat dan air matanya tiba-tiba mengalir. Dengan sigap, Angga menghapusnya dan mengangkat susut bibirnya ke atas.
"Maafin Mama, Pa. Mama yang selalu membuat Papa marah seperti ini. Semua gara-gara, Mama. Seharusnya Mama tahu batasan!"
__ADS_1
"Maafkan Papa juga, Ma. Papa sangat egois. Papa terlalu cemburu melihat Mama berbicara dengan laki-laki lain. Papa tidak ingin jika Mama akan berpaling ke lain hati."
DEG
Alysa merasa lemas setelah mendengar ucapan suaminya. Ia semakin menatap wajah suaminya membuatnya ingin sekali memeluknya dan menangis di dada bidangnya.
"Jangan menangis lagi, nanti cantiknya ilang. Kalau ilang, kan susah nyarinya." keduanya pun tertawa haru.
"Edward anak Mama yang tampan, kamu sayang gak sama Mama?" tanya Alysa.
"Iya...Edwald sangat sayang sama, Mama. Mama tidak boleh pelgi ya?" pintanya membuat Angga tersadar jika anaknya benar-benar tidak ingin berpisah dengan Mama tirinya.
"Kalau sama Papa sayang gak?" celetuk Angga sembari melajukan mobilnya.
"Enggak!" ucap Edward memalingkan wajahnya mengundang tawa bagi Alysa. Angga yang mendengar ucapan anaknya langsung melirik sinis pada dua orang yang berada disampingnya.
"Katanya sayang, tapi gak sayang?" tanya Angga.
"Papa galak, suka bikin Mama nangis huuu...!"
"Emang pernah lihat Papa galak sama Mama? Enggak kan wlee..!"
"Papa galak ya, Ma? Mama kalau Papa galak, jangan ditemenin! Bialin aja sendiri!" celetuk Edward membuat Alysa kembali tertawa melihat tingkah lucu anaknya.
"Anak sama Mama sama aja!"
"Sama apanya?" tanya Alysa.
"Sama-sama nyebelin!"
Perbincangan segera berakhir karena mereka sudah sampai ditempat tujuan. Mereka membuka safety belt-nya dan segera keluar. Alysa memangku Edward dan menurunkannya. Alysa mengambil tas dan juga ponselnya yang disimpan di kursi belakang karena Angga yang menyimpannya. Angga memencet bel rumah hingga berkali-kali.
"Pada kemana?" gumam Angga.
Tidak berapa lama, pembantu segera menyuruhnya masuk dan merekapun segera masuk ke dalam rumah. Alysa duduk di sofa sembari meletakkan tas putranya di sofa. Edward lari-lari ke arah taman belakang membuat Alysa segera mengejarnya, takutnya Edward akan tercebur ke area kolam renang yang berada tak jauh dari area taman.
Angga menaiki anak tangga mencari keberadaan orangtuanya. Ia membuka kamarnya dan tampak Mama sedang bercengkrama ria dengan Papanya sembari mengalunkan musik. Angga menghampirinya dan mencium tangan kedua orangtuanya.
"Assalamu'alaikum, Pa, Ma."
"Waalaikumsalam. Kapan kesini? Istrimu dan anakmu mana?" tanya Papa segera beranjak dari duduknya.
"Ada, Pa. Tadi nemenin Edward main di taman. Ayo kesana!" pinta Angga dan mereka pun segera pergi.
__ADS_1
Sejak tadi Mamanya Angga tidak ceria hanya menampakkan wajah murungnya saja. Ia tidak ingin bertemu dengan menantunya sama sekali. Mereka duduk di sofa sembari memperhatikan antara Ibu dan Anak yang sedang mengejar satu sama lain. Angga tersenyum melihat itu.
"Tumben pada kesini?" tanya Mama sembari memainkan ponselnya.
"Alysa yang ingin kesini. Sudah lama tidak berkunjung ke rumah ini!" ucap Angga.
