Menikahi Iblis Berwajah Tampan

Menikahi Iblis Berwajah Tampan
BAB 41. Sekejam Itulah.


__ADS_3

Lewat dini hari, Nawa masih sibuk dengan laptopnya. Ia sedang mengerjakan pekerjaan sambil duduk di ranjang kamar tidur. Disampingnya, Anis sudah mendengkur yang menandakan kalau gadis itu sedang berada di titik paling nyaman di bawah alam sadarnya.


Sebuah pesan dari Yoham masuk ke dalam ponsel Nawa yang memberitahu kalau ia sudah mengamankan Dion, sekretaris Barra.


Dengan segera Nawa langsung menutup laptopnya dan meletakkannya begitu saja di atas nakas kemudian menyambar kunci mobil dan buru-buru keluar dari kamar. Ia bahkan tidak mengganti piyama yang ia pakai.


Nawa mengemudikan mobilnya ke sebuah gudang kosong yang sudah di beritahu oleh Yoham. Ia segera memarkirkan mobilnya disisi gudang kemudian turun dari sana.


Saat itu begitu sunyi. Hanya suara bintang malam yang saling bersahutan di berbagai sudut gudang. Gudang yang berada di daerah terpencil itu sangat sepi karna di sekitarnya tidak terdapat rumah warga. Gudang kosong gyang terkenal angker dengan cerita seramnya itu membuat tidak ada warga yang berani mendekat ke sana. Hal itu sangat menguntungkan Nawa karna tidak akan ada yang tau apa yang akan dia lakukan disana.


Seorang anak buah Yoham yang sedang berjaga di depan pintu yang berkarat langsung membukakan pintu itu setelah melihat kedatangan Nawa. Setelah Nawa masuk, ia segera menutup pintu itu kembali kemudian kembali berjaga di luar.


Nawa segera menghampiri Yoham yang sedang berdiri di depan seorang pria yang sedang di ikat tangan dan kakinya. Mulutnya bahkan di tutup oleh lakban. Pria itu nampak meronta-ronta ingin melepaskan diri.


Dengan marah Nawa langsung merangsek menghampiri pria itu dan langsung mencengkeram dagunya dengan sangat keras.


“Berani sekali kau mengganggunya?” Ujar Nawa dengan suara berat yang menegaskan kalau dia sangat marah saat ini.


“Mmmm! Mmmm!!” Ujar Dion yang berusaha menjawab Nawa namun mulutnya masih tertutup lakban.


Sreeekkkk!


Dengan kasar Nawa menarik lakban itu begitu saja hingga menimbulkan rasa sakit di bagian bibir Dion.


“Saya hanya melakukan perintah tuan Barra, Tuan.” Dion cepat-cepat membela diri.


“Apa kau bodoh? Kau melakukan perintahnya saat tau itu akan berurusan denganku?! Sudah berapa kali aku menghajarmu? Apa itu belum cukup untuk memberimu pelajaran?! Apa aku harus membunuhmu?!! Hah?!!!”


Dion sangat ketakutan melihat murka Nawa. Ia tau itu sejak awal namun ia tidak punya pilihan lain selain menuruti perintah Barra. Ia berhutang nyawa kepada Barra karna sudah menyelamatkannya dulu.


“Saya siap mati untuk Tuan Barra.” Ujar Dion tiba-tiba dengan suara yang sangat yakin.

__ADS_1


Dion mengakui semuanya karna ia fikir percuma membohongi Nawa tentang siapa yang menyuruhnya. Maka dari itu sejak awal dia sudah memberitahu Nawa tentang itu.


“Apa?” Ucapan Dion membuat Nawa bertambah berang.


“Sebanyak apapun anda menyiksa saya, saya akan tetap melakukan perintah Tuan Barra.”


Dada Nawa memanas. Ia kembali menutup mulut Dion dengan lakban bahkan sampai berulang kali, kemudian mengulurkan tangan kepada Yoham dan meminta gunting rumput yang tergeletak di dekat tiang penyangga. Setelah gunting itu mendarat di genggamannya, Nawa segera memerintahkan Yoham untuk memegangi tangan Dion.


Tek!


Crat!


