Menikahi Iblis Berwajah Tampan

Menikahi Iblis Berwajah Tampan
BAB 39. Kerjasama dengan Miss Z.


__ADS_3

Dengan perasaan marah Nawa dan Yoham keluar dari studio milik Bagas. Ia sama sekali tidak menyangka kalau ternyata Bagas punya sebuah ‘ikatan’ dengan dirinya secara tidak langsung. Dan saat itulah Nawa menyadari


kalau ia tidak punya cukup informasi tentang Bagas ketimbang ibu dan kakaknya.


Di dalam mobil, Nawa terus saja memandangi telapak tangannya. Dengan tangan itu, ia menggorok leher Harumi sampai gadis itu tewas seketika di depan matanya. Bukan penyesalan yang sedang Nawa rasakan, melainkan sebuah ketakukan yang mulai muncul di dalam hatinya tanpa ia sadari.


Ia takut, kalau suatu saat, ia akan melakukan hal yang sama terhadap Anis. Ia khawatir kalau nanti ia benar-benar melenyapkan gadis itu dengan kedua tangannya sendiri.


kenapa aku harus merasa takut? Aku hanya berpura-pura menyukainya.


Nawa mencoba meyakinkan dirinya sendiri kalau ia memang tidak punya perasaan apapun terhadap Anis. Namun masih ada yang mengganjal di hatinya dan ia tidak tau apa itu. Bukan tidak tau, Nawa hanya takut mengakuinya saja. Ia tidak ingin punya kelemahan. Apalagi setelah tahu ternyata Bagas bukanlah pria pendiam yang lebih menyukai dunia game seperti perkiraannya selama ini.


Sebuah notifikasi di ponselnya membuat Nawa mengalihkan pandangannya ke arah saku jasnya. Ia merogoh ponsel dan membukanya.


‘Cafe Weltbay, 16.00 WIB.’


Sebuah pesan balasan dari Miss Z yang memberitahu lokasi dan waktu mereka bisa bertemu. Seketika Nawa langsung tersenyum sumringah. Ia tidak menyangka kalau Miss Z akan membalasnya secepat itu walaupun ia memang sangat berharap.


Nawa melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan waktu 15.32. Itu artinya ia hanya punya waktu 28 menit lagi untuk tiba di Cafe Weltbay. Dengan segera Nawa mencari lokasi cafe dan memberitahu Yoham.


Yoham segera memutar arah untuk menuju ke Cafe Weltbay. Yoham juga nampak tersenyum senang karna ternyata Miss Z membalas pesan Nawa. Padahal ia juga sudah mengirimkan pesan namun tidak mendapat tanggapan.


Waktu menunjukkan pukul 15.01 WIB saat mobil Nawa berhenti di halaman parkir Cafe Weltbay. Setelah mobil berhenti sempurna, Nawa bergegas keluar dan berlari masuk ke dalam cafe yang ternyata ramai itu. Di depan pintu, Nawa mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok Miss Z yang ada di bayangannya.


Seorang pelayan wanita langsung menghampiri Nawa. “Mari saya antar anda ke meja anda, Tuan.” Ujar pelayan itu dengan sopan.


Nawa hanya mengikuti instruksi pelayan itu dengan terus mengikutinya sampai di sebuah sofa yang dekat dengan dinding kaca kemudian mempersilahkan Nawa untuk duduk di sana. Sementara Yoham baru saja tiba dan menyusul Nawa duduk di depan pria itu.

__ADS_1


“Silahkan pesanannya.” Ujar pelayan itu lagi sambil menyerahkan buku menu kepada Nawa dan Yoham.


“Kami pesan makanan terbaik yang ada di sini.” Ujar Nawa sambil terus mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan cafe. Ia bahkan sama sekali tidak melihat menunya.


“Baik, Tuan. Mohon tunggu sebentar.” Ujar pelayan itu yang kemudian meninggalkan mereka untuk kembali ke pekerjaannya.


Nawa masih belum bisa menemukan sosok Miss Z. Bahkan Yoham membantu mencari namun mereka tidak melihat orang yang mencurigakan.


“Kau terlambat satu menit.” Sebuah suara wanita dari arah belakang Nawa. Wanita bertopi dan bermasker itu duduk di belakang Nawa dengan beradu punggung dan hanya di pisahkan oleh sandaran sofa yang tidak terlalu tinggi.


Saat Nawa hendak menoleh untuk melihat pemilik suara itu, Miss Z segera mencegahnya.


