
Ruangan Barra.
Pria bertubuh tinggi itu sedang sibuk bermain ponsel sambil sesekali menyeruput kopi yang baru saja di antarkan oleh salah satu asistennya. Ia sedang menghubungi Dion namun sekretarisnya itu tidak mengangkat ponselnya. Ia ingin menanyakan perihal perintahnya kemarin untuk menakut-nakuti Anis. Apakah berhasil atau bagaimana. Karna sejak kemarin Dion belum memberikan laporan kepadanya.
“Tuan, ada paket untuk anda.” Ujar asistennya dengan membawa sebuah kotak berukuran kecil di tangannya. Asisten itu langsung meletakkan kotak itu di atas meja di hadapan Barra.
Barra merasa seperti mendapat hadiah, karna kotak itu terbungkus pita berwarna hitam yang mengkilat sehingga menimbulkan kesan mewah. Ia segera menurunkan kakinya yang semula bertengger di atas meja kemudian meletakkan ponselnya di sana.
Perhatian Barra beralih kepada kotak kecil yang indah itu. “Tidak ada nama pengirimnya.” Gumamnya sambil membolak-balik kotak itu untuk mencari nama pengirimnya.
“AAAAAAAA!!!!!” Pekik Barra dengan sangat keras sesaat setelah ia membuka kotak itu. Dengan spontan ia melemparkan kotak itu ke semabarang arah hingga kotak beserta isinya itu tercecer di lantai di depannya.
Asisten Barra juga sangat terkejut dan berteriak keras saat melihat benda apa yang baru saja terjatuh di hadapannya. Itu adalah sebuah potongan jari-jari manusia. Lengkap dengan darah di sekitarnya yang sudah hampir mengering.
“Panggil kemanan! Cepat!” Teriak Barra lagi yang kini sudah meringsut di atas kursi. Ia mendekap lututnya di atas kursi karna terkejut dengan benda itu. Ia sedang berusaha untuk menenangkan jantungnya yang hampir terlepas.
Beberapa saat kemudian, orang-orang sudah berkerumun di depan ruangan Barra karna mendengar teriakan dari Barra dan aistennya. Dua petugas keamanan yang datang tergopoh-gopoh pun ikut terkejut dengan itu.
“Tuan, di mobil anda... Mobil anda...” Ujar salah seorang petugas keamanan yang baru saja datang.
“Kenapa dengan mobilku?”
“Anda harus melihatnya sendiri.”
Melihat raut wajah panik dari petugas itu, membuat Barra tidak punya pilihan lain selain ikut pergi. Sebelumnya, ia memerintahkan petugas lain untuk segera menelfon polisi.
Sesampainya di tempat parkir, Barra melihat sudah banyak orang yang sedang berkerumun di sekitar mobilnya. Bahkan ibunya juga ada disana.
“Ibu.” Panggil Barra saat sudah berada di belakang Dianty.
Dianty hanya menatap tajam kepada Barra kemudian beralih menatap ke depan. Begitu pula dengan Barra yang segera merangsek maju untuk melihat apa yang terjadi.
Mata Barra terbelalak tidak percaya saat melihat ada sebuah tong plastik berwarna biru yang berada persis di depan mobilnya. Tong yang sudah terbuka itu berisi tubuh seorang manusia yang dipenuhi oleh darah di dalamnya. Ya, itu adalah tubuh Dion yang sudah tidak bernyawa lagi.
__ADS_1
“Sial!! Sial!! Sial!!!” Teriak Barra lagi sambil memukul-mukul kap mobilnya.
“Semuanya tolong kembali ke pekerjaan kalian masing-masing.” Perintah sekretaris Dianty kepada para karyawan yang berkerumun.
Seketika orang-orang yang berkerumun itu langsung membubarkan diri setelah mendapat tatapan intimidasi dari sekretaris Dianty.
“Siapa yang berani berbuat seperti ini? Di kantor pula?” Geram Dianty. Saat ini, Dianty belum tau tentang jari tangan milik Dion yang di kirimkan ke ruangan Barra.
“Maafkan aku, Ibu.” Lirih Barra sambil menundukkan wajahnya menatap mayat Dion yang sangat mengenaskan itu.
“Ini akibat ulahmu?” Tanya Dianty menatap putra sulungnya itu tajam.
Barra terdiam, ia tidak berani menjelaskan lebih lanjut kepada ibunya. Namun ia tau ia harus menceritakan kecerobohan yang dibuatnya itu kepada ibunya kalau tidak mau Dianty murka.
“Aku akan menjelaskannya nanti di ruangan ibu.” Pinta Barra kemudian.
