
Angga sedang menandatangani berkas-berkas dari perusahaan lain. Pikirannya kali ini pada Alysa. Alysa sedari tadi tidak mengabarinya atau sekedar menanyakan perusahaannya. Angga mengambil ponselnya dari saku, dan langsung menelpon Alysa.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, Mas."
"Lagi apa? Udah selesai kerjanya?"
"Udah, Mas. Tadi abis nyurpei lokasi sama, Pak Dirga. Mas udah makan siang? Bagaimana kalau Mas jemput Alysa dan kita makan bersama diluar."
"Ide yang bagus. Sebentar lagi Mas kesana ya sayang."
"Oke, Mas. Ditunggu."
Angga segera membereskan berkas-berkas dan menyuruh Willy untuk mendata dari perusahaan lain. Angga bergegas keluar dari ruangannya. Tiba di lobby, ia segera memberitahu resepsionis kalau ia akan keluar sebentar. Angga melajukan mobilnya menuju perusahaan Alysa yang termasuk juga perusahaan miliknya, namun di ambil alih oleh Alysa untuk sementara waktu.
"Aku harus segera kesana."
Tiga puluh menit sudah berlalu, Angga menghentikan mobilnya di depan hotel miliknya. Ia segera keluar dan masuk ke ruangan Alysa. Alysa menghampiri Angga dan mencium tangan suaminya.
"Mas, ayo sekarang pergi," ajak Alysa.
"Nanti dulu," tiba-tiba Angga langsung mencium bibir Alysa dengan lembut. Alysa terkejut, namun ia tidak punya pilihan selain menuruti keinginan suaminya.
Tangan Angga mulai merajalela dan tepat di bagian area sensitif istrinya, ia mulai memainkannya dan ternyata Alysa sudah berhenti menstruasinya. Alysa kehabisan nafas dan Angga pun menghentikan ciumannya.
"Udah selesaikan?" tanya Angga tersenyum nakal.
Alysa menganggukkan kepalanya. Angga pun memangku Alysa dan menidurkannya di sofa yang tidak begitu jauh dari tempatnya berdiri. Setelah itu, Angga melucuti pakaiannya dan juga melucuti pakaian Alysa hingga tersisa br* dan cd-nya.
Karena tidak ada perlawanan apapun dari Alysa, Angga pun mulai ******* kembali bibir Alysa, dan tangannya masuk ke dalam br*. Ia meremasnya hingga suara-suara aneh pun keluar dari mulut keduanya.
"Ahhh...mmmm..."
Hingga akhirnya mereka pun melakukan hubungan itu. Angga sudah tidak bisa menahan lagi hasratnya, karena Alysa kemarin menstruasi. Angga melakukannya dengan lembut dan entah sampai berapa menit ia melakukan hingga keduanya merasa kelelahan.
__ADS_1
Setelah melakukan hubungan suami istri, merekapun segera mandi bersama. Dan setelah itu, mereka segera pergi menuju sekolah Edward karena ini sudah waktunya mereka menjemput. Setelah menjemput Edward, Angga melajukan mobilnya ke salah satu resto untuk makan siang.
"Mama-Mama, tadi Edwald dapat nilai selatus lho," ucap Edward dengan menunjukkan jari-jemarinya dan menghitungnya satu per satu.
"Pinter banget ya anak, Mama. Sini cium Mama dulu," Alysa mendekap Edward dan Edward segera menciumnya beberapa kali.
"Papanya juga cium dong," celetuk Angga membuat Edward mendekatinya dan menciumnya juga.
"Semoga keluarga kita akan tetap seperti ini ya, Mas." ucap Alysa tiba-tiba membuat Angga mendekatinya dan memeluknya.
"Iya sayang. Mas juga berpikiran seperti itu, ayo kita makan dulu." mereka segera masuk ke resto.
