
Setelah sarapan, Alysa mengantarkan Edward ke sekolah dengan menggunakan taxi yang sudah dipesannya. Alysa tidak menyadari jika di dekat rumahnya ada yang sedang memperhatikan gerak-geriknya. Angga pergi ke perusahaannya padi tadi, karena hari ini ia begitu sibuk untuk meeting dengan klien dari luar kota.
"Ma, nanti jemputnya jangan telat ya. Kan mau jalan-jalan sama, Papa," ucap Edward saat sudah sampai di sekolahnya.
"Iya sayang. Ayo masuk dulu, belajarnya yang rajin ya. Muachh..." Alysa mencium pipi gembul Edward. Edward segera berlari kecil.
"Pak, saya titip anak saya ya. Jangan biarkan dia keluar sendiri, kalau saya belum ada," perintah Alysa pada seorang security.
"Baik, Bu."
Alysa kembali ke taxi dan taxi pun segera melaju.
***
Angga kini sedang di sibukkan dengan meeting. Hari ini klien cukup banyak untuk bergabung ke perusahaannya. Perusahaan Angga memang perusahaan yang cukup dikenali banyak orang dan juga perusahaan terbesar yang ada di kotanya, hingga dari luar negeri pun ada yang minta bergabung. Selain perusahaannya bagus, dan tentunya para karyawan diharuskan untuk bekerja secara maksimal. Angga tidak mau jika perusahaan yang sudah dirintis selama 4 tahun olehnya harus terbuang sia-sia.
Angga memiliki 5 cabang perusahaan di berbagai kota. Mulai dari perusahaan data, makanan, otomotif, pembangunan infrastruktur dan perhotelan yang kini dipegang oleh Alysa untuk sementara waktu. Sebenarnya bukan hanya dipegang oleh Alysa saja, tapi Angga akan memberikan semua aset perhotelan pada Alysa sebagai mahar untuk istrinya. Padahal mahar pernikahannya waktu itu sudah lebih cukup bagi Alysa.
"Bagaimana, Pak. Apa semuanya sudah jelas?" Tanya Angga pada klien.
"Sangat jelas, Pak. Saya ingin sekali bergabung dengan perusahaan, Bapak. Saya harap perusahaan saya bisa berkembang seperti, Bapak," sahut klien.
Beberapa karyawan, sekretaris, klien dan Direktur segera berfoto untuk mengenang kerjasama dan setelah itu membubarkan diri. Angga pergi ke ruangannya karena ada yang ingin menemuinya. Angga duduk di kursinya dan mengedarkan pandangannya ketika pintu diketuk.
TOK TOK TOK
"Masuk!"
CEKLEK
Tampaklah seorang wanita cukup cantik dengan mengurai rambutnya sebahu. Ia berperawakkan tidak terlalu tinggi dan memakai kacamata hitam menghampiri Angga. Angga memperhatikannya dan wanita itu pun segera mengulurkan tangannya.
"Selamat siang, Pak!" sapanya dengan mengulurkan tangan.
"Selamat siang kembali," Angga membalas uluran tangan wanita itu.
Siapa dia? Apa dia klien baru?. Batin Angga.
Angga beranjak dari kursinya dan pergi menuju sofa dengan di ikuti oleh wanita itu. Kini mereka sudah duduk beseberangan. Wanita itu terus saja memperhatikan Angga membuat Angga risih.
"Ada yang bisa saya bantu?" ucap Angga memecah keheningan di antara keduanya.
"Ahh.. Iya. Kenalin saya, Fransiska Lauren. Saya pemilik perusahaan DHARMA GROUP. Saya anaknya Pak Dharma, dan saya akan menggantikan posisi Papa saya," jelas Fransiska.
"Oh, begitu. Selamat bergabung ya, nanti bisa sama sekretaris atau asisten saya untuk melihat outdoor perusahaan ini. Saya permisi dulu karena saya harus meeting lagi," Angga beranjak dari sofa. Namun belum sempat pergi, Fransiska menarik tangan Angga membuat Angga menoleh dan segera menepis tangan itu.
"Baik, Pak," ucap Fransiska dengan lembut. Angga segera pergi meninggalkan Fransiska.
Akhirnya, ternyata dia pemilik perusahaan ini. Selama di SMA dulu, gue selalu memperhatikannya. Katanya istrinya sudah meninggal? Dan kini Pak Angga menduda. Kesempatan gue dong buat deketin hahah. Batin Fransiska.
Angga melangkahkan kakinya menuju ruang meeting. Meski tidak ada jadwal lagi untuk meeting, ia pergi kesana agar bisa terhindar dari wanita itu. Ia menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi.
Gila, si Fransiska teman SMA gue tuh. Batin Angga.
__ADS_1
***
Sementara itu, Destia bangun dari tidurnya. Ia masih berada di dalam Caffe privasi. Ya, seperti ruangan tertutup. Ia mengucek matanya perlahan dan mengangkat kedua tangannya dengan tinggi. Ia mulai merasakan sakit di bagian pangkal pahanya, dan tepatnya di bagian sensitifnya. Ia mulai meraba-raba pada bagian itu. Ia terkejut saat ada darah dan juga cairan putih.
"Brengsek....!" teriaknya.
"Sialan. Pasti ulah cowok itu. Ahh...Bodoh sekali lo Destia, kenapa lo malah ikut mabok segala lagi," Destia menjambak rambutnya.
