Menikahi Iblis Berwajah Tampan

Menikahi Iblis Berwajah Tampan
BAB 15. Tidak Bisa Di Buat Main-Main.


__ADS_3

Berkali-kali Rengganis menelan salivanya. Ia masih memikirkan cara untuk keluar dari situasi menjebak itu. Kalau ia salah bicara, bisa gawat jadinya. Karna sepertinya Nawa sedikit curiga padanya.


“Kan sudah ku bilang, aku mau menikah denganmu karna kau itu kaya. Jadi aku fikir kalau aku tidak perlu bekerja keras lagi di sisa hidupku. Jadi, bisakah kita mampir di studio foto?” Tawar Rengganis tiba-tiba. Nampak sekali ia sedang berusaha untuk mengendalikan ketakutannya.


Mendengar hal itu Nawa langsung memundurkan tubuhnya dan memperbaiki posisi duduknya. Ia kembali menyandarkan tubuhnya di sandaran jok mobil dan membuang pandangannya ke luar jendela.


“Hemmpht.” Nawa tersenyum sinis. Ia sudah bisa menebak jawaban itu yang pasti akan keluar dari mulut Rengganis.


“Kenapa kau tertawa begitu?” Tanya Rengganis merasa tersindir.


“Alasanmu itu. Ah, sudahlah. Kamu melihat kekayaanku tanpa tau seperti apa diriku.”


“Aku tau seperti apa dirimu. Kau pria tampan yang manis.”


“Hahahahaahahahaha. Sudah ku bilang jangan tertipu dengan wajahku. Di balik wajah tampanku ini, ada iblis yang bersemayam.”


“Iblis? Iblis apa? Kalau ada iblis, berarti kau punya sebuah neraka?”


“Tentu saja. Aku akan menunjukkan seperti apa neraka milikku.”


“Hahahahahahahaa. Kau pasti bercanda.” Kali ini Rengganis yang gantian menertawakan Nawa. “sudah cukup bercandanya, sekarang ayo kita mampir di studio foto. Aku ingin mengabadikan momen ini sebagai bukti.”


“Bukti apa?”


“Bukti kalau kita sudah resmi menikah.”


“Kenapa kau memerlukan bukti semacam itu?”


“Kau ini cerewet sekali. Sudah, turuti saja.” Dengus Rengganis yang sudah berhasil mengendalikan situasi.


Nawa menggeleng-gelengkan kepala saja melihat tingkah aneh dari gadis yang masih terlihat manis dalam balutan gaun pengantin itu.

__ADS_1


“Yoham, kita mampir di studio foto dulu.” Perintah Nawa pada akhirnya.


Yoham sempat melirik tuannya itu lewat kaca spion. Ia tidak menyangka kalau Nawa akan menuruti permintaan Rengganis. Tapi ia tetap melajukan mobil ke arah studio foto.


Sesampainya di studio foto, Rengganis segera berjalan masuk terlebih dahulu. Ia menjelaskan kepada pemilik studio tentang keinginannya untuk berfoto bersama dengan suaminya.


Walaupun dengan wajah yang masam, Nawa tetap menuruti kemauan Rengganis. Ia menatap lensa kamera dengan wajah dingin dan tatapan tajamnya.


Hanya satu kali kesempatan yang di berikan oleh Nawa kepada Rengganis. Karna itu foto mereka tidak sempurna karna Nawa tidak mau tersenyum.


Dengan mendengus kesal dalam hati, Rengganis tidak punya pilihan lain. Bahkan Nawa langsung pergi meninggalkan studio begitu selesai di foto. Membuat Rengganis ternganga dengan sebal. Ia sampai menggeretakkan gigi-giginya.


Nawa menghempaskan tubuhnya di sandaran kursi sambil bersedekap. Ia terus melirik ke arah studio foto karna Rengganis tak juga muncul dari sana. Bahkan setelah lima menit ia menunggu, gadis itu tetap tidak muncul. Hal itu membuat Nawa kesal dan kembali keluar dari mobil dan masuk ke dalam studio.


Rengganis yang masih menjelaskan sesuatu kepada pemilik studio meminta agar foto mereka di edit jadi sebagus mungkin. Kalau perlu buat Nawa tersenyum. Ia terkejut karna tiba-tiba sebuah tangan langsung menariknyadengan kasar keluar dari studio.


Dengan raut wajah kesal bercampur marah, Nawa menghempaskan tubuh Rengganis untuk masuk ke dalam mobil. Kemudian dia membanting pintu mobil dengan sangat keras hingga membuat Rengganis terkejut dan ketakutan setengah mati.


“Kenapa kau kasar sekali? Tidak bisakah kau memanggilku saja alih-alih menyeretku seperti ini? Pergelangan tanganku kan jadi sak...it.” Rengganis tidak mampu menyelesaikan kalimat yang seharusnya keluar dari mulutnya karna tangan Nawa sudah mencengkeram rahangnya dengan kuat.


