Menikahi Iblis Berwajah Tampan

Menikahi Iblis Berwajah Tampan
BAB 18. Sikap Manis.


__ADS_3

Nawa keluar dari kamar mandi setelah membersihkan tubuhnya. Ia melihat Anis yang sudah terlelap di sofa dengan badan yang setengah duduk. Dengan handuk yang membalut setengah badannya, Nawa berjalan menghampiri sofa dan mendekatkan wajahnya kepada Anis.


Bandul kalung yang bertengger di leher Anis menarik perhatian Nawa. Ia tau kalau kalung itu bukanlah kalung sembarangan. Terlebih kalung itu adalah pemberian dari Dianty. Ia sangat tau kalau ada sesuatu di dalam kalung itu.


Perlahan, Nawa mengelus-elus bandul kalung itu dan memperhatikannya dengan seksama. Ia lupa kalau manusia pemilik kalung itu sudah terbangun dan sedang menatapnya aneh.


“Kau sedang apa?” Tanya Anis sambil menepis tangan Nawa dari lehernya.


Tentu saja Nawa sempat terkejut mendapat perlakuan itu. Namun ia segera menguasai diri dan berdiri di hadapan Anis.


Mata Anis berubah jadi berbinar setelah melihat pemandangan seksi di hadapannya. Bukan apa, sebuah tato harimau yang terukir di dada bidang Nawa sebelah kiri, entah mengapa semakin membuat aura Nawa semakin maskulin. Walaupun Anis dibuat bergidik ngeri sebentar saat melihat tato itu dan beberapa bekas luka yang ada di perut pria itu.


Tapi jujur, penampakan tato itu membuat Nawa terlihat lebih macho. Membuat Anis sampai menelan salivanya. Matanya tidak bisa membohongi degup jantungnya saat ini. Ada desiran aneh di dadanya.


“Kenapa kau tidur disini?” Tanya Nawa masih dengan nada acuhnya.


“Kenapa? Memangnya aku harus tidur dimana lagi?”


“Cepat bangun. Tidur di ranjang bersamaku.” Tegas Nawa lagi.


“Hah? Apa? Aku tidak salah dengar, kan? Kau ingin aku tidur diranjang bersamamu? Apa kau sudah gila?” Protes Anis tidak terima.


“Jangan sampai aku menyeretmu.”


Ucapan itu sudah cukup untuk membuat Anis bergidik dan menuruti perintah Nawa.


Ah. Padahal aku baru saja mengagumi betapa seksinya dia. Sikapnya membuat seleraku hilang.


Perlahan namun pasti, Anis menyeret kakinya untuk menuju ke ranjang dan duduk di pinggirnya. Ia ragu apakah ia benar-benar harus tidur bersama pria itu malam ini?


“Kalungmu itu, lepaskan saja. Itupun kalau kau tidak ingin tercekik sampai tewas saat tertidur.” Gurauan Nawa sama sekali tidak lucu. Yang ada Anis justru semakin merinding membayangkannya.


“Tapi ibumu bilang untuk jangan pernah melepaskannya.”

__ADS_1


“Astaga. Kau benar-benar ingin tercekik sampai tewas? Lagipula itu hanya sementara saja. Nanti kalau kau bangun, pakai lagi. Aku tidak ingin tidur di sebelah mayat gadis yang baru ku nikahi. Kita bahkan belum melakukan malam pertama.”


“Stop! Jangan di teruskan!” Pekik Anis sambil menutup telinganya dengan tangan. Ia tidak sanggup lagi jika harus mendengarkan ocehan Nawa yang terdengar menyeramkan itu.


Akhirnya dengan hati-hati Anis melepaskan kalung itu dan meletakkannya di atas nakas di sebelahnya. Setelah itu ia melirik curiga kepada Nawa sambil mencibir.


“Kenapa? Apa kau mencurigaiku? Apa kau fikir aku akan mencurinya? Aku bisa membeli barang seperti itu sebanyak yang aku mau.” Bela Nawa karna mendapat tatapan curiga dari Anis.


“Memangnya aku ada bilang apa?” Cibir Anis lagi. Ia kemudian menarik selimut dan menenggelamkan diri di dalamnya. Ia menggulung selimut itu untuk dirinya sendiri dan menyisakan Nawa yang hanya mengerutkan dahinya. Dia merasa kalau gadis itu sangat menyebalkan.


Nawa berjalan masuk ke dalam ruang ganti untuk memakai piyama tidurnya. Kemudian ia kembali ke ranjang dan merebahkan diri di samping Anis.


