
Seiring peluru yang melesat dari ujung pistol yang ia pegang, hati Anis hancur berkeping-keping. Ia tidak pernah membayangkan akan menghabisi pria yang sangat ia cintai itu dengan tangannya sendiri.
Airmata tidak mau berhenti mengalir. Jantungnya terasa patah. Perutnya mual, dan kemarahannya semakin menjadi.
Satu detikpun tidak di sia-siakan oleh Anis. Ia bahkan tidak sempat melihat Nawa tersungkur ke lantai. Dia langsung mengarahkan ujung pistolnya kepada Dianty dan menembak wanita itu. Pistol di tangan Dianty terlepas saat peluru Anis menembus pundaknya.
Dianty lupa satu hal, kalau Anis adalah seorang penembak jitu hasil didikan Anoda. Sekalipun pelurunya tidak pernah meleset dari target yang ia incar.
Bukan tanpa resiko Anis melakukan hal itu. Pistol Dianty meledak dan berhasil mengenai telinga sang ayah. Meleset sedikit saja, sudah pasti peluru itu akan meledakkan isi kepala Baskoro.
Saat Anis sibuk menyerang Dianty, Suta juga sudah berhasil membalikkan keadaan. Hingga beberapa saat kemudian, anak buah Dianty sudah tumbang. Sebagian di tembaki oleh Anis, sebagian lagi di hajar oleh Suta.
“Aaaaaaaaa!!!!!”
Dor! Dorr! Dor!
Rasa dendam Anis sudah tidak tertolong. Ia terus mengarahkan tembakan kepada Dianty. ia mengejar Dianty yang sudah melarikan diri. Ia terus mengejar hingga mendapatkan wanita itu.
Dianty merasa kalau keadaannya telah berbalik. Tapi tidak apa, karna ia sudah berhasil menyingkirkan Nawa. Dengan senyum penuh kepuasan ia terus berlari menghindari rentetan peluru Anis.
Hingga, sebuah ketidak beruntungan datang menghampiri Dianty. Ia salah masuk ke dalam sebuah ruangan buntu dan tidak ada jalan keluarnya. Sambil memegangi bahunya yang berdarah, ia menatapi tembok di hadapannya. Ia tersenyum smirk seolah sedang menyadari kalau ini adalah saat-saat terakhirnya. Ia berbalik dan mendapati Anis yang sudah berdiri di hadapannya.
Dor!
Tanpa basa-basi, Anis langsung mengarahkan peluru terakhirnya tepat di dahi Dianty. Membuat wanita itu benar-benar mati. Anis bukan tipe orang yang akan memberikan kesempatan saat dendamnya sudah melebihi ambang batas. Ia bahkan tidak membiarkan Dianty mengeluarkan sepatah katapun.
Tubuh Dianty tersungkur di tanah begitu saja. Anis terus menatapinya dengan berusaha meredam emosi. Dadanya naik turun mengikuti ritme nafasnya yang memburu. Setelah meyakinkan diri kalau Dianty sudah mati, ia menjatuhkan senjata itu. Tiba-tiba tanngannya gemetar luar biasa. Begitupun dengan lututnya. Ia jatuh terduduk dan kembali menangis. Terbayang bagaimana pelurunya menembus dada Nawa. Hatinya hancur tak bersisa.
“Z!” panggil Suta dengan langkah yang terseok-seok. “Kita harus segera pergi. Polisi datang.” Ia mendekati Anis dan meraih tangan wanita itu.
__ADS_1
“Tunggu dulu, Nawa.”
“Tidak ada waktu. Ayo.”
“Tapi Nawa...”
“Z! Sadarkan dirimu! Nawa sudah mati!” teriak Suta habis kesabaran. Bukan dia takut di tangkap oleh polisi. Dia hanya malas panjang urusannya.
Anis menetap pias kepada Suta. Kemudian ia berusaha menopang tubuhnya dan berdiri.
Suta memaksa Anis dengan menarik lengan wanita itu.
“Ayah?” Anis baru teringat tentang ayahnya.
“Paman sudah pergi lebih dulu.”
Baru setelah mendengar itu Anis berusaha bangun dan menguatkan diri. Ia berjalan mengikuti Suta untuk pergi dari lokasi itu. Anis membantu Suta yang berjalan terseok karna luka tembak di kakinya. sepanjang melangkah, Anis seolah sedang menikmati kehancuran hatinya sendiri. ia terbayang tatapan pias Nawa dan senyuman manis pria itu.
