Menikahi Iblis Berwajah Tampan

Menikahi Iblis Berwajah Tampan
BAB 22. Perintah Untuk Tikus Kecil.


__ADS_3

Rasanya Suta geram sekali menghadapi Nawa yang tidak kunjung menyebutkan nama orang itu padanya. Ia terus mendengus kesal. Kalau ia tidak memikirkan situasinya, mungkin ia sudah merangsek dan meninju wajah Nawa dengan sangat keras.


“Proyek resort di bali. Kudengar kau sedang mencari investor untuk itu. Aku akan menjadi investor untuk proyek itu dengan nama orang itu sebagai imbalannya.” Tawar Suta pada akhirnya.


Nawa bingung. Ia memang sedang membutuhkan investor untuk proyek resort Barra yang gagal dan kini menjadi tanggung jawabnya. Tapi ia tidak ingin mengambil resiko, jika para petinggi di perusahaan, terlebih Dianty mengetahui kalau ia bekerja sama dengan ketua geng Anoda, itu akan menjadi masalah yang sangat serius untuknya. Itu bisa saja membuatnya tersingkir dengan mudah.


“Aku berterimakasih dengan tawaranmu, tapi aku tidak ingin mendapat masalah karna menerima dana dari Anoda.”


“Hahahahaha. Kau ini lucu sekali. Seperti pemain amatir saja. Kau tidak berfikir kalau aku akan menggunakan nama Anoda, kan? Aku punya banyak perusahaan kertas di genggamanku. Padahal kau juga punya yang seperti itu. Astaga, aku tidak percaya kau sebodoh ini.”


Bukan bodoh, tapi Nawa hanya ingin meminimalisir resiko yang mungkin akan dia dapatkan dengan menerima tawaran dari Suta. Karna memang posisinya belum stabil di perusahaan. Ditambah musuhnya yang ada dimana-mana membuatnya sedikit sulit untuk memutuskan.


“Sepertinya kau masih tidak percaya dengan keseriusanku. Berikan aku dokumennya dan aku akan menandatanganinya saat ini juga. Aku tidak suka membuang-buang waktu.”


Akhirnya Nawa menyerah dengan keraguannya. Ia memilih untuk mempercayai Suta ketimbang harus bersusah payah lagi mencari investor yang sangat sulit di dapatkan itu. Mengingat keadaan resort itu sudah sangat merugi dan tidak ada investor yang berani untuk mengambil resiko.


“Bagas. Tapi aku masih belum yakin. Aku masih mencari bukti keterlibatannya.” Jelas Nawa pada akhirnya.


“Bukti apalagi? Bukankah kesaksian anak buahku sudah cukup untuk menjadi bukti?”


“Tidak. Ucapan seseorang tidak bisa di percaya sepenuhnya karna ucapan itu bisa di manipulasi dengan sangat mudah.”


“Sudah cukup. Tidak perlu panjang lebar lagi. Cara kerjaku berbeda denganmu. Sekarang berikan dokumen itu.” Ujar Suta kemudian.


“Mana mungkin aku membawanya sekarang. Tunggu sebentar, aku akan menyuruh sekretarisku untuk mengambilkannya.”


“Sudah, suruh saja seseorang untuk mengantarkannya kemari. Tidak perlu bolak balik karna itu akan memakan banyak waktu. Sudah ku bilang aku tidak suka membuang-buang waktu yang tidak berguna.”


Menyuruh orang kemari?

__ADS_1


Tapi dokumen itu ada di ruang kerjanya di penthouse. Hanya ada Anis di sana. Dan ia tidak bisa mempercayai gadis itu.


“Baiklah, tunggu sebentar.” Jawab Nawa.


*****


Anis masih merepet dengan terus menginjak-injak selimut di dalam bak karet. Ia kesal sekali dengan Nawa. Hari pertamanya menjadi nyonya Arnawama Samudra malah mendapatkan tugas melelahkan ini. Masih ada satu selimut lagi yang belum ia cuci. Sementara semua seprei sudah selesai ia cuci dengan menggunakan mesin cuci.


Samar Anis mendengar telfon berbunyi. Ia menajamkan pendengarannya untuk meyakinkan dirinya lagi. Saat ia keluar dari ruang cuci, suara telfon itu kembali berdering. Ia segera pergi ke ruang tamu dan mendapati sebuah telfon rumah berbentuk klasik sedang berdering.


“Masih ada telfon seperti ini? Padahal tekhnologi sudah canggih begini.” Dengus Anis. Tapi ia tetap mengangkat gagang telfon itu dan meletakkannya di telinganya.


