Menikahi Duda Tampan

Menikahi Duda Tampan
BAB 36


__ADS_3

Setelah kepergian Mama mertuanya dan Destia, Alysa kembali ke kamarnya untuk membaringkan tubuhnya. Ia masih terus menangis karena tamparan dan juga ucapan yang membuatnya sakit hati. Alysa menangis sesegukan dan menyembunyikan wajahnya dibalik bantal. Ia tidak tahu entah sampai kapan ia akan mendapatkan perlakuan seperti ini dari mertuanya. Disisi lain, ia dan Angga ingin segera mempunyai momongan. Dan disisi lain, Mama mertuanya melarang keras dan berusaha menggagalkannya dengan cara meminum obat pencegah hamil untuk dirinya.


Wajahnya terlihat sembab, dan tamparan itu membekas dipipi putihnya dan terlihat jelas berwarna merah. Alysa mengepalkan tangannya dan menonjokkannya di bantal. Ia begitu lemah, ia begitu takut.


Kenapa semua ini terjadi? Kenapa? Mertuaku sendiri membenciku dan menyuruhku untuk menjauhi suamiku sendiri. Batin Alysa dengan air mata yang tak kunjung berhenti.


Pukul 10.00 WIB, Alysa beranjak dari ranjang dan segera pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Setelah itu, ia merapikan rambut dan pakaian karena ia akan menjemput Edward ke sekolah. Alysa meminjam motor matic milik Siska, karena dulu ia pernah belajar mengemudikan motor pada saat SMA milik temannya. Alysa melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Diperjalanan, ia masih memikirkan perkataan mertuanya dan membuatnya melamun hingga ia akan menabrak pengendara lain.


Tidak berapa lama, akhirnya ia pun sampai disekolah Edward. Alysa memberhentikan motornya dan membuka helmnya. Ia berjalan menuju gerbang yang masih terkunci. Alysa duduk ditepi gerbang dengan wajah yang masih sembab. Sepuluh menit kemudian, terdengar suara bel berdering dan pintu gerbang segera dibuka oleh petugas security. Alysa beranjak dan segera berjalan menuju tepi gerbang. Ia celinguk-celinguk melihat keberadaan Edward namun tak kunjung keluar.


Tiba-tiba ada yang menepuk bahunya dari belakang, membuat Alysa terkejut dan segera menoleh ke belakang. "Mbak cari siapa?" tanya seorang Ibu-ibu yang berusia kepala tiga sedang menunggu anaknya juga.


"Lagi nungguin anak saya Bu," ucap Alysa tersenyum.


Ibu itu tersenyum, "Kok matanya sembab? Kenapa Mbak? Apa suami Mbak melakukan KDRT pada Mbak?" tanyanya lagi dengan wajah khawatir.


"Bukan bu. Suami saya sedang bekerja, ini tadi saya kelilipan saja" ucap Alysa berbohong.


Ibu itu tahu jika Alysa berbohong padanya. Namun ia tidak punya pilihan lain selain mengiyakannya. Edward pun datang lalu memeluk kaki Alysa dengan sangat erat, hingga Alysa pun menoleh pada Edward dan segera menggendongnya.


"Mama..." teriak Edward.


"Anak Mama udah pulang. Gimana belajarnya, susah?" tanya Alysa lalu menciuminya.


"Susah. Mama, tadi Edwald belajal melukis, Edwald dapat nilai 100" jelas Edward dengan menunjukkan kedua jari-jemarinya membuat Alysa dan Ibu-ibu yang berada disamping ikut tertawa.


"Wahh... Anak Mama pintar ya. Nanti kita kasih tahu Papa ya sayang, pasti Papa senang banget!" ucap Alysa.


Ibu-ibu itu benar-benar tidak percaya kalau Alysa adalah istri dari pengusaha terkaya dan tertampan itu. "Mbak istrinya pak Angga yang pengusaha tajir itu ya? Ini kan anaknya pak Angga" tanya Ibu-ibu penasaran.


Alysa menghela nafasnya, "Iya bu, saya istrinya. Nama saya Alysa," ucap Alysa dengan mengulurkan tangannya.


"Nama yang sangat indah. Kenalin nama saya Tari. Beruntung sakali Mbak bisa nikah sama pak Angga, dia itu tampan banget" ucap Tari dengan tersenyum.


"Senang bertemu dengan Ibu Tari" ucap Alysa tersenyum.