Destia berusaha bangun dan itu terasa sakit. Disitu terdapat tisu dan ia segera mengambilnya untuk mengelap darah dan cairan putihnya.
Sialan. Awas lo ya, kalau gue ketemu sama lo, gue bunuh lo. Dasar bej*t. Batin Destia.
Deringan telepon membuatnya segera mengalihkan pandangan dan segera mengangkatnya.
"Siapa?"
"Saya suruhan, Nyonya. Masa Nyonya udah lupa."
"Oh, ya. Ada apa?"
"Target sedang pergi mengantarkan anak kecil. Mungkin mengantarkan ke sekolah."
"Terus perhatikan dia. Ingat celakai dia!"
Destia memutuskan teleponnya dan segera merapikan diri untuk pergi dari Caffe ini. Setelah itu, ia segera pergi walaupun ia merasa tidak enak di bagian pangkalnya. Beberapa pelayan melihat Destia dengan tatapan tanda tanya. Apa pengunjung itu tidur di Caffe? Fikirnya. Destia tak menghiraukannya dan segera pergi keluar.
Ternyata supirnya masih ada disana. Destia mengetuk pintu kaca mobil untuk membangunkan supir yang masih tidur.
"Hey...Buka pintunya!" teriak Destia.
***
"Dari mana aja kamu? Kenapa baru pulang? Sakit?" tanya Mamanya penasaran.
"Satu-satu nanyanya, Ma. Tia capek banget nih. Ma buatin teh anget gitu sama pembantu," perintah Destia dan segera pergi ke kamarnya.
Tiba di kamar, ia segera membaringkan tubuhnya di ranjang. Rasa sakit itu kini semakin tidak terasa. Destia meraba bagian sensitifnya dan masih ada cairan putih.
"Kalau gue hamil gimana? Gue harus minta tanggung jawab sama laki-laki brengsek itu. Tapi gue cari dia kemana? Namanya aja gue gak tahu. Bodoh sekali kau Destia, bodoh!" teriak Destia. Dan tiba-tiba pintu terbuka.
"Bodoh apanya?" tanya Mama sembari membawa secangkir teh hangat membuat Destia terkejut dan segera bangun agar Mamanya tidak melihat cairan putih.
Gue harus bicara apa nih. Batin Destia.
"E-enggak, Ma. Itu tadi supirnya bodoh sekali," ucap Destia terbata-bata.
"Ayo di minum. Apa Mama panggilkan Dokter rumah? Sepertinya kamu benar-benar sakit."
Kalau gue diperiksa, pasti Dokternya udah tahu kalau gue abis itu. Gue kan belum nikah, nanti Mama malah menikahkah gue dengan paksa.
"Gak usah, Ma. Tia hanya masuk angin saja," balas Destia dan segera minum teh hangat.
***
__ADS_1
Mobil taxi berhenti tepat di gerbang rumah. Alysa segera keluar dan membayarnya. Ia tidak melihat ada yang mencurigakan di dekat area rumahnya dan segera masuk dan mengunci kembali pintu gerbang.
"Assalamualaikum," ucap Alysa dan segera berjalan menuju ruang tamu.
"Waalaikumsalam," ucap mereka serentak.
"Kak, aku pengen jalan-jalan gitu ke taman," ucap Azkia.
"Kemana?" tanya Alysa.
"Jangan aneh-aneh, Kia. Kan kakakmu lagi hamil muda, takutnya ada apa-apa," ucap Ibu.
Alysa tersenyum dan segera mengajak Ibunya ke kamar. Ia harus membicarakan ini sebelum semuanya tahu bahwa ia telah keguguran.
"Bu?"
"Iya, kenapa?"
"Alysa mau bicarain sesuatu. Tapi, Ibu jangan marah ya."
"Ibu tidak akan marah, kalau kamu mau jujur."
"Bu, sebe..." ucap Alysa terpotong karena Azkia datang.
"Ayo, Kak."
"Iya. Ya sudah, nanti saja, Bu."
Alysa segera berdandan natural dan membawa tas selempangnya. Ia keluar kamar bersama Ibu dan adiknya.
"Ibu, mau ikut?" tanya Alysa.
"Enggak, kalian saja."
"Kia, Zaki ajak juga ya. Kasihan dia," ucap Alysa.
"Iya, Kak."
Kini taxi pesanan Alysa sudah sampai. Alysa, Azkia dan Zaki segera masuk. Laki-laki suruhan Destia segera mengikutinya dari belakang. Alysa tidak menyadari semuanya dan fokus ke depan sembari bercanda gurau dengan kedua adik-adiknya.
"Kak, aku mau beli pakaian boleh gak? Kan nanti Kia mau ketemu calon suami haha..." ucap Azkia.
"Iya, boleh."
"Gak sabar banget pengen ketemu."
"Gak usah dipikirin. Lagiankan kamu masih sekolah, gak usah mikirin laki-laki," ucap Zaki merasa tidak suka dengan Azkia.
"Tuh lihat, Kak. Si Zaki iri mulu."
"Ya kan aku kakakmu. Kalau kamu di apa-apain gimana sama laki-laki itu?"
"Stttt...Jangan berantem mulu."
__ADS_1
Mobil memasuki kawasan taman kota. Banyak pengunjung yang ada disana. Alysa kembali teringat kejadian dua minggu ke belakang pasca ia terjatuh dan keguguran. Tempat ini akan selalu ia kenang dan juga terakhir kalinya ia bersama si bayi.
Maaf baru update kembali. Jangan lupa Vote, Like, Commentnyaš