
Destia kini berada di polres untuk di mintai keterangan terkait dugaan akan melakukan sesuatu pada seorang laki-laki yang beliau kenal adalah Direktur. Satu per satu pertanyaan di layangkan oleh polisi. Destia menjelaskannya jika ia benar-benar tidak bersalah atas kejadian yang barusan di alaminya.
"Saya tidak bersalah, Pak Polisi!" jelas Destia dengan wajah yang kebingungan.
"Tadi Saya mendapat informasi mengenai Anda, jika Anda akan melakukan sesuatu padanya. Petugas yang mengantarkan Anda kesini juga berbicara seperti itu!" Polisi dengan tegas melontarkan pertanyaannya.
"Itu tidak benar. Laki-laki itu sedang mabuk, dan membawa saya ke dalam kamar. Saya tidak bersalah mengenai ini! Kau seorang polisi kan? Seharusnya tahu masalah ini!"
"Jaga bicara Anda..." ucapnya terpotong.
"Pak Polisi yang terhormat, izinkan Saya untuk menelpon orang tua saya!" Polisi mengizinkannya agar orang tuanya tahu, jika anaknya sudah merencanakan sesuatu.
Selepas menunggu beberapa menit, orang tua Destia pun akhirnya datang. Mereka memeluk putrinya yang kini terjerat kasus dengan pihak kepolisian. Destia tidak menduga jika ia akan masuk ke dalam sel tahanan. Ia tidak berfikir lebih panjang dengan semua ini.
"Mama...Tia gak bersalah, Mas Angga yang bersalah!" tangis Destia pecah.
"Iya Mama tahu, kamu gak bersalah! Berikan Mama alasan yang logis, katakanlah!"
Destia menjelaskan semua yang di alaminya itu satu persatu dengan rinci. Ia melebihkan-lebih jika Angga yang bersalah. Angga masuk dalam keadaan mabuk berat dan mengajaknya melakukan sesuatu.
"Ternyata anak kita gak salah, Pa. Angga yang sudah melakukan itu terhadap anak kita!" Mama Destia sungguh tidak percaya dengan semua ini. Ia menutup mulutnya dan ada kebencian pada laki-laki yang sudah memperk**a anaknya.
Mamanya Destia segera menatap Polisi dengan tajam. "Pak Polisi, sudah jelaskan? Jika anak saya tidak bersalah. Seharusnya Bapak mengetahui ini! Saya tidak ingin anak saya masuk ke dalam penjara!"
"Ibu tenang, saya akan memproses ini. Saya butuh keterangan dan juga bukti yang lebih rinci."
"Saya tidak akan pernah meninggalkan anak Saya disini!" Mamanya segera membawa Destia pergi membuat Polisi tidak bisa berkata apa-apa lagi selain melepaskannya. Namun ia tidak akan menyerah untuk mendapatkan bukti dalam kasus ini.
Haha...Polisi pun gak bisa apa-apa. Lo selamat Destia, sekarang lo harus merencanakan rencana yang selanjutnya.
***
Siang Hari
__ADS_1
Mamanya Angga segera pergi setelah mendapat telepon dari Destia. Ia harus tahu kebenarannya, jika Destia tidak bersalah mengenai kasus ini.
"Tante..." Destia memeluknya saat Mamanya Angga baru saja datang.
"Sayang...Kamu tidak apa-apa kan? Tante sangat khawatir."
"Aku tidak apa-apa tante. Tante, aku tidak melakukan sesuatu pada Mas Angga. Mas Angga sendiri yang membawa aku ke dalam kamar, karena istrinya tidak pernah memuaskan nafsunya. Aku punya bukti foto kalau aku tidak bersalah." Destia mengambil ponselnya dan memperlihatkan gambaran ketika Angga sedang memeluk dirinya.
*Flashback On*
"Cepet dong, lelet banget sih!" panggil Destia saat melihat Angga sudah berada di dalam Hotelnya. Anak buah Adryan segera membawanya ke dalam kamar dan membaringkan tubuh Angga. Destia mengikutinya dan segera membuka kancing pakaian Angga, hingga menampilkan dada bidangnya.
Anak buah pun segera pergi dan menunggu di dekat pintu sembari berbincang-bincang. Destia segera membenarkan posisi tidurnya dengan memeluk Angga. Tangan lemas Angga pun di lingkaran ke perut buncitnya agar semua itu benar-benar nyata jika Anggalah yang telah memperk**anya.
