Menikahi Duda Tampan

Menikahi Duda Tampan
BAB 79


__ADS_3

"Tapi, Pa. Angga sudah membuat Destia jadi gak peraw*n lagi! Mama gak mau kalo dia hamil di luar nikah, pasti anak kita juga yang ke seret polisi!" Mama tetap pada pendirianya untuk menikahkan Angga dan Destia.


"Angga sudah berapa kali bilang, Angga gak melakukan itu! Angga hanya mencintai Alysa. Angga akan cari bukti biar semua gak nyalahin Angga!" jawab Angga.


"Anak sendiri di salahin, anak orang di benerin! Angkat aja Destia jadi anak kamu, bukan jadi menantu kamu!" pekik Papa dengan memalingkan wajahnya pada sang istri.


"Stop...! Kita kita harus cari tau di balik masalah ini. Mira tau ini masalah berat, tapi setidaknya kalo kita yakin, kita pasti menang. Dan untuk Mama, Mira sangat kecewa. Mira sebagai adik kandung Abang, hati Mira sakit. Mira gak mau punya Kakak ipar jahat kayak gitu! Sudah seharusnya Mama restuin hubungan Abang sama Kakak ipar. Kita tunggu dia sampe hamil, jangan malah mencari solusi buat ninggalin. Dia anak orang, kalo kita nyakitin hatinya pastinya hati orangtuanya juga sakit!" Mira sudah tidak bisa membendung amarahnya.


"Kita harus mencari bukti yang kuat. Kalau anak kita tidaklah bersalah atas kejadian memilukan ini! Ga, Papa akan mendukungmu untuk menemukan titik terang dibalik masalah ini!"


"Aku pun...!" ucap Mira sembari menyeka air matanya. Angga yang merasa mendapat dukungan dari Papa dan Adiknya. Ia pun tersenyum. Angga menarik tangan Mira untuk mengikutinya.


"Mau kemana, Bang?" tanya Mira saat Angga masih berjalan dengan menarik tangannya.


"Abang mau bicara sebentar. Kamu jangan kasih tau Alysa, kalo dia tau, pasti dia akan membenci Abang. Kamu ingat itu!" Mira mengangguk setuju. Ia akan membantu memecahkan masalah Abangnya sendiri.


Disisi lain, Alysa sedang menunggu kepulangan Angga yang entah mengapa sudah satu jam lebih suaminya tidak menampakkan jati dirinya. Alysa yang baru saja akan menelpon, kini dikejutkan dengan seringan teleponnya.


Kak David? Tumben telepon.


"Hallo, assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam. Alysa apa kabar?"


"Alhamdulillah, Kak. Kabar baik menyertaiku. Gimana perkembangan proyek sama Pak Dirga?"


"Syukurlah. Katanya udah hampir 40%, di tambah lagi cuaca sekarang kurang mendukung, hujan terus."


"Iya sih. Tumben nih telepon, pasti ada sesuatu?"


"Kita ketemu yuk? Ada yang harus aku bicarakan."


"Tentang apa? Tapi aku gak bisa keluar sekarang, suamiku akan pulang, mungkin sudah di jalan. Apa sebaiknya, Kakak kesini aja?"


"Ya sudah aku kesana. Alamatnya kirimin!"


"Oke..."


Setelah memutuskan teleponnya, Alysa segera mengirimkan alamat resmi kediamannya pada David. Alysa merasa aneh dengan sikap David, pasalnya baru kali ini ia mendapat telepon darinya. Alysa mencoba berfikir positif, mungkin dia ingin berjumpa atau sekedar memperbincangkan mengenai perusahaan saja.


David melajukan mobilnya menuju kediaman Alysa, ia menatap alamat rumah itu dengan seksama. Ia berfikir, harus menuntaskan masalahnya dengan Destia. Bagaimana pun Destia kini sedang mengandung anaknya, walaupun ia sudah membayar denda senilai satu triliun.


Tidak berapa lama, mobil berhenti tepat di depan rumah besar. David mencoba menghubungi Alysa kembali.


"Aku sudah di depan."


"Masuklah, aku di ruang tamu nih."


David pun segera melangkahkan kakinya menuju rumah besar itu. Ia menatap takjub dengan rumah tiga lantai itu. Setelah lama memandang semua sudut rumah, David segera mengetuk pintu.


