Menikahi Duda Tampan

Menikahi Duda Tampan
BAB 83


__ADS_3

"Gimana kata polisi?"


"Lagi di proses, Pak. Nanti kalau memang bukti sudah cukup dan kuat, kita dikabarin lagi."


"Tolong urus secepatnya. Will kau panggilkan detektif untuk mencari seseorang, si Adryan harus membungkam dipenjara!"


"Ba-baik, Pak. Saya akan menghubunginya!"


Angga memutuskan teleponnya dan segera melajukan mobilnya kembali. Keadaan hatinya tidak begitu menyenangkan. Ia harus kehilangan istrinya yang kini entah dimana keberadaannya.


Maafkan Papa, Ma. Papa yang salah, Papa yang udah rahasiain semua ini. Papa sengaja rahasiain masalah ini, Papa gak mau aja kalo Mama mengetahuinya. Dan sekarang Mama sudah mengetahuinya malah pergi. Harusnya Mama bicara dulu sama Papa. Dimana kamu sayang? Gak kasian sama Edward yang lebih sayang padamu.


Mobil terhenti, Angga segera masuk dengan wajah dinginnya.


"Mana Nyonya besar rumah ini?" tanya Angga pada pembantu rumah.


"Ada di kamar, Tuan. Den Edward juga ada di kamar." ucap pembantu dengan menundukkan wajahnya.


Angga segera pergi dengan wajahnya amarah dan dinginnya. Ia sangat membenci Mamanya sendiri.


Mungkin Mama aaya di guna-guna wanita itu. Secantik apa dia? Yang ada hanya murahan. Laki-laki banyak, gak cuma saya aja.


Angga membuka pintu kamar dan menampakkan wajah Mamanya yang sedang bermain dengan anaknya. Angga menghampirinya dan segera mengambil Edward. Mamanya langsung menatap tajam pada Angga.


"Rencana yang sangat bagus!" satu tepukan tangan membuat Mamanya langsung berdiri dan mendekati Angga.


"Kamu anak yang tidak mengerti sopan santun ya? Setelah dengan wanita kampung itu, kamu jadi melawan sama, Mama!"


Angga memalingkan wajah dengan tersenyum paksa. "Kenapa harus percaya sama orang lain? Sedangkan anakmu sendiri tidak pernah melakukan hal itu padanya! Anakmu ini di jebak, di jebak! Sadarlah, Ma. Angga bersikap seperti ini karena ulah Mama sendiri! Angga melawan Mama, karena Mama selalu saja ikut campur dalam urusan rumah tangga Angga. Angga sudah besar, sudah punya anak. Gak habis fikir aja, kenapa ada seorang Ibu yang tidak percaya sama anaknya sendiri. Apa Mama bisa melihat satu kejelekan dari wanita itu? Itu namanya wanita murahan, yang mau dijajakan laki-laki lain. Apa Mama di guna-guna? Pantes aja sifatnya sama seperti dia."

__ADS_1


"Tutup mulutmu, Angga! Kau anak yang tidak tau diri. Kau yang sudah membuatnya tidak suci lagi, dan kau malah mengelaknya!"


"Sudah lihat bukti CCTV di Hotel itu?" Mamanya langsung Angga dan menampar wajahnya. Angga hanya tersenyum, walaupun terasa sangat sakit.


PLAK


"Cukup! Jangan pernah kau ucapkan kata-kata menyakitkan itu lagi! Mama sangat kecewa sama kamu. Segera nikahi Destia, sebelum perutnya semakin membesar karena ulahmu!" Mamanya langsung pergi meninggalkan Angga yang kini sedang mematung. Ia masih dengan amarahnya. Namun juga ia sadar, ia harus menghormati Ibu kandungnya.


Sudah cukup permainanmu, Ga. Kini saatnya ubah hidupmu dan cari istrimu sampai dapat. Ada anakmu yang kini membutuhkan tangan-tangan kuatnya.


***


Alysa tertidur setelah menangis sepanjang hari. Ia masih mengingat foto itu. Foto suami dan wanita lain. Alysa hanya bisa pasrah, menyerahkan semua masalahnya pada sang Pencipta. Lika-liku pernikahan sudah banyak terjadi. Dan kini ia merasakannya. Sangat sedih, pedih, kecewa, hancur dan terabaikan.


Semua waktu berjalan dengan cepat. Secepat itu ia merasakan apa artinya hidup. Ketika sudah menikah, maka mereka harus menjadi keluarga rukun. Dan ketika berpisah, maka mereka harus bisa merelakan kepergiannya. Ia hanya bisa berdo'a untuk menemukan sisa-sisa hidupnya. Rasanya hampa dan tidak berselera.


Malam hari Alysa terbangun setelah tidur lebih dari 6 jam. Matanya sembab, rambutnya sudah tidak tergerai dengan indah. Miris, itu yang di ucapannya dalam hati. Tubuhnya lemas seperti tidak bertulang. Fikirannya masih pada foto-foto yang selalu menghantuinya sejak tadi. Dengan keadaan tidaklah sehat, ia bangun dan mencoba berjalan. Perutnya terasa sangat lapar. Alysa berinisiatif untuk pergi mencari makanan di malam hari.