Nawa menatap marah kepada Rengganis sambil terus mengarahkan wajah gadis itu padanya. Cengkeramannya di rahang Rengganis menahan kepala gadis itu agar tidak berpaling darinya.


“Apa.. Yang.. Kau.. La..kukan?” Lirih Rengganis.


“Apa aku terlihat mudah bagimu? Aku peringatkan kau, jangan sekali-kali membuatku kesal, atau kau akan menerima akibatnya.” Nada suara Nawa penuh dengan ancaman.


Dan saat itulah Rengganis sadar kalau ia telah melakukan kesalahan dengan menganggap enteng seorang Nawa. Ia kira ia bisa melakukan sedikit permainan kepada pria itu. Namun ternyata Nawa bukanlah tipe pria yang bisa diajak bercanda sesuka hati.


Melihat tatapan Nawa yang menyeramkan, Rengganis bahkan tidak berani berkata kalau cengkeraman Nawa terasa sangat menyakitkan di rahangnya. Ia hanya bisa menahan diri sebisanya dengan buliran air mata yang sudah hampir tumpah di ujung matanya.


“Lain kali, bukan hanya rahangmu yang sakit. Tapi aku bisa benar-benar mencekik dan menghancurkannya.” Sambil berkata begitu, Nawa menghempaskan wajah Rengganis dengan kasar kemudian kembali duduk seperti semula.

__ADS_1


Dengan tangan yang gemetar, Rengganis hanya bisa mengunci mulutnya rapat-rapat. Sakit sekali hatinya mendapat perlakuan seperti itu dari Nawa. Seolah ada yang sedang menusuk-nusuk hatinya dengan benda tajam.


Sepanjang perjalanan, Rengganis jadi terdiam saja tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Ia selalu memandang ke luar jendela sambil memperhatikan arah jalan yang sedang mereka tuju.


Tidak lama kemudian, mobil memasuki sebuah komplek apartemen mewah yang menjulang tinggi. Yoham terus melajukan mobil sampai mobil berhenti di basement gedung itu.


“Turun!” Bentak Nawa memerintahkan Rengganis untuk keluar dari mobil.


Dalam diam, Rengganis tetap mengikuti Nawa yang berjalan di depannya. Kini mereka sudah berada di dalam lift khusus. Yoham segera menempelkan sebuah kartu kemudian lift berjalan naik.


Rengganis masih belum berani bersuara. Ia terus mere mas jemarinya untuk menenangkan degup jantungnya yang sudah tidak karuan.


Angka di lift menyala di nomor 81 kemudian lift berhenti dan pintupun terbuka.


“Ikuti aku.” Lagi-lagi Nawa berbicara dengan nada tegas.


Rengganis kembali mengikuti Nawa keluar dari dalam lift. Sebuah pemandangan menakjubkan langsung tersaji begitu ia keluar dari dalam lift. Apartemen itu nampak sangat mewah dan sangat luas. Bahkan ada sebuah tangga berdinding kaca yang berdiri megah di tengah-tengah ruangan.


Dua orang pengawal Nawa yang memang selalu berada di luar rumah itu nampak menyambut mereka dengan membungkukkan setengah badan. Perawakan mereka tinggi tegap dengan wajah sangar yang terlihat kasar. Otot dada menonjol menimbulkan kesan maskulin namun tetap kekar.


“Anda sudah kembali, Tuan.” Sapa mereka kompak.


Nawa hanya mengangguk kemudian berlalu begitu saja. Sedangkan Rengganis nampak kikuk sambil terus mengikuti Nawa di belakangnya.


Nawa mengajak Rengganis menaiki tangga ke lantai dua. Sekilas, Rengganis masih sempat memandangi isi griya tawang itu dengan perasaan kagum.


Sampai di ujung tangga, tiba-tiba Nawa menghentikan langkahnya dan berbalik. Ia menatap Rengganis yang tidak berani menatapnya langsung.


“Peraturan tinggal di sini hanya satu. Kau lihat kamar yang ada di ujung itu?” Ujar Nawa sambil menunjuk ke arah kamar yang di maksud. “Jangan sekali-kali masuk kesana apalagi tanpa ijin dariku. Apa kau mengerti?” Tegas Nawa kemudian sambil menunjuk ke sebuah kamar yang tertutup. Kamar itu di lengkapi dengan pemindai sidik jari di pintunya.


Setelah Rengganis melihat kamar yang di maksud oleh Nawa, ia segera menganggukkan kepala kuat-kuat. Ia bisa merasakan nada ancaman lewat ucapan Nawa. Tapi, ia juga jadi mendapat sedikit petunjuk, mungkin saja di kamar itu Nawa menyimpan semua rahasia dan kelemahannya. Itu bisa memudahkannya untuk memberi informasi kepada Dianty nantinya.

__ADS_1


__ADS_2