Menikahi Duda Tampan

Menikahi Duda Tampan
BAB 60


__ADS_3

Keesokan harinya, Alysa bangun dan segera pergi ke dapur untuk masak. Karena setelah kepergian Siska dan Ibunya, Angga tidak mencarikan pembantu lagi. Alysa mengambil celemek dan memakainya. Ia mengambil bahan-bahan yang ada di kulkas. Hanya ada wortel, kentang dan juga sayuran. Stok makanan sudah habis.


Ia mengirisnya kecil, karena akan membuat sayur sop. Setelah selesai memasak, ia segera pergi ke kamar untuk membangunkan Angga dan juga anaknya. Angga masih tertidur pulas sembari memeluk gulingnya. Alysa membuka selimutnya dan membangunkan suaminya yang susah sekali bangun.


"Papa...Bangun!" teriak Alysa membuat Angga bangun karena teriakan istrinya cukup mengagetkannya.


"Ada apa, Ma? Pagi-pagi udah teriak gak jelas," sahut Angga.


"Ayo bangun, Papaku sayang," ucap Alysa dengan lembut.


"Emangnya sepagi ini mau kemana, Ma? Mau jogging? Tumben kamu mau jogging, biasanya gak mau," ucap Angga menebak-nebak tanpa tahu kebenarannya.


"Iya, Mama mau jogging. Ayo Papanya bangun dulu."


"Hmm...Nanti aja Ma kalau udah agak siangan. Papa tidur lagi," Angga tertidur kembali membuat Alysa segera membangunkannya lagi.


"Pa? Papa? Kalau nanti Mama jogging sendiri terus ada laki-laki lain yang deketin Mama gimana? Terus Mama di ajak nikah sama laki-laki itu gimana? Ya udahlah, Mama jogging sendiri aja!" Alysa segera pergi. Namun belum sempat ia melangkahkan kakinya, Angga segera menarik tangan istrinya dan Alysa pun tersungkur di atas dada Angga.


"Papa udah bangun nih. Ayo, katanya mau jogging. Biar Papa yang temenin ya," ucap Angga dengan senang hati.


Dasar aneh, tadi katanya gak mau.


"Ya udah, mandi dulu sana. Mama tunggu di ruang makan ya. Ehh sekalian closet, sink, sama bathtubnya di gosok ya Pa." ucap Alysa tersenyum menang.


"Hmm..." memalingkan wajahnya.


"Ayo cepat, kita gak jadi jogging. Kita akan kerja ke kantor."


Alysa pergi ke kamar sebelah untuk membangunkan Edward, karena ia harus pergi ke kantor. Setelah itu, ia segera membawanya ke kamar mandi. Angga segera mencuci apa yang dikatakan Alysa tadi. Sebenarnya ia tidak mau, namun karena Alysa akan mengomel jadi mau tidak mau ia harus melakukannya.


Setelah selesai mereka segera sarapan bersama. Alysa mengambilkan nasi beserta sayur untuk suami dan juga anaknya.


"Pa, stok makanan udah abis. Nanti kalau pulang dari kantor kita belanja dulu."


"Iya sayang."


"Mama, nanti Edwald mau ke lumah teman Edwald pulang sekolah."


"Siapa?"


"Sandla," ucapnya tersenyum senang.


"Oh anaknya Pak Dirga ya?" tanya Alysa dan Edward pun mengangguknya. Pak Dirga adalah rekan bisnisnya.


Setelah selesai sarapan, mereka segera pergi untuk mengantarkan Edward ke sekolah terlebih dahulu, setelah itu mereka segera ke kantor.


Alysa kini sudah berada di kantornya. Ia membuka dokumen penting dan membacanya. Perancangan hotel baru akan di laksanakan besok dan ia harus segera bertemu dengan Arsitek dan juga rekan bisnisnya (Pak Dirga). Alysa mengambil ponselnya dan segera menelponnya.


"Assalamu'alaikum, Pa."


"Waalaikumsalam, Bu."


"Apa kita bisa bertemu untuk membicarakan hotel yang akan segera di bangun?"


"Tentu saja. Nanti saya kesana sekalian ajak anak saya. Kalau begitu saya tutup teleponnya."


Semoga saja pembangunannya bisa cepat selesai selama empat bulan terakhir.


Ketukan pintu membuat Alysa segera mengedarkan pandangannya.


TOK TOK TOK


"Masuk!"

__ADS_1


"Permisi, Bu. Ada yang mau bertemu dengan Ibu," ucap Dimas tersenyum ramah.


"Siapa, Dim? Pak Dirga?" tanya Alysa.


"Bukan, Bu. Saya juga tidak mengetahuinya."


Siapa ya? Aku juga gak ada jadwal lain selain bertemu dengan Pak Dirga nanti.