TING TONG TING TONG

__ADS_1


"Sebentar." ucap pemilik rumah.


CEKLEK


"Masuklah, Kak." ajak Alysa.


Mereka pun masuk dan duduk di sofa. Alysa beranjak dan segera membawa minuman untuk tamunya. Alysa kembali dengan membawa jus jeruk dan menaruhnya di meja.


"Ada perlu apa, Kak?" tanya Alysa.


"Aku mau cerita sesuatu. Tapi kamu gak boleh kasih tahu sama siapa-siapa ya?" perintah David dengan wajah sedikit ragu.


Alysa terdiam, namun setelah beberapa saat akhirnya ia pun mengangguknya dan mengangkat jari kelingkingnya dengan tinggi. "Okelah."


David pun mulai menceritakan kisah hidupnya yang bermula saat ia mulai merintis pekerjaan milik Ayahnya hingga sekarang.


*Flashback On*


David duduk di kursi kebanggaannya dengan wajah yang kurang semangat. Berkas-berkas menumpuk di mejanya tanpa ia lihat sedikit pun. Hatinya tiba-tiba sakit, pertanyaan demi pertanyaan kini selalu saja menghantuinya. Pacarnya yang sudah satu bulan lebih pergi ke Singapore untuk menjadi model bersama temannya.


Dari saat itu, ia berfikiran jika kekasihnya sudah tidak mencintainya lagi dan mungkin sudah memiliki kekasih lain di hatinya. Dan benar saja selama ini pertanyaan-pertanyaannya itu terbukti, kekasihnya sendiri sudah mengkhianatinya dan memilih selingkuhannya. Hingga akhirnya malam itu ia benar-benar di buat marah dan pergi ke Caffe yang sering ia kunjungi ketika sedang dalam masalah yang begitu memompa amarahnya. Malam itu, ia duduk di depan Caffe sembari menatap kosong ke arah jalanan yang begitu ramai. Seketika, ia melihat wanita keluar dari mobil dengan memakai kacamata hitam dan hendak masuk ke dalam Caffe.


Wahh...Gue embat juga tuh cewek. Mantap bener lekukan tubuhnya.


David mengikuti langkah wanita incarannya. Ia duduk di seberang, agar wanita itu tidak mengetahui keberadaannya jika dirinya yang sedang memperhatikannya.


Wanita itu terlihat sedang menelpon seseorang dengan wajah kesal membuat instingnya merencanakan hal yang di ingin-inginkan selama ini. Setelah menelpon, tidak berapa lama empat laki-laki datang menemui wanita itu. David merasa penasaran, ada hubungan apa di antara mereka?


David yang melihat laki-laki itu pergi, ia langsung mendekati wanita incarannya.


Gue harus kesana. Gue ajak kenalan aja.


Hingga perbincangan mereka pun berlanjut ke lantai dua. Dimana, di lantai dua ini cukup privasi dan tentunya bebas melakukan apapun. Tiba di sana, ia mulai mengutak-atik fikiran wanita itu dengan menawarinya minuman. Pastinya minuman yang memabukkan, agar wanita itu tidak tersadarkan diri.


Wanita itu akhirnya menerima tawaran dirinya dan mulai meminumnya sampai satu botol habis, dan ia pun segera memperk***nya.


*Flashback Off*


"Hah? Kakak melakukannya?" Alysa terkejut dengan menutup mulutnya merasa tidak percaya. "Itu bener, Kak?"


"I-iya, Lysa. Sebenernya, aku lagi gak bisa nahan kekesalan aku sama pacarku, dia udah selingkuhin aku. Aku juga ingin menikahinya karena di dalam perutnya ada anak aku juga. Tapi wanita itu menolak dan meminta bayar satu triliun." ucap David pasrah.


"Terus gimana? Orang tua udah tau?" tanya Alysa.


"Gak ada yang tau. Aku simpan sendiri-sendiri."


"Runyam juga masalahnya. Terus Alysa harus gimana? Alysa juga gak tau yang mana wanitanya."


"Aku juga lagi cari solusi buat nyari alamat rumahnya."


"Ya udah cari. Ehh, wanita itunya udah hamil berapa bulan? Udah buncitkah? Kasihan anaknya gak punya ayah. Kalo misalnya anaknya perempuan gimana, kan kalo dia nikah juga gak bisa di walikan oleh ayahnya sendiri!"