"Ohh...Istrimu sudah hamil?" tanya Mamanya tiba-tiba membuat Angga mengedarkan pandangannya pada sang Mama. Mamanya sudah pasti tahu, jika Alysa tidak akan hamil efek dari obat yang ia berikan waktu dulu. Dan setelah itu, ia akan menendangnya pergi dari kehidupan anaknya.
"Belum. Mungkin sebentar lagi juga akan hamil!" ujar Angga fokus pada anak dan istrinya.
"Dia tidak akan hamil! Lebih baik, kau ceraikan saja istrimu. Dia tidak bisa memberimu keturunan. Buat apa kau mempertahankannya!" ucap Mama membuat Angga marah dan ingin sekali menepis semua ucapan wanita yang sudah melahirkannya itu.
Angga terdiam tak menjawab.
"Nanti juga bakalan hamil, Ma. Tenang aja, pasti anak kita sangat sering membuatnya. Iya kan, Ga?" tanya Papa tertawa.
"Tiap hari, Pa," ucap Angga tertawa membuat Mamanya hanya menelan ludahnya.
Sementara itu Alysa terus saja mengejar Edward yang sangat lincah bermain. Alysa merasa kelelahan dan meminta putranya untuk menghentikannya.
"Udahan, yuk? Mama capek banget." pinta Alysa. Namun Edward tak menghiraukan ucapan Mamanya dan terus saja berlari sesuka hatinya.
Alysa duduk di kursi taman, ia melihat sekeliling rumah besar nan mewah itu. Keluarga suaminya itu sangatlah kaya dan berbeda dengan keadaan orangtuanya dikampung. Ia sangat bersyukur atas semua niat yang diberikan Tuhan padanya. Walaupun anak orang tak punya, tetapi ia tidak merasa malu ataupun minder dengan teman-teman sebayanya dulu.
Kini kehidupan Alysa berubah seratus delapan puluh derajat setelah menikah dengan Angga, sang pujaan hatinya. Mungkin ini yang diberikan Tuhan untuknya, menjadi istrinya dan menjadi ibu yang baik untuk anak tirinya. Semua Alysa lakukan dengan senang hati. Menjaga si kecil Edward yang sangat bermanja padanya membuatnya merasa hidup bahagia dengan keluarga kecilnya.
"Mama...Adek kecil udah besar belum? Katanya mau main sama Edwald!" ucap Edward tiba-tiba sembari berlari. Alysa yang mendengar ucapan anaknya itu membuatnya terdiam dan mencernanya.
Kamu sangat merindukan adek kecil ya sayang? Maaf, Mam belum bisa memberikannya lagi untukmu. Tapi Mama akan berusaha agar adik kecil segera ada diperut Mama. Do'ain ya sayang.
"Mama...!" teriaknya merasa sang Mama tak menjawab ucapannya.
"Iya...Ada apa?" tanya Alysa tersadar dari lamunannya.
"Ade kecil mana? Katanya kalau udah besal, mau main sama Edwald! Kok gak datang-datang sih!" marahnya membuat Alysa segara mendekatinya dan mencium pucuk kepala anaknya.
"Sabar ya sayang. Kan adek kecilnya masih di dalam perut Mama. Adek kecilnya belum besar." jelas Alysa.
"Tapi Edwald mau sekalang, Mama..." teriaknya lagi.
"Nih, adek kecilnya ada disini (mengelus-elus perut datarnya yang memang tidak ada apa-apa didalamnya). Ayo pegang, nanti adek kecilnya jadi besar," ucap Alysa tersenyum membuat Edward memegangi perut Mamanya.
"Adeknya masih kecil ya, Mama? Kenapa enggak langsung besal? Kalau kecil kan lama mainnya!"
__ADS_1
"Kan adek kecilnya mau lama-lama diperut, Mama. Ayo kita ke dalam, tuh lihat ada nenek sama kakek disana (menunjuk ke arah orang yang sedang berbincang-bincang)"