Alysa mengangguknya pelan, dan segera bangkit dari kursinya. Ia keluar di ikuti Dimas di belakangnya. Alysa menyapu pandangannya ketika seorang laki-laki yang tidak begitu asing menurutnya.


"Lho, Kak David? Kak David kan?" tanya Alysa menebak nama si laki-laki yang begitu ia kenal dan sangat familiar dengan wajahnya yang seperti ia lihat dulu sewaktu SMP. David adalah kakak kelasnya dulu semasa SMP. Setelah lulus SMP, ia sekolah di Jakarta dan ikut bersama Ayahnya. Bisa dibilang waktu SMP dulu ia sangat brutal alias murid ternakal di sekolahnya, dan membuat Ayahnya segera membawa David ke Jakarta.


"Alysa? Kau disini?" tanya David membulatkan matanya.


"Ya, aku yang memegang perusahaan suamiku. Ayo duduk dulu," mereka pun segera duduk.


"Wahh...Sekarang udah jadi Bos nih, haha..." ucap David.


"Alhamdulillah. Ada apa kemari?" tanya Alysa.


"Aku memegang Hotel Cendrawasih karena Ayahku udah gak mungkin lagi kerja disana. Dan aku datang kesini untuk bekerjasama dengan perusahaanmu," ucapnya.


"Beruntung hari ini Kakak kesini. Oh iya, nanti dari pihak hotel X milik Pak Dirga akan kesini. Kita akan segera membangun hotel baru. Ya, nanti untuk pendapatan kita bagi rata."


"Boleh tuh. Tapi berkasnya nanti saya titipkan sama sekretaris saya."


"Oke Kak. Hmm...Apa Kakak udah nikah?" tanya Alysa sembari tersenyum kikuk.


"Belum...Masih melajang nih."


"Nikahlah Kak. Udah mau kepala tiga haha..."


"Orang masih 23 tahun, ngarang kamu."


"Mau nunggu yang pas, haha..."


"Nunggu yang pas mah susah."


"Gampang, pake duit langsung dapet calon bini."


Setelah berbincang-bincang, mereka segera pergi ke lokasi bangunan karena Pak Dirga sudah sampai disana bersama Arsitek.


Sementara itu, Angga kini sedang merebahkan tubuhnya di sofa kantor. Ia tampak memikirkan sesuatu. Tatapannya kosong ke langit-langit.


Gimana kalau Mama benar-benar dengan ucapannya waktu itu? Sementara pernikahanku dengan Alysa sudah dua bulan setengah. Arghhhh...Kenapa harus kayak gini?


Angga memukul keras bantalan sofa. Perasaannya kini mulai tidak bekerja dengan baik. Tiba-tiba Willy datang dan melihat Angga seperti orang kebingungan dan sepertinya dia sedang ada masalah. Masalah dengan istrinya atau perusahaannya? fikirnya.


Willy mendekati Angga dan menyerahkan beberapa berkas yang harus Angga tandatangani.


"Permisi, Pak. Maaf mengganggu waktunya sebentar. Ini ada berkas dari perusahaannya Pak Aryo untuk ditandatangani," ucap Willy menyerahkan berkas itu membuat Angga kembali duduk dengan nyaman.


Setelah itu, Willy segera pergi. Namun belum sempat ia membuka pintu, Angga segera menyuruhnya untuk duduk.


"Will, duduk dulu. Saya mau bicara sesuatu!" pinta Angga.


Willy membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju Angga. Ia duduk dan mengedarkan pandangannya pada Angga.


"Iya, Pak. Apa ada sesuatu?" tanya Willy.


"Jika nanti kau sudah menikah, terus orangtuamu tak merestuinya, apa kau akan menceraikannya atau tetap bersama dengannya?" tanya Angga membuat Willy mengerutkan dahinya. Ia tidak mengerti masalah pernikahan. Lagian dirinya juga belum pernah menikah sama sekali.


"Hmm...Ya, saya akan mempertahankannya, Pak. Tapi kita lihat kondisi dulu, kalau memang orangtua kita tetap tak merestuinya mungkin jalan keluarnya harus benar-benar berpisah. Kenapa Bapak bicara kayak gitu? Apa ada sesuatu di dalam rumah tangga Bapak?" tanya Willy.

__ADS_1


"Saya menikah dengan Alyaa, tapi Mama saya tidak pernah merestuinya apalagi menganggapnya sebagai menantunya. Apa yang harus saya lakukan? Sebenarnya waktu itu Mama saya sudah merestuinya tapi dengan syarat jika Alysa tidak bisa hamil dalam waktu tiga bulan, maka saya harus menceraikannya. Disisi lain, saya sangat mencintai Alysa Will." jelas Angga.


