Menikahi Iblis Berwajah Tampan

Menikahi Iblis Berwajah Tampan
BAB 6. Parasit.


__ADS_3

Rengganis melenggangkan kakinya masuk kedalam pekarangan sebuah rumah mewah dengan perlahan. Ia mengikuti seorang security yang memandunya untuk menemui pemilik rumah. Ia terus mengedarkan pandangannya meneliti setiap bentuk dan tanaman yang ia lewati.


“Ayo, sini.” Ajak security itu kepada Rengganis.


Rengganis mengangguk kemudian kembali mengikuti pria itu berjalan masuk kedalam rumah.


“Permisi, Nyonya. Saya sudah membawa gadis itu.” Ujar security itu kepada nyonya pemilik rumah.


Wanita yang berumur hampir 40 tahun itu langsung tersenyum kepada Rengganis.


“Oh, Anis. Selamat datang. Mari, mari, duduk.” Tahara mempersilahkan dengan ramah.


Anis mengangguk hormat kepada Tahara. “Terimakasih, Tante.” Ujarnya sambil duduk di sofa di hadapan Tahara.


“Kakakku sudah banyak bercerita tentangmu. Ternyata dia sangat memperhatikanmu. Semoga nantinya kamu betah bekerja di club milikku ya.” Ujar Tahara.


“Sekali lagi terimakasih, Tante.”


“Kamu tidak perlu khawatir. Aku akan membuat pekerjaanmu sempurna.” Imbuh Tahara lagi sambil tersenyum kepada Rengganis.


Wanita paruh baya itu terlihat ramah dan supel sekali. Rengganis jadi tidak canggung kepadanya.


“Jadi, kapan saya bisa mulai bekerja, Tante?” Tanya Rengganis.


“Bagaimana kalau malam ini? Kebetulan malam ini teman-temanku akan datang ke club.”


“Baik, Tante.” Jawab Rengganis.


“Ayo, di minum.” Tahara mempersilahkan Rengganis untuk minum.

__ADS_1


Dan Rengganis segera menyeruput teh hangat yang baru saja di suguhkan oleh pembantu rumah Tahara.


“Aku turut berbela sungkawa dengan kejadian yang menimpa ayahmu. Meskipun itu sudah 8 tahun yang lalu. Maaf aku baru bisa mengucapkannya sekarang.”


“Tidak apa-apa, Tante. Terimakasih atas perhatian anda.”


Rengganis sudah mendengar cerita dari kakak Tahara yang merupakan kenalan dari ayahnya, kalau Tahara adalah wanita single yang belum menikah. Wanita itu tidak mau berurusan dengan pernikahan. Dia lebih nyaman hidup sendiri. Jadi Rengganis diminta untuk berhati-hati karna Tahara adalah tipe wanita yang sensitif jika tersinggung.


Seraya menunggu sore, Tahara meminta Rengganis untuk beristirahat di kamar yang sudah di siapkan. Tahara mempersilahkan Rengganis untuk tinggal bersamanya di rumah itu. Lagipula dia tinggal sendiri di rumah seluas itu. Hanya ada seorang asisten rumah tangga, seorang security, dan dua pria pengawal saja.


Bahkan saat Rengganis masuk kedalam kamarnya, ia tidak bisa terlelap. Terlalu banyak hal yang di fikirkan dan di rencanakan untuk masa depannya.


Rengganis menoleh saat mendengar ketukan di pintu kamarnya. Ternyata itu adalah Tahara yang memberitahunya kalau mereka sudah harus berangkat ke club. Ia segera mempersiapkan diri kemudian keluar dari kamarnya dan menemui Tahara yang sedang menunggunya di ruang tamu. Kemudian keduanya segera pergi ke club milik Tahara.


Waktu yang ditempuh hanya sekitar setengah jam saja. Setelah sampai di sebuah gedung yang nampak sepi, mobil berhenti dan parkir dengan sempurna. Tahara mengajak Rengganis untuk turun dari mobil.


Rengganis terus mengikuti langkah kaki Tahara masuk kedalam area gedung, ia mengedarkan pandangannya. Setelah sampai di gedung lain yang ada di belakang gedung utama, barulah mereka sampai di sebuah ruangan yang ternyata ramai oleh pengunjung.


“Salam kenal, saya Rengganis, kalian bisa memanggilku Anis. Mohon bantuannya.” Ujar Rengganis dengan ramah.


“Selamat bergabung, Anis.” Ucap mereka.


