Menikahi Iblis Berwajah Tampan

Menikahi Iblis Berwajah Tampan
BAB 17. Air Mata Wanita.


__ADS_3

Rengganis berhasil dengan rencananya. Air mata itu hanyalah sebuah cara untuk menghentikan aksi Nawa lebih jauh lagi. Siapa yang bisa menolak sebuah tangisan dari seorang gadis? Rengganis sangat tau kalau air mata merupakan kelemahan hampir setiap laki-laki. Dan iapun bertaruh pada hal itu. Walau ada kemungkinan ia gagal, namun untungnya ia berhasil juga.


“Kenapa kau takut? Bukankah kau bilang aku tampan? Kau sudah berhasil membuatku menikahimu, jadi kenapa tidak sekalian saja kau serahkan tubuhmu itu padaku? Status kita suami istri yang sah di mata hukum. Jadi tidak ada alasan untukmu menolakku.” Tegas Nawa kemudian.


Tapi kau tetap lemah dengan airmataku.


“Jangan fikir kalau aku kasihan padamu hanya karna kau menangis. Lain waktu, aku akan tetap melakukannya, suka atau tidak.”


Rengganis tidak bisa berkata-kata lagi. Ia bingung kenapa Nawa selalu bisa membaca apa yang sedang ia fikirkan. Apa pria itu punya indera ke enam atau bagaimana?


“Sekarang bersihkan tubuhmu dan ganti pakaianmu. Semua keperluanmu sudah tersedia di kamar itu.” Nawa menunjuk ruang ganti dengan dagunya.


Rengganis menatap kepergian Nawa yang kemudian menghilang di balik pintu. Dengan segera ia mengelap bibirnya dan membetulkan pakaiannya yang sudah berantakan entah bagaimana. Sambil mengelap sisa air matanya, Rengganis perlahan turun dari ranjang dan berjalan ke arah ruang ganti yang di beritahu oleh Nawa.


Dan betapa herannya dia, ternyata semua kebutuhannya benar-benar sudah di sediakan di ruangan itu. Dari mulai pakaian, sampai aksesoris pelengkap beserta alat-alat make up.


Nawa berjalan menuruni tangga dan masuk ke dalam ruang kerjanya. Disana, Yoham sedang menunggunya. Pria jakung itu langsung berdiri saat Nawa masuk ke dalam.


Yoham segera mengeluarkan peralatan medisnya saat Nawa sudah duduk sempurna di sofa ruang kerjanya. Pria itu langsung mendekati dan membantu membuka pakaian Nawa. Ia segera mengganti perban luka yang ada di perut Nawa.


“Terimakasih.” Ujar Nawa setelah Yoham selesai mengganti perbannya. Ia kemudian mengancingkan kembali kemejanya.


“Tuan, aku mendapat telfon dari Anoda. Mereka bilang Tuan Suta ingin bertemu dengan anda.” Jelas Yoham sambil membereskan peralatannya.


Nawa mengernyit. “Kenapa dia ingin bertemu tiba-tiba?”

__ADS_1


Yoham menggelengkan kepala. “Dia hanya bilang ingin bertemu secepatnya. Ada hal mendesak yang harus di urus.”


“Kalau begitu kosongkan jadwalku besok sore. Atur tempat pertemuan dengan Suta.” Perintah Nawa.


Yoham mengangguk. “Baik, Tuan. Tapi, apa rencana Tuan tentang Nona Anis?”  Tanya Yoham kemudian.


“Aku akan membuatnya jatuh cinta padaku. Aku akan membuatnya berbalik untuk melawan Dianty. Aku yakin gadis itu punya sesuatu yang bisa ku gunakan untuk melawannya.” Lirih  Nawa.


Yoham hanya terdiam saja mendengar rencana itu. Tapi setelah itu Yoham pamit undur diri untuk pulang ke unit apartemennya yang ada di gedung yang sama dengan Nawa. Apartemen Yoham berada satu lantai di bawah griya tawang milik Nawa yaitu di lantai 80.


Seperginya Yoham, Nawa menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa. Ia terngiang dengan lelehan air mata dari netra bening Rengganis. Itu sangat mengganggunya. Satu hal yang paling tidak dia suka adalah, melihat wanita menangis. Itu memicu rasa kasihannya padahal ia tidak seharusnya merasa begitu pada gadis itu.