"Apa sebaiknya Bapak bicarakan dulu dengan Nyonya besar? Bagaimanapun, Bapak yang sedang menjalaninya dengan istri Bapak. Kebahagiaan anak pasti akan ikut dirasakan oleh orangtuanya. Kalau mungkin Mamanya Bapak belum merestuinya, mungkin suatu saat nanti hatinya akan luluh. Sebaiknya Bapak pertahankan saja pernikahan, Bapak." Willy mencoba memberi saran, namun dirinya juga sangat terluka mengingat ia juga sangat mencintai Alysa.


***


Pagi hari, Destia bangun dan ingin sekali memuntahkan isi perutnya yang semalam sudah di isi dengan begitu banyak makanan. Ia dibantu bodyguardnya untuk sampai di toilet. Bodyguard yang bernama Ifan itu segera membantu dengan mengoleskan minyak kayu putih ke bagian belakang leher Destia agar merasa lebih baikan. Ia berfikir jika yang dikandung Destia adalah benar anaknya, namun ia juga tidak sepenuhnya percaya sebelum melakukan tes DNA.


OEKKK OEKKK


"Apa sudah baikan?" tanya Ifan.


"Pembantu mana?" mengalihkan pembicaraan.


"Masih di rumah, Nyonya. Kemarin saya jemput, ia tidak mau dan akan kesini nanti siang. Apa Nyonya besar perlu saya telepon agar tahu kondisi Anda, Nyonya?"


"Tidak perlu. Bantu aku!" Ifan segera membantunya lagi menuju ranjang pasien.


Seorang Suster dan Dokter masuk ke ruangan Destia, ia akan memeriksa kembali kondisi Destia yang begitu mengenaskan di waktu hamil mudanya. Destia membaringkan tubuhnya dan Dokter mulai memeriksa.


"Saya sakit apa Dok?" tanya Destia penasaran karena ia tiba-tiba sudah berada di Rumah Sakit.


"Apa suami Ibu tidak menceritakannya?" ucap Dokter tersenyum membuat Destia mengerutkan dahinya karena ia tidak tahu maksud yang dibicarakan oleh Dokter itu.


Suami? Siapa yang nikah?


"Suami siapa, Dok?" tanya Destia menatap tajam pada Dokter dan setelah itu menatap Ifan yang sedang kebingungan.


Dokter menatap Ifan dengan lekat, "Ini suami Anda (menunjuk Ifan)"


"Apa? Suami? Dia body..." ucap Destia terpotong karena Ifan membungkam mulutnya.


"Hehe...Saya hanya merahasiakan ini Dokter, biar istri saya merasa terkejut. Lebih baik Dokter segera pergi," usir Ifan.


"Apa-apaan ini?" tanya Destia merasa ada sesuatu yang disembunyikan darinya. Destia menatap tajam pada Ifan setelah Dokter dan Suster itu pergi.


"Maksud kau apa? Kau suami siapa?" tanya Destia dengan nada tinggi.


"Saya hanya jadi suami boongan, Nyonya. Apa Nyonya selama akhir-akhir ini merasakan ada yang aneh dengan perut Nyonya? Ehh...Maksud saya, apa Nyonya akhir-akhir ini merasa mual seperti tadi pagi?" tanya Ifan merasa ingin tahu yang sedang di alami Destia akhir-akhir ini.


"Apaan sih, Fan? Kenapa lo yang repot!" ketus Destia merasa tidak enak jika Ifan menanyakan hal seperti itu padanya.


"Saya hanya memastikan, Nyonya. Apa Nyonya pernah merasakan apa yang saya katakan barusan?" tanyanya lagi.


"Kemarin doang gue mual."


"Apa Nyonya merasa sudah menstruasi pada bulan ini?" tanyanya semakin membuat Destia menatap kesal.


"Ngapain lo tanya-tanya kayak gitu? Ehh gue Nyonya lo, bukan istri lo? Ngarang!"


"Kata Dokter, Nyonya sedang mengandung!" ucap Ifan membuat Destia membulatkan matanya karena terkejut.


"Apa? Gue hamil? Jangan bohong ya lo, gue bisa penjarain lo, Fan!"


"Astagfirullah. Saya benar, Nyonya. Nyonya bisa menanyakannya langsung pada Dokter tadi!"


"Gak...Gue gak hamil, yang tadi mual cuma masuk angin saja!"


Enggak hamil, enggak hamil. Jelas-jelas Anda sedang hamil. Dasar wanita selalu saja memperbesar masalah.


"Awas minggir...Gue mau pulang!"


Siapakah David sebenarnya? 🤧

__ADS_1


Jangan lupa dukung terus ya❤


__ADS_2