Ia tidak ingin berbicara dengan siapapun untuk saat ini. Ia ingin menyendiri meratapi hidupnya. Kesendiriannyalah yang membuatnya merasa jauh lebih baik. Sudah dua puluh menit ia berjalan, namun area depan komplek masih belum terlihat. Ia lupa tidak memesannya lewat G-food, ia hanya ingin mencari makanan dan memakannya disana.


"Jauh banget sih!" gumam Alysa dengan wajah yang sulit di artikan.


GRUK GRUKK


Perutnya mulai berteriak kembali. Membuatnya hanya bisa menelan salivanya dengan kuat-kuat. Setelah berjalan sampai setengah jam, akhirnya ia pun sampai di salah satu kedai makanan. Alysa tersenyum dan segera berlari. Rasanya ia sudah tidak sabar lagi untuk makan. Perut-perut keroncongannya akan terisi disaat ini juga.


Alysa duduk sembari memesan nasi padang jumbo, mendoan, kerupuk dan teh manis. Ia sangat lapar dan juga butuh tenaga. Alysa segera memakannya dengan lahap membuat si penjual hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


Si ibu penjual mendekati Alysa dan duduk di sebelahnya. Ia merasa sangat kasihan dengan pembelinya. Sepertinya ia sedang punya masalah, sampai-sampai matanya sembab. Si ibu langsung menepuk bahu Alysa membuat Alysa terkejut dan segera minum.

__ADS_1


"Makannya jangan terburu-buru, Nak." ucap si ibu dengan tersenyum ramah.


"Makasih ya, Bu. Saya sangat lapar, sejak tadi belum makan," jawab Alysa dan segera makan kembali sembari menoleh pada si ibu yang ada disampingnya.


"Matanya kenapa, Nak? Kamu menangis? Ada masalah apa, coba cerita sama, Ibu." Ibu itu mencoba menanyakan permasalahan yang sedang di alami pembelinya. Ia merasa kasihan dan juga iba.


"Tidak apa-apa, Bu. Saya hanya ingin menangis saja merindukan keluarga di kampung." Alysa berbohong, karena ia tidak ingin membicarakan masalah itu lagi. Ia enggan berbicara walaupun hanya sekedar berbicara sebentar.


"Ibu tau kamu berbohong. Ayo katakan saja, anggaplah saya sebagai Ibu kamu sendiri. Ibu juga punya anak perempuan seperti dirimu. Ayolah kita berteman, saling bertukar fikiran." Ibu itu terus mengajaknya berbicara membuat Alysa pun menceritakan semua kisah pilunya. Ia menangis kembali membuat si ibu juga tiba-tiba menangis. Ia merasakan apa yang sedang dirasakan Alysa.


"Astagfirullah. Jadi kamu pergi dari rumah suami kamu?"


"I-iya Bu. Aku udah gak kuat kalo masih ada di rumah itu. Mama mertua juga tidak pernah merestui hubungan kami. Entah apa yang harus saya lakukan, Bu. Saya masih mencintai suami saya, tapi saya juga harus mengikhlaskannya. Hikss..." si Ibu langsung merangkul bahu Alysa dengan erat. Ia menciumnya dan menguatkan Alysa.


"Sabar ya, Nak. InsyaAllah, nanti Allah akan mempertemukan jodoh yang bisa membuat kamu bahagia. Ibu sangat kasihan dengan cerita hidupmu. Ibu jadi ingat sama anak ibu yang kini sedang bekerja di luar kota. Wajah kamu sangat mirip dengan anak, Ibu."


"Makasih ya, Bu. Udah mau dengerin curhatan saya. Saya merasa, seperti bersama ibu sendiri. Ibu sangat baik."


"Sekarang kamu tinggal dimana?"


"Di perumahan ini, Bu. Masuk lagi." menunjukkan tempat tinggalnya.


"Syukurlah. Kalo gitu, ibu ke dalam dulu ya. Ayo makan lagi, kamu pasti sangat lapar. Maafin ibu sudah mengganggu makan malammu." ucap si Ibu tersenyum.


Alysa membalas senyuman ibu itu dan segera makan kembali. Ia merasa lebih tenang setelah bercerita mengenai masalah yang sedang ia alaminya saat ini. Ia butuh support seseorang, entah itu orang lain atau pun keluarganya sendiri. Ia tidak ingin berlarut-larut dalam masalah hidupnya.


Setelah selesai makan, Alysa segera membayarnya dan segera pulang. Ia berharap esok hari akan menemukan separuh hidupnya dan melupakan masalahnya.


***

__ADS_1


Jangan lupa dukung author ya dengan cara vote, like, comment sebanyak-banyaknya. Karena dengan dukungan dari kakak-kakak, author bisa semangat lagi nulisnya❤


__ADS_2