Menikahi Iblis Berwajah Tampan

Menikahi Iblis Berwajah Tampan
BAB 53. Saling Terbuka


__ADS_3

Suta dan Dianty sedang saling tatap dengan saling menekan satu sama lain.


Jackrey, adalah salah satu klien persenjataan terbesar dari Amerika Serikat. Saat itu, Suta yang memang juga bergelut di bidang yang sama, harus berebut klien dengan Dianty. Mereka yang memang tidak pernah bertemu sebelumnya, terlibat baku tembak di sebuah gedung kosong yang terbengkalai.


Suta kesal karna Dianty merebut kliennya tapa permisi. Akibatnya, Jackrey memilih Dianty untuk mengurus persenjatannya.


Saat itu, Suta bertarung bersama dengan ayahnya. Dan ayahnya tewas di tangan anak buah Dianty. Sementara Dianty berhasil menembuskan timah panas di perutnya.


Itulah awal mula dendam Suta kepada Dianty. Dia memang sudah mengincar Nawa untuk di ajak bekerja sama setelah mengetahui kalau hubungan anak dan ibu tiri itu tidaklah baik.


“Ada urusan apa sampai nyonya kemari dan ingin menemuiku?”


“Miss Z. Berikan dia padaku.”


Suta mengernyit. Mencoba menarik kesimpulan dari kalimat Dianty.


“Aku tau kalau dia adalah salah satu bawahanmuu. Aku tidak akan mengganggu Anoda, cukup berikan saja dia padaku.”


“Kenapa aku harus memberikannya pada anda?”


“Karna dia sudah berani ikut campur dalam permainanku.”


“Permainan? Apa itu permainan yang seru? Kalau begitu, bisa ikut sertakan aku?” Kekeh Suta.


“Aku tidak sedang bercanda. Aku berjanji tidak akan mengganggumu dan Anoda. Jadi berikan saja dia padaku.”


“Ya ampun, Nyonya. Sepertinya anda tidak tau. Anda berurusan dengan Miss Z, itu sama saja anda berurusan denganku. Karna Miss Z, adalah Anoda, sama sepertiku. Jadi dengan tegas aku katakan, aku tidak akan memberikan dia padamu.”


“Jadi, apa itu artinya kau menolakku? Walaupun itu berarti kalian menantangku?”


“Aku juga harus membalas kematian ayahku, kan?”


Dianty terdiam. Dia tersenyum.


“Yang menembak ayahmu itu anak buahku. Bukan aku.”


“Ya, memang anak buahmu. Tapi bagiku sama saja. Anak buah anda, berarti anda. Tunggu saja Nyonya, aku berjanji akan mengembalikan hadiah yang sudah anda berikan ini.” Suta menunjuk ke arah perutnya.


“Baiklah, sepertinya kita tidak akan berada dalam satu kesepakatan. Kalau begitu, aku tidak akan meminta ijinmu lagi. Aku akan mengerjakannya sesuai dengan apa yang ku inginkan.”


“Kalau anda berani menyentuhnya, anda akan mati. Anda harus mengingat ini.”


“Apa kau sedang mengancam untuk membunuhku?”


“Bukan aku yang akan membunuh anda, tapi dia. Aku harap anda mengingat nasihat baikku ini. Itupun kalau tidak ingin nyawa anda melayang di tangannya.”

__ADS_1


Dianty hanya mengangguk. Kemudian meraih tasnya dan pergi dari ruangan itu. Dia pergi dari sana dengan membawa segudang rasa marah dan kesal.


Niat baiknya untuk tidak melibatkan Anoda dan hanya akan berurusan dengan Miss Z saja, ternyata tidak membuahkan hasil. Mau tidak mau, sepertinya ia tetap harus terlibat dengan Anoda juga.


Ini akan merepotkan.


**


**


Di griya tawang, Anis masih setia membacakan buku untuk Baskoro yang masih belum menunjukkan perkembangan berarti. Sementara Rizal hanya memperhatikan sesekali saja.


Anis merasa bosan. Ia berencana untuk pergi ke rumah sakit mengunjungi ibu May. Tapi, sebelumnya ia meminta ijin kepada Nawa terlebih dahulu.


“Aku akan ikut denganmu. Tunggu di rumah, aku akan menjemputmu.” Itulah tegas Nawa saat Anis meminta ijin. Pria itu malah kekeuh ingin ikut dengannya.


Nawa benar-benar pulang untuk menjemput Anis. Di perjalanan menuju ke rumah sakit, Nawa lebih banyak diam. Anis tau kalau sedang ada yang di fikirkan oleh Nawa. Dan itu adalah hal yang serius.