"Mbak boleh minta nomor teleponnya? Ya kita nanti kumpul-kumpul gitu sama Ibu-ibu lainnya," ucap Tari.

__ADS_1


"Boleh Bu. 085×××××××××. Kalau gitu saya permisi dulu bu!" ucap Alysa segera pergi.


Sesampainya dirumah, ia melihat mobil Angga sudah terparkir disana. Alysa memberhentikan motor maticnya dan segera membawa Edward ke dalam rumah. Ia membawa Edward ke kamarnya. Tiba dikamar, Alysa pun masuk dan tampaklah Angga sedang membaringkan tubuhnya.


"Mas sudah pulang?" tanya Alysa menghampiri Angga dan mencium tangan Angga, lalu duduk di tepi ranjang.


"Sudah, Mas kangen terus sama kamu. Jadi Mas pulang lebih awal," ucap Angga dengan menatap Alysa yang sedang menundukkan wajahnya. Angga menatapnya dan sepertinya ia tahu jika Alysa habis menangis. "Kamu kenapa sayang?" tanya Angga khawatir.


"Enggak apa-apa Mas. Alysa baik-baik saja!" sahut Alysa tanpa menatap Angga.


"Kamu kenapa? Ayo katakan. Kamu diapain sama Siska? Atau Ibunya? Ayo katakan jangan diam terus," ucap Angga membuat Alysa menatapnya dengan sendu.


"Bukan Mas. Ini kelilipan aja Mas, Mas gak perlu khawatir!" ucap Alysa tersenyum untuk menutupi lukanya.


"Jangan berbohong. Saya tahu, dari raut wajah kamu" ucap Angga menatap lebih dalam. "Ayo katakan? Apa Mama datang kesini? Benar Mama datang kesini? Dan ini apa sayang, pipi kamu kok merah," Angga meraba pipi Alysa yang terlihat merah dan wajahnya semakin khawatir.


"I-iya Mas, tadi Mama kesini. Tapi enggak ngapa-ngapain Alysa kok" ucap Alysa, lagi-lagi berbohong. Ia takut jika Angga akan melakukan sesuatu pada Mamanya sendiri.


"Mama...." kesal Angga menatap tajam ke depan tanpa menoleh pada Alysa dengan mengepalkan tangannya ke ranjang.


"Mama enggak ngapa-ngapain kok Mas. Mas gak boleh marah sama Mama. Alysa mohon!" ucap Alysa memohon-mohon pada Angga. Angga segera beranjak dari ranjang dan merapikan rambutnya.


"Jangan Mas!" ucap Alysa memohon-mohon. Namun Angga tidak menghiraukan ucapan istrinya itu.


"Kamu duduk disini, Mas mau ke rumah Mama sebentar. Ingat disini saja, kunci pintu kamarnya. Mas pergi dulu!" ucap Angga segera pergi. Alysa benar-benar tidak bisa mencegahnya. Ia duduk di tepi ranjang sembari menatap sendu pada Edward yang sedang memainkan mobil-mobilannya. Tak terasa air matanya menetes.


Angga segera melajukan mobilnya menuju kediaman Mamanya. Ia sangat marah dan juga kesal, karena Mamanya selalu ikut campur dalam urusan rumah tangganya. Tidak berapa lama, sampailah dikediaman Mamanya. Angga memberhentikan mobilnya dicarport depan dan segera pergi keluar. Ia mengetuk pintu rumah berkali-kali, dan pintu pun dibuka oleh pembantunya. Angga masuk dan mencari keberadaan Mamanya. Ia masuk ke kamar Mamanya, namun ia tidak menemukannya.


Angga menanyakan keberadaan Mamanya pada pembantu. "Bi, Mama kemana? Sedang keluar?" tanya Angga.


"Iya Tuan. Nyonya besar sedang keluar," ucap pembantu.


"Sama siapa? Papa kemana?" tanya Angga.


"Nyonya sedang keluar sama Nyonya Destia. Dan Tuan lagi main golf sama temannya," ucap pembantu dengan menundukkan wajahnya.


"Pantesan!" ucap Angga kesal. Ia segera duduk dikursi untuk menunggu kedatangan Mamanya.

__ADS_1


Dua puluh menit sudah Angga menunggu kedatangan Mamanya, namun ia tidak melihatnya dan menampakkan diri. Angga pergi ke ke taman belakang dan mencoba menghubungi Mamanya. Dalam panggilan ke tiga telepon pun diangkat.


