Menikahi Duda Tampan

Menikahi Duda Tampan
BAB 87 (END)


__ADS_3

Keesokan paginya. Angga bangun dan segera bergegas ke kamar mandi. Hari ini Angga tidak jadi pergi ke rumah Alysa yang berada di Kota seberang. Ia akan menyelesaikan masalahnya terlebih dahulu dengan Destia mengenai kasus yang terjadi di malam itu.


Polisi sudah mengantongi semua bukti yang kuat. Angga, Willy, Mama, Papa, Mira dan Destia sudah berada di kantor polisi untuk dimintai keterangan lebih lanjut. Kasus ini cukup membuat Polisi geleng-geleng kepala.


"Saudara Angga tidaklah bersalah dalam kasus ini. Disini yang bersalah adalah saudari Destia. Dia sudah menjebaknya dengan meminta bantuan dari orang-orang. Sebut saja saudara Adryan, sekarang saudara Adryan sudah di temukan di daerah perbatasan Indonesia-Malaysia. Tim kami akan segera memprosesnya dan memberikan hukuman yang setimpal atas perbuatannya. Disini kita sudah ada dua pihak, yaitu Saudara Angga dan juga saudari Destia."


"Saya akan memberikan sedikit ulasan dari kasus ini. Malam lalu sekitar pukul 7 malam kedua pihak sudah berada di hotel. Saudara Angga datang untuk melakukan meeting dengan saudara Adryan. Saudari Destia mungkin sudah berada di hotel itu sejak sore. Dan dari informasi yang kita dapat, bahwa saudari Destia sudah membayar hotel itu dengan dana yang begitu fantasis, bisa di bilang ia membooking hotel itu. Dari CCTV disini, saya melihat saudari Adryan mencampurkan sesuatu dalam minuman yang ada di depannya sebelum saudara Angga masuk ya. Dan disini sudah terlihat ada yang janggal dengan gerak-geriknya."


"Tidak lama saudara Angga datang dan berbincang-bincang dengan saudara Angga. Namun tak lama kemudian, disini saudara Adryan menawarinya minuman yang sudah di campurkan sesuatu. Dan setelah itu mereka segera membawa saudara Angga masuk ke dalam kamar. Dan sepertinya sausari Destia mengajaknya melakukan hubungan terlarang."


"Tapi itu tidak benar, Pak polisi!" sahut Destia dengan penuh penekanan merasa semua rencananya susah terbongkar.


"Tenang!! Saya hanya ingin menjelaskan apa yang terjadi di malam itu." tatapan tajam Polisi mampu membuat Destia terdiam.


"Pak, tolong jebloskan wanita ini ke penjara. Saya tidak sudi menikahinya!"


"Mas, kok kamu gitu. Di perut aku ada anak kamu!"


"Saya tidak percaya jika dalam perutmu ada anak saya! Saya ingin melakukan test DNA untuk mengetahui semuanya. Lihatlah perutnya sudah membuncit, entah itu kelakuan laki-laki yang mana!" tegas Angga dengan nada penekanan. Willy, Papa, Mama dan Mira hanya berdiam.


"Tapi Mas, kamu kok enggak percaya ini anak kita?"


"Pak polisi segera lakukan test DNA, saya ingin mengetahuinya!" titah Angga, Polisi pun mengangguknya dan segera menghubungi pihak Rumah Sakit.


"Iya Pak jebloskan saja. Dia yang sudah merusak rumah tangga Abang saya, sampai istrinya pergi." pekik Mira, amarah sudah memuncak. Ingin sekali ia menonjol wajah Destia dengan tangannya sendiri.


Mama Angga yang sedari tadi diam pun kini mulai memperhatikan perut Destia yang sudah sangat membuncit. Ia merasa aneh, lantaran masalah ini baru sekitar dua mingguan, dan kenapa perutnya sudah buncit seperti itu?


Kayak ada yang aneh sama perutnya. Kalau baru dua minggu, mungkin belum sebesar itu. Apa wanita ini melakukannya dengan laki-laki lain, bukan dengan anak saya?


"Ga, Mama merasa ada yang janggal dengan perut Destia. Kenapa bisa sebesar ini!"


"Mama sendiri udah merasa ada yang aneh kan? Kenapa gak dari dulu!!"


"Tante kenapa gak percaya sama, Tia?"


