
Motor berhenti tepat di sebuah gedung tinggi. Alysa menatap takjub pada gedung itu. Matanya berbinar seperti menatap sinar matahari. Setelah membayar ongkos ojek, Alysa segera berjalan dan mendekati security untuk menanyakan lowongan pekerjaan di perusahaan itu.
"Permisi, Pak," ucap Alysa pada seorang petugas security.
Security itu langsung menoleh. "Iya, Mbak. Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya.
"Apa disini masih membutuhkan seorang pekerja? Cleaning service pun tidak apa-apa."
"Saya kurang tau, Mbak. Mbak bisa menanyakannya langsung pada Direktur perusahan ini. Mari Mbak saya antar ke dalam." Alysa mengangguknya dan segera mengikuti langkah security itu.
Tiba di lobby, semua mata tertuju padanya. Alysa merasa malu dan menundukkan wajahnya sembari tersenyum pada mereka. Wajah cantik Alysa mampu membuat semua mata memperhatikannya. Tak terlebih dengan karyawan laki-laki sampai tidak mengedipkan matanya.
Malu banget!
Setelah beberapa menit kemudian, akhirnya mereka sampai di gedung tertinggi itu. Ruangan Direktur perusahaan terletak di gedung tinggi itu. Security segera undur diri setelah sampai di depan ruangan Direktur. Tak lupa Alysa mengucapkan terima kasih padanya.
Alysa mengatur nafasnya dengan panjang. Ia berdo'a dalam hatinya. Ini adalah kedua kalinya ia melamar pekerjaan di sebuah perusahaan.
Alysa, semoga ini keberuntunganmu.
Alysa segera mengetuk pintu hingga beberapa kali, sebelum akhirnya sang pemilik ruangan itupun segera menyuruhnya untuk masuk.
TOK TOK TOK
"Masuk!!!" perintah dari dalam ruangan dengan lantang. Tanpa berfikir panjang, Alysa segera membuka pintu.
CEKLEK
Perasaannya menjadi was-was. Ia takut jika Direktur perusahaan ini tidak akan menerimanya. Alysa menundukkan wajahnya dengan berjalan menuju ke arah laki-laki yang sedang duduk di kursi sembari berkutat di depan laptopnya. Alysa segera duduk di depan laki-laki itu dengan wajah yang masih menunduk.
__ADS_1
Laki-laki itu mengedarkan pandangannya pada Alysa, wanita yang berada di depannya. Ia menatap dan memperhatikannya dengan seksama, sebelum akhirnya ia mencoba menanyakan maksud kedatangan wanita yang berada di depannya ini.
"Apa kita sudah ada janji?" tanyanya dengan nada dingin, membuat Alysa terdiam dan segera mengangkat wajahnya menatap laki-laki yang ada di depannya.
"Hmm, hmm, ti-tidak ada janji apapun dengan, Bapak." jawab Alysa terbata, pandangannya masih pada laki-laki tampan menurutnya.
Waw...Sangat-sangat tampan dan juga dingin seperti Mas Angga dulu.
"Hmm...Pak?" panggil Alysa karena laki-laki itu tidak menerima kedatangannya dengan baik.
"Iya?" sahut laki-laki itu dan pandangannya kembali pada Alysa.
"Apa perusahaan ini masih membutuhkan karyawan baru atau cleaning service pun tidak apa-apa? Saya membutuhkan pekerjaan-pekerjaan itu." Alysa memohon-mohon membuat laki-laki yang ada di depannya menatapnya dengan seksama. Kali ini tatapannya begitu lama, membuat jantung Alysa berdegup sangat kencang.
Kenapa ngeliatinnya kayak gitu? Ada yang salah dengan wajahku, bajuku?
"Anda bisa menggunakan komputer, laptop?" tanyanya.
"Punya keahlian apa? Maksud saya, dulu Anda bekerja dimana? Apa Anda bisa bekerja dengan benar?"
"Saya bekerja di perusahaan..." ucap Alysa terhenti.
Aku gak boleh ceritain nama perusahaan, Mas Angga. Kalo aku kasih tau, ku yakin dia mengetahuinya.
"Hmm, saya tidak bekerja di perusahaan apapun, Pak."
