
Hari begitu cepat berganti, semua masih dengan keadaan yang sama. Dari salah satu pasangan suami istri itu masih merahasiakan semua masalahnya. Sang istri yang tidak mengetahui apapun hanya terdiam dan mungkin suaminya tidak mempunyai masalah apapun dengan orang lain.
Hari ini Angga sudah pergi ke kantornya, begitu juga dengan Edward sudah berangkat ke sekolah. Angga sudah berkutat di depan laptopnya dan mengedarkan pandangannya pada Willy yang kini sedang memutar CCTV saat di Hotel. Angga masih menantikannya dan berharap memang benar jika dirinya tidak bersalah di malam itu.
"Coba percepat dan akurasi menitnya!" perintah Angga. Willy mengangguk setuju.
Dengan beberapa ketikan dan buah kesabaran, akhirnya yang ditunggu-tunggu pun muncul. Angga begitu serius dan menatap orang-orang yang sedang berjalan menuju ke dalam Hotel. Tatapannya semakin runcing ke depan, matanya tak berkedip sedikitpun dan mencari semua yang ingin ia tangkap dalam penglihatannya.
Tiba-tiba ia terkejut ketika melihat dua orang sedang menggotong tubuhnya dalam keadaan tidak sadarkan diri. Seorang wanita berlari dan menyuruh mempercepat langkahnya. Amarah Angga langsung tidak bisa diredam. Ia menggebrak meja dengan keras hingga membuat Willy pun terkejut dan membuat jantungnya terasa copot.
"Kau serahkan bukti ini pada polisi. Aku akan menunggu hasil secepatnya! Buat wanita ini mendekam di penjara!" perintah Angga dengan nada tinggi, amarahnya tidak bisa dibendung lagi.
"Ba-baik, Pak." Willy langsung segera pergi dan meninggalkan video yang masih terus berputar. Angga mencoba mengeceknya kembali.
Permainanmu sangat lucu, Nona Destia.
***
Alysa membersihkan ruangan demi ruangan setiap harinya. Karena Hotel tempat ia bekerja sedang tidak begitu membutuhkan dirinya, ia hanya berdiam di rumah, menunggu sang suami dan anaknya pulang. Begitu kegiatannya setiap hari, ia habiskan untuk mengurus semua kebutuhan rumah tangga, mulai dari urusan perut hingga urusan dengan suami dan anaknya.
Alysa duduk di sofa sembari memegangi kemoceng. Lelah yang dirasakannya saat ini. Ia menatap ponselnya dan membuka notifikasi E-mail yang sudah mendarat beberapa menit yang lalu.
Siapa yang ngirim E-mail ya?
Alysa yang begitu penasaran, ia pun segera membukanya. Tertulis nama Destia disana, membuat Alysa pun tampak keheranan dan langsung membukanya. Alangkah terkejutnya saat ia melihat foto antara wanita itu dan juga suaminya tanpa menggunakan pakaian apapun.
Alysa marah, ia begitu sangat terpukul melihat foto itu. Tak terasa bulir-bulir air matanya mulai berjatuhan. Rasa kecewa dan marah bercampur aduk. Ia menatap foto itu dengan seksama.
Tega ya kamu, Pa. Mama disini setia sama Papa, tapi apa balasan yang Papa berikan untuk Mama?
Terdengar suara bel rumah, Alysa segera beranjak dan berharap itu suaminya. Namun saat pintu terbuka, tampaklah Destia dengan Mama mertuanya datang dengan tersenyum misterius. Alysa yang saat ini membenci dua wajah wanita itu, ia langsung memalingkan wajahnya.
Destia berjalan dan duduk di sofa sembari menatap tajam pada Alysa. "Bagaimana? Udah dilihat fotonya?" tanya Destia tersenyum misterius.
"Kenapa nangis? Ini sudah tiga bulan! Dan seperti janji saya, saya akan menendangmu pergi dari kehidupan anak saya." ucap Mama Angga dengan penuh penekanan. "Oh ya, dan ini calon istri Angga. Angga sudah tidak mencintai kau lagi! Kau tidak bisa memberikan keturunan apapun! Kau harus pergi dari sini!" teriak Mama membuat Alysa tidak bisa berkata apa-apa. Bibirnya seakan tertutupi kain tebal.
"Lihatlah dirimu? Kau tidaklah pantas bersanding dengan anak saya! Kau itu sampah bagi rumah ini!"
