
Rumah sakit di buat gempar oleh kedatangan anak buah Nawa. Berstelan hitam dan nampak sangar dengan tato-tato di tangan dan leher mereka. Bahkan Anis sempat di buat terkejut saat mendengar pintu kamar di buka tiba-tiba. Ia menoleh ke arah pintu yang sudah berdiri beberapa anggota inti organisasi.
“Anda tidak apa-apa, Tuan?”
“Aku tidak apa-apa. Tidak perlu membuat kehebohan seperti ini.”
“Ehm, Nawa. Mumpung ada mereka di sini, aku akan pulang untuk mengganti baju dulu.” Pamit Anis.
“Biar Genta yang mengantarmu.”
“Tidak usah. Aku sendiri saja.” Ia beranjak pergi setelah mendapatkan anggukan kepala dari Nawa.
Sungguh, tidak terperi lagi betapa leganya hati Anis melihat Nawa sudah kembali seperti semula. Ia menyesal telah memilih membohongi Nawa.
Cinta tidak di minta dan datang di tengah-tengah mereka. Padahal seburuk itu Nawa memperlakukannya dulu. Mencekiknya hingga hampir mati. Perasaan itu sama sekali tidak ada dalam skenario rencananya.
Sejak awal, Anis sama sekali tidak pernah berfikir kalau ia akan jatuh cinta pada Nawa. Niatnya sejak awal adalah, untuk memanfaatkan Nawa sepenuhnya demi rencananya. Tapi apa boleh buat, ia bahkan tidak kuasa melawan hatinya sendiri.
Anis mengemudikan mobil sementara fikirannya melalang buana kemana-mana. Konsentrasinya seolah sudah terbiasa untuk dibagi. Antara jalan raya dan fikiran.
Sesampainya di mansion, ia segera di sambut oleh Nozomi yang langsung menanyakan keadaan Nawa.
“Bagaimana keadaan Nawa?”
“Dia terluka. Tapi dia baik-baik saja.”
Nozomi terdengar menghela nafas lega. “Ya, Nawa tidak akan mati semudah itu. Hehehehe. Kenapa kau pulang?”
“Aku harus mengganti pakaian dulu. Setelah ini aku akan kembali ke rumah sakit.”
Nozomi mengangguk. Ekor matanya mengantarkan Anis sampai menghilang di dalam kamarnya.
Anis baru saja membuka kemejanya dan hendak mandi. Sejujurnya tubuhnya lengket dan bau sekali. Namun ia mengurungkan niatnya itu saat ponselnya berbunyi. Ada telfon dari Suta.
“Kenapa?”
“Aku harus kembali ke Indonesia sekarang.”
“Kenapa? Apa terjadi sesuatu?”
“Bagas kembali hari ini. Aku tidak ingin kehilangan kesempatan. Kita harus menghabisinya.”
__ADS_1
“Kak Suta. Biarkan saja Bagas.”
Hening.
“Apa maksudmu?”
“Urusan kita dengan Dianty. Masalah Bagas, biar Nawa yang mengurusnya. Aku sudah berjanji padanya.”
Terdengar Suta menghela nafas di seberang sana.
“Tapi aku sudah terlanjur memesan tiket. Dan aku sudah di bandara sekarang. Dan Bagas, ada di dalam jangkauan mataku.”
“Kak Suta pulang saja dulu. Sisakan Bagas untuk Nawa.”
“Baiklah.” Entah kenapa suara kalimat terakhir Suta terdengar sangat kecewa.
Setelah mematikan ponsel, Anis kembali melanjutkan aktifitas mandinya. Setelah itu, sesuai janjinya, ia kembali ke rumah sakit lagi.
**
**
Hanya butuh waktu dua hari saja Nawa di rawat di rumah sakit. Lukanya memang belum sembuh benar, tapi ia sudah jauh lebih baik.
Tidak ada yang menjemput mereka dibandara. Bahkan Yoham di larang Nawa untuk menjemput. Nawa ingin Dianty dan anak-anaknya bersuka cita atas ‘kematiannya’. Mereka memilih naik taksi sampai ke griya tawang.
Sementara di perusahaan, suasana sedang riuh akibat berita meninggalnya Nawa. Dan juga perihal rapat dewan yang akan di adakan. Beberapa pemegang saham sudah nampak hadir dan menunggu di ruang rapat.
“Apa benar Nawa meninggal?” Tanya salah satu dari mereka kepada Dianty.
