
Saat ini Alysa dan Deffa sudah berada di dalam mobil. Mereka akan menyurvei lokasi yang berada di desa. Desa yang cukup jauh dari kota dan tentunya membutuhkan waktu yang lama. Mobil masih melaju dengan kecepatan sedang.
Deffa melirik ke arah Alysa, entah mengapa dia hanya berdiam saja tanpa mengeluarkan satu kata apapun dari mulutnya. Wajahnya juga tampak murung, sebenarnya dia sakit apa? Apa sakitnya parah sampai-sampai harus ke Rumah Sakit?
"Alysa?" panggil Deffa dan pandangannya kembali ke depan.
"Iya, Pak?" jawab Alysa tanpa melihat ke arah Deffa. Ia menyandarkan kepalanya ke jendela mobil.
"Sepertinya kamu sakit serius ya? Kok dari tadi diem aja. Harusnya kan kamu happy hari ini."
"Lagi gak mood aja, Pak."
"Lagi kerja, masa gak mood. Kamu lagi ada masalah atau gimana?"
"Nanti aja Pak bicaranya, saya mau tidur dulu." Alysa segera menutup matanya, ia tidak mau Deffa bertanya lebih lama dan tentunya ia sedang tidak ingin berbicara apapun dengannya. Deffa membiarkan Alysa tidur dan mungkin memang dia sangat ingin istirahat.
Butuh waktu sampai tiga jam untuk sampai di Desa itu. Deffa masih terus melajukan mobilnya sembari melihat Alysa yang masih tertidur dengan pulas. Ia tersenyum dengan manis, dan mengusapi tangan Alysa dengan lembut.
Entah mengapa akhir-akhir ini ia sangat bahagia jika dekat dengan Alysa. Bagaimana mungkin ia tidak bahagia, Alysa yang selalu jutek dan cuek terhadapnya membuat dirinya merasa ada sesuatu yang harus ia ucapkan padanya.
Apalagi wajah cantik Alysa yang membuat dirinya betah berlama-lama berada di kantor. Seperti halnya saat ini, ia sangat bahagia karena Alysa mau ikut serta dengan dirinya. Ia sangat mencintai Alysa. Alysa yang sudah membuat dirinya tersenyum walaupun Alysa sendiri sepertinya tidak menyukai dirinya.
Alysa, sepertinya saya harus menjadikanmu menjadi istri.
Setelah berjibaku dengan jalanan, akhirnya Deffa dan Alysa sampai di Desa. Desa yang damai dan warga yang begitu antusias menyambut kedatangan dirinya. Deffa segera keluar dari mobil dan meninggalkan Alysa yang saat ini masih tertidur.
Deffa melakukan penyurveian dan berkoordinasi dengan beberapa panitia dan akan melakukan serangkaian donasi untuk beberapa hari ke depan. Semua ini ia lakukan karena perusahaannya sudah lebih baik. Sementara itu Alysa bangun dari tidurnya. Ia melihat sekelilingnya dan mencari seseorang yang dari tadi berada di sampingnya itu. Kemana dia?
"Pak Deffa kemana ya? Kok aku di tinggalin sih!" Alysa celingak-celinguk dan segera membereskan pakaiannya. Setelah itu ia segera keluar dan perutnya terasa sangat lapar. Ia mencari keberadaan warung makan.
Deringan telepon dan notifikasi sudah menumpuk. Beberapa panggilan dan pesan dari David sudah memenuhinya.
"Ah, iya. Aku kan mau ketemu sama, Kak David."
Alysa langsung menelpon David dan butuh beberapa menit akhirnya David menjawabnya.
"Hallo, Alysa."
"Iya, Kak. Aku lagi nyurvei jadi gak bisa ketemu sekarang."
"Dimana?"
"Di Desa X."
__ADS_1
"Jauh juga ya. Terus kapan kita akan ketemu? Ada yang harus aku bicarakan denganmu."
"Bicara tentang apa? Apa masalah kerjaku dulu?"
Masalah apa ya? Masalah kerja dulu atau Mas Angga nanyain aku kah?
"Bukan, saya udah lupain hal itu."
"Terus masalah apa?"
"Nanti saja kalo kita ketemu."
