
Taksi yang di tumpangi Anis sudah memasuki area hotel INA. Setelah taksi berhenti di depan lobi dan Anis membayar argonya, ia kemudian keluar dari dalam taksi.
Di depan lobi, Yoham yang melihat kedatangan Anis langsung menghampiri taksi dan berniat membayar tagihannya. Ia fikir ongkosnya belum di bayar oleh Anis.
“Apa kau fikir aku tidak punya uang?” Dengus Anis kemudian.
Yoham tidak menanggapinya. Pria itu langsung menyodorkan tangannya untuk meminta barang pesanan Nawa.
Namun Anis menggelengkan kepalanya dan berkata, “Aku yang akan langsung memberikannya kepada Nawa.” Ujar Anis dengan suara tegas.
“Berikan kepada saya, Nona.” Pinta Yoham.
Namun Anis segera menggelengkan kepalanya kembali. Ia masih penasaran, orang seperti apa yang menemani Nawa bersenang-senang di hotel. Karna itu dia ngotot untuk ikut dan mengantarkan sendiri barang pesanan Nawa.
Sudah sebisa mungkin Yoham menghentikan Anis untuk masuk kedalam hotel, namun gadis itu tetap tidak mau memberikan boneka harimau itu padanya. Anis malah terus mendesaknya agar memberitahu keberadaan Nawa.
“Nona, berikan saja barang itu kepada saya.” Pinta Yoham dengan mengikuti langkah Anis yang sudah berada di dalam lobi hotel.
“Ku bilang aku yang akan mengantarkannya. Dimana dia?”
Dengan sikap Anis yang bersikeras ingin memberikan barang itu sendiri, Yoham tidak punya pilihan lain selain mengantarkan Anis ke ruangan dimana Nawa berada. Gadis itu terkejut bukan main saat hampir saja menabrak Temmy yang juga nampak terkejut dengan kedatangannya
Tapi sesaat kemudian Anis segera bisa mengendalikan dirinya. Ia nekat membuka pintu ruangan itu sendiri dan masuk ke dalamnya.
Nawa dan Suta yang sedang duduk sambil mengobrol, langsung menghentikan obrolan mereka dan kompak melihat ke pada Anis. Alis keduanya sama-sama berkerut karna terkejut dengan kedatangan Anis yang tba-tiba.
“Kau?” Ujar Nawa yang langsung berdiri mendekati Anis. “Kenapa kau kesini? Sudah kubilang untuk memberikannya kepada Yoham.” Ujar Nawa dengan geram sampai mengeratkan giginya.
“Anu, aku hanya,,,,” Anis tidak menemukan kalimat yang tepat untuk mengungkapkan alasannya.
“Apa dia istrimu?” Pertanyaan Suta menghentikan kemarahan Nawa. “Perkenalkan dia padaku, ajaklah dia duduk disini.” Pinta Suta dengan nada menggoda.
__ADS_1
“Terimakasih.” Ujar Anis yang langsung berlari dan duduk di kursi Nawa semula.
Nawa bisa melihat senyuman aneh dari Suta yang terus manatap kepada Anis.
“Oh, ini.” Ujar Anis sambil merogoh ke dalam tasnya dan mengambil boneka harimau mungil itu. Ia menyodorkannya kepada Nawa yang wajahnya nampak kesal dengan Anis.
Dengan tatapan tajam, Nawa mengambil boneka itu kemudian memberikannya kepada Yoham. Kemudian Yoham pergi meninggalkan Nawa di sana. Pria itu sudah tau apa yang harus dia lakukan dengan benda itu.
Dengan mimik wajah yang masih nampak kesal, Nawa mengambil duduk di sebelah Anis yang sepertinya tidak merasa bersalah dengan kedatangannya yang tidak di harapkan semua orang.
“Wahhh,, ternyata kalian nampak sangat serasi sekali.” Seloroh Suta sambil terkekeh.
“Benarkah?” Jawab Anis antusias dan di balas dengan anggukan kepala oleh Suta. “Terimakasih.” Imbuh Anis yang kegirangan mendapatkan pujian itu.
Sementara kekesalan Nawa bertambah, hal itu nampak dari raut wajahnya yang semakin masam.
“Jadi, Nona, siapa namamu?” Tanya Suta yang masih mengu lum senyumannya.
“Anis.” Jawab Anis dengan girang.
Nawa hanya melirik kepada keduanya secara bergantian. Ia bisa melihat tatapan netra Suta yang nampak aneh. Ada sesuatu yang entah apa itu, tapi Nawa tidak bisa mengartikannya dengan baik.