“Aku minta maaf. Tapi begitulah kabar yang ku dengar. Ia sedang pesiar dengan kapal dan mengalami kecelakaan.” Ujar Dianty menahan senyum. Ia tidak ingin memperlihatkan kebahagiaannya di depan orang-orang penting itu. Padaha saat ini rasanya ia ingin tertawa terbahak-bahak.
“Bagaimana dengan mayatnya?”
“Sayang sekali, mayatnya tidak di temukan. Kemungkinan besar sudah terseret arus laut yang deras.”
Beberapa orang terdengar mendesah ngeri. Tidak tega membayangkan tubuh Nawa yang terombang ambing terseret derasnya arus laut yang dingin. Sementara sebagian lagi nampak acuh. Tidak peduli dengan keadaan Nawa. Yang penting bagi mereka adalah keuntungan yang akan di hasilkan oleh perusahan untuk mereka. Mereka tidak peduli kalau Nawa merupakan pewaris yang sah sekalipun.
Pukul 10 pagi, para pemegang saham sudah berkumpul semuanya di ruang rapat. Sekretaris Dianty bersiap untuk memulai acara. Pembahasan itu terus berlanjut pada keinginan Dianty untuk muncur dari posisinya menyerahkan posisi CEO kepada Barra yang di nilainya sangat mmapu untuk menghasilkan banyak keuntungan bagi orang-orang haus uang itu. Dan semua orang menyetujui pengunduran dirinya.
Dianty berniat mengundurkan diri karena ia ingin fokus kepada bisnis perdagangan senjatanya yang memuaskan dirinya secara naluriah. Ia sudah bosan mengurusi perusahaan. Baginya, itu kurang tantangannya. Jiwanya menolak tua. Pun dengan keserakahannya yang semakin menjadi-jadi.
__ADS_1
“Saya harap, kalian semua bersedia memberikan suara kepada putraku.” Sebut Dianty.
Semua yang hadir memilih diam saja memperhatikan. Itu membuat Dianty sangat heran. Ia merasa tidak biasa dengan sikap diam mereka.
“Ehm,, maaf nyonya Dianty. Saya rasa, saya tidak dalam posisi untuk memilih CEO berikutnya. Karna saya sudah mengalihkan saham saya. Saya bukan lagi pemegang saham di perusahaan ini.” Jelas pemegang saham terbesar kedua yakni Pak Surya.
Penjelasan Pak Surya membuat Dianty langsung membelalakkan matanya. Bahkan hanya dengan satu suara dari Pak Surya, Barra sudah otomatis menang. Tapi ini, Pak Surya malah memberikan sahamnya kepada orang lain. Tapi siapa?
Tok, tok, tok.
Terdengar suara pintu ruangan di ketuk. Semua orang otomatis menoleh ke arah pintu yang terbuka. Dari sana, muncul seorang pemuda tampan berkacamata, memakai setelan jas rapi.
“Maaf, saya terlambat.”
Dianty mengernyit heran. Ia tidak mengenali siapa pemuda itu. Sementara pemuda itu langsung mengambil duduk di kursi yang kosong. Semua orang melihat dan mengangguk padanya. Membuat Dianty gusar bukan main.
“Siapa kamu?” Tanya Dianty dengan tatapan tajam.
“Oh, maaf. Saya hampir lupa memperkenalkan diri. Nama saya Prasetyo Nugraha. Tidak usah pedulikan saya. Silahkan di lanjutkan kembali rapatnya. Saya tidak akan mengganggu.” Pinta pria itu kembali. Sikapnya santai sekali. Membuat Dianty semakin kesal saja.
Namun, Dianty kembali mengintruksikan kepada sekretarisnya untuk melanjutkan rapat.
Fikiran Dianty berkecamuk luar biasa. Sungguh dia sangat penasaran siapa pria yang sibuk bermain ponsel itu.
“Sekarang, silahkan angkat tangan kalau setuju atas penunjukan tuan Barra sebagai CEO baru.”
Hening. Hanya tiga orang yang mengangkat tangan. Mereka justru saling melempar pandang dan kemudian berakhir pada pria yang tengah asyik bermain ponsel itu.
“Kenapa kalian tidak mengangkat tangan?” Tanya Dianty heran.
yo! warga!
aku kembali... maaf ya libur lama. begitu buka banyak yang bilang kok endingnya gantung? kok akhirnya begini?
jadi gini,, kemarin aku salah pencet tanda 'end' untuk novel ini. aku lupa balikin lagi. udah terlanjur, jadi ya udahlah. tenang aja, novel ini masih lanjut. sebelum aku konfirmasi akhir ceritanya. sebelum ada tulisan TAMAT di akhir nanti. okhey?
love.
__ADS_1
PiEl