"Ya sudah, nanti malem aja kita ketemu." Telepon pun akhirnya terputus dan Alysa segera mencari warung karena sudah sangat lapar.
Setelah beberapa menit mencari, akhirnya ia pun menemukan dan segera memesan nasi. Ia tiba-tiba teringat kembali dengan Deffa, kemana pria itu pergi dan meninggalkan dirinya sendirian.
***
Mamanya Angga duduk terdiam, ia memikirkan Alysa yang sudah sebulan ini tidak kunjung di temukan. Ia merasa bersalah dengan semua ini. Masalah yang begitu rumit dan tentu membuat anaknya harus kehilangan Istri yang di cintainya.
"Alysa, pulanglah sayang. Mama sudah mengakui semua kesalahan-kesalahan Mama selama ini. Mama sudah membuat dirimu sakit hati dan pergi dari rumah. Mama mohon, pulanglah. Mama akan meminta maaf padamu. Jika kamu tidak memaafkan Mama, Mama akan mencium telapak kakimu agar kamu bisa memaafkan, Mama."
Mama menangis, entah mengapa selama sebulan ini ia selalu menangisi kepergian Alysa. Wajahnya sedih, tubuhnya tampak mengurus, dan tatapan matanya kosong. Ia benar-benar menyesal sudah memisahkan anak dan istrinya. Papa yang baru saja pulang dari kantor pun segera mendekati istrinya. Ia memeluknya dari belakang dan menciumnya dengan sayang.
"Mama kenapa lagi?" tanya Papa, lalu duduk di sampingnya. Mama terlihat tidak seperti dulu yang selalu berbicara, tapi sekarang?
"Sabar ya, Ma. Papa harap juga begitu. Kita tunggu kabar baiknya dari anak kita. Semoga saja, menantu kita cepat di temukan."
Selama sebulan ini Angga masih terus mengumpulkan informasi mengenai keberadaan Alysa. Entah mengapa Alysa sampai saat ini tidak di temukan juga. Kemana Alysa pergi bersama keluarganya?
"Sayang, Mas merindukanmu. Edward juga tiap hari selalu nanyain kamu. Apa kamu bahagia setelah menjauh dari, Mas?" pertanyaan-pertanyaan itu selalu saja menghantui dirinya. Ia sangat merindukan sosok istrinya. Istri yang selalu membuatnya tertawa dan bahagia harus berpisah dengan dirinya. Ia bersalah, ia bersalah dan mengutuk dirinya sendiri.
Suara teriakan anak kecil membuat Angga menoleh dan segera menghampirinya.
"Papa... Edwald mau jalan-jalan." Edward yang biasa menanyakan keberadaan Mama tirinya, kini ia tidak mengatakannya kembali.
"Mau jalan-jalan kemana sayang?" tanya Angga, lalu menggendong putranya dan mengusapi pucuk rambutnya dengan lembut
"Aku mau jalan-jalan ke taman," ucap Edward tiba-tiba. Angga terdiam membisu, dan mencoba berpikir sejenak. Taman? Biasanya, Alysa selalu bermain di taman dengan putranya. Apa dia ada di sana? Ah iya, dia harus kesana.
Angga menganggukkan kepalanya setelah berpikir beberapa saat. Ia mengemudikan mobilnya menuju taman. Sepintas teringat ketika masih bersama dengan istrinya. Istrinya selalu bermain di taman.
"Mudah-mudahan saja, Alysa ada di sana." Angga berseru, wajahnya tersenyum kembali. Lalu ia menoleh ke arah Edward.
__ADS_1
Setelah beberapa menit mengemudikan mobilnya, akhirnya mereka pun sampai di taman. Angga memarkirkan mobilnya dan segera menggendong Edward di pangkuannya. Ia berjalan menuju sebuah kursi yang berada di taman. Setelah itu, ia duduk dan mulai melihat ke sekelilingnya.
"Papa-papa, dulu Edwald main sama Mama di sini." Edward mulai mengoceh membuat Angga menanyakan sesuatu padanya.
"Pasti seru main sama Mama ya? Andai saja Mama masih ada di sini, pasti kita masih bertiga."
"Iya Papa. Edwald sangat sayang sama Mama. Edwald sudah lama tidak beljumpa sama Mama."