"Assalamualaikum. Mama ada dimana?" tanya Angga.


"Waalaikumsalam. Mama lagi dijalan, ini mau pulang Ga," ujar Mama.


"Ya sudah. Hati-hati dijalannya," ucap Angga, lalu menutup teleponnya.


Angga kembali ke ruang tamu dan duduk disana. Ia berfikir jika ia bicara pada Mamanya, mungkin akan sedikit lebih baik pada Alysa. Tidak berapa lama, Mama pun datang dengan belanjaan penuh yang ada ditangannya. Angga beranjak dan segera mencium tangan Mamanya.


"Mama darimana saja?" tanya Angga dengan tatapan datarnya.


"Mama abis shopping sama calon mantu. Mama dibeliin ini semua, memang benar-benar calon mantu yang baik," ucap Mama tersenyum puas.


Angga mendengus kesal. Ia tahu maksud Ibunya, yaitu Destia. "Oh begitu. Kita bicara dikamar Ma," Angga menarik tangan Mamanya menuju kamar.


Begitu sampai dikamar, Angga segera memulai pembicaraan intinya. "Mama tadi ngapain Alysa?" tanya Angga.


"Oh jadi wanita kampung itu bicara sama kamu kalau Mama datang kesana?" tanya Mama tersenyum misterius.


"Ya. Dia bicara sama Angga! Nih Ma...Angga mohon sekali ini saja, tolong jangan pernah mencampuri urusan rumah tangga Angga. Angga sudah dewasa, Angga bisa jaga diri. Tapi apa? Mama tadi datang kerumah dan menampar Alysa. Apa itu cara mendidik menantu? Alysa wanita lemah lembut, hatinya baik, dan tidak pernah membantah ucapan suaminya," jelas Angga.


"Sayang. Wanita itu baik padamu hanya ingin mengincar uang dan aset-aset kamu. Dan setelah dia mengambil semuanya, dia akan meninggalkanmu. Lihat Destia, wanita cantik Dan berkarir di dunia permodelan. Dia yang pantas jadi pendamping kamu. Yang jadi istri kamu itu hanyalah sampah, seharusnya kau jadikan dia pembantumu, bukan menjadi istrimu," pekik Mama dengan tatapan tajamnya.


"Yang jadi menantu Mama itu Alysa bukan Destia. Sampai kapanpun Angga tidak akan pernah menikahi wanita liar itu. Wanita liar itu selalu saja membuat Angga marah, tapi Mama malah menyetujui gerak-geriknya," ucap Angga.


"Mama akan mengusir paksa wanita kampung itu. Enak saja dia menikahimu!" jelas Mama.


"Mungkin ini yang terakhir kalinya Angga menginjakkan rumah disini. Mama jaga diri baik-baik dan nanti Mama akan tahu siapa Destia sebenarnya. Camkan ucapan Angga, Angga pulang. Assalamualaikum" ucap Angga dan segera pergi.


Dasar anak yang dibutakan cinta. Dia rela memaki-maki Ibunya sendiri, awas ya kau wanita kampung kau akan menerima akibatnya. Batin Mama.


Sementara itu, Alysa mondar-mandir dan wajahnya terkihat khawatir karena Angga belum juga menampakkan wajahnya. Ia khawatir jika suaminya itu melakukan sesuatu pada Mamanya. Alysa menggigit ujung jarinya dan sesekali menatap Edward yang sudah tertidur dengan lelap.


Tiba-tiba pintu terbuka, dan Alysa segera menghampirinya lalu memeluknya. "Mas, lama banget," ucap Alysa.


Angga menerima pelukan dari Alysa, dan mendarat kecupan kecil dikening Alysa. "Mulai sekarang, kamu gak perlu khawatir lagi ya. Mama tidak akan kesini lagi," ucap Angga.

__ADS_1


"Mas bicara apa saja sama Mama? Mas tidak melakukan sesuatu kan?" tanya Alysa dengan memasangkan wajah khawatirnya.


"Mas tidak melakukan apa-apa. Ayo kamu harus istirahat sayang, kamu sangat kecapekan," ucap Angga dan segera memangku Alysa ala bridal style. Alysa tersenyum, hanya suaminya saja yang bisa menerima kehadirannya. Alysa berjanji untuk tidak akan meninggalkan suaminya sampai kapanpun.


__ADS_2