Menikahi Duda Tampan

Menikahi Duda Tampan
BAB 63


__ADS_3

Makan sore kali ini cukup hening tanpa ada pembicaraan apapun dari mereka, hanya suara sendok saja yang terdengar ketika menyentuh piring. Alysa sesekali menatap Angga dan setelah itu ia kembali menatap Edward yang begitu kelaparannya. Setelah selesai makan, Angga segera pergi menuju ruang keluarga dan menyalakan televisi untuk mencairkan suasana hatinya. Alysa segera membuatkan susu untuk Edward dan setelah itu segera membereskan dan mencuci piring.


Setelah selesai mencuci piring, Alysa duduk menyendiri di taman belakang yang menghadap ke area kolam renang. Tatapan kosong ke depan. Angga begitu marah padanya sampai-sampai tidak mau bicara dengannya. Apa ia melakukan kesalahan yang begitu fatal? fikirnya. Alysa memejamkan matanya dan mengusir semua masalah-masalah yang kini ada didepannya.


Alysa mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi keluarganya. Ia sangat merindukannya setelah satu minggu yang lalu orangtua dan kedua adiknya pulang lagi ke kampung.


"Assalamu'alaikum, Yah," ucap Alysa dengan nada seperti ingin menangis namun ia menahannya.


"Waalaikumsalam, Nak. Bagaimana kabarmu? Apa kamu sudah bisa hamil lagi?" tanya Ayah yang mengetahui jika Alysa sudah keguguran dari istrinya.


"Belum, Yah. Alysa juga berharap akan hamil kembali. Bagaimana kabar Ayah? Apa baik-baik saja?" mengalihkan pembicaraan.


"Kok suara kamu seperti lagi nangis? Kamu kenapa, Nak? Apa ada masalah? Ayo cerita sama Ayah!".


"Gak ada masalah apa-apa, Yah. Aku baik-baik saja,"


"Kamu berbohong. Ayo cerita saja, apa suami melakukan sesuatu?" tanya Ayah membuat Alysa ingin sekali menangis.


"E-enggak. Mas Angga baik banget sama Alysa Yah. Besok Alysa akan transfer uang, nanti ambil aja di Bu Irma,"


"Jangan sering-sering ngirimin uang. Itu uangmu, Ayah juga sekarang sudah bekerja lagi."


"Tidak apa-apa, Yah. Alysa kerja di perusahaannya Mas Angga. Alhamdulillah, sedikit-sedikit Alysa bisa tabungin uangnya buat keperluan dikampung."


"Baik sekali kamu, Nak. Ayah do'ain, semoga pernikahanmu akan tetap seperti ini sampai kalian tua nanti." ucap Ayah sembari menangis.


"Aamiin. Udah, Ayah jangan nangis lagi ya. Mudah-mudahan saja pernikahan Alysa dan Mas Angga bisa sampai tua nanti."


Setelah menelpon Ayahnya, Alysa menangis tersedu-sedu. Ia memikirkan ucapan Ayahnya tentang pernikahannya. Pernikahan hanya tinggal dua minggu saja. Itu pun jika Angga bisa mempertahankannya, jika tidak maka ia harus segera pergi.


Kenapa harus kayak gini?


***


Malam pun tiba, Alysa pergi ke kamar Edward untuk menemani putranya tidur. Alysa berfikir, malam ini ia akan tidur bersama anaknya, karena suaminya juga sepertinya masih marah padanya dan enggan mengajaknya tidur. Setelah Edward tertidur, Alysa hendak melihat Angga dikamarnya apakah dia sudah tidur atau masih memainkan laptopnya, namun ia sama sekali tidak menemukannya. Setelah itu, ia pergi ke ruang kerjanya dan benar saja, Angga sedang memejamkan matanya di sandaran kursi kerjanya.


Papa kenapa jadi kayak gini?


Alysa tiba-tiba menangis dan segera menutup pintunya kembali. Alysa masuk ke kamar Edward dan menangis disana. Fikirannya pada Angga. Lama sudah ia menangis membuat rasa kantuk pun datang hingga ia tertidur di samping anaknya.


Sementara itu, Angga kembali ke kamarnya dan ia tidak mendapati Alysa disana. Ia masuk dan merebahkan tubuhnya. Ia mencoba tidur, namun tetap saja ia tidak bisa. Ia memikirkan Alysa, ia sadar karena sudah mengabaikannya. Lagi pula Alysa sudah menjelaskan mengapa ia bisa pergi dengan Willy. Namun kecemburuannya yang membuat dirinya egois.

__ADS_1


Satu jam berlalu, Angga sedari tadi menunggu Alysa masuk ke kamar dan tidur di sampingnya. Namun sama sekali tidak ada tanda-tandanya. Apa dia akan tidur di kamar lain?. Angga segera beranjak dari ranjang dan segera pergi untuk mencari keberadaan istrinya. Ia membuka kamar Edward yang tidak dikunci. Tampaklah istrinya sedang tertidur dengan pulsanya di samping anaknya sembari memeluknya. Wajah sang istri terlihat sembab. Mungkin ia sudah menangis? Angga mendekati Alysa dan segera menciumnya.


Maafkan Papa.


Angga dengan sigap segera memangku istrinya yang sudah tertidur dan membawanya pergi ke kamarnya. Angga menidurkannya dan menyelimutinya. Angga merebahkan tubuhnya disamping Alysa dan memeluknya.


"Maafkan, Papa. Seharusnya Papa tidak mengabaikan Mama." Angga pun segera tertidur.


Keesokan paginya, Alysa bangun dan ia mendapati tangan kekar melingkar ditubuhnya. Alysa mencoba mengingat kejadian semalam apa yang dia lakukan. Semalam dia di kamar Edward, tapi bangun-bangun sudah ada di kamarnya? Bukan suaminya masih marah dengannya? Ah sudahlah, mungkin dia merasa kasihan dengannya.