***
Satu minggu kemudian, Destia duduk dikursi menatap cermin sembari termenung di dalam kamarnya. Hidupnya kini semakin kacau dan tak tahu harus bagaimana lagi ke depannya. Ia berfikir untuk mengakhiri hidupnya dengan menonjok bagian perutnya dan melilitkan tali ke lehernya. Matanya merah dan tatapannya tajam menusuk pada sesuatu yang ada di depannya. Ia menatap dirinya di cermin.
"Gue harus bisa mendapatkan Angga. Gue yakin, gue bisa menyingkirkan wanita kampung itu haha...Alysa jangan senang dulu, kita lihat siapa yang lebih berkuasa setelah tiga bulan pernikahanmu. Setelah tiga bulan itu, kau akan di usir dan diperlakukan tidak manusia oleh tante tua. Kau akan dikembalikan pada tempat asalmu, tempat yang sebagaimana mestinya. Kau tidak cocok jadi seorang Nyonya."
"Gue yang akan memisahkan kau dengan Angga secepatnya." tiba-tiba ia merasa mual dan ingin sekali memuntahkannya.
Destia langsung pergi ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya. Sepertinya ia masuk angin, fikirnya.
Destia kembali ke kamarnya dan hendak pergi keluar untuk mengambil teh hangat. Ia berjalan dengan lunglai, tidak ada tenaga apapun sekedar berjalan dari atas ke lantai bawah. Kepalanya terasa sangat pusing dan lantai sepertinya ia tidak kuat lagi untuk berjalan sampai ke sana. Saat hendak menuruni anak tangga, tiba-tiba kepalanya terasa begitu sangat pusing yang hebat dan pandangannya mulai menggelap. Wajahnya begitu pucat, tubuhnya lemas seperti tak ada tulang.
"Mama..." ucapnya sebelum benar-benar terjatuh dan pingsan disana.
Keadaan di rumah tidak ada Mama dan Papanya, hanya ada pembantu dan para bodyguardnya. Pembantu akan membawa pakaian kotor dan membersihkan kamar sangat terkejut ketika melihat majikannya tergeletak di lantai. Sontak ia segera berteriak dengan kencang membuat bodyguard yang berada di dekat gerbang rumah pun segera bergegas mendekati sumber suara yang berasal dari dalam rumah.
Tiba di lantai dua, mereka segera menanyakannya pada pembantu yang ada disana. "Kenapa ini? Apa kau yang akan merencanakan pembunuhan terhadapnya?" tanya bodyguard dengan tatapan tajam.
"Sa-saya tidak tahu. Saya baru saja naik mau ngambil pakaian kotor. Ayo kita bawa Nyonya ke Rumah Sakit!" ucap pembantu panik.
Bodyguard pun segera mengangkat tubuh Destia dan segera membawanya ke Rumah Sakit untuk dilakukan penanganan lebih lanjut. Setelah beberapa menit kemudian, akhirnya mereka sampai. Bodyguard segera memanggil suster untuk segera diperiksa.
Seorang dokter memanggil bodyguard itu dan menyuruhnya masuk ke dalam ruangan.
__ADS_1
"Silahkan duduk, Pak," perintah Dokter.
"Apa Bapak suaminya? Kenapa Bapak membawanya sampai seperti ini? Ini istri Bapak, seharusnya Bapak memperhatikan kondisi kesehatannya. Dia sedang mengandung anak Bapak (dengan menunjuk ke arah Destia)!" ucap Dokter dengan tegas dan penuh penekanan membuat bodyguard itu mengerutkan dahinya karena ia tidak tahu masalah apa-apa tentang majikannya.
"Kenapa Dokter memarahi saya? Saya tidak melakukan apa-apa padanya!" jawabnya tak kalah tegas.
"Tidak melakukan apa-apa? Sudah jelas terbukti, Bapak melakukan sesuatu terhadap istri Bapak. Istri Bapak sedang mengandung anak Bapak, jadi tolong rawat dia dan perlakukan dia dengan baik!"