"Bukan gak percaya, tapi untuk kehamilan memasuki dua minggu tidak akan sebesar ini! Apa kamu melakukannya dengan laki-laki lain? Jawab!!" Mamanya Angga langsung marah dan meminta Destia untuk mengungkapkan kasus yang sebenarnya.

__ADS_1


Destia tidak menjawab pertanyaan itu. Hidupnya kini benar-benar hancur. Semua keinginannya itu akan sia-sia begitu saja. Memiliki Angga tidaklah segampang yang ia kira. Rintangan demi rintangan terus ia lewati, akhirnya sampai di titik ini ia harus menjauh kembali.


Kini mereka semua sudah berada di Rumah Sakit. Destia segera menghubungi orang tuanya, untuk menggagalkan aksi test DNA ini. Ia takut jika mereka mengetahui semua rencana liciknya. Tidak berapa lama, orang tuanya pun datang dan segera masuk ke ruangan Dokter dan memintanya untuk melakukan penukaran sample DNA milik Angga.


"Tidak bisa, Bu. Saya tidak akan pernah melakukan hal seburuk itu untuk pasien saya. Saya mohon, Ibu keluar dari ruangan saya sekarang!" titah Dokter.


"Tapi, Dok. Saya mohon, tolong anak saya. Sample DNA-nya harus sama dengan Angga."


"Itu tindakan ilegal, Bu. Kalo saya melakukan itu, maka saya yang akan di keluarkan dari Rumah Sakit ini. Apa Ibu tidak merasa kasihan dengan saya? Saya bisa menuntut Ibu, jika Ibu terus melakukan hal pada saya!"


"Saya laporin ke polisi! Bisa-bisanya nolak permintaan saya!"


"Laporin saja. Maaf saya tidak punya waktu untuk berbincang dengan, Ibu. Ibu segera keluar dari ruangan saya!"


Semuanya gagal begitu saja. Destia harus menahan malu jika sample DNA itu sampai ke tangan Angga. Ia tidak punya pilihan lain selain harus pergi dari kehidupan Angga. Mamanya Angga pasti akan membencinya dan tidak akan pernah memaafkannya.


Dokter sudah kembali setelah melakukan test beberapa jam yang lalu. Seharusnya sample DNA ini akan keluar satu hari setelah melakukan test. Namun karena pihak dari keluarga Angga mendesaknya, sebisa mungkin ia harus lebih profesional.


Semua orang sudah berkumpul dengan rapi dan hendak melihat hasil test yang sudah dilakukan beberapa jam yang lalu. Angga sudah tidak sabar ingin melihatnya. Dokter pun segera membuka lembaran itu, dan menyerahkannya pada Angga.


"Hentikan langkah Anda!" Destia langsung menghentikan langkah dan menundukkan wajahnya.


Ya Tuhan, tolonglah hambamu ini.


Angga membacanya dengan teliti dan serius. Surat itu menyatakan jika anak yang sedang di kandung Destia tidaklah cocok dengan Angga. Sudah dipastikan jika anak yang di kandung Destia bukanlah anaknya, melainkan anak dari laki-laki lain.


Angga langsung murka dan melihat ke seberang. Dimana wanita yang sudah menjebaknya dan mencoba membohongi kehamilannya. Angga langsung mendekat, dan menampar wajah Destia dengan keras.


PLAK


"Wanita tidak tau diri! Bisa-bisanya kau melakukan hal ini pada saya! Anak siapa yang sedang kau kandung itu?" tanya Angga dengan nada penekanan dan amarahnya tidak bisa ia kontrol lagi.


"Maafkan aku, Mas. Hiks..." Destia langsung menangis dan menundukkan punggung meminta ampun pada Angga. Angga langsung menipisnya dengan kaki. Mamanya Angga yang mengetahui itu langsung mengangkat Destia dan menamparnya. Satu tamparan membuat Destia menatap tajam pada Mamanya.


"Wanita kurang ajar! Sudah membohongi saya selama ini! Ternyata saya sudah salah menilai kepribadianmu. Saya sudah dibutakan oleh mulut manismu itu!" tatapannya semakin tajam.


"Haha...Baru nyadar tante? Inilah rencanaku. Sekarang kalian sudah mengetahuinya!" Destia tertawa puas sembari menyeka air matanya.

__ADS_1


"Wanita murahan iw...Pantesan wajah-wajah pelakor sudah dimana-mana. Gak habis thinking aku!" Mira menyahut.


"Pak segera bawa dia ke penjara! Saya tidak mau melihat wajahnya lagi!" titah Angga. Polisi segera membawa Destia pergi.