"Pa...? Ayo bangun!"


"Emmhhh...Ada apa?" tanya Angga membuka matanya perlahan.


"Udah adzan, ayo sholat subuh dulu." ajak Alysa.


"Iya, sebentar."


Alysa segera pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya dan setelah itu ia akan sholah subuh sendirian karena Angga akan sholat subuh dimasjid komplek.


Setelah selesai sholat subuh, ia segera melipat sajadah dan mukenanya. Alysa segera pergi ke dapur untuk memasak, seperti biasa.


***


David sudah menghilang setelah melakukan itu pada Destia. Destia yang merasa sudah diperlakukan tak senonoh oleh David, ia segera menelpon seseorang.


"Temui aku di rumah!"


Setelah itu, ia segera pergi dari Caffe dan merasakan sakit diarea bagian int*mnya. David memasukannya dengan paksa dan mengulangnya hingga berkali-kali. Tiba di rumah, Destia segera mandi untuk menghilangkan jejak yang menjijikkannya. Tiba-tiba ia rasa mual mengdatangi dan segera memuntahkan isi perutnya.


Lima menit sudah ia memuntahkan isi perutnya yang tak kunjung membaik, membuatnya duduk lemas di lantai toilet. Ia mengelus perutnya yang masih datar. Jika anaknya lahir nanti, mungkin ia tidak akan mempunyai seorang Ayah, fikirnya. Pertanyaan-pertanyaan itu selalu saja menggangu fikirannya.


"Gue gak akan mau jika dinikahin laki-laki pecundang itu. Lebih baik gue minta denda buat ngurusin anaknya. Dan setelah itu gue cari cara biar bisa nikah sama Mas Angga, haha...Gue paksa terus si tante tua itu biar segera dipercepat. Masalah anak ini, pasti gak ada yang tahu jika ini anak dari hasil gelapku." gumam Destia tertawa misterius.


Setelah membersihkan diri, Destia segera pergi menemui orang yang sudah ia panggil sejak tadi. Destia tersenyum dan segera mengulurkan tangannya pada sosok laki-laki paruh baya. Merekapun segera duduk berseberangan.


Laki-laki itu mengeluarkan map yang berisikan kertas-kertas. Destia dengan cepat mengambilnya dan membacanya. Disitu tertulis beberapa ancaman untuk ayah si bayi.


"Apa kau sudah menulisnya dengan benar? Buat dia harus membayarnya!"


"Sudah, Nyonya. Sebaiknya Nyonya baca kembali!"

__ADS_1


"Terima ini!" menyodorkan amplop coklat.


"Terima kasih, Nyonya. Terima kasih atas kerjasamanya." laki-laki itu segera pergi.


Gue akan ancam dia segera membayar denda atas apa yang diperbuatnya. Setelah itu gue mau rencanain sesuatu lagi.


***


Perusahaan yang Alysa pimpin kini sedang melakukan pengecekan bagian bagian bangunan untuk hotel baru. Alysa begitu sibuk dan lupa jika hari ini ia harus mengabari Angga. Alysa memegangi kertas dan juga denah bersama Arsitek ternama dikotanya. Panas semakin terik membuatnya merasa kelelahan dan segera duduk di kursi dengan penjaga security.


David tidak ada disana membuat Alysa menanyakannya pada bagian resepsionis yang sedang mengecek juga.


"Dimana, Pak David?" tanya Alysa sembari menggibas-gibaskan kertas-kertas.


"Saya kurang tahu, Bu."


"Kemana dia? Katanya mau kesini!" gumamnya.


Alysa yang sedang memperhatikan para pekerja pun langsung mengambil ponselnya dan berniat untuk menelpon Angga. Angga pasti sudah menunggunya.


"Assalamu'alaikum, Pa."


"Waalaikumsalam, Mama. Gimana pembangunannya, apa sudah berjalan?"


"Ini lagi pemasangan beton untuk menahan beban dari atas, Pa. Papa hari ini gak ada meeting kan?"


"Terus kalau misalnya beban dari atas sangat besar, apa bisa tertahan? Enggak ada, Papa lagi santai aja."


"Ya bisa dong, Pa. Kan di dihitung dulu dari skala dan perbandingannya. Hmm...Gimana kalau hari ini kita berkunjung ke rumah Mama, tapi kita jemput Edward dulu disekolahnya"


"Sepertinya tidak terlalu buruk. Ya udah, Mas kesana sekarang."


"Oke, aku tunggu ya Pa."


Alysa segera pamit pada rekan bisnisnya dan ia akan segera bersiap karena Angga akan segera menjemputnya. Perasaannya kini sangat bahagia. Keluarga yang harmonis, bisa bekerja dan suami mendukung sepenuhnya, hanya satu yang merasa ia takutkan dari pernikahannya, yaitu pernikahannya hanya tiga bulan. Tiga bulan yang begitu singkat menurutnya. Tapi ia akan mempertahankannya walaupun pasti Mama mertuanya akan mengusirnya.


Alysa hanya sabar dan pasrah. Semua ini cobaan dan ia harus menjalankannya sesuai apa yang ia mampu hingga saat ini. Masalah setelah tiga bulan ia harus segera pergi, entahlah mungkin suatu saat nanti Mama mertuanya akan merestui dan menyayanginya seperti anaknya sendiri.


***


Alysa pergi atau enggak ya?🤧😭

__ADS_1


Nyesek deh bacanya:(


Jangan lupa Vote sebanyak-banyaknya agar ranknya naik ya kakak-kakak tercintašŸ¤§šŸ¤£ā¤


__ADS_2