Menikahi Duda Tampan

Menikahi Duda Tampan
BAB 61


__ADS_3

Destia kini sudah berada di kediamannya setelah beberapa jam yang lalu ia sempat cekcok dengan Dokter. Ia tidak Terima jika dirinya kini sedang mengandung anak seseorang. Ia tidak menginginkan anak ini dan akan menggugurkannya. Ia sudah mencobanya namun lagi-lagi Ifan berusaha tidak menggugurkannya karena ada anaknya di dalam perut majikannya.


"Kenapa kau begitu menginginkan anak ini?" teriak Destia membuat Ifan hendak menepis ucapan Destia. Ia mencoba bersabar dan menerima ucapan yang akan di lontarkan Destia padanya. "Kenapa?"


"Saya tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Yang jelas, saya tidak akan membiarkan janinmu hilang! Terserah Nyonya jika akan menyebut saya apa juga, yang terpenting jangan menyiksa janinnya!" Ifan segera pergi dengan tatapan kesalnya.


Ifan sengaja membiarkan janin itu membesar diperut Destia. Ia ingin mengetahuinya dan melakukan test DNA, apakah itu benar anaknya atau anak laki-laki lain. Ia rela jika harus membawa bayi itu keluar dari rumah ini setelah melahirkan nanti, asalkan Destia tidak akan menyiksanya.


Arghhhh...Saya tidak pernah menyentuh Nyonya sebelumnya. Jangankan melakukan hal yang sangat menjijikkan tersebut, menyentuh tangannya saja langsung ditepis olehnya. Apa dia bermain dengan laki-laki lain? Terus siapa laki-laki itu? Kenapa dia tidak bertanggungjawab dengan apa yang sudah diperbuatnya itu? Laki-laki pecundang!!


Destia menangis tersedu-sedu. Ia tidak menyangka jika ia akan hamil tanpa ikatan pernikahan dengan siapapun. Dan juga ia tidak menyangka jika melakukan sekali saja bisa sampai seperti ini. Ia memukul tangannya ke dinding. Matanya merah dan tatapannya tajam menusuk.


Awas kau laki-laki brengsek! Gue akan menghabisimu dengan tangan gue sendiri! Bersenang-senanglah untuk hari ini.


Destia bergegas pergi ke kamar mandi. Ia akan pergi ke Caffe untuk membunuh laki-laki yang suka memperk**anya. Ia memasuki mobilnya dan diantarkan oleh supir pribadinya.


"Pak, ke Caffe yang biasa!"


"Baik, Nyonya."


Sementara itu, David seperti biasa ia pergi ke Caffe masih menggunakan kemeja beserta jas yang menempel ditubuhnya. Ia sering menghabiskan waktu disini daripada di kantornya. Ia selalu minum dan minum bersama wanita-wanita biduan yang sudah dibayarnya. Benar-benar tidak pernah berubah dari dulu.


Ia susah menegak sampai dua botol, membuatnya tepar dan tidak bisa bercanda dengan biduan-biduan yang berada disampingnya itu. Para biduan segera pergi karena mereka sudah di kasih jatah berupa uang tunai senilai 5 juta sekali kencan.


David masih tak sadarkan diri hingga ia mendengkur. Pelayan yang sudah mengenalnya merasa tidak asing lagi dengan keanehan dan kebiasaan pembelinya satu ini.


"Wanita bodoh, haha...Dimana kau? Sudah membesarkah perutmu? Haha...Apa kau akan mencariku? Carilah sampai ketemu, haha..." teriaknya seperti orang gila.


Tiba-tiba Destia yang sedang mencari ruangan privasi mendengar suara yang begitu tidak asing baginya. Ia mencoba mendekati ruangan privasi itu. Ia semakin mendekat dan mendekat...BRAK...


Destia membuka pintu dengan kasar hingga emosinya pun tersulut tanpa bisa ia bendung lagi. Tatapan matanya seperti ingin menerkam dan membunuh mangsanya. Mangsa yang berada di depan sangat menggiurkan tangan-tangannya. Ia mendekat dan...PLAK..

__ADS_1


"Laki-laki gila!!! Rupanya kau masih hidup sampai sekarang?" Destia menampar keras dipipi David dengan wajah yang tidak bisa dijelaskan dan marah. Ia benar-benar sangat jijik melihat ayah si bayi.


"Bangun kau!!!" Destia mencoba membangunkannya, dan David segera menahannya hingga Destia pun tersungkur di dada David.


Destia berusaha melepaskan diri dari cengkraman David. David tersenyum misterius dan menatap lekat wajah Destia yang kini sedang ketakutan.


