Menikahi Iblis Berwajah Tampan

Menikahi Iblis Berwajah Tampan
BAB 10. Jiwa Iblis.


__ADS_3

Hanya butuh waktu 1x24 jam bagi Nawa untuk mendengar kabar dari Gasuta. Pimpinan gengster itu langsung menghubungi Nawa dan memberitahu tempat dan waktu dimana dia bisa bertemu dengan orang yang di inginkan.


Sore ini, Nawa bersama dengan Yoham sedang menuju ke sebuah depo peti kemas yang terletak di sebuah pelabuhan, dimana Gasuta memberitahu kalau orang yang di cari oleh Nawa ada disana.


Sesampainya di depo tersebut, Nawa segera mencari nomor peti kemas yang di beritahu oleh Gasuta. Cukup sulit mencarinya bahkan dengan bantuan Yoham karna peti kemas itu berada di tempat tersembunyi di ujung depo.


“Tuan!” Pekik Yoham saat ia menemukan nomor peti kemas yang dimaksud.


Nawa segera berlari menghampiri Yoham dan melihat sebuah peti kemas dengan nomor seri yang sama dengan yang diberitahu oleh Gasuta.


Dengan segera Nawa membuka pintu peti kemas yang memang tidak di kunci itu. Didalamnya sangat gelap. Untunglah cahaya dari luar mampu membuat penerangan untuk Nawa sehingga bisa melihat dengan jelas apa yang ada di dalamnya.


Disana, nampak seorang pria berbadan agak kekar, sedang duduk terikat di sebuah kursi. Pria itu nampak tidak sadarkan diri dengan kepala yang tertunduk lunglai.


Nawa segera mendekati pria itu dengan perlahan. Berusaha mengingat-ingat wajahnya. Dan benar saja, kalau pria itu adalah salah satu dari tiga orang yang sudah menghajarnya dan pria itulah yang menikamnya.


“Bawakan aku perapian. Jangan lupa tutup pintunya.” Perintah Nawa kepada Yoham.


Yoham segera melaksanakan perintah itu. Ia keluar dan kembali lagi tidak lama kemudian dengan sudah membawa tong sampah seng dan beberapa kayu bakar. Tidak lupa ia membawa sebuah senter untuk penerangan.


Api sudah menyala besar di dalam tong sampah itu. Tapi pria yang terikat itu belum juga sadar. Membuat Nawa tidak sabar dan menyiramkan air ke wajah pria itu.


Dengan gelagapan pria itu langsung terbangun. Ia terkejut dengan keadaannya yang sedang terikat di kursi. Tapi lebih terkejut lagi saat ia melihat wajah Nawa yang berada tepat di depan wajahnya.


“K k k kau?!” Lirihnya dengan nada ketakutan.


“Ternyata kau masih ingat dengan wajahku.” Ujar Nawa sambil berdiri tegak dan berjalan mengitari pria itu dan berdiri di belakangnya.


“Kenapa kau lakukan ini padaku?!!!” Tanya pria itu dengan suara yang marah.


“Emmmm. Kau masih ingat wajahku, seharusnya kau tau kenapa kau ada disini bersamaku.” Bisik Nawa di belakang telinga pria itu. “Kenapa kau melakukan itu? Siapa yang menyuruhmu?”


“Apa maksudmu? Aku tidak mengerti!”

__ADS_1


BUG!


Sebuah tinju melayang tepat mengenai pipi pria itu. Ia bahkan sampai tersungkur bersama dengan kursinya. Tapi kemudian Yoham membantunya untuk duduk di posisi semula lagi.


“Siapa yang menyuruhmu?” Kali ini Nawa sudah berdiri di hadapan pria itu.


“Walaupun kau menghajarku sampai babak belur, kau tidak akan mendapat jawabannya.” Ujar pria itu tanpa gentar sedikitpun.


PLAKK!


Kali ini Nawa menampar pipi kanan pria itu dengan sangat keras.


PLAKK!


Giliran pipi kiri yang mendapat tamparan.


Nawa berulang kali melakukan itu sampai bibir pria itu berdarah. Dan pipinya memerah.


“Tolong, hentikan.” Lirih pria itu lagi.


Tapi ternyata pria itu tetap tidak mau membuka mulut walaupun kondisinya sudah hampir mati. Baginya, siksaan seperti itu tidak berarti apa-apa. Dia masih bisa menahannya.


“Kau masih tetap diam?” Nawa mulai geram. “Lepaskan celananya.” Perintahnya pada Yoham.