Mamanya Angga menangis di pelukan Angga. Ia merasa salah dengan apa yang sudah ia perbuat pada istri anaknya. Ia merasa manusia paling bodoh yang sudah diperdaya wanita lain dan selalu jahat pada menantunya. Angga langsung merangkulnya dan menangis, kini ia bisa menunjukkan sesuatu yang membuat Mamanya akan menerima Alysa sebagai menantunya.


"Maafkan Mama...Maafkan Mama yang tidak pernah menganggap Alysa. Alysa menantu Mama yang baik. Alysa maafkan Mama, Mama menyesal telah membuatmu pergi!" Mamanya terus menangis sembari memukul kecil di dada bidang Angga.


Mira dan Papa segera mendekat. Mereka berpelukan dan menangis bersama. Mamanya ingin sekali bertemu dengan Alysa dan akan meminta maaf dengannya. Ia begitu ceroboh dan tidak pernah mempercayainya.


"Alysa, maafkan Mama. Mama menyesal...Pulanglah pada suamimu. Dia membutuhkan kasih sayangmu. Lihatlah anak tirinya yang selalu menanyakan keberadaanmu. Alysa, maafkan Mama..."


"Sudah, Ma. Jangan menyalahkan diri Mama lagi ya. Besok Angga akan ke rumah orang tuanya."


"Mama merasa bukan Ibu mertua yang baik untuknya. Mama menyesal...Mama ingin bertemu dengannya, Mama ingin meminta maaf padanya. Pertemukanlah Mama dengan dia."


"Sudahlah, Ma. Jangan seperti itu. Insya Allah, Alysa akan datang kesini lagi. Mama sekarang sudah tau sifat Destia bagaimana? Sekarang kita tinggal cari menantu kita saja. Papa yakin, Alysa akan kembali lagi dengan putra kita."


"Tapi, Pa. Mama merasa bersalah padanya. Mama ingin sekali meminta maaf atas kelakuan Mama padanya. Mama ingn memeluknya dan menganggapnya seperti putri kita sendiri. Alysa, pulanglah Nak. Mama ingin bertemu denganmu." Tangis mereka pecah membuat Willy yang sedari tadi berdiam pun ikut menangis di belakang mereka.


Terasa sesak jika mengingat perjuangan seorang suami yang ingin bertemu kembali dengan istrinya. Sangat di sayangkan, semua hanyalah debu. Debu yang sudah tersapu menjauh. Kini tinggallah angan-angan saja. Semua akan berfikir kembali dengan normal. Kesalahan terbesar baginya adalah tidak menjaga istrinya dengan baik.


Seorang istri akan membenci suaminya jika suaminya tidak pernah terbuka padanya. Jika suami mempunyai masalah, setidaknya istri pun harus mengetahuinya. Bila dia mengetahuinya, sudah pasti ia akan menguatkan hati suaminya. Namun apa daya jika suaminya tidak pernah terbuka dengan istrinya? Semuanya akan seperti ini. Dimana, dia akan merasa kehilangan dulu sebelum akhirnya ia menyesali perbuatannya itu.


Semua sudah nampak di depan mata. Seorang Ibu mertua yang begitu membenci menantunya, ia kini ingin sekali bertemu dengannya. Ia menyesali perbuatannya selama ini. Ia ingin sekali bersujud di kaki menantunya. Memohon ampun atas semua kesalahannya. Tapi semua sudah sirna bak di telan bumi. Kesalahan tetap kesalahan. Semua akan ada hikmahnya di balik setiap kesalahan yang kita perbuat.


***


END


Eits jangan sedih dulu, sebenarnya cerita ini belum tamat. Hanya saja ini untuk season 1 nya, dan saya juga akan melanjutkan season 2 nya. Enaknya lanjutin di novel yang ini atau bikin novel lagi? Soalnya di cerita season 1 ini ada yang menggantung, mungkin cerita season 2 nanti akan di perjelas lagi.


Dan untuk season 2, saya akan mempertemukan mereka kembali setelah beberapa tahun mereka berpisah. Kisahnya begitu pilu mengingat sepasang dua insan yang sudah lama tidak dipertemukan kembali oleh Author hehe.


Maaf untuk season 1 yang merasa tidak puas dengan ceritanya. Author akan melanjutkan lagi di cerita season ke 2 nya ya🙏🤗


Selamat membaca😚

__ADS_1


__ADS_2