"Wanita bodoh...!" ucapnya dengan sedikit berteriak. Destia segera menampar kembali wajah David dengan keras membuat David tertawa.


"Haha...Wanita bodoh yang sangat manis!"


"Hentikan omong kosongmu!! Laki-laki pecundang! Kau cocok di sebut laki-laki pecundang!"


"Aku pecundang? Hahah...Apa kau juga lebih pecundang dariku?"


"Jaga bicaramu! Kau akan mati ditanganku!" ancam Destia membuat David tertawa kembali tak bergeming dengan ucapan Destia.


Destia dengan cepat berusaha akan mencekik leher David. David melihat itu walaupun penglihatannya cukup tidak jelas karena efek minuman, ia dengan cepat segera mencengkram tangan Destia dengan kuat. David membalikan tubuh Destia hingga ia di atas tubuhnya. David mengunci tangan Destia yang sempat berontak. Ia segera mendekat dan mencium bibir Destia.


Destia berteriak sekencang mungkin. Namun bukannya ada pertolongan dari siapapun yang mendengar, tetapi merasa cuek dan sudah mainstream jika orang-orang melakukan hal begitu di Caffe sana.


"Tolong...!" teriaknya namun segera disumpal oleh ciuman kasar dari David.


"Diam, wanita bodoh. Kau sangat bodoh! Bodoh! Kau dengar itu?" teriak David, matanya merah dan tatapannya tajam kepada mangsa yang berada di bawahnya. Karena Destia hanya memakai rok selutut, David segera membuka resleting celananya dan berusaha memasukan miliknya hingga membuat Destia menangis kesakitan.


Ini adalah kedua kalinya Destia diperk**a oleh laki-laki yang sama. David membungkam mulut Destia dengan ciuman-ciuman. David memaju mundurkan tubuhnya dengan paksa. Hingga Destia benar-benar kelelahan, David pun menyudahinya dan tertidur di samping Destia.


***


Sepulang dari proyek setelah meeting bersama dengan David dan Pak Dirga, Alysa segera pergi menuju kantornya untuk mengambil tas dan juga berkas-berkas yang masih tertinggal disana. Ia hari ini akan pergi ke perusahaan Angga. Sudah begitu lama ia tak pernah pergi kesana lagi setelah ia memegang perusahaan perhotelan milik Angga.


Taxi segera melaju mengantar sang wanita menuju tujuannya. Alysa membuka ponselnya dan segera menelpon Angga.

__ADS_1


"Pa?"


"Iya, Ma. Papa lagi meeting dulu."


"Mama kesana sekarang."


"Hati-hati dijalannya. Kalau sudah sampai, masuk saja ke ruangan."


Setelah menelpon, Alysa membaca berkas-berkas yang sempat ia bawa tadi. Alysa mulai membacanya dan segera menandatanganinya. Setelah beberapa menit kemudian, akhirnya Alysa pun sampai di perusahan Angga. Ia segera pergi menuju lobby. Semua resepsionis dan beberapa karyawan yang sedang berada disana segera menundukkan wajahnya sebagai tanda hormat.


"Siang, Bu."


"Siang juga,"


"Bapak sedang meeting dengan perusahaan digital. Ibu bisa menunggunya di ruangannya," ucap salah satu resepsionis.


"Iya, saya akan menunggunya." Alysa segera pergi.


Tiba diruangan Angga, Alysa segera duduk di sofa. Ia mulai melihat-lihat ruangan itu. Ada yang berbeda disana. Catnya berubah tadinya yang cukup kalem, sekarang begitu mencolok. Apa Angga sekarang sudah semakin berbeda? Maksudnya, sudah bisa menetralisir fikirannya setelah menikah dengannya? fikir Alysa.


Waktu menunjukkan pukul 11.34 WIB. Alysa lupa jika hari ini Edward harus dijemput. Ia segera bergegas pergi dari ruangan Angga. Namun ketika ia akan memencet tombol lift, ia bertemu dengan Willy hendak memasuki ruangannya sendiri. Willy yang melihat Alysa pun segera menghampiri dan menanyakannya.


Istri orang.


"Sudah lama disini?" tanya Willy tersenyum kikuk.


"Barusan! Apa Pak Willy bisa mengantarkan Alysa ke sekolahnya Edward? Mungkin Edward sudah menunggunya." pinta Alysa.


"Hmm...Boleh! Ya sudah, ayo Bu kita berangkat." Alysa dan Willy segera pergi.


***

__ADS_1


Jangan lupa dukung author dengan Vote, Like dan Comment sebanyak-banyaknya❤


__ADS_2