Rengganis merasa senang karna disambut dengan hangat oleh para karyawan lain. Disana ada total 14 karyawan yang bekerja di Club Hara . 6 wanita dan 8 pria. Mereka semua masih muda, mungkin sepantaran dengan Rengganis.


Seorang manajer club bernama Tari segera memberitahu apa-apa saja yang harus dilakukan oleh Rengganis. Gadis itu memperhatikan dengan seksama. Tidak butuh waktu lama sampai ia faham semua pekerjaannya.


Saat malam tiba, para tamu mulai banyak berdatangan. Membuat Rengganis sedikit kebingungan juga karna baru pertama kali melayani pelanggan. Tapi untungnya teman-teman barunya sigap memberitahu dan membantunya.


Sekitar jam 9 malam, Rengganis di panggil oleh Tahara untuk datang ke salah satu ruangan VIP tempat ia dan teman-temannya sedang berkumpul. Ia diminta untuk membawakan minuman dan camilan untuk mereka.

__ADS_1


Segera Rengganis pergi ke lantai dua dimana terdapat jajaran ruangan VIP, kemudian membuka salah satu kamarnya.


“Oh, Anis. Letakkan di sini.” Perintah Tahara kepada Rengganis.


Gadis itu segera meletakkan nampan yang ia bawa ke atas meja. Sekilas ia mengedarkan pandangannya kepada para wanita paruh baya yang sedang mengobrol perihal bisnis itu.


“Anak baru? Aku belum pernah melihatnya.” Ujar salah satu dari mereka yang terlihat lebih mendominasi daripada lima temannya yang lain.


“Iya, baru bekerja hari ini. Saudara jauhku.” Jawab Tahara sambil melirik kepada Rengganis.


“Manis.” Ujar wanita itu lagi sambil memperhatikan Rengganis dari ujung kepala hingga kaki. “Siapa namamu?”


“Rengganis, Nyonya.”


Wanita itu hanya tersenyum saja sambil mengangguk-anggukkan kepala.


Tidak lama setelah itu, Rengganis undur diri dari ruangan itu untuk melanjutkan pekerjaannya. Ia kembali di sibukkan untuk melayani para pengunjung club.


Di tengah hiruk pikuk suara musik yang dimainkan, dan di tengah riuhnya pelanggan yang menari di lantai dansa, Rengganis tetap berusaha profesional dalam bekerja.


Kali ini, dia mengantarkan minuman ke salah satu meja yang berisi tiga pria muda berwajah tampan. Dari tampilannya, bisa di lihat kalau mereka pastilah dari keluarga kaya raya, atau bahkan anak dari seorang pejabat penting.


“Ini minuman anda, Tuan. Silahkan.” Ujar Rengganis sambil meletakkan botol menuman beserta gelasnya.


Tapi saat sedang membungkuk untuk meletakkan minuman itu, seseorang meraba bagian bo kongnya dan bahkan hingga mere masnya pelan. Membuatnya terkejut bukan main. Ia tahu siapa yang melakukan hal itu padanya. Tapi ia berusaha untuk mengabaikan saja karna tidak ingin menimbulkan keramaian.


Melihat sikap Rengganis yang diam saja bahkan setelah di pegang bo kongnya, pria itu kembali melakukan hal yang sama. Kali ini rema sannya semakin kuat hingga membuat Rengganis sedikit memundurkan langkahnya untuk membuat jarak dari pria itu. Ia menatap pria itu dengan tatapan marah. Tapi pria itu hanya membalasnya dengan tertawa terbahak-bahak, begitu pula dengan teman-temannya. Tidak merasa bersalah karna sudah melecehkan seorang wanita.


Pria itu malah maju dan mendekatkan dirinya kepada Rengganis. Tangannya mulai membelai wajah Rengganis dengan perlahan. Rengganis sedang menahan diri untuk tidak menampuk pria itu dengan nampan yang ada di tangannya. Ia benar-benar tidak ingin membuat masalah di hari pertamanya bekerja. Hal itu akan membuatnya merasa tidak enak hati kepada Tahara yang sudah mempekerjakannya.

__ADS_1


Tapi semakin di biarkan, pria itu semakin menjadi. Tangan pria itu bahkan sudah berada di pundak dan terus bergerak ke arah buah da danya. Rengganis mencengkeram nampan yang ia pegang dengan erat. Ia masih berusaha menahan diri dan berharap ada situasi yang membuatnya menjauhi pria mesum itu.


__ADS_2