
Siang berubah menjadi malam, Angga dan Edward tidak pulang ke rumah dan melainkan menyuruh Pakde Slamet untuk membawakan pakaian ganti untuknya. Tiba-tiba Alysa merasakan nyeuri pada perutnya hingga Angga yang sedang menyuapi Edward pun segera menghampiri Alysa. Angga mulai panik dan segera menelpon Dokter untuk ke ruangan Alysa. Lama sudah ia menunggu kedatangan Dokter, dan akhirnya Angga memutuskan untuk pergi. Ia berpesan pada Edward untuk tetap disini dan menjaga Mamanya.
Angga melangkahkan kakinya dengan gesa dan membuka pintu lalu segera keluar. Alysa masih mengaduh kesakitan, ia menangis menjadi-jadi. Edward yang berada di samping Alysa ikut menangis dan memegangi tangan Alysa. Tidak berapa lama, Angga dan Dokter pun datang. Dokter segera mengeluarkan alat-alat dan segera memeriksanya. Angga begitu panik dan segera menggendong Edward dipangkuannya.
Angga memegangi tangan Alysa, dan mencoba menguatkannya. Dokter masih terus memeriksa hingga akhirnya ia berkata. "Istri Bapak tidak apa-apa, hanya saja efek kiret tadi yang menimbulkan rasa nyeuri diperutnya," jelas Dokter.
"Maksudnya kiret apa Dok?" tanya Alysa yang masih memegangi perutnya. Ia tidak mengerti dengan ucapan Dokter.
Dokter menatap Angga setelah itu menatap Alysa dengan keheranan. Apa Suaminya tidak menceritakan keguguran pada Istrinya? Pikir Dokter. Dokter menghela nafasnya dan segera memberitahukannya pada Alysa jika ia keguguran dan proses kiret adalah pengambilan serta pembersihan janin yang sudah meninggal di dalam perut.
"Ibu belum tahu?" tanya Dokter bertele-tele membuat Alysa menatapnya panik pada Dokter, lalu Alysa menatap Angga dengan tatapan tanda tanya. Ada apa ini sebenarnya?
"Tahu apa Dok? Perut saya sakit banget. Hiks.." Alysa menangis entah apa yang sedang disembunyikan antara Dokter dan Suaminya. Ia masih memegangi perutnya dan selang infus masih menempel ditangan kirinya.
"Bu, saya akan memberitahukannya. Ibu harus bersabar, jangan marah. Saya sudah berusaha namun..." ucap Dokter terpotong.
"Namun apa Dok?" tanya Alysa memotong pembicaraan Dokter. Ia menatap Angga yang begitu panik dan juga khawatir. "Mas sebenarnya ada apa? Apa ini tentang..." ucap Alysa terhenti lalu menundukkan wajahnya melihat perutnya.
"TIDAKKKKK....HIKS.." Alysa menangis menjadi-jadi, Angga segera mendekatinya dan memeluknya, namun Alysa menepisnya dan menutupi wajahnya.
"Anakku..." Alysa mengepalkan tangannya dan menjambak rambutnya membuat Angga segera memegangi tangan Alysa yang akan berbuat sesuatu dan mencelakai dirinya sendiri.
"Jangan lakukan seperti itu. Mas sudah merelakannya, hiks.." tanpa sadar Angga pun menangis dan segera memeluk Istrinya dengan erat. Alysa memukul-mukul dada Angga dengan sekuat tenaganya.
"Janin Ibu sudah keguguran akibat terjatuh dan perut Ibu terbentur. Saya sudah berusaha menolongnya, namun janinnya sudah meninggal ketika Ibu terjatuh. Dan proses kiret itu pengambilan dan pembersihan janin dalam perut. Ibu yang sabar ya, Insha Allah akan ada penggantinya," jelas Dokter dengan suara haru dan ia tahu hati Ibu mana yang tidak sakit ketika anak yang sedang dikandungnya meninggal.
Dokter segera keluar dan meninggalkan sepasang Suami Istri yang sedang menangis memikirkan janinnya. Edward juga ikut menangis dan mencoba naik ke ranjang pasien.
"Mama...Kenapa?" tanya Edward dengan mencium pipi Mamanya.
"Sayang, maafkan Mama ya Nak. Mama tidak bisa menjaga dedek dalam perut. Semua ini salah Mama," ucap Alysa sambil menangis dan segera mengeratkan pelukannya pada Edward.
"Iya Ma.."
"Semua ini salah Mas. Mas tidak menjagamu dan membiarkanmu pergi bersama Edward. Mas yang salah," ucap Angga terus memeluk Istrinya.
"Mas maafkan Alysa. Alysa tidak bisa menjaganya.."
Angga mencoba menenangkan Alysa dan membaringkan tubuhnya agar Alysa tidak memikirkan tentang kegugurannya. Namun tetap saja Alysa tidak bisa tenang, ia masih memikirkan janinnya. Angga sejak tadi sudah mengikhlaskan kepergian anaknya, namun ia takut untuk memberitahu pada Istrinya.
__ADS_1
"Mas?" panggil Alysa.
"Iya sayang kenapa?" sahut Angga.
"Mama udah tahu kalau Alysa keguguran?" tanya Alysa menatap Angga dan mencari jawaban dari raut wajahnya.