Benar apa yang di fikirkan oleh Rengganis, dari sekian persen pria yang lemah terhadap air mata wanita, ternyata Nawa adalah salah satu di antaranya. Nawa merasa seperti sedang menunjukkan kelemahannya di hadapan musuhnya. Ia sedikit khawatir akan hal itu.


Nawa benar-benar tidak bisa mengendalikan perasaan kasihannya. Ia tidak tau kalau Rengganis sedang mencoba satu persatu pakaian yang ada di dalam lemari di kamar atas. Gadis itu bahkan sudah tidak menampakkan kesedihan dan ketakutannya lagi.


Ia kembali memalingkan wajahnya ke atas meja saat mendengar ponselnya berdering. Ada nama Barra yang tertera disana. Malas sekali ia mengangkat telfon itu. Tapi pada akhirnya dia mengangkatnya juga.


“Apa?” Tanya Nawa acuh.


“Astaga. Kau menikah dan tidak mengabari kami? Tega sekali kau. Dasar baji ngan kecil.” Seloroh Barra.


“Hubungan kita tidak spesial untuk saling memberi kabar tentang urusan pribadi.” Acuh Nawa.


“Memang sih. Tapi, aku akan tetap mengucapkan selamat padamu. Hahahahahaa. aku dengar gadis itu sangat akrab dengan ibu. Ya ampun nawa, apa yang sedang di rencanakan ibu? Hahahahahahahaha.” Barra tergelak di ujung telfon. Terlebih ia merasa lucu karna Nawa mau menerima gadis itu. Padahal mustahil jika Nawa tidak tau kalau gadis itu adalah suruhan ibunya.

__ADS_1


Nawa hanya memutar bola matanya saja menanggapi ocehan Barra yang ngelantur itu.


Tlit.


Nawa mematikan ponsel dengan tiba-tiba membuat Barra terkejut walaupun sambil tertawa juga. Ia malas mendengar ocehan Barra lebih lanjut lagi.


Setelah beberapa jam berada di ruang kerjanya, Nawa akhirnya kembali ke kamarnya. Perlahan ia mengintip di balik pintu kamar yang ternyata tidak tertutup itu. Kemudian Nawa terus saja melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar. Ia mengedarkan pandangannya dan tidak mendapati Rengganis disana. Namun ia kembali melihat pintu ruang ganti yang terbuka dan ia segera berjalan ke sana.


Dan benar saja, ia melihat Rengganis yang sedang sibuk mencoba berbagai baju dan gaun dan sedang memantaskan diri di depan cermin. Nawa menyandarkan bahunya di pintu sambil menyilangkan kedua tangannya. Ia terus saja menatap kepada gadis yang masih belum menyadari kehadirannya itu.


Hah! Percuma saja aku mengasihaninya.


Hufh. Nawa mendengus kesal namun tetap tidak beranjak dari tempatnya.


Rengganis yang asyik mematut dirinya di depan cermin dengan mencoba salah satu pakaian yang menurutnya paling cantik, masih belum menyadari kehadiran Nawa di belakangnya.


“Astaga!” Pekik Rengganis setelah ia melihat bayangan Nawa dari cermin di depannya.


“Hemhp. Apa kau begitu menyukainya?” Tanya Nawa sambil menurunkan tangan dan berjalan mendekati Rengganis.


“Hah? Oh, tentu saja. Tapi, kapan kau mempersiapkan semua ini? Apa kau ingin membuatku terharu atau semacamnya?” Seloroh Rengganis.


“Mimpilah sesukamu.”


Rengganis hanya mencibir saja kepada Nawa yang berjalan melewatinya untuk mengambil sesuatu dari dalam lemari. Kemudian pria itu kembali pergi dan masuk ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


Sementara Rengganis kembali asyik dengan kegiatannya mencoba berbagai baju. Ia bahkan sudah sepenuhnya lupa dengan ancaman-ancaman Nawa yang sempat di lontarkan kepadanya beberapa saat yang lalu. Dalam benaknya, Rengganis sedang memikirkan cara untuk bisa masuk ke dalam ruang rahasia milik Nawa yang ada di ujung lorong. Karna ia harus melaporkan sesuatu kepada Dianty secepatnya. Ia tidak ingin mengecewakan wanita yang sudah membayarnya mahal itu.


__ADS_2