Menikahi Duda Tampan

Menikahi Duda Tampan
BAB 70


__ADS_3

Setelah membeli keperluan dan berbagai cemilan, Angga melajukan mobilnya menuju rumah Mamanya. Mira selalu berdekatan dengan Alysa. Alysa merasa sangat bahagia, walaupun Mama mertuanya sendiri yang tidak pernah menyukainya.


Semua berjalan dengan seiringnya waktu, waktu yang tidak bisa di putar kembali. Waktu yang usang tinggallah kenangan. Alysa mencoba memikirkan kembali masa-masa itu. Masa-masa dimana dirinya bisa mengubah hidupnya, hidupnya yang begitu pahit harus ia telan sendiri. Takdir tidak bisa di rubah, akhirnya ia bisa bertemu dengan sosok laki-laki tampan berstatus duda anak satu.


Awalnya ia tidak percaya jika Direkturnya sendiri akan mengajaknya menikah. Itu benar-benar di luar dugaannya sendiri. Ia datang ke kota ini untuk mencari nafkah dan membiayai keluarganya di kampung. Namun belum juga satu bulan ia bekerja, Angga yang selaku Direktur itu langsung menyatakan cintanya dan mengajaknya menikah.


Sesuatu yang tidak bisa ia lupakan di hari itu. Hari yang cukup singkat antara tangis haru dan kebahagiaan. Alysa dengan percaya diri mengangguk setuju.


Hari perlahan-lahan berubah menjadi malam. Alysa masih sibuk dengan adonan kue yang sedang ia mixer. Angga sedari tadi membantu Alysa menyiapkan sesuatu, ia tahu jika istrinya sangat kelelahan mengurus semuanya sendirian. Si kecil Edward sedang bermain dengan Mira dengan antusias. Alysa melihat keceriaan putranya, tak terasa air matanya menetes kembali.


Sayang, kamu harus bahagia seperti ini ya. Kalau nanti Mama tiba-tiba pergi, kamu jangan cariin Mama. Kamu harus selalu dengan Papa, Bibi Mira dengan nenek dan kakek. Mama tidak bisa disini mengurusimu. Nenek pasti dengan cepat akan mengusir Mama dari rumah ini.


Entah mengapa semua ucapannya itu selalu saja menghantuinya. Ia mempunyai firasat jika ia akan benar-benar pergi dari rumah itu. Angga yang melihat itu langsung memeluk istrinya dan mendekapnya.


"Kenapa nangis?" tanya Angga lalu mengecup pucuk kepala istrinya dan mengusap rambutnya.


"Pa...?"


"Iya, Ma?"


"Ehh...Enggak jadi!" seketika Alyaa langsung tertawa mendengar ucapannya sendiri. Angga yang gemas melihat istrinya, ia langsung mencium bibir istrinya dengan lembut.


"Emmhhh..."


"Ini adalah hukuman!" ucap Angga menatap Alysa.


"Emangnya Mama ngelakuin apa?" tanya Alysa.


"Karena Mama nangis dan gak ngelanjutin apa yang mau Mama ucapkan!" Alysa tiba-tiba tertawa kembali melihat suaminya yang kini posesif.


"Tapikan Mama enggak kenapa-kenapa kok!"


"Hukumannya bukan ini saja ya, Ma!"


"Terus apa lagi?"


"Nanti malam kita harus olahraga bareng." ucap Angga membuat Alysa memalingkan wajahnya.


"Hmm...Namanya hukuman Malem-malem itu, Pa."

__ADS_1


"Biar adiknya Edward ada disini lagi. Papa sangat yakin, dia akan ada di perut Mama lagi."


Mira datang bersama Edward dan melihat hal yang begitu romantis di depan matanya. Abangnya sendiri sedang mengusap perut istrinya dengan lembut. Mira merasa iri dan segera duduk membuat Angga dan Alysa terkejut. Alysa langsung melepaskan tangan Angga yang menempel di perutnya.


"Bikin kue pun bisa romantis-romantisan ya?" tanya Mira pada Edward yang sedang asyik main robot-robotan di tangannya.


"Lomantis apanya?" tanya Edward merasa tidak mengerti dengan ucapan tantenya.


"Itu, Mama sama Papa kamu lagi romantis-romantisan." Mira tersenyum geli melihat ekspresi Edward yang langsung mendekati Mama dan Papanya.


"Mama sama Papa jangan lomantis-lomantisan!" Edward mendorong kaki Angga agar menjauh dari Alysa.


"Kompor ( Angga menatap tajam pada Mira)!"


"Haha...Mana nih, katanya Edward mau punya adik lagi. Edward sini," Edward pun menuruti ucapan tantenya.


"Minta sama Papa dan Mama, cepet-cepet minta adik gitu!" perintah Mira lagi-lagi Edward segera memintanya membuat Mira tertawa.


"Mama mana adik kecil? Katanya kalau udah makan langsung besal. Mama bohong sama Edwald!"


"Sayang, kan disini ada adik kecilnya. Adik kecilnya lagi bobo di perut Mama."


"Udah-udah. Sayang, nih adiknya minta di usapin (sembari mengusap perut datarnya)"


Edward segera mendekat dan mencoba mengusapinya, "Mama, adik kecilnya lagi tidul ya? Kok tidul telus sih, katanya mau main sama Edwald!"


