Menikahi Duda Tampan

Menikahi Duda Tampan
BAB 22


__ADS_3

Setelah mendapat mukena dari Angga, Alysa segera shalat subuh begitu juga dengan Angga. Angga merasa tidak salah memilih calon istri dan ibu untuk anaknya. Setelah selesai, Alysa segera membangunkan Edward yang masih terlelap.


"Sayang ayo bangun, mau ikut tante gak? " Alysa mengelus pipi Edward dengan lembut.


"Mauu...! " sahut Edward dengan suara khas bangun tidur tanpa membuka matanya membuat Alysa tersenyum dan segera menciumnya. Angga yang berada disana langsung tertawa melihat tingkah anaknya. Sejak kapan Edward bersikap seperti ini?.


"Gemes banget muachh.." Alysa mencium pipi Edward membuat Edward membuka matanya perlahan-lahan.


"Tante, Edwald masih ngantuk, bialkan Edwald tidul lagi! Dan kepala Edwald sedikit pusing" lirih Edward dengan memegangi kepalanya dengan berpura-pura membuat Alysa dan Angga menatap keheranan dengan tingkah laku anak kecil itu.


"Ayo bangun, ini sudah siang. Kalau enggak bangun, nanti tante tinggal Edward disini sendirian!" Alysa bangkit dan berpura-pura pergi.


"Tante jangan tinggalin Edwald hiks.. hiks...Papa... Tante cantik tak boleh pergiiii..! " Edward segera bangun dan menghampiri Alysa yang berada di ambang pintu, membuat Edward menangis histeris.


Melihat Edward menangis, Alysa langsung tersenyum dan segera menenangkannya. Angga hanya duduk di sofa dengan menatap Edward yang sedang menangis dan Alysa yang sedang menenangkanny. Angga mendaratkan senyuman kecil dibibirnya dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.


Tidak lama kemudian, akhirnya Edward berhenti menangis dan memeluk Alysa dengan erat. Ia tidak mau ditinggalkan Alysa dan menganggapnya seperti ibu kandungnya sendiri. Alysa sangat mengerti dan juga kasihan melihat Edward yang menginginkan sosok ibu untuk menjaganya. Alysa semakin yakin untuk selalu ada disisi Edward dan menjaganya sampai ia dewasa. Angga menatap mereka dengan sendu.


Andaikan ibumu masih ada Nak, mungkin dia akan seperti ini. Membangunkanmu, memandikanmu, menyuapimu, mengantarmu ke sekolah dan juga bermain bersamamu. Papa ingin memberikan ibu sambung untukmu dan juga dia akan tulus merawatmu seperti anaknya sendiri. Aku yakin, Alysa akan menyayangimu Nak. Batin Angga tak terasa air matanya sudah membasah dipipinya.


Edward masih terus memeluk Alysa. Alysa semakin mendekap kepelukannya dan mendaratkan ciuman di keningnya.


Edward anak Papa Angga yang tampan. Tante gak akan ninggalin kamu Nak, tante selalu ada disampingmu . Batin Alysa menatap Edward dengan sendu lalu menatap Angga yang sedang menyeka air matanya.


Alysa menatap Angga dan mendaratkan senyuman kecil dibibirnya membuat Angga tersenyum menampakkan gigi putihnya. Alysa segera berdiri dan membawa Edward ke ranjangnya, ia akan memandikan Edward, karena penerbangan akan start pada pukul 09.00. Alysa tiba-tiba teringat kalau ia tidak membawa pakaian apapun dari kontrakannya. Alysa pun meminta Angga untuk membawakannya dan ia akan memandikan Edward.


"Pak? " ucap Alysa lirih karena Angga sedang membuka laptopnya.

__ADS_1


"Iya? Ada apa? " tanya Angga tanpa menatap Alysa dan fokus dengan laptopnya.


"Hmm.. Saya enggak bawa pakaian, apa bapak mau membawakan pakaian saya yang di kontrakan? kalau bapak tidak mau, saya akan menyuruh supir yang membawakannya! " Ucap Alysa dengan sedikit ragu-dagu dan wajahnya sangat khawatir untuk menunggu jawaban dari Angga.


Angga menutup laptopnya dan segera menghampiri Alysa. "Biar saya saja yang membawanya. Kamu mandiin Edward saja ya!" ucap Angga tersenyum, membuat Alysa menganggukkan kepalanya dan Angga pun langsung pergi.


Alysa membawa Edward ke dalam kamar mandi. Ini pertama kalinya ia memandikan Edward, dalam hatinya ia merasa senang sekaligus terharu. Ternyata sebentar lagi ia akan menjadi seorang istri dan juga seorang ibu. Alysa mulai membuka pakaian Edward satu per satu sampai tidak ada yang tersisa. Alysa memandikannya dengan telaten membuat Edward tersenyum dan mencium pipi Alysa. Alysa tersenyum melihat Edward yang sangat menyayanginya, bahkan ia bukan ibu kandungnya.


"Tante, tante! Edwald punya pelahu balu" Edward menunjukkan mainan perahu yang mengambang dan berada di dalam bathup.


"Wahh.. Perahunya bagus banget ya. Ini pasti Papa yang beliin ya?" tanya Alysa menebak-menebak sembari menyabuni Edward, baru kali ini Edward diam saat dimandikan, biasanya ia akan lari-lari dan sedikit mengoceh jika bersama dengan Angga.


"Bukan! Ini dali neneknya Edwald tante!" Pekik Edward membuat Alysa teringat kembali kata-katanya yang membuat dirinya menangis.


Ternyata Mamanya pak Angga sangat perhatian sama cucunya. Dan bahkan pak Angga tidak begitu memperhatikan mainan untuk anaknya. Ya Allah kuatkan hambamu ini dan semoga Mamanya pak Angga bisa menerimaku sebagai menantunya.