Yoham segera melepaskan celana pria itu. Sedangkan Nawa kini sedang memegang sebuah besi yang sudah ia panaskan di perapian. Besi itu bahkan sampai berwarna merah menyala saking panasnya.


“Apa yang akan kau lakukan? Apa hanya sebatas ini?” Ujar pria itu mengejek Nawa. Ia tertawa smirk dengan wajah yang sudah babak belur.


Nawa berjalan mendekati pria itu dengan membawa besi panas di tangannya. Kemudian ia segera mengarahkan besi itu ke alat kela min pria itu. Bahkan dari jarak beberapa centi saja panasnya sudah sangat terasa.


“Apa yang akan kau lakukan?! Kau mau apa?! Baji ngan?! Lepaskan!!! jauhkan benda itu!!” Pria itu terus berteriak sambil berusaha memundurkan tubuhnya ke belakang demi menghindari besi panas itu. Walaupun ia tau itu percuma.


“Ah, sayang sekali. Padahal bentuknya sangat bagus begini. Tapi kau terpaksa harus kehilangan dia.” Ujar Nawa sambil terus mendekatkan besi itu.

__ADS_1


“Tidak, tidak. Jangan itu. Jangan itu.”


Kesabaran Nawa sudah hampir mencapai puncaknya karna pria itu tetap tidak mau memberitahunya.


“AAAAAARRRRRRRRGGGGGGHHHHHHH!!!!!!!!!!!!!!!” Pekik pria itu saat besi panas menempel di alat kela minnnya.


“Kau tau, kau bukan lagi seorang pria kalau barangmu sudah tidak berguna. Dan aku akan memasaknya sampai matang dan memotongnya untuk menu makan malammu.”


Pria itu sudah tidak punya tenaga karna merasakan alat kela minnnya yang terbakar. Nyawanya bahkan sudah hampir melayang. Ia tidak menyangka bahwa Nawa jauh lebih kejam daripada Gasuta.


“Kau ib lis.” Lirihnya dengan terbata.


“Ya, dan kau salah sudah berurusan dengan iblis ini.” Tekan Nawa. Ia kembali berjalan untuk mengambil besi yang lainnya dari perapian.


“Tidak, tidak, hentikan. Ku mohon. Hentikan. Aku akan memberitahumu.” Suara pria itu kini benar-benar terdengar sangat takut.


Tapi kali ini Nawa tidak percaya. Dia sudah terlanjur menikmati momen itu. Jiwa iblisnya sudah terlanjur bangkit. Ia tetap mengarahkan besi yang baru ia ambil ke arah kela min pria itu kembali.


“Samudera Jaya!” Pekik pria itu kembali. Dan kali ini berhasil menghentikan pergerakan tangan Nawa. “SJ, yang kutau dia berasal dari SJ. Tapi aku tidak tau persis siapa namanya.”


“Yoham.” Panggil Nawa.


Yoham sangat mengerti apa yang sedang di minta oleh Nawa. Ia segera mengeluarkan ponselnya kemudian menunjukkan sebuah foto kepada pria itu.


Saat melihat foto pertama, pria itu nampak menggelengkan kepala. Foto ke dua juga ia menggelengkan kepala. Baru saat di tunjukkan foto ketiga, pria itu mengerutkan kening. Ia seperti sedang memperhatikan wajah orang di foto itu dengan seksama dengan nafas yang terputus-putus..


“Itu dia! Ya, itu orangnya.” Jawab pria itu.


Nawa merebut ponsel dari tangan Yoham begitu saja. “Bagas?!” Pekiknya.


Ia nampak tidak percaya kalau Bagas merupakan dalang yang ingin melenyapkannya. Padahal selama ini ia tidak pernah benar-benar berseteru dengan adik dari Barra itu. Justru malah dengan Barralah Nawa sering beradu tinju.


Nawa kembali menatap marah kepada pria yang sudah menusuknya itu. Ia sudah tidak bisa lagi mengendalikan emosinya. Jadi ia tetap menempelkan besi panas di kela min pria itu sampai pria itu jatuh pingsan dan tidak sadarkan diri.

__ADS_1


Begitulah kejamnya Nawa yang mempunyai sisi iblis di dalam dirinya. Pria itu tidak punya rasa ampun kepada siapapun yang sudah menyakitinya. Ia akan membalas puluhan kali lipat dari apa yang dia terima.


__ADS_2