
Semenjak Alysa hamil, Angga menjadi lebih perhatian dan memperhatikan kebutuhan Alysa mulai dari sarapan dan makanan yang harus di makan oleh Ibu hamil, sayuran, buah-buahan, vitamin dan juga susu tentunya. Angga tidak mau terjadi apa-apa dengan Alysa dan juga anak yang sedang dikandung Alysa. Ia masih trauma atas kejadian empat tahun silam yang membuat dirinya harus extra hati-hati dan juga akan selalu memperhatikan Alysa. Angga kembali ke kamar dengan membawa segelas susu untuk Ibu hamil, lalu memberikannya pada Alysa.
"Ayo minum dulu sayang. Biar dedeknya sehat," ucap Angga dan memberikan segelas susu pada Alysa, dan Alysa pun menerimanya.
Setelah Alysa meminum susu, Angga meletakkan gelasnya di nakas dekat lampu. Angga ikut membaringkan tubuhnya dekat Alysa dan membuat Alysa mendorong tubuh suaminya itu. "Mas jangan disini tidurnya. Nanti Edward bisa jatuh kesana kalau tidak ada yang jaga," suruh Alysa, karena ia tahu beberapa hari yang lalu ia melihat Edward tidurnya sudah sampai didekat kakinya dan akan terjatuh.
"Iya nanti kesana. Terima kasih sayang, akhirnya kamu hamil juga," ujar Angga lalu mencium kening Alysa dan tangannya memegangi perut datar Alysa.
"Iya Mas. Semoga dengan kehadiran si dedek dalam perut akan menjadikan keluarga kita semakin harmonis dan juga tentram," ucap Alysa. "Mas, Mama gimana kalau tahu Alysa hamil? Waktu itu Mama bicara untuk meminum obat pencegah hamil," ucap Alysa dengan nada khawatir, ia takut jika Mama mertuanya akan melakukan sesuatu pada dirinya dan juga anak yang sedang dikandungnya.
"Kamu jangan khawatir ya. Mas akan menjaga kamu dan Mama tidak akan pernah melakukan sesuatu padamu," ucap Angga meyakinkan Alysa agar tidak terlalu khawatir. "Hari ini kamu pengen makan apa gitu? Nanti Mas beliin," tawaran Angga.
"Gak mau Mas," pekik Alysa lalu segera menutup wajahnya dengan selimut. Angga membuka selimut yang menutupi wajah Alysa dan segera menciumnya membuat Alysa menatap Angga dengan ragu dan jantungnya berdegup dua kali lebih kencang.
Kok aku jadi deg-degan kayak gini sih?. Batin Alysa.
Angga masih berada disamping Alysa dan semakin mendekatinya hingga tidak ada ruang jarak diantara keduanya. Dengan sekuat tenaga Alysa, ia mendorong tubuh Angga namun hasilnya nihil, karena tubuh Angga cukup kuat.
Angga tersenyum misterius dan mengedipkan satu matanya membuat Alysa menelan ludahnya dengan susah payah. "Ayo tidurlah, Mas tidak akan melakukannya hari ini, mungkin besok atau besoknya lagi," ucap Angga tersenyum dan segera menyelimuti tubuh Alysa lalu segera pergi ke samping Edward dengan membaringkan tubuhnya. Alysa hanya diam, matanya mengikuti keberadaan Angga yang aneh seperti itu. Mereka saling menatap dan Alysa mencoba menutupi kepalanya agar Angga tidak memperhatikannya.
"Selamat malam Istriku sayang. Mimpiin Mas ya," ucap Angga menatap selimut yang menyembunyikan wajah Istrinya itu.
"Iya Mas. Selamat malam juga," ucap Alysa dengan wajah yang tersembunyi.
Merekapun akhirnya tidur.
***
Seperti biasa, bangun pagi Alysa langsung ke pergi kedapur untuk membuat sarapan. Bi Sarinah dan juga Siska benar-benar tidak mengetahui jika Alysa tengah hamil. Angga merasahasiakannya dan ia akan memberitahukannya ketika perut Alysa yang sudah membuncit. Angga bangun dan mendapati Istrinya tidak ada disana dan membuatnya segera mencuci wajahnya lalu mencari keberadaan Alysa.
Tiba didapur, ia melihat Alysa yang sedang memasak dengan rambut dikuncir yang menampakkan leher putihnya. Angga menghampiri Alysa dan memeluknya dari belakang, membuat Alysa terkejut.
"Mas, mau ngapain?" tanya Alysa terkejut, karena Bi Sarinah melihatnya.
"Kamu tidak boleh masak. Biarkan pembantu saja yang memasaknya, kamu jangan terlalu kecapekan," bisik Angga.
"I-iya Mas. Ya sudah sana, malu dilihatin," pekik Alysa.
"Buatkan Mas kopi. Mas tunggu di ruang makan ya," ucap Angga dan segera pergi.
__ADS_1
Alysa segera membuatkan kopi. Setelah itu, ia ke ruang makan dan meletakkan kopinya di meja. Alysa duduk didepan Angga membuat Angga tersenyum.
"Mas, apa Alysa boleh kerja lagi? Kemarin Dimas nelpon mulu, Alysa harus kesana melihat perkembangan yang ada di kantor," ucap Alysa tiba-tiba.
Angga meniup-niup kopi yang masih berasap, lalu menyeruputnya. "Untuk semantara waktu, kamu dirumah saja dulu. Kandunganmu masih lemah dan itu bisa berakibat fatal seperti keguguran. Sebaiknya kamu bekerja dirumah saja. Nanti Mas yang akan menyurpei lokasi-lokasi sama Dimas," jelas Angga dan Alysa pun menyetujuinya.