__ADS_1
"Tante, aku gak mau lihat wanita ini lagi. Ini si bayi udah jijik lihatnya!"
DEG
Bayi? Apa yang barusan dia ucapkan? Apa ini bayi dari hasil gelap dengan suaminya? Ohh, tidak...Tangis Alysa pecah kembali. Bayi siapa yang dia maksud?
"Bayi?" tanya Alysa dengan wajah yang sudah dipenuhi air mata.
"Ya. Ini adalah bayi ku dan juga Mas Angga. Ini bayi hasil hubungan kita. Kenapa? Merasa gak bisa ngasih keturunan ya? Kasihan!" Destia melemparkan senyuman liciknya. "Oh ya, tante. Kurasa, kita harus menendangnya sekarang ya? Hormon kehamilanku sangat mempengaruhi ketika aku melihat wajahnya!" timpal Destia pada Mamanya Angga.
"Pergi dari sini! Saya tidak mau melihat wajah kau lagi! Segera bereskan pakaianmu!" teriak Mama membuat Alysa segera bergegas pergi ke kamarnya untuk membereskan pakaiannya dan memasukkannya pada koper. Ia akan pergi dari kehidupan suaminya. Ia membencinya, sangat membencinya. Rasanya ingin sekali ia meninggal disaat itu juga.
"Hiks...Papa jahat sama Mama...Hiks...Ternyata dugaan Mama bener, Papa udah main cewek dibelakang Mama!" teriak Alysa dengan menghentakkan kakinya. Tangannya mengacak-acak rambutnya.
"Aku akan pergi dari rumah ini. Sebenarnya aku gak rela menyerahkan milikku pada wanita itu. Tapi karena kamu sudah menyentuhnya, aku akan rela melepaskannya. Sakit hati ini!"
Alysa terus menangis. Ia tidak tahu arah hidupnya saat ini. Satu-satu hidup yang sangat ia inginkan ketika ia bisa bersama dengan suami dan anak-anaknya. Namun, itu hanyalah sirna. Ia tidak bisa bersama dengan mereka. Alysa harus pergi!
Alysa menuliskan sesuatu di kertas. Ia berharap dengan kepergian dirinya, ia bisa melihat kebahagiaan di wajah suaminya yang tidak pernah menganggapnya ada.
Alysa mencium pakaian suami dan anaknya satu per satu. Air matanya menetes disana. Ia tidak kuasa menahan pilu ini. Setegar apapun seorang ibu, pasti akan menangis juga. Begitupun kini yang sedang dirasakan Alysa. Hatinya sakit seperti ditusuk benda tajam. Sakit yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya, namun sekarang ia merasakannya.
Aku akan pergi. Papa tolong jagain Edward ya. Mama gak bisa ngurusin dia lagi. Sekarang ada yang berhak untuk ngurusin Edward dengan ibu tirinya lagi. Maafkan Mama selama ini. Mungkin ini jalan yang harus Mama tempuh. Mama harus merelakan Papa dengan wanita lain. Mama tau ini sangatlah sakit, namun Mama tidak bisa berdiam diri disini. Rumah ini bukan tempat Mama. Mama akan pergi. Sekali lagi, maafkan Mama.
Edward sayang, maafkan Mama ya nak. Mama selama ini belum menjadi Ibu yang baik untukmu, tapi Mama yakin suatu saat nanti kamu akan mendapatkan kebahagiaan dengan Mama baru ya? Kamu jangan nakal disini, jangan buat Papa marah. Mama tidak bisa kesini lagi, mungkin tadi adalah perpisahan terakhir kita. Mama akan pergi ke suatu tempat, yang pastinya masih ditempat ini. Tapi Mama janji, kalo Mama ada waktu, Mama akan ke sekolah kamu untuk melepas kerinduan Mama.
Papa, Edward, Mama pergi ya. Jaga diri kalian baik-baik. Mama akan selalu merindukan kalian. I love you.
Alysa melepaskan tangannya dari pintu kamar. Ia bergegas segera pergi dengan membawa koper. Sampai di lantai bawah, dua wanita itu masih ada disana sembari memperhatikan Alysa yang kini terisak. Alysa melemparkan senyum terbaiknya untuk dua wanita yang kini sedang duduk manis di sofa. Ia mencoba menerima semua kenyataan ini. Ia harus pergi, ia harus mengikhlaskan semja yang terjadi.