“Apa terjadi sesuatu di kantor?” Selidik Anis. Kini dia sudah berani bertanya tentang apapun kepada Nawa. Karna pria itu sudah melunak padanya.


“Aku sudah menyatakan perang pada Dianty.” Ujar Nawa.


Mereka berdua, kini sudah saling terbuka satu sama lain.


“Maka dari itu, kau harus lebih berhati-hati. Dia bisa mencelakaimu kapan saja. Mengerti?”


“Aku mengerti.”


Nawa menghadiahi belaian di kepala Anis. Ia sedikit mengacak rambut gadis itu sambil melemparkan senyuman.


”Bukan hanya itu, rapat dewan akan di adakan tidak lama lagi. Dan Dianty berencana memberikan posisi CEO kepada Barra. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Aku harus merebut posisi itu kembali dan menyingkirkan mereka dari perusahaan.


“Aku akan membantu sebisaku.”


Nawa tersenyum. Senyum terimakasih yang di tujukan untuk Anis. Ia menghargai niat Anis. Walaupun ia tau tidak ada yang akan bisa di lakukan gadis itu kalau masalah perusahannya. Tapi dia, tetap menghargai bantuan Anis sekecil apapun itu.


Dan disinilah mereka. Berada di tempat parkir sebuah rumah sakit dimana ibu May di rawat. Keduanya baru saja keluar dari dalam mobil yang di supiri oleh Yoham. Pria itu, selalu setia mengikuti kemana Nawa pergi dengan membawa sekeranjang besar buah di tangannya.


Anis dan Nawa berjalan beriringan menuju ke ruangan ibu May. Seperti biasa, Tio sedang menunggui ibunya di sisi ranjang sambil memijitinya.


“Kak Anis, Kakak datang?” Sambut Tio ramah.


“Bagaimana keadaan Ibu?”


“Ya beginilah.”

__ADS_1


Tio dan Nawa saling menatap sejenak. Tio mengangguk sopan. Ia sudah tau siapa Nawa. Di malam May meninggal, Nawa datang ke rumah mereka.


“Bu? Aku datang.” Sapa Anis.


Ibu May langsung tersenyum sangat manis. Walaupun ia tidak melihat mereka, tapi ia mengarahkan wajahnya ke arah suara Anis.


“Anis. Ibu senang belakangan ini kau sering datang.”


“Iya, Bu. Dan aku tidak datang sendiri. Aku datang bersama suamiku.”


Anis mengarahkan tangan ibu May untuk bersalaman dengan Nawa.


“Apa kabar, Bu? Kami datang membawakan buah-buahan untuk Ibu.” Ramah Nawa.


“Ya ampun. Terimakasih banyak. Jadi merepotkan.”


Selebihnya, mereka mengobrol ringan sampai hampir satu jam lamanya.


Saat tengah asyik mengobrol, ponsel Yoham berdering. Itu adalah telfon dari anak buahnya. Setelah mematikan ponsel, Yoham memberitahu kepada Nawa.


“Tuan, ada urusan penting di kantor. Sepertinya kita harus kembali sekarang.”


Anis juga mendengar itu. Ia mengangguk kepada Nawa sebagai tanda persetujuannya.


“Apa tidak apa-apa kalau kita pulang sekarang?”


“Nawa, bisakah aku tinggal disini lebih lama lagi? Aku ingn menemani ibu May disini.” Pinta Anis.


Dari tatapan Nawa, sepertinya ia keberatan dengan permintaan Anis itu. Tapi setelah berfikir beberapa saat, ia menganggukkan kepalanya. Pertanda memberi ijin.


Sontak saja Anis langsung tersenyum sumringah. Ia mengantarkan suaminya sampai di depan ruangan Nawa.


“Tapi berjanjilah, kalau terjadi sesuatu, segera hubungi aku.”


Anis mengangguk. Ia melambaikan tangannya untuk mengantarkan kepergian Nawa. Setelah itu ia bergabung bersama dengan Tio.


“Kau pasti lelah harus menjaga ibu terus menerus. Sementara kau juga harus menjalankan permintaanku. Maaf ya, Tio. Aku menyusahkanmu.”


“Kak Anis jangan berkata begitu.”


“Hehehe. Sepertinya tidak lama lagi aku akan membutuhkan bantuanmu lagi.”


“Beritahu aku kapanpun waktunya tiba, Kak. Aku sudah siap.”


“Terimakasih banyak, Tio.”

__ADS_1


__ADS_2