Alysa mengangguknya, "Mas, Alysa ke kamar dulu mau nelpon sama Ibu," ucap Alysa segera pergi setelah Angga mengangguknya.
Siska tiba-tiba sudah didepan Angga, membuat Angga terkejut dengan kedatangannya. Siska selalu terlihat baik jika berada didepannya. "Pagi Om, sendiri aja nih. Istrinya masih tidur ya?" tanya Siska.
"Lagi nelpon Ibunya. Lah kan kamu yang baru bangun tidur?" pekik Angga dengan wajah datarnya.
"Apa Om bahagia menikah dengannya?" tanya Siska tidak tahu diri.
"Oh jelas. Saya sangat bahagia menikah dengannya. Cantik, baik, penurut sama suami," ujar Angga membuat Siska memicingkan tatapannya, setelah itu ia pergi.
Dasar wanita aneh. Batin Angga.
Sementara itu, Alysa kini sedang menelpon Ibunya dikampung. Ia menceritakan bahwa ia tengah hamil muda. Ibu sangat senang mendengar berita baik dari anak sulungnya.
"Bu, Alysa hamil," ucap Alysa.
"Iya Bu. Ibu kapan kesini?" tanya Alysa.
"Alhamdulillah. Akhirnya kamu hamil juga Nak. Jaga kehamilanmu dan tidak boleh melakukan yang berat-berat ya. Insha Allah, kalau Ayahmu menyetujuinya,"
"Iya Bu. Sekalian bawa adik-adik kesini, hmm...Ada yang mau Alysa bicarain sama Azkia,".
"Iya Nak. Nanti Ibu bilangin,".
"Bu, nanti sore Alysa mau transfer uang lagi. Nanti Ibu ambil aja di Bu Irma ya,".
"Gak usah Nak. Mending uangnya kamu tabung,".
"Udah Bu, Ibu terima aja uangnya ya. Satu minggu kebelakang, Alysa kerja dan alhamdulillah dapat uang yang cukup besar. Pokoknya nanti Ibu ambil uangnya di Bu Irma ya,".
***
Setelah menghabiskan kopi, Angga segera kembali ke kamarnya dan mendapati Alysa sedang merapikan pakaian dirinya. Angga duduk ditepi ranjang dan memperhatikan Alysa. Melihat Angga sudah berada di kamar, Alysa menghampirinya.
__ADS_1
"Mas, mandi dulu sana. Alysa udah siapin pakaiannya," perintah Alysa.
"Kayaknya Mas gak usah ke kantor deh," tolak Angga sambil memperhatikan Alysa yang duduk di kursi meja riasnya.
"Kenapa? Bukannya hari ini mau meeting ya sama klien dari Kota seberang?" tanya Alysa tanpa menoleh pada Angga.
"Mas harus jagain kamu. Mas kerjanya dirumah aja, meeting bisa Mas cancel," ucap Angga membuat Alysa mendongakkan wajahnya.
"Lho Mas kerja aja, takutnya klien akan mengundurkan diri. Mas kerja ya, ini si dedek pengen Papanya kerja katanya hehe," kekeh Alysa sambil mengusapi perutnya.
"Mana coba pengen lihat dedeknya," Angga mendekati Alysa lalu berjongkok dengan memegangi perut Alysa.
"Geli Mas haha," Angga memegangi perut datar Alysa dan menciumnya seperti sudah ada bayi yang besar didalam perut Istrinya.
"Mas pengen lihat wajah dedeknya, pasti kalau bayinya laki-laki tampan seperti Papanya. Dan kalaupun perempuan juga pasti mirip sama Papanya," ucap Angga tiba-tiba membuat Alysa spontan menepis ucapan Suaminya.
"Gak mau, pokoknya harus mirip Alysa dedeknya," ucap Alysa dengan memicingkan tatapannya.
"Ya mirip Papanya dong sayang," lanjut Angga tersenyum dan tatapannya masih pada perut Alysa.
"Enggak, harus mirip Alysa. Kan Alysa yang mengandungnya," Alysa tidak mau kalah saing dengan Angga. Entah mengapa hormon kehamilan terlihat sangat jelas membuat Angga ingin menggodanya.
"Kan Mas yang buatnya hayoolooo...Pasti mirip sama Mas, bibirnya aja yang mirip sama kamu haha," kekeh Angga membuat Alysa menyibikkan bibirnya.
"Hmm.."
Tiba-tiba terdengar suara menangis dari ranjang membuat Alysa segera mendorong Angga dan segera menemui Edward. Alysa mencoba menenangkan Edward, namun itu sangat susah. Edward menangis lebih kuat, dan Angga pun segera menggendongnya. Entah ada apa tiba-tiba Edward menangis di pagi hari ini.
"Mama..." teriak Edward dalam gendongan Angga.
"Iya sayang. Ini Mama disini," Alysa mendekati Angga yang sedang menggendong Edward, ia mengusapi rambutnya.
"Mama gak boleh pelgiii..Mama disini sama Edwald," teriaknya lagi.
Ada apa dengan anak ini? batin Angga.
"Apa Edward demam Mas?" tanya Alysa lalu tangannya mendarat dikening Edward untuk memastikannya. "Panas Mas, dia demam. Kita bawa ke Dokter sekarang," imbuhnya lagi, dan Alysa segera mengganti pakaiannya, walaupun ia belum mandi.
Mereka segera membawa Edward masuk ke dalam mobil dan mobil pun melaju. Alysa begitu khawatir dan sesekali menciuminya.
__ADS_1