Menikahi Iblis Berwajah Tampan

Menikahi Iblis Berwajah Tampan
BAB 33. Semua Demi Dirinya Sendiri.


__ADS_3

Beberapa saat berlalu sampai Nawa teringat akan Anis yang seharusnya juga berada di Club ARA. Ia sampai terlupa karna kejadian yang terjadi di sana. Saat teringat, Nawa segera mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok Anis.


“Dimana dia? Kenapa tidak terlihat?” Gumam Nawa pada dirinya sendiri sambil terus mencari sosok Anis.


Saat ia tidak kunjung terlihat, akhirnya Nawa memutuskan untuk menelfon gadis itu saja.


“Ini aku. Dimana kau?” Tanya Nawa saat telfon sudah tersambung.


“Nawa? Aku sedang di rumah temanku. Hiks, hiks,,” suara Anis terisak.


“Kau menangis? Ada apa?” Jiwa pemasaran Nawa keluar.


“May, hiks, May, dia sudah meninggal. Huhuhuhuu.”


“Apa maksudmu? Temanmu meninggal? Bukankah kemarin kau baru saja berhubungan dengannya?”


“Iya, benar, tapi.... Huhuhuhuhu...” Sepertinya Anis tidak bisa lagi melanjutkan ceritanya.


“Dimana itu? Aku akan datang kesana.”


“Benarkah? Baiklah, aku akan mengirimkan alamatnya padamu.” Suara Anis masih terisak.


Setelah menutup telfon, dan setelah mendapat alamat rumah May, Nawa segera mengajak Yoham untuk pergi.


“Ayo.” Keduanya lantas pergi ke rumah May.


Hampir satu jam lama perjalanan mereka hingga akhirnya mereka sampai di sebuah kampung. Tidak sulit mencari rumah May karna Anis juga menyertakan lokasi saat mengirim alamat tadi.


Di luar sebuah rumah sederhana, nampak suasana masih ramai walaupun hari sudah larut malam. Terdapat beberapa warga yang sedang berkerumun. Ada beberapa polisi juga.


Setelah memarkirkan mobil, Nawa tidak lantas keluar namun ia menyuruh Yoham untuk mencari tau terlebih dahulu. Karna ia merasa ada sesuatu yang tidak beres karna ada polisi juga disana.


Yoham keluar dari mobil dan menemui beberapa warga untuk bertanya. Setelah beberapa saat kemudian pria itu sudah kembali masuk ke dalam mobil dengan semua informasi yang di butuhkan.


“Bagaimana?” Tanya Nawa.

__ADS_1


“Gadis bernama May itu, tewas di bunuh, Tuan.”


“Apa? Di bunuh? Siapa yang membunuhnya?”


“Polisi belum menemukan pelaku pembunuhan itu. Gadis itu di temukan di gudang kosong daerah Slipi dalam keadaan sudah tidak bernyawa dan tanpa busana. Keadaannya sangat mengenaskan.” Jelas Yoham. Ada sebuah simpati disana.


Nawa menggigit bibir bawahnya dengan membuang pandangan ke arah samping. Namun setelah itu ia keluar dari mobil dan berjaan masuk untuk mencari Anis


Di dalam rumah sederhana itu, Anis nampak masih sesenggukan di samping seorang wanita tua yang duduk di kursi roda yang juga tak henti-hentinya menangis. Pria itu mengangguk sopan kepada orang-orang yang ia lewati sebelum sampai di samping Anis.


Merasakan ada yang datang dan berdiri di sampingnya, Anis segera menoleh dan mendongakkan kepalanya. Ia melihat Nawa dengan mata sembabnya yang masih meleleh. Pandangan gadis itu masih mengikuti Nawa bahkan saat pria itu duduk bersila di sampingnya.


“Saya turut berduka cita, Bu.” Ujar Nawa pada wanita yang ada di kursi roda. Ia yakin kalau itu adalah keluarga dari May.


“Terimakasih. Apa kau teman putriku?”  Tanya si ibu.


“Ini suami saya, Bu.” Anis yang menjawabnya. Si ibu hanya mengangguk saja.


“Kau mau pulang atau masih ingin disini?” Tanya Nawa dengan lirih.


“Baiklah kalau itu maumu.” Nawa benar-benar merasa bersimpati kepada Anis. Pasti gadis itu merasa kehilangan. “Aku juga akan menginap di sini bersamamu.”


Kalimat terakhir itu mampu membuat Anis terbelalak. Ia sama sekali tidak yakin dengan apa yang baru saja di ucapkan oleh Nawa.