Angga mengusapi kepalanya Edward. Ia tersenyum, nun ada kesedihan dalam dirinya. Edward begitu sangat merindukan Alysa. Ia harus segera mewujudkan itu. Namun sedihnya, Angga tidak menemukan Alysa di sana. Ia berharap, ia bisa bertemu dengannya dan pulang kembali bersamanya.
***
Alysa merasa tubuhnya begitu kelelahan setelah mengikuti acara siang tadi bersama Deffa. Ia mulai merebahkan tubuhnya di ranjang dan sesekali melihat foto anak kecil di ponselnya. Alysa mengusapi dan menciumnya dengan penuh kasih sayang. Ia sangat merindukan sosok anak kecil itu. Anak yang selalu dekat dengannya, yang selalu membuat suasana menjadi lebih hidup, dan yang selalu membuat dirinya tersenyum dalam situasi apapun.
TIba-tiba terdengar suara pintu di ketuk. Alysa segera beranjak dan membukanya. Tampak Ibu datang dengan membawa secangkir teh hangat dan beberapa cemilan untuk Alysa.
"Kamu kenapa?" tanya Ibu sembari melihat wajah Alysa yang tampak murung setelah pulang dari kantor.
"Tidak apa-apa, Bu. Ayo duduk." Alysa dan Ibu segera duduk di tepi ranjang. Ibu menyimpan teh hangat dan cemilan di nakas, lalu pandangannya kembali pada Alysa.
"Kamu mau cerita?" tanya Ibu membuat Alysa seperti ingin mengatakan sesuatu, namun ia harus menahannya agar tidak mengatakan hal itu.
"Alysa hanya kecapekan aja, Bu," ucap Alysa berbohong.
"Jangan berbohong. Ibu tau, kamu sedang menyembunyikan sesuatu. Ayo katakan." Alysa tidak bisa mengelak lagi, ia harus mengatakan hal ini.
"Bu, tapi Ibu janji tidak akan marah setelah Alysa mengatakan hal ini?" tanya Alysa meyakinkan. Ibu menganggukkan kepalanya dengan pelan. "Jujur, Alysa kangen banget sama Mas Angga dan juga Edward."
Ibu terdiam sejenak. "Terus, apa yang harus kamu lakukan? Apa kamu akan menemuinya? Tapi Ibu tidak akan pernah mengizinkan kamu untuk bertemu dengannya." Ibu tiba-tiba memasang raut wajah marah. Alysa tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia menundukkan wajahnya.
"Sayang dengar, Angga sudah menikah lagi, dan dia tidak akan mencarimu atau kembali padamu. Ibu mohon, tolong hilangkan rasa itu. Bagaimana pun dia tidak akan bersamamu lagi. Apa kamu mau seperti ini setiap hari? Memikirkan hal-hal yang tak seharusnya kamu pikirkan."
"Tapi, Bu," ucap Alysa terpotong.
"Sudah Ibu katakan, Ibu tidak akan pernah memaafkan dia. Walau bagaimana pun dia sudah membuat anak Ibu menderita seperti ini. Ibu hanya ingin yang terbaik buatmu." Alysa hanya bisa menangis, Ibu segera memeluknya dengan erat. Ayah yang baru saja datang segera mendekati keduanya.
"Ada apa ini, Bu? Kenapa Alysa menangis?" tanya Ayah, lalu duduk di samping Alysa.
"Alysa merindukan suami dan anaknya. Sudah Ibu katakan, jika suaminya tidak akan pernah kembali."
"Tapi, Bu. Mungkin anak kita juga memang sangat merindukan suaminya. Alysa sama Angga belum bercerai dan statusnya masih suami istri, apa kita harus mempertemukan keduanya?" Ayah merasa kasihan dengan Alysa yang setiap hari harus murung seperti ini memikirkan suami dan anaknya.
"Kita juga harus memikirkan kondisi anak kita, Yah. Kasihan Alysa kalau dia bertemu lagi dengan suaminya. Apalagi jika dia tau kalau Angga sudah bahagia dengan istri barunya."
__ADS_1
Setelah memperdebatkan hal itu dengan Ayah dan Ibunya, Alysa segera merebahkan tubuhnya. Ia harus tidur agar tidak memikirkan hal itu yang akan membuat dirinya tidak berdaya.
***