__ADS_1


"Udah buncit mungkin sekarang. Nah itu, kalo pun kita pisah aja si anak itu gak bakal dapet warisan katanya. Aku jadi bingung!"


"Mending kayak gini. Kakak cari wanita itu, maksudnya itu Kakak ke tempat dulu lagi, siapa tau dia ada disana. Kakak ajak bicara, kalo sempet ajak nikah, kasihan anaknya." perintah Alysa.


"Ya udah, aku terima sarannya. Makasih ya adik kelas baikku, andaikan kamu belum nikah, pasti udah aku nikahin," ucap David tersenyum kikuk membuat Alysa membulatkan matanya.


"Kita gak berjodoh. Mungkin jodoh Kakak, ya wanita itu." timpal Alysa tertawa.


Tiba-tiba suara bel rumah mengagetkan mereka yang sedang berbincang-bincang. Alysa pun langsung pergi untuk membuka. Tampak suaminya sudah pulang dan menatap ke arah David.


"Ayo Pa, duduk dulu. Kenalin, ini David Kakak kelas aku waktu SMP. Dan dia juga yang udah gabung ke perusahaan hotel milik, Papa." jelas Alysa membuat Angga yang tadinya menatap tajam pada David, kini ia tersenyum dengan mengulurkan tangannya. David juga bisa di bilang rekan bisnisnya walaupun ia juga kurang mengetahuinya karena perusahaan hotel dipegang oleh istrinya.


"Kenalin, saya Angga pemilik hotel yang istri saya pegang. Oh kamu Kakak kelasnya Alysa?" ucap Angga. David pun membalas uluran tangan Angga dengan tersenyum.


"Iya, Pak. Hebat lho Pak Angga dapet bini cantik plus pinter kayak gini!" pekik David membuat Angga tertawa.


"Haha...Bisa aja. Oh ya, ada perlu apa kemari?" tanya Angga.


"Aku punya masalah."


"Masalah apa? Masalah perusahaan?" tanya Angga mengerutkan dahinya.


"Bukan. Ini masalah menyangkut masa depan anak ku!"


"Anak? Oh, udah nikah?" tanya Angga. Alysa hanya berdiam diri sembari menyandarkan dagunya ke bahu suaminya.


"Belum. Tapi aku udah punya anak." David tersenyum kikuk karena ia merasa malu.


"Belum nikah dah tokcer nih, hahah...Nikahinlah, kasihan anakmu dia butuh sosok ayah."


"Nah masalahnya itu, Pak. Saya udah mau nikahin dia, tapi dia malah minta uang satu triliun. Anaknya gak tau masih ada apa enggak."


"Gila banget tuh cewek. Ceweknya gak berfikir panjang, masalah udah buntu malah di selesain dengan cara yang salah. Harusnya kan dia tau, dia lagi ngandung anak yang bukan suaminya."


"Aku juga bingung, Pak. Ada ya cewek kayak gitu. Orang lain mah kalo udah buncit kayak gitu pasti minta dinikahin, lah ini malah gak mau."


Setelah berbincang-bincang cukup panjang, akhirnya David pun segera undur diri. Sepulang David dari rumahnya, Alysa pun kini langsung menginterogasi suaminya.


"Papa, kok lama? Katanya mau sebentar!"


"Papa bicara dulu sama orangtua." Angga tidak mau jika Alysa akan mengetahui semua ini.


"Ya udah, kita makan yuk? Mama panggil Edward dulu di atas." Alysa segera pergi menuju lantai teratas. Angga terdiam, dan entah apa yang harus ia lakukan saat ini sampai Willy mengabarinya. Rasa bersalah sudah pasti ada, namun ia juga tidak ingin berlarut-larut dalam masalahnya sendiri.


Maafkan Papa ya, Ma. Papa terpaksa menutupi masalah ini. Papa ingin mempertahankan rumah tangga kita. Insya Allah, Papa tidak akan mengecewakan Mama lagi. Mama yang selalu dihati, Papa.


***


Sedih gak sih? Istri dibohongin sama suami sendiri? Walaupun demi kebaikan rumah tangga, tapi seengaknya bicarakan baik-baik dengan istrinya. Kalau istrinya tahu dari orang lain gimana? Nyesek hatikuuu🤧


Jangan lupa dukung terus author ya, biar rankingnya juga naik hehe❤

__ADS_1


__ADS_2