"Tidak. Mas tidak memberitahukannya. Kalaupun Mas memberitahukannya, maka Mas harus menceraikan kamu. Mas tidak mau," jawab Angga.
"Kalau misalnya Alysa belum hamil lagi gimana Mas?" tanya Alysa membuat Angga menyibikkan bibirnya.
"Jangan bicara seperti itu, Mas akan membuatnya lagi hehe. Udah jangan terlalu dipikirin, kamu harus istirahat biar cepat sembuh," ucap Angga mencoba menenangkan hatinya.
"Mas janji gak akan ninggalin Alysa? Mas gak akan ngeduain Alysa?" tanya Alysa ingin tahu jawaban yang akan diucapkan Suaminya.
"Pertanyaan macam apa itu? Sayang dengerin, Mas tidak akan menceraikanmu dan juga ngeduain kamu. Kamu percaya gak sama Mas?" Angga meyakinkan namun Alysa tampak tidak menampalinya.
"Alysa gak percaya," ucap Alysa datar namun ingin sekali ia tertawa melihat ekspresi wajah Suaminya.
"Hmm menyebalkan...Bikin gemes aja," Angga menggigit ujung tangan Alysa.
"Haha...Ya Alysa kira nanti Mas akan ngeduain Alysa gitu."
"Jangan bicara seperti itu. Kalau terjadi gimana?"
"Stttt...Udah malam, jangan ngomel-ngomel terus gak baik lho buat kesehatan jantung haha.."
"Mas becanda mulu ahhh. Aku mau tidur,"
"Ya sudah ayo tidur, Mas juga ngantuk banget."
"Mas besok mau kerja? Terus Alysa kapan pulangnya?"
"Harusnya sih kerja, tapi Mas mau nemenin kamu dulu biar kerjaan nanti Willy yang mengantarkannya ke Rumah Sakit. Kita tunggu kabar baiknya saja dari Dokter sayang,"
"Hmm...Kalau Alysa disininya lama gimana? Alysa gak mau..."
"Mas usahain besok pulang ke rumah," Angga meyakinkan Alysa.
***
__ADS_1
Pagi begitu cepat. Alysa bangun dan ia ingin sekali muntah karena bau obat yang begitu menyengat. Ia langsung menutupi hidungnya. Seperti ia membutuhkan sesuatu untuk lebih merilekskannya. Alysa melihat seluruh ruangan, namun ia tidak menemukan Angga disana. Edward masih tertidur di sofa. Kemana dia? Pikirnya.
Alysa berusaha untuk bangkit dan beranjak dari ranjang pasien. Ia membawa cairan infusan itu ke kamar mandi, untuk memuntahkan isi oerutnya. Namun keseimbangan tubuhnya benar-benar tidak bisa ia tahan, hingga akhirnya ia terjatuh dan ada tangan yang segera membantunya. Alysa menoleh, ternyata Angga yang membantunya. Alysa berusaha bangkit dengan dibantu Angga hingga ia bisa berdiri dengan posisi sempurna.
"Mau kemana?" tanya Angga lalu membantu mengaitkan cairan infus yang terjatuh.
"Ke kamar mandi Mas," jawab Alysa.
"Ya sudah, ayo Mas bantu."
Angga segera menuntun Alysa dengan satu tangan memegangi tangan Alysa dan satu tangannya lagi memegangi cairan infusan. Alysa masuk dan menyuruh Angga untuk tetap diluar. Namun Angga bersikeras untuk masuk karena ia harus memegangi cairan infusan yang berada ditangannya.
"Mas diluar aja, gak usah masuk."
"Enggak, Mas harus masuk."
Alysa mengernyitkan dahinya. "Alysa malu, nanti Mas malah ngelihatin."
"Astagfirullah sama Suami sendiri masih malu?"
"Hehe.. Ya malu Mas,"
"Ya udah deh boleh disitu tapi jangan lihat ya,"
"Iya,"
***
Alysa sudah terbaring kembali di ranjangnya. Angga memainkan ponselnya untuk melihat perkembangan perusahaannya. Edward duduk disamping Alysa sembari memainkan jari-jemarinya membuat Alysa tertawa geli. Angga mengedarkan pandangan pada Alysa yang sedang tertawa lepas bersama anaknya. Setelah itu ia kembali fokus pada ponselnya.
Pintu diketuk dan Angga segera bangkit untuk membuka. Tampak Willy mengantarkan berkas-berkas yang dipinta Angga. Ia menyerahkannya dan pandangannya fokus pada Alysa yang sedang terbaring diranjang pasien. Sontak saja ia terkejut dan segera menanyakannya pada Angga.
"Ini Pak berkasnya. Lho Istri Bapak kenapa? Sakit apa?" tanya Willy dan pandangannya masih pada Alysa.
"Istri saya sakit biasa. Kau boleh pergi," ucap Angga yang mengetahui Willy memandangi Istrinya terus-menerus.
"Semoga cepat sembuh. Kalau gitu, Saya permisi Pak."
Ngapain si Willy ngelihatin Istri Saya seperti itu? Harus benar-benar di awasi. Batin Angga.
__ADS_1
Dukung terus author ya, satu like sangat berharga. Vote sebanyak-banyaknya agar novel ini naik rankingnya. Jangan lupa untuk Comment dan Tipnya😂
Novel Ryan dan Azkia udah up ya kak. Judulnya Istri Kecilku. Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya😘