"Hah? Kenapa Anda bisa yakin akan keterima di perusahaan saya? Keahlian pun gak punya apalagi bekerja disini sangat dibutuhkan pekerja yang handal dan berprofesional." jelasnya membuat Alysa menelan salivanya dengan susah payah.
"Jadi Bapak gak mau ngasih pekerjaan sama saya?" tanya Alysa dengan wajah memelas.
__ADS_1
"Saya harus melakukan testing dulu sebelum menerima pegawai baru."
"Testingnya gimana, Pak? Terus kalo saya gak bisa, Bapak tetep gak akan menerima saya bekerja disini?"
"Ayo ikut saya!" ajaknya tanpa menjawab pertanyaan Alysa. Karena Alysa duduk terus di kursi, membuat laki-laki itu segera menarik tangannya.
Alysa melototkan matanya tak percaya. Direktur itu memegang tangannya. Alysa berusaha melepaskan cengkeraman kuat itu, namun tenaganya tidak bisa ia kalahkan. Hingga akhirnya sampai di ruangan testing yang berada di sebelah ruangan itu. Mereka masuk dan segera mendekati komputer yang ada disana. Laki-laki itu melepaskan tangan Alysa dan segera menyalakan komputernya. Alysa menatap seluruh ruangan ini. Matanya tidak bisa berpaling pada ruangan besar ini.
"Ayo segera lakukan testing sekarang! Saya ingin melihat keahlian Anda!" titah laki-laki itu.
Alysa segera duduk di kursi sembari memainkan komputer yang ada di depannya. Sebenarnya ia tidak terlalu jago pada komputer, namun ia akan menunjukkannya sebisa mungkin. Ia mulai mengetik sesuatu dan membuka file-file perusahaan. Laki-laki itu mengerutkan dahinya sembari menyilangkan kedua tangan kekarnya.
"Pak, ini file perusahaannya. Dan disini, ini khusus penyimpanan dokumen penting perusahaan." Alysa menjelaskannya satu per satu.
"Terus...?"
"Disini, kita bisa melihat data-data perusahaan agar tidak ada yang mencurinya. Ada beberapa kasus dalam dunia perusahaan seperti ini yang kehilangan data perusahaan mereka, ini bukanlah yang pertama melainkan beberapa tahun terakhir ini sudah banyak yang kejadian seperti ini." jelas Alysa menerangkan setiap file-file yang ia lihat di layar. Laki-laki itu tampak tersenyum. Seperti apa yang di ucapkan wanita di depannya, ia bisa melakukan pekerjaan ini dengan baik.
"Tau dari mana Anda bisa membedakan setiap file-file yang ada di perusahaan ini?"
"Saya tidak tau mengenai hal itu. Tapi saya yakin, saya bisa membedakannya."
Setelah melakukan testing yang membuat Alysa merasa stres dengan pertanyaan demi pertanyaan dari Direktur perusahaan, akhirnya ia pun di terima dan di tempatkan sebagai sekretaris kedua. Entah semalam ia mimpi apa, sampai akhirnya ia keterima di perusahaan ini menjadi sekretaris. Ahh, sangat membahagiakan.
Alhamdulillah, semoga dengan kembalinya bekerja disini, aku bisa melupakan masa laluku dan juga bisa melupakan Mas Angga yang sudah bahagia bersama istri barunya. Aku sudah mengikhlaskannya walaupun aku juga masih mencintainya.
Hari ini Alysa disibukkan dengan bekerja pertamanya. Banyak karyawan lain yang mencoba menanyakan nama dan juga keahlian apa yang sudah membuatnya di Terima di perusahaan ini. Alysa menjawab semuanya dengan penuh semangat. Inilah kehidupan barunya akan dimulai. Dimulai dengan beberapa rintangan, namun akan menghasilkan apa yang kita inginkan.
Bekerja secara profesional mungkin itu sangat memberatkan dirinya, namun ia tidak boleh mengeluh. Ia harus tetap semangat agar orang tuanya di kampung pun ikut bahagia sama seperti dirinya. Lembaran baru dan pekerjaan baru.
__ADS_1
Alysa mencoba menghubungi orangtuanya di kampung jika dirinya sudah bekerja kembali di perusahaan makanan. Ibu dan Ayahnya sangat bahagia. Walaupun ia tau jika anaknya sedang di landa masalah dengan pernikahannya. Mereka akan selalu mensupportnya dan menguatkan hatinya agar tidak rapuh.