“Maafkan ayah.” Lirih suara Baskoro membuat Anis mengalihkan pandangannya kepada pria paruh baya itu.
Anis mengerti apa maksud ayahnya. Ia lantas melemparkan sebuah senyuman samar untuk sang ayah.
“Aku baik-baik saja. Ayah tidak usah khawatir.” Dan kalimat itu semakin menegaskan kalau Anis sedang tidak baik-baik saja.
Bagaimana bisa ia baik-baik saja sementara ia menarik pelatuk ke arah jantung suaminya? Anis tidak baik-baik saja. Ia hanya berusaha bersikap tenang di depan Baskoro.
“Ayah, aku akan keluar sebentar.” Pamitnya kemudian keluar dari kamar Baskoro.
Anis berjalan menghampiri Suta yang sedang memperhatikan layar tv. Ia ikut duduk di sebelah pria itu.
__ADS_1
Di tv, sedang di tayangkan berita mengenai kejadian kemarin malam yang di sebut sebagai perang antar geng ibukota. Melihat Anis datang, Suta segera mematikan tv agar tidak semakin menambah suasana hati Anis porak poranda.
“Bagaimana lukamu?” tanya Anis. Ia melihati paha Suta yang terbalut perban.
“Aku tidak apa-apa. Apa kau sudah lebih baik?” Suta lebih mengkhawatirkan keadaan Anis ketimbang dirinya sendiri. ia tau betapa hancurnya Anis saat ini.
“Aku tidak baik-baik saja. Aku sudah berusaha untuk baik-baik saja, tapi itu sangat sulit. Tanganku terus gemetar. Apa tidak ada kabar tentangnya?”
Suta menggeleng perlahan. Membuat Anis semakin mengerucut hatinya.
“SJ Group sedang menyiapkan pemakaman.”
Hati Anis getir mendengarnya. Jemarinya semakin bergetar hebat.
“Aku bisa mengantarmu kesana kalau kau mau.” Tawar Suta.
“Tidak.”
“Kau melakukan hal yang tepat, Z. Ku harap, kau berhenti menyalahkan dirimu sendiri. Kau sudah melakukan yang terbaik. Tapi kalau yang terjadi jauh dari harapanmu, tidak apa-apa. Waktu akan segera berlalu dan menyembuhkan luka itu.”
“Aku membunuh suamiku, Kak. Dengan tangan ini, aku menembus jantung Nawa. Jantung yang selama ini berdetak penuh cinta untukku. Dan aku... dan aku...” Anis tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Suaranya tercekat di tenggorokan dan tangisnya langsung pecah saat itu juga.
“Tidak ada yang bisa kita lakukan. Kau sudah memilih untuk mengorbankan Nawa dan menyelamatkan paman. Aku yakin, Nawa juga akan berfikir itu yang terbaik untukmu. Karna kalau aku berada di posisinya, aku akan melakukan hal yang sama juga. Aku tau kau pasti merasa sangat hancur. Demi paman, kau harus baik-baik saja, Z.”
Anis terdiam. Entahlah. Masih terlalu berat untuk memaksa dirinya baik-baik saja. Ia hanya ingin menangis seolah itu bisa meringankan rasa sakit yang mendera dadanya. Tidak pernah terfikir bahwa ia akan berada di saat untuk memilih dua cinta besar yang ada di hatinya. Ayahnya dan Nawa. Dua pria yang sangat ia sayangi dan salah satunya harus berakhir di tangannya sendiri.
Saat ini Anis benar-benar hancur sehancur-hancurnya. Ia merasa percuma sudah membalaskan dendamnya kepada Dianty, kalau akhirnya dendam lain kembali muncul dan membuatnya hancur berkeping-keping.
Anis tidak tau harus melampiaskan kematian Nawa pada siapa? Kemana ia harus mengarahkan tombak kebencian atas kepergian pria itu? Beban dan rasa sakit di hatinya semakin bergelayut dan bertambah setiap detiknya. Dan sialnya, ia tidak punya cara untuk menyingkirkannya.
__ADS_1
Bahkan hari-harinya sudah berubah 180 derajat sejak kepergian Nawa. Entah, bagaimana ia akan bertahan dalam kondisi seperti ini. Ia hanya berusaha dan terus berusaha untuk melupakannya dan bergantung pada ayahnya dan juga Suta. Ia melepaskan nama miss Z sepenuhnya. Berharap itu akan sedikit, sedikit saja mengurangi rasa beban di hatinya.