“Apa itu? Kenapa kau ikut menginap disini? Pulanglah.” Usir Anis secara terang-terangan. Rasanya sangat tidak nyaman jika ada Nawa disana.


“Aku akan ada di luar. Kalau kau butuh sesuatu, cari aku.” Ternyata Nawa sama sekali tidak menggubris usiran Anis.


Pria itu lantas bangkit dari duduknya dan pergi ke luar rumah duka untuk bergabung dengan para warga yang lain.


Sementara Anis hanya bisa ternganga sambil mengernyit. Ia tidak menyangka kalau Nawa akan bersikeras untuk tinggal disana.


Sebenarnya Nawa sangat penasaran dengan kejadian itu. Ia dengar kalau Anis berteman baik dengan May, ia khawatir kalau Anis juga akan berada dalam bahaya. Jadi ia ingin memastikan sendiri keadaannya.


“Nawa?” Sebuah suara mengejutkan Nawa dan membuatnya menoleh ke arah suara.

__ADS_1


“Duta? Sedang apa kau disini?” Tanya Nawa. Ia senang bisa bertemu dengan teman lamanya yang merupakan seorang polisi itu.


“Aku penanggung jawab kasus ini. Kau sendiri kenapa bisa ada disini? Kau mengenal korban?”


“Apa-apaan itu? Apa kau sedang menginterogasiku?” Seloroh Nawa.


“Hahahaha. Kalau begitu menurutmu, apa kau tidak keberatan kalau kita pindah ke ruang interogasi?”


“Hahaha. Kau ini. Korban merupakan teman istriku. Jadi aku disini untuk menemaninya.”


“Aaah, begitu?”


“Ku dengar keadaanya sangat mengenaskan?” Nawa mulai bertanya pertanyaan menyelidik.


“Ya ampun, jangan di tanya. Pelakunya benar-benar bukan manusia. Korban di tusuk sebanyak enam kali di perut dan dada. Tengkorak kepala sebelah kirinya bahkan hancur. Sepertinya ia di pukul dengan benda tumpul dengan sangat keras atau di benturkan di tembok. Wajahnya penuh dengan lebam. Pelaku bahkan memperkosa korban yang sudah menjadi Mayat.” Tutur Duta.


“Kalau begitu, apa kau sudah punya ciri-ciri pelaku?.”


“Sudah, tapi ini akan sangat sulit.” Ujar Duta lagi.


“Kenapa?”


Rasa penasaran Nawa semakin meningkat. Ia terus mendesak Duta untuk memberitahukan informasinya.


“Orang yang terakhir bertemu dengan korban adalah, anak seorang pejabat tinggi. Langkah kami seolah tersandung. Tapi tenang saja, aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk mengungkap kasus ini.” Ucapan Duta terdengar sangat meyakinkan.


Perasaan Nawa menjadi semakin tidak enak. Entah kenapa ia merasa kalau Anis juga berada dalam bahaya. Saat di Club tadi, Nawa sempat bertanya kepada pelayan yang membawakan minuman kepadanya tentang Anis saat bekerja di Club ARA.


Sebuah cerita yang mengejutkan Nawa adalah, bahwa Anis pernah berususan dengan Rendra yang merupakan anak seorang menteri. Pelayan itu bahkan menceritakan betapa kagumnya dia dengan Anis karna berani melawan Rendra dan menghajar pria itu.


Pelayan itu juga bercerita kalau setiap hari Rendra selalu menanyakan keberadaan Anis setelah Anis tidak lagi bekerja di Club. Rendra mengintimidasi siapapun yang menutup-nutupi keberadaan Anis, terlebih kepada gadis bernama May. Menurut pelayan itu, Rendra terus mengganggu May dan bahkan melakukan pelecehan kepada gadis itu.


Mengingat cerita-cerita itu, Nawa seperti bisa menyambungkan benang merahnya. Ia yakin kalau kejadian ini berkaitan dengan Anis. Dan ia akan mencari tahu sampai ia benar-benar yakin kalau Anis akan baik-baik saja.


Nawa tidak ingin rencana yang sudah di susun rapi itu berantakan karna seorang pemeran yang tidak ada dalam daftarnya. Ya, semua ini demi kepentingannya sendiri. Bukan karna ia mengkhawatirkan Anis. Itulah yang terus diyakinkan oleh fikiran Nawa sendiri walaupun hatinya mengatakan yang sebaliknya.

__ADS_1


Hutang budi karna gadis itu pernah menyelamatkannya, itulah alasan sebenarnya Nawa berniat untuk melindungi Anis.


__ADS_2