“Halo?” Sapa Anis acuh.


“Hei, ini aku. Bisa kau mengantarkan sesuatu padaku?” Tanya Nawa langsung pada intinya.


“Apa? Kenapa?” Tanya Nawa heran.


“Karna kau tidak mengatakan ‘tolong’.” Tegas Anis kemudian. Membuat Nawa menggaruk jidatnya sendiri.


“Baiklah, to-long.” Lirih Nawa.


Anis tersenyum penuh kemenangan. “Apa yang harus ku antarkan?”


“Pergilah ke ruangan yang ada di sebelah kirimu itu. Di atas meja, kau akan melihat sebuah pahatan harimau kecil berwarna putih. Bawa itu ke hotel INA. Yoham akan menunggumu di depan loby hotel.” Ujar Nawa dengan sangat jelas dan langsung menutup sambungan telfon.


“Tapi aku belum selesai mencuci selimut,,, nya.” Anis berkata saat sambungan telfon itu sudah terputus.


Lagi-lagi, Anis hanya bisa mendengus kesal saja melihat kelakuan Nawa itu. Membuat Anis mencibiri telfon itu untuk melampiaskan. Ia hampir saja membanting gagang telfon itu karna kesal. Namun ia tidak jadi melakukannya dan malah meletakkan gagang telfon itu dengan sangat hati-hati. Ia tidak ingin membuat masalah dengan merusak barang antik semacam itu.

__ADS_1


Anis berjalan menuju ke ruang kerja Nawa. Dengan hati-hati ia mendorong pintu yang lumayan lebar itu dan melongokkan kepalanya terlebih dahulu. Ia mengamati situasi yang ada di dalamnya.


Setelah itu kemudian ia masuk kedalam ruangan itu dan menutup pintu dengan perlahan. Sekali lagi, ia mangedarkan pandangannya untuk meneliti setiap benda yang ada di ruangan itu.


Ruang kerja Nawa terlihat sangat luas dengan beberapa furnitur antik yang menghiasinya. Bahkan ada kursi jati dengan ukiran khas yang ada di tengah ruangan, lengkap dengan mejanya.


Ia terus saja melangkahkan kakinya menuju ke meja kerja Nawa. Seperti yang di katakan oleh Nawa, di atas meja, ia bisa melihat sebuah patung kayu berbentuk harimau putih yang tergeletak di sebelah laptop milik Nawa.


Awalnya Anis hendak membuka laptop alih-alih mengambil boneka itu, namun ia mengurungkan niatnya saat melihat ada CCTV yang sedang mengawasinya. Jadi ia hanya mengambil boneka itu kemudian segera keluar dari sana.


Di luar ruangan, Anis memperhatikan boneka harimau mungil yang ada di tangannya itu.


“Ch. Apa ini? Apa ini mainannya? Sudah besar masih saja bermain boneka. Sepertinya dia sangat kesepian. Aku jadi kasihan padanya.” Gumam Anis sambil memutar-mutar boneka itu di tangannya.


Setelah itu ia segera naik ke atas untuk mengambil tas kecil dan sebuah jaket dari dalam lemari pakaian. Suasana sedikit mendung, jadi ia tidak ingin kedinginan di perjalanan.


Walaupun sempat kebingunan saat hendak keluar dari penthouse, namun akhirnya Anis berhasil juga. Setelah berada di luar gedung apartemen itu, ia segera menghentikan sebuah taksi yang melintas kemudian langsung masuk ke dalamnya. Boneka harimau sudah dia amankan di dalam tasnya.


“Pak, tolong antarkan saya ke hotel INA, ya Pak.” Pinta Anis kepada supir taksi.


“Baik, Nona.”


Dan taksipun mulai melaju menuju ke hotel INA. Anis sangat penasaran sedang apa Nawa berada di hotel?


Apa ini adalah hadiah untuk teman wanitanya?


Anis menebak-nebak dengan memutar-mutar boneka itu kembali di tangannya. Namun ia kemudian mencibiri boneka yang tidak bersalah itu dan kembali memasukkannya ke dalam tas.


Selebihnya Anis hanya memandangi keluar jendela saja. Rintik hujan sudah mulai turun perlahan dan membuat pengendara sepeda motor menghentikan kendaraan mereka di emperan toko untuk menghindari basah. Suasana itu membuat hati Anis berubah kalut saat membayangkan kalau Nawa sedang bersenang-senang bersama dengan seorang wanita di hotel.

__ADS_1


__ADS_2