Destia memotret dirinya beserta Angga. Setelah mendapatkan satu buah foto, ia tersenyum nakal dan segera beranjak dengan merapikan kembali pakaiannya. Ia mengambil ponselnya untuk menelpon Adryan yang kini sudah pergi entah kemana. Perbincangan itu sangat lama, hingga ia tidak menyadari jika ada seorang laki-laki yang sedang mendengarkan perbincangannya.
Pintu di dobrak dengan keras membuat jantungnya berdetak dengan kencang. Ia terkejut saat Willy datang dan mengetahuinya semuanya.
*Flashback Off*
Mamanya Angga terkejut, saat melihat Angga sedang memeluk Destia dengan sangat erat tanpa memakai pakaian apapun ditubuhnya. Mamanya terlihat marah dan entah apa yang harus ia lakukan melihat perzinaan anaknya dengan wanita yang bukan istrinya. Sebenarnya ia senang, namun ketika melihat hal yang menjijikkan itu, ia merasa muak dan benar-benar tidak tahu harus melakukan apa.
Mama Destia datang dengan tatapan tidak sukanya. Anaknya sudah di perlakukan tak senonoh oleh anak dari teman arisannya itu. "Gimana dong jeng? Anak kamu udah merusak masa depan anak saya!"
"Sabar jeng. Saya syok banget melihat ini."
"Pokoknya Angga secepatnya nikahin Destia. Saya tidak mau jika Destia hamil di luar nikah setelah apa yang anak kamu lakukan!"
"Iya jeng. Saya akan bicarakan dulu sama Angga. Saya sangat minta maaf atas kelakuan anak saya seperti ini. Saya janji, saya akan segera menikahkan Angga dengan Destia."
Destia, akhirnya rencana lo berhasil. Dan satu lagi yang harus gue rencanakan saat ini, gue harus pergi ke Hotel itu lagi dan mencari ruangan CCTV pada saat malam tadi. Gue harus menghapusnya, sebelum polisi itu menemukan bukti jika Angga tidak bersalah.
***
__ADS_1
Pukul 07.00 WIB. Angga bangun dari tidurnya. Ia merasakan sakit dibagian kepalanya. Ija tidak menyadari jika sedang berada di Rumah Sakit. Setelah beberapa saat ia mulai membuka matanya, ia terkejut dan segera beranjak dari ranjang pasien.
"Dimana ini? Apa yang terjadi dengan saya?" Angga berdiri dan mencari sesuatu kehidupan di ruangan itu. Ia mulai berfikir sebelum akhirnya ia seperti ini.
Kenapa ada disini ya? Semalam kan...Semalam kan saya sedang meeting. Meeting...Astagfirullah ada apa dengan saya?
Angga masih belum tahu pasti dengan dirinya sendiri. Ia masih mengingat terakhir ia sadar. Ia sedang meeting di hotel bersama Adryan.
Apa dia melakukan sesuatu? Sialan.
Angga yang saat itu tidak tahu semua yang terjadi padanya, ia memutuskan untuk segera pergi dari Rumah Sakit. Ia berlari hingga akhirnya sampai di area ruang administrasi. Ia berjalan dengan gesa untuk segera sampai di hotel yang semalam ia datangi. Angga mulai melihat-lihat mobilnya, namun tidak ada.
Dimana mobil saya? Kenapa saya bisa ada disini?
Semua pertanyaan-pertanyaan itu masih belum bisa ia pecahkan. Angga memutuskan untuk segera naik taxi menuju Hotel. Saat ini Angga sudah berada di dalam taxi sembari memikirkan hal semalam yang terjadi padanya. Namun lagi-lagi ia tidak begitu mengingatnya. Angga mengingat pada saat malam itu, ia sedang meeting dengan Adryan, namun setelah itu ia tidak bisa berfikir lagi dan tidak tahu semua yang terjadi padanya, hingga sampai di Rumah Sakit.
"Pak, lebih cepat!" perintah Angga pada supir taxi.
"Baik, Pak."
Angga mulai mengingat Alysa dan akan mencoba menghubunginya. Ia mengambil ponselnya, namun ponselnya lowbat. Shit.
Setelah melewati gedung-gedung tinggi, hingga akhirnya Angga pun sampai di Hotel itu. Ia segera turun dan mencari keberadaan mobilnya. Ia menemukan mobilnya dan segera berlari mendekatinya.
Ahh, syukurlah. Mobilnya masih disini. Yang jadi pertanyaan, siapa yang sudah membawa saya ke Rumah Sakit? Sebenarnya, apa yang terjadi dengan saya?
Setelah berfikir dan mencoba mengingat malam tadi, Angga memutuskan untuk segera pergi.
***
Gimana nih?😵
Jangan lupa vote, like dan comment nya❤
__ADS_1