“Apa kalian berteman?” Kali ini pertanyaan itu di tujukan kepada Nawa.
“Rekan kerja.” Jawab Nawa singkat.
“Ooooo...” Anis mengangguk-anggukan kepalanya.
Nawa harus hati-hati menjawabnya karna Anis sedang mengenakan kalung penyadap itu. Hal yang sudah di hindari Nawa sejak awal, tapi malah gadis itu langsung menemui mereka begitu saja.
Tadi pagi, sebelum Anis terbangun, Yoham sudah kembali dari memeriksa kalung pemberian Dianty. Dan benar saja dugaan Nawa, bahwa kalung itu memiliki semacam penyadap di dalam bandulnya. Hal itu membuatnya harus lebih berhati-hati lagi.
__ADS_1
Dan satu hal yang pasti adalah, bahwa ternyata Dianty tidak sepenuhnya percaya kepada Anis. Ternyata ini semakin merepotkan.
Tidak beberapa lama, Yoham telah kembali dengan membawa berkas yang dibutuhkan untuk kesepakatan investasi antara Nawa dan Suta. Ia menyerahkan berkas itu kepada Nawa. Nawa segera membacanya kemudian menyerahkannya kepada Suta.
Saat Suta masih membaca berkas itu, Nawa melirik tajam kepada Anis. Menyadari sedang di lirik, Anis berusaha tersenyum canggung kepada Nawa.
“Oh, jangan pedulikan aku, kalian lanjutkan saja bisnis kalian.” Ujar Anis yang sedang melihat aplikasi video dengan suara yang cukup kencang.
Hal itu sangat membantu Nawa. Karna secara tidak langsung, Anis sudah menghalangi penyadap di kalungnya. Dan Nawa hanya membiarkannya saja tanpa berkata apapun.
Gadis itu lebih memilih untuk memakan camilan kacang yang tersedia di atas meja. Sesekali ia melirik kepada Nawa dan Suta yang sedang membicarakan perihal kerjasama mereka.
“Senang bisa bekerjasama dengan anda, tuan Nawa.” Ujar Suta sambil menyodorkan tangannya.
“Sama-sama. Semoga ini berjalan dengan baik.” Nawa menyambut uluran tangan Suta.
Nawa dan Suta telah menandatangi kesepakatan kerjasama. Nawa sedikit lega dengan hal itu, tapi ia juga penasaran dengan Bagas karna dia telah memberitahu Suta tentang saudara tirinya itu.
Suta nampak sangat puas dengan kerja sama itu. Setelah selesai berjabat tangan dengan Nawa, ia kemudian berjalan sambil tersenyum, ia mendekati Anis yang masih sibuk dengan ponsel dan kacang. Gadis itu bahkan nampak mengangguk-anggukkan kepalanya demi menikmati musik yang ada di ponselnya.
“Hei, nona manis, tidak baik bermain ponsel sangat dekat dengan wajahmu sepert itu.” Lirih Suta sambil tersenyum dengan sangat manis. Ia menggeser ponsel Anis dengan telunjuknya sampai ponsel itu menjauh dari wajah Anis.
Sedangkan Anis, hanya bisa terdiam dan ternganga mendapatkan senyuman itu. Pandanganya bertemu dengan netra Suta. Mereka berdua tidak menghiraukan tatapan tajam dari Nawa.
Nawa bisa melihat sekilas tatapan Suta yang nampak dalam dan berbinar. Ia merasa aneh dengan hal itu. Ia menduga, apa Suta telah jatuh hati pada pandangan pertama? Kepada Anis? Kepada istrinya?
Tidak mungkin!
“Tuan, kalau tidak ada keperluan lagi, aku dan istriku akan pergi lebih dulu.” Pamit Nawa memutus pandangan Suta kepada Anis.
Mendapat ‘teguran’ itu, Suta sontak langsung memundurkan tubuhnya dan terkekeh kecil. Dan Anis, ia langsung menatap kepada Nawa. Hatinya sedikit bergetar mendengar Nawa mengakuinya sebagai istri. Iapun tersenyum samar kemudian bangkit dari duduknya dan pergi menghampiri Nawa.
__ADS_1
Setelah Anis berdiri di sampingnya, Nawa segera menggenggam tangan Anis dan mengangguk sopan kepada Suta. Begitu juga dengan Anis, ia mengikuti sikap Nawa itu dan mengangguk juga kepada Suta.
Nawa segera menarik tangan Anis untuk keluar dari ruangan itu. Meninggalkan Suta yang tersenyum samar menatap kepergian keduanya.