Satu kali tekan dan terputuslah jari tengah tangan kiri Dion. Nawa melakukannya tanpa aba-aba terlebih dahulu. Seketika Dion langsung berteriak dengan sangat kerasnya. Darah sudah mengucur dari tangannya dan muncrat kemana-mana. Pandangannya bahkan menjadi kabur karna menahan sakit yang luar biasa itu.


“Aku tidak akan memberimu kesempatan lagi. Kau sudah melewatkan kesempatan terakhirmu.” Tekan Nawa lagi. Ada seringai menyeramkan yang muncul dari sudut bibirnya sebelum ia berdiri dan pergi dari sana.


Nawa mampir ke sebuah kamar mandi umum yang sangat sepi yang berada tak jauh dari gudang untuk membersihkan darah yang sempat mengenai lengannya. Bahkan terdapat juga darah di beberapa titik di piyamanya. Setelah itu ia kembali ke dalam mobil dan menyeka wajahnya dengan tisu. Ia memastikan ia sudah bersih dari noda darah sebelum kembali ke penthouse. Setidaknya untuk wajah dan lengannya.


Nampaknya Anis belum terbangun. Padahal matahari sudah siap di peraduannya hendak muncul dan menyapa penduduk bumi.


Setelah membuang pakaian yang terdapat noda darah, Nawa segera keluar dari ruang ganti. Dan betapa terkejutnya dia saat melihat Anis yang sudah bangun dan sedang duduk di ranjang. Ia menatap curiga kepada Nawa.


“Kau sudah bangun?” Tanya Anis, di luar dugaan Nawa.


“Ya, aku harus segera pergi ke kantor banyak pekerjaan yang belum ku selesaikan.”


“Di luar masih gelap.”


“Buka dulu matamu lebar-lebar. Hari sudah terang begitu di bilang masih gelap.” Seloroh Nawa.


Menadapat protes itu, Anis segera mengucek-ucek matanya dan melihat ke arah jendela dengan seksama. Jendela yang masih tertutup gorden itu memang masih nampak gelap bagi Anis.

__ADS_1


Karna geram, Nawa akhirnya membuka penutup jendela itu dan barulah Anis terbelalak saat mengetahui kalau di luar memang sudah terang benderang.


“Jadi kau sudah akan pergi ke kantor?”


Nawa mengangguk.


“Tapi kenapa kau malah berganti dengan piyama? Bukan pakaian kantor?” Selidik Anis. Ia ingat betul kalau semalam Nawa memakai piyama berwarna biru gelap sedangkan sekarang Nawa mengenakan piyama berwarna hitam.


“Sepertinya kau harus memeriksakan matamu ke dokter.”


Anis hanya mencibir saja mendengar jawaban Nawa yang malah ngeloyor pergi keluar dari kamar. Setelah itu barulah ia segera bangun dari ranjang dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Nawa sedang sibuk di dapur untuk menyiapkan sarapan. Seperti yang selalu dia lakukan. Ia tidak bisa membiarkan Anis mengolah bahan makanan mahal miliknya dengan sesuka hati. Karna ia membeli semua bahan-bahan itu dengan perencanaan yang matang tentang apa yang akan ia olah nantinya.


Saat seorang anak buahnya masuk dan menghampirinya sambil membawa dua buah kotak yang berukuran lumayan besar. Tertera jelas nama Vivian’s Collection’s di atas kotak itu.


Sat itu Anis juga sudah selesai mandi dan ia menghampiri Nawa di dapur. Ia melihat dua buah kotak yang tergeletak di atas meja makan dan langsung mendekatinya dengan sumringah.


“Wah, sudah datang.” Ujarnya.


“Apa itu?”


“Ini? Hadiah dari Vivi dan Hito. Satu untukmu, dan satu untukku. Lihat, dia bahkan jelas-jelas menulis nama kita di sini.” Anis menunjukkan kotak itu kepada Nawa.


“Kenapa mereka memberiku hadiah?”


“Waahhh, cantik sekali.” Ujar Anis girang. Ia membuka kotak yang ternyata berisi pakaian yang Nawa kenakan saat fashion show kemarin. Sedangkan untuk Anis, sebuah gaun indah yang berwarna senada dengan pakaian milik Nawa.


“Siapa juga yang mau mengenakan pakaian begitu untuk dipakai sehari-hari?” Seloroh Nawa sambil menghidangkan menu di atas meja makan.


“Simpan dan rawat dengan baik. Begitulah caramu berterimakasih.”

__ADS_1


__ADS_2