Beberapa saat kemudian beberapa polisi yang mendapatkan laporan sudah datang dengan ambulance. Mereka langsung menaruh garis polisi di sekitar mayat Dion kemudian melakukan pennyelidikan. Beberapa saksi tidak luput dari pertanyaan-pertanyaan polisi, termasuk Barra dan Dianty.
Hari ini, kegiatan di SJ Tower terhenti sementara. Selama masa penyelidikan, para karyawan tidak ada yang bisa fokus bekerja. Terlebih mereka yang melihat dengan jelas bagaimana kondisi mayat Dion.
Berbeda halnya dengan Nawa, ia memilih untuk tetap berada di ruangannya bahkan setelah tau keributan yang terjadi. Ia hanya melihatnya saja dari jendela. Ia memperhatikan dengan seksama semua yang terjadi di bawah sana. Ia sedang memprediksi hal apa kira-kira yang akan terjadi selanjutnya. Ia tidak takut kalau polisi akan mengetahui dalang di balik semua ini karna Yoham sudah membersihkan semuanya tanpa jejak.
*****
Studio Media System, di hari yang sama.
Bagas sedang mere mas jemarinya dan duduk di sofa ruang tamu studio. Sesekali ia melirik ke arah Temmy yang sedang menyilangkan kaki di depannya. Di belakang Temmy, beberapa anak buahnya sedang berdiri sambil mengawasi mereka, termasuk Suta.
Temmy sedang memerankan peran Suta sebagai pimpinan geng Anoda. Seperti yang selalu mereka lakukan.
“Jadi, kenapa kau berani sekali melakukan hal bodoh itu?” Tanya Temmy sambil meng hisap cerutunya
“Bukankah itu sama saja? Aku membayarnya mahal dan dia mau menerima tawaranku. Jadi apa salahku?” Jawab Bagas dengan berani.
__ADS_1
“Apa kau sedang meremehkan Anoda?”
“Hemph! Kalian ini tidak lebih hanya sekumpulan preman pecundang. Apa kalian fikir aku takut dengan kalian?”
Mendengar ucapan itu membuat Temmy berang. Ia mematikan cerutunya ke atas meja begitu saja dan mendekatkan wajahnya kepada Bagas.
“Ternyata kau jauh lebih berani daripada dugaanku.”
“Salahkan anak buahmu yang tergiur dengan tawaranku. Sepertinya kalian tidak cukup memberinya uang sampai dia mau menerima uang dariku.”
“Ahhhh. Tidak bisa begini. Aku harus memberimu pelajaran karna sudah menghina Anoda.” Lirih Temmy lagi. Ia melirik untuk memberikan kode kepada salah satu anak buahnya yang berdiri di samping Suta.
Pria bertubuh mungil itu lantas merangsek maju ke depan dan menghampiri Bagas saat mendapat perintah. Bagas menatap remeh kepada pria yang bahkan tingginya saja hanya sebahunya. Tapi yang kemudian membuat Bagas ketar-ketir adalah otot pria itu yang terlihat matang dan kekar.
Bug!
Bagas tidak ingin melewatkan kesempatan, jadi ia melayangkan pukulan terlebih dahulu. Namun yang terjadi malah pria itu dengan sigap menangkis pukulan Bagas dan malah menggenggam tinju Bagas dan mencengkeramnya dengan kuat lalu memutar tangannya.
“Ahh!! Ahh!! Ah!!!” Pekik Bagas saat lengannya terasa sakit.
Dan selebihnya sudah bisa di tebak. Bagas hanyalah tong kosong yang nyaring bunyinya. Walaupun ia berkali-kali berhasil membalas pukulan anak buah Temmy, namun pada akhirnya ia malah tumbang dengan banyak bogem mentah yang mendarat di tubuhnya.
Wajah Bagas bahkan sudah babak belur tak karuan. Tulang pipi kanannya pecah dan dari pelipisnya mengalir darah segar.
Bagas terkapar tak berdaya karna satupun temannya yang ada di sana tidak berani menolongnya. Baru setelah Anoda pergi dari sana, teman-teman Bagas langsung menghampiri dan menolong pria itu.
Teman-teman Bagas langsung membawa Bagas ke rumah sakit terdekat agar pria itu bisa segera di obati.
yoo warga kebun labu,, maaf kalau aku terkesan maksa nih yaaa.. tinggalin jejak dong. pencet tombol likenya. isi kolom komentarnya. minta rate bintang 5nya. sedekahkan hadiah dan votenya. biar dapet gaji dari entun... hiks. kalau dapet gaji kan, bisa ngadain give awai lagi... yoo,, yoo,, yoo,,.
__ADS_1
love,, love,,
PiEl.