"Seling tante. Nenek suka bawa mainan balu untuk Edwald, Edwald sayang sama nenek, nenek itu baik banget! " ucap Edward dengan jujur membuat Alysa terharu. Dan memang benar, selama ini yang selalu memperhatikan Edward hanya neneknya, Edward sejak bayi dibesarkan oleh neneknya dan setelah usia 2 tahun, Angga yang membesarkannya sampai usia sekarang. Namun, Angga tidak terlalu memperhatikan anaknya dan sering kali mengacuhkan keinginannya yang membuat Angga pusing. Tapi, hari demi hari. Angga mulai sadar dan tahu jika Edward adalah anak semata wayangnya yang membutuhkan kasih sayang dari orangtuanya. Seorang anak kecil tanpa dibesarkan oleh ibu kandungnya sendiri.


"Udah selesai mandinya ya, jangan main air nanti Papa Angga marah lho! "


"Iya tante! " Alysa segera mengambil handuk yang tersimpan di samping pintu, lalu segera menghampiri Edward untuk melilitkan handuk ditubuh Edward dan segera mengangkatnya. Alysa membawa Edward ke atas ranjang untuk memakaikan pakaian. Lalu membuka almari untuk membawa pakaian Edward, setelah itu ia kembali ke ranjang dan segera memakaikannya. Edward hanya diam, ketika Alysa mulai menggosokkan minyak telon ke tubuhnya, biasanya ia akan lari-lari dan tidak mau memakai pakaian. Mungkin hari ini berbeda dengan hari sebelumnya?.


Ketika sedang memakaikan pakaian pada Edward, tiba-tiba pintu terbuka dan tampak Angga membawakan pakaian Alysa yang berada di dalam koper miliknya. Angga mendekati Alysa lalu duduk di tepi ranjang. Angga menatap Alysa dengan tersenyum, membuat Alysa salah tingkah. Setelah itu Angga menatap Edward yang entah mengapa ia hanya diam ketika dipakaikan pakaian oleh Alysa. Dan jika mengingat hari-hari sebelumnya, Edward sangat sulit dan berlari-lari agar Angga perlu sedikit extra untuk mengejarnya.


"Edward hari ini diam ya, enggak banyak lari-lari!" tanya Angga menatap Alysa, lalu setelah itu menatap Edward.


"I-iya pak, Edward enggak lari-lari. Daritadi juga diam terus!"

__ADS_1


"Kenapa kalau sama saya dia suka lari-lari ya? Padahalkan sama saja kayak kamu seperti ini!" Pekik Angga membuat Alysa tersenyum mendengarnya.


"Mungkin Edward enggak mau di mandiin sama bapak hehe! Atau mungkin karena dia menginginkan sosok ibu yang akan mengurusnya!" jawab Alysa membuat Angga mendekatinya dan memegangi tangannya dengan erat.


"Alysa, ternyata saya enggak salah memilihmu untuk anak saya. Maafkan jika status saya yang seperti ini, saya sudah tidak perjaka lagi dan juga sudah punya anak dari istri pertama saya!"


Alysa menghela nafasnya. "Tidak apa-apa pak. Saya lebih ssnang seperti ini yang bisa mengurus anak kecil walaupun itu bukan anak saya. Saya hanya berpikir untuk selalu membuatnya tersenyum dan ia bisa menerima saya sebagai ibu sambungnya. Saya sangat menyayangi anak bapak, saya takut kehilangannya pak! "


"Semoga setelah kita menikah nanti, tidak ada yang harus kita tutupi. Saya begini adanya, dan kamu juga sudah tahu sendiri! Saya terlalu egois dan menginginkan kamu untuk menjadi ibu bagi anak saya, saya akan membahagiakanmu begitu juga dengan keluarga kecil kita Alysa!"


"Iya pak!"


Sementara itu, pagi-pagi buta Destia datang ke rumah Mamanya Angga dan bermaksud untuk menggagalkan pernikahan Angga, ketika kemarin ia mendengarkan ucapan Angga jika ia akan segera menikah dengan wanita lain dan bukan dengan dirinya. Mobil Destia memasuki kawasan rumah elit dan berhenti tepat di depan rumah Mamanya Angga. Destia terlihat sangat kesal, mungkin jika ia mengadu pada Mamanya, pasti Angga tidak akan jadi menikah dengan wanita lain pikir Destia.


Seorang bodyguard membuka pintu dan Destia segera turun dan memakai kacamata berwarna hitam untuk menutupi mata sembabnya, karena malam tadi ia menangis. Destia menghela nafasnya dengan kasar, lalu segera melangkahkan kakinya menuju gerbang rumah. Rumah Mamanya Angga di jaga ketat oleh dua orang security gagah dan kekar. Karena Destia sering keluar masuk ke rumah ini, jadi security tidak akan menginterogasinya terlebih dahulu.


Security itu tersenyum ramah dan menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat. Karena beliau tahu jika ini adalah calon istri untuk Angga yang diberikan Nyonya besarnya. "Pagi Nyonya! Silahkan saya antar ke dalam!" ucap seorang security dengan wajah menunduk.


"Pagi! Saya ingin bertemu dengan Nyonya rumah ini!"


"Baik Nyonya!"


Mereka segera pergi diikuti bodyguard Destia yang berada dibelakang. Security segera kembali setelah mengantarkan Destia tepat di depan pintu utama rumah itu. Destia memencet belnya.


TING TONG TING TONG


Pintu terbuka dan tampak pembantu rumah yang membukanya. Destia langsung masuk menuju ruang tamu, disana ada Mamanya Angga sedang memainkan ponselnya. Destia menghampirinya dan segera memelukmya.

__ADS_1


__ADS_2