“Jangan menoleh. Tetap berada di tempatmu.” Tegas Miss Z kemudian.


“Aku minta maaf karna terlambat. Tapi kau terlalu mendadak memberitahuku.”


“Tidak bukan begitu. Aku hanya meminta toleransi saja karna keterlambatanku. Maaf kalau aku menyinggungmu.” Ujar Nawa dengan segera.


Sambil menghela nafas, Miss Z kembali ke tempat duduknya. “Jadi, kenapa kau ingin bertemu denganku?”


“Aku ingin menawarkan sebuah kerja sama denganmu.” Ujar Nawa dengan sangat hati-hati.


“Aku tidak mengenal kata kerja sama. Aku bekerja untuk orang yang membayarku. Dan pekerjaanku sangat mahal. Dan entahlah, apa aku bisa bekerja dengan orang yang bahkan tidak bisa tepat waktu.”


“Aku akan membayarmu berapapun jumlahnya. Kau hanya perlu menyebutkan angkanya.” Nawa masih mencoba meyakinkan Miss Z.


“Hahahahahha. Aku tidak tau kalau kau punya banyak uang, tuan Arnawama Samudera. Baiklah, mari kita dengar pekerjaan seperti apa yang kau ingin untuk ku lakukan.”

__ADS_1


“Aku ingin kau untuk mengawasi seseorang. Aku akan mengirimkan detailnya lewat E-Mail nanti. Kalau mereka melakukan hal yang membahayakanku, kau bisa langsung membunuhnya tanpa ijin dariku. Dan juga, aku ingin kau bisa melindungi seseorang untukku.” Ucapan terakhir Nawa itu membuat Yoham terbelalak. Ia tau siapa yang di maksud oleh Nawa. Itu adalah Anis. Nawa meminta Miss Z untuk melindungi Anis.


“Mereka... Berarti bukan hanya satu orang saja. Satu kepala berharga 1 milyar. Entah itu ku lenyapkan, atau ku selamatkan.”


“Setuju. Tapi, bagaimana dengan Suta?” Nawa khawatir Suta akan marah kalau tau ia menyewa Miss Z tanpa memberitahu Suta terlebih dahulu.


“Ternyata kau lumayan tau banyak tentang aku. Ini pekerjaanku, tidak ada hubungannya dengan dia.”


Nawa lega mendengarnya.


Saat itu, pelayan yang membawakan makanan untuk Nawa dan Yoham datang menghampiri dan langsung menghidangkannya ke atas meja. Keberadaan pelayan itu menghalangi pandangan Yoham untuk terus memperhatikan punggung Miss Z. Apalagi pada saat itu beberapa pelanggan juga berdiri karna sudah selelsai dengan makanan mereka.


Namun setelah pelayan itu pergi, Miss Z juga sudah menghilang dari sana. Yoham segera memberitahu Nawa tentang hal itu dan Nawasegera menoleh ke belakang. Dan benar saja, ia mendapati bahwa tidak ada siapapun lagi di sana. Sofa itu sudah kosong. Ia hanya menemukan secarik kertas berisikan nomor rekening sebuah bank swasta yang tergeletak di bekas tempat duduk Miss Z.


Nawa segera mengambil kertas itu kemudian menyimpannya ke dalam saku dan kembali ke tempat duduknya.


“Kenapa anda ingin melindungi nona Anis, Tuan?” Tanya Yoham dengan tatapan kekhawatiran.


Nawa terdiam. Ia tidak tau harus menjawab apa. Ia sadar kalau ia tidak bisa membodohi Yoham yang telah bekerja bertahun-tahun lamanya dengannya. Asistennya itu bahkan lebih mengenal dirinya di banding dirinya sendiri.


“Anda tau kalau perasaan anda itu sangat berbahaya? Dia itu mata-mata yang dikirim oleh Dianty.” Yoham memperingatkan.


“Dia sudah menyelamatkan nyawaku.”


“Anda bisa membayarnya dengan hal yang setimpal, seperti yang biasa anda lakukan. Anda bahkan sudah membayarkan ganti rugi sebanyak 500 juta untuknya.”


Nawa hanya kembali terdiam saja. Ia memandangi makanan yang sudah tersaji di hadapannya tanpa berniat untuk menyentuhnya. Semewah dan selezat apapun makanan itu nampak di matanya, namun ia tetap tidak ada niat untuk menyantapnya.

__ADS_1


__ADS_2