"Kan masih kecil sayang (mencium putranya karena gemas)"


Setelah keributan antara mereka, Alysa segera menyiapkan kue yang sudah matang di piring. Ia menutupi kue dengan menambahkan cream diatasnya, lalu ditaburkan coklat bubuk dan beberapa irisan strawberry dan chocolatos.


"Udah jadi..."


"Holeee...Edwald mau..."


"Sebentar ya, Mama potong dulu kuenya."


Setelah memotong beberapa bagian kue, Alysa membawanya ke ruang keluarga sembari bersantai menonton acara televisi. Edward, Mira dan Angga segera menyantapnya membuat Alysa menggelengkan kepalanya.


Rasa kantuk mulai menyerangnya setelah berbincang-bincang, Alysa memutuskan untuk segera tidur dengan membawa Edward. Ia menggendongnya dan menidurkannya di kamar sebelah. Alysa membacakan cerita dongeng, dan itu berhasil membuat Edward tertidur dengan lelap. Alysa segera menyelimutinya dan pergi menuju kamarnya.

__ADS_1


Barang-barang dan makanan cemilan sudah siap untuk besok. Ia harus bangun lebih pagi untuk menyiapkan kebutuhan suaminya dan juga kebutuhan anaknya. Alysa segera membaringkan tubuhnya memunggungi pintu.


Sementara itu, Angga masih berbincang-bincang dengan Mira. Ia menceritakan semua tentang Alysa padanya. Mira tampak tertegun mendengarnya. Walaupun Alysa beda satu tahun dengan adiknya, ia bisa memahaminya.


"Abang, waktu itu kok bisa ketemu sama kakak ipar?" tanya Mira.


Angga mengedarkan pandangannya, "Sebenarnya kayak gini. Waktu itu Edward pulang sekolah di jemput si Willy, terus si Willy cuma nganterin ke area lobby aja. Abang langsung carilah takutnya ada apa-apa sama Edward. Abang lihat Edward lagi bicara sama Alysa, kayak yang udah akrab banget. Abang lihatin terus, padahal Alysa ini baru satu hari bekerja, dan Abang pun baru tahu kalau Alysa bekerja disana. Para resepsionis dan kepala cleaning service pun gak ada yang ngasih tahu. Ya ini mungkin cukup mendadak. Abang dengan cepat bawa Edward karena Abang takut, kalau dia akan apa-apain Edward. Tapi, justru dia tidak seburuk yang Abang kira. Dia sangat lembut dan itu membuat Edward selalu saja mengingatnya dengan sebutan tante cantik." jelas Angga masih mengingat awal pertama ia bertemu dengan Alysa saat itu.


"Tante cantik?" tanya Mira.


"Haha...Iya tante cantik. Edward memang selalu manggil tante cantik. Lama kelamaan ada rasa timbul di hati Abang, hingga akhirnya Mama pun mendesak Abang buat segera nikah. Sebenarnya Abang pun belum bisa memastikan hati Abang padanya, namun karena desakan itu, ya Abang pun menjadi yakin padanya."


"Sesuatu yang sangat sulit. Tapi Abang beneran cinta kamu sama kakak ipar?"


"Ya, jelas-jelas cinta. Dia wanita mandiri, walaupun usianya beda satu tahun denganmu."


"Masa sih beda satu tahun?"


"Iya, dia usianya 20 tahun. Kalau kamu kan 19?"


"Wahh...Kakak ipar ku masih muda ternyata, bisa di jadiin teman curhat nih haha.."


"Udah, tidur dulu sana. Abang mau tidur, besok harus nganterin kamu dan Alysa ke sekolah."


"Ya udah, Bang. Aku tidur dulu. Cepat-cepat ngasih ponakan dong!"


"Siap...Nanti dibuatin haha..."


Mira segera pergi menuju kamarnya yang berada di lantai 2. Begitupun dengan Angga, ia segera pergi menuju kamarnya. Angga membuka pintu kamarnya dan yang pertama ia lihat adalah ranjang yang menampakkan istrinya sedang tertidur dengan pulas.


Angga menutup pintu dan menguncinya. Ia perlahan mendekati Alysa dan mencium keningnya. Angga ingin sekali menuntaskan hasrat di malam itu juga. Ia mulai membuka pakaian istrinya dan memciuminya hingga meninggalkan kissmark di beberapa bagian leher istrinya.


Alysa masih tak bergeming, ia masih tertidur dengan pulas. Angga terus saja menciumnya dengan tangan yang sudah menelusup ke dalam br*, ia meremasnya dengan pelan. Sesuatu di balik celananya langsung berdiri. Alysa tiba-tiba bangun karena merasa ada yang mengganggunya saat tidur. Ia melihat suaminya sedang mencium lehernya dengan sangat bergairah.


Alysa mendorong tubuh suaminya, namun tak bergeming sedikitpun pada dirinya. Angga yang menyadari istrinya sudah bangun, ia langsung mengunci pergerakannya dan mencoba naik keatas tubuh istrinya. Angga ******* bibir istrinya dengan lembut sembari membuka kancing pakaian dirinya. Setelah itu, ia membuka celananya dan mencoba membuka celana istrinya disaat yang bersamaan.


Dengan sekali dorongan, tubuh keduanya sudah tak berjarak lagi. Angga menggerakkan tubuhnya membuat irama yang sangat merdu. Malam yang kelam menjadi malam yang begitu panas dan penuh kenikmatan.


***

__ADS_1


Jangan lupa vote, like dan commentnya❤


__ADS_2