"Apa? Mengandung anak saya?" tanya bodyguard itu terkejut dengan ucapan Dokter jika majikannya kini sedang hamil tanpa ikatan pernikahan dengan laki-laki siapapun.
"Jelas-jelas Bapak yang membuatnya. Saya saranin, jangan memperlakukan seperti hewan kepada istri Bapak. Istri Bapak butuh tenaga dan juga dorongan dari suaminya. Dia harus dirawat beberapa hari untuk meningkatkan stamina tubuhnya. Kalau begitu saya permisi!" ucap Dokter segera pergi meninggalkan bodyguard itu yang kebingungan.
Hamil? Kenapa bisa hamil? Apa saya pernah melakukannya? Dan apa tadi, Dokter itu menganggap saya suaminya?
Dokter tidak waras. Udah memaki-maki saya dan menyebutnya saya sudah melakukan sesuatu yang membuat Nyonya seperti ini. Hamil anak siapa coba? Apa saya nyelindur dan masuk ke kamarnya hingga melakukannya? Saya rasa tidak, saya kan tidak tidur di rumahnya dan lagi pula rumahnya di kunci rapat-rapat. Apa dia melakukannya dengan laki-laki lain? Awas ya kau, laki-laki bej*t udah bikin Nyonya saya hamil seperti ini dan membuat Dokter menyangka kalau saya suaminya!
***
Kini rumah tangga Alysa dan Angga sudah dua bulan setengah. Namun tidak ada tanda-tanda lagi bahwa ia akan hamil dalam waktu dekat, dan tanpa memikirkan ucapan Dokter waktu itu yang ternyata harus ada persiapan selama tiga sampai enam bulan setelah keguguran.
Alysa mulai gelisah, ia tidak punya pilihan selain harus pergi dari rumah suaminya. Kalau ia hamil atau tidaknya, sudah pasti ia harus segera pergi dari rumah ini. Karena Mama mertuanya tidak pernah mengingankan apalagi merestuinya. Ahh benar-benar pusing dibuatnya.
Alysa pergi dari kamar hendak mencari keberadaan Angga untuk menanyakan sesuatu padanya. Hari ini Angga tidak masuk kerja dan itu akan membuat Alysa bisa menanyakannya langsung dan melihat reaksi Angga di depan matanya sendiri.
Alysa menuju ke ruang kerja. Ia membuka pintunya perlahan-pahan dan matanya kesana kemari mencari kehidupan di balik pintu itu. Namun tidak ada kehidupan disana. Kemana Mas Angga? fikirnya. Alysa menutupnya kembali dan bergegas mencari keberadaan Angga.
Ia menuruni anak tangga dan mencoba melihat di area ruang tamu dan juga ruang keluarga. Namun sama sekali tidak ada disana orang yang dicarinya. Saat Alysa akan menaiki tangga lagi, ia melihat Angga sedang berenang di kolam renang yang berada di belakang rumah. Alysa segera menghampiri Angga dengan berlari kecil.
"Mas?" panggil Alysa dan segera berdiri di pinggiran kolam.
Angga yang sedang berenang pun segera menyudahinya setelah mendengar ada yang memanggil dirinya. Angga segera mendekat dan mencoba memangku istrinya until berenang bersamanya. Namun Alysa segera menjauh, ia tidak bisa berenang karena seumur-umurnya ia tidak pernah sama sekali mencoba berenang seperti itu.
"Kenapa sayang? Mau berenang?" tanya Angga masih berada di dalam air tanpa beranjak dari sana.
"E-enggak, Mas. Aku hanya mau berbicara sesuatu!" ucao Alysa sedikit ragu, dan semestinya kalau ia membicarakan masalah ini pasti Angga akan marah sekali dengannya. Harus bagaimana ini? Sulit sekali.
__ADS_1
Jangan lupa Vote, Like, Comment sebanyak-banyaknya ya><
Salam hangat❤