"Alysa akan pergi. Ku harap, kamu bisa menjaga Mas Angga dan juga Edward. Oh ya, jangan lupa untuk jemput Edward. Ini udah waktunya ia pulang. Dan tidak lupa, saya mau ngucapin terima kasih pada Mama yang selama ini udah bisa menerima Alysa sebagai menantu Mama. Alysa akan pergi agar kalian bisa bahagia. Assalamu'alaikum." Alysa langsung pergi membawa kopernya dalam keadaan masih terisak.
Kini taxi yang ditumpangi Alysa segera pergi menuju ke suatu tempat.
Kenapa harus seperti ini hidupku? Papa sudah tidak mencintaiku lagi? Kenapa Papa gak bicara dari dulu, mungkin Mama bisa tau diri. Kenapa Papa gak bicara tentang ini? Kenapa Mama harus tau dari orang lain. Apa Mama tidak begitu berharga lagi di kehidupan Papa?
Seharusnya dulu kita gak nikah. Seharusnya kita gak saling cinta. Kenapa kita dibodohkan oleh cinta? Ini begitu sakit.
__ADS_1
Perjalanan yang begitu menyisakkan tangis. Alysa terus menangis sembari menatap jendela mobil yang terus melaju. Tidak berapa lama, taxi berhenti di depan sebuah perumahan kecil namun terlihat sangat bagus. Alysa mengambil kopernya dan segera masuk ke dalam rumah barunya.
Alysa kembali menangis dan entah apa yang harus ia lakukan saat ini. Ia tidak tahu arah kehidupannya. Menangis dan menangis saja yang diinginkannya saat ini.
***
Angga merebahkan tubuhnya di kursi kantor setelah menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang tertunda, ia tidak mengetahui rencana licik Destia. Istrinya sudah pergi meninggalkan dirinya dengan anak semata wayangnya. Angga yang saat ini masih terbaring dengan lemas, ia tidak bisa mengabari Alysa. Berkas-berkas menumpuk setiap harinya.
Sangat melelahkan. Mama lagi ngapain ya? Apa dia sudah jemput Edward?
Angga hendak menelpon istrinya, namun entah mengapa panggilannya di tolak. Ada apa ini?
Angga mencoba menghubunginya kembali, namun tetap sama. Angga segera menutup laptopnya dan bergegas pergi menuju rumahnya. Setelah beberapa menit kemudian, ia pun sampai di rumahnya dan segera masuk. Pintu gerbang tidak kunci? Kemana orang yang ada di rumah ini?
Angga yang khawatir, ia segera masuk dan pergi menuju kamarnya. Tidak ada tanda-tanda kehidupan disana. Ia semakin cemas, sampai akhirnya sampai di kamarnya. Ia membukanya, namun tidak ada sosok istrinya. Angga mulai mencari dan menghubunginya kembali. Namun panggilannya tetap di tolak.
Mama kenapa sih kok malah di tolak! Apa dia marah? Marah kenapa? Kenapa dia gak ada di rumah.
Angga duduk di tepi ranjang sembari mengedarkan pandangannya pada secarik kertas. Angga yang penasaran pun langsung beranjak dan mengambilnya.
Kertas apa ini?
Angga membukanya dan membacanya dengan teliti.
...🌷🌷🌷ISI SURAT🌷🌷🌷...
Pa, kalo tiba-tiba Mama pergi, Papa akan mengikhlaskannya gak? Ku harap, Papa bisa mengikhlaskannya. Karena setiap ada pertemuan, pasti akan ada perpisahan. Dan seperti sekarang, Malam harus pergi dari kehidupan Papa dan Edward.
Kenapa Papa harus berbohong soal itu? Kenapa gak jujur aja, kalo sebenarnya Papa udah gak ada rasa lagi sama Mama? Papa pasti terkejut kan? Mama juga sama, sangat-sangat terkejut setelah melihat apa yang terjadi di malam itu.
Mama gak nyangka, kalo Papa akan bermain di belakang. Sampai-sampai dia mengandung anak Papa sendiri. Papa hebat, sangat hebat. Hebat bisa menutupi semua ini! Kenapa Mama gak sadar ya selama ini? Ternyata rayuan Papa cukup membuat Mama terbuai.
...************************...
Angga membaca surat itu dengan teliti. Air matanya menetes. Entah apa yang harus ia lakukan. Istrinya sudah pergi meninggalkan dirinya dan juga anak semata wayangnya. Dengan keadaan amarah, ia segera pergi menuju kediaman Mamanya.
***
__ADS_1
Jangan lupa vote, likenya😀❤