Di dalam selimut, Anis sedang menahan nafas agar Nawa mengira ia sudah tertidur. Ia berharap kalau Nawa akan segera pergi dari kamar itu dan membiarkannya tidur sendiri disana. Namun itu hanya harapan kosongnya saja.


Nawa sedang bermain dengan ponselnya dan membiarkan Anis sampai kehabisan nafas. Ia tau kalau gadis itu masih belum tidur dan sengaja menunggunya.


Dan benar saja, beberapa saat kemudian, Anis membuka selimut di bagian wajahnya dengan terengah-engah. Ia hampir kehabisan nafas karna mengurung diri di dalam selimut yang cukup tebal itu.


“Hah. Hah.  Hah. Hah.” Anis berusaha untuk mengatur nafasnya yang tersengal.


“Kenapa kau masih disini?” Tanya Anis tiba-tiba di sela mengatur nafas. Karna ia fikir kalau Nawa sudah pergi karna sudah tidak terdengar suara lagi.


“Memangnya aku harus kemana?” Jawab Nawa dengan pertanyaan. Ia meletakkan ponselnya di atas nakas kemudian menarik selimut dari tubuh Anis dengan sangat kuat. Ia menyisakan sedikit untuk gadis itu kemudian ikut menyelimuti tubuhnya dan berbaring di samping Anis.


“Cepat tidur. Besok, ada banyak pekerjaan yang menunggumu.”


Anis hanya bisa memanyunkan bibirnya sambil beralih membelakangi Nawa. Ia melipat kedua lengannya untuk mengusir hawa dingin dari pendingin udara yang berhembus. Ia enggan untuk berada di dalam satu selimut bersama dengan Nawa.


“Hufh.”


Sambil menghela nafas sebal, Nawa bangun dan menutupi tubuh Anis dengan perlahan.


Apa ini? Sikap yang manis. Apa dia memang semanis ini?

__ADS_1


Anis sedang berusaha untuk memejamkan matanya kuat-kuat. Ia tidak tahan mendapatkan perlakuan semanis itu dari seorang pria. Terlebih dari pria tampan dan seksi seperti Nawa. Bohong jika ia menyangkal dan berkata kalau ia tidak tergoda dengan hal itu.


Kruuk,, kruuk,, kruuk..


Suasana masih hening saat perut Anis meraung minta di isi. Menyadari hal itu, wajah Anis memerah seketika. Ia tidak berani bergerak sedikitpun karna takut jika Nawa tau kalau dia ternyata belum juga tertidur.


Kruuk,, kruuk,, kruuk...


Perut Anis semakin berbunyi nyaring. Ditambah dengan suasana malam yang semakin hening sehingga membuat suara itu semakin santar terdengar.


Anis jadi tidak sabar. Ia sungguh kelaparan karna hari ini perutnya belum terisi apapun. Ia menyibakkan selimutnya kemudian bangun terduduk.


“Ehhm,, maaf, tapi bolehkah aku pergi ke dapur? Aku lapar.” Lirih Anis antara berani dan tidak. Ia takut mengganggu Nawa yang sepertinya sudah terlelap itu.


“Hei, Nawa...” Lirihnya lagi.


Nawa yang memang sudah memejamkan matanya terpaksa membuka mata. Ia menatap lurus ke langit-langit kamar kemudian menoleh ke arah Anis.


Sambil menghela nafas, Nawapun ikut menyibakkan selimutnya dan bangun kemudian mengajak Anis untuk mengikutinya.


“Ayo.” Ajak Nawa.


Anispun menggigit bibirnya merasa tidak enak hati kemudian berjalan mengikuti Nawa menuruni anak tangga dan menuju ke dapur.


“Tunjukkan saja di mana letak makanannya, aku akan mengambilnya sendiri.” Ujar Anis lagi.


“Sudah, diam. Kau duduk saja di situ. Di sini tidak ada makanan siap jadi. Kalau mau makan ya harus memasak dulu.” Jawab Nawa. Ia melinting lengan piyamanya saat berdiri di depan lemari pendingin.


“Apa? Tidak ada makanan?” Anis kecewa. Perutnya sudah meraung minta di isi. “Roti, apa kau punya roti?” Tawar Anis. Roti juga mengandung karbohidrat dan itu akan cukup untuk mengganjal perutnya.


“Tidak ada. Aku tidak makan roti.”


Akhirnya Anis ternganga saja. Ia tidak percaya di rumah semewah ini tidak ada satupun makanan yang siap di santap.

__ADS_1


“Tunggu sebentar, aku akan membuatkan makan malam.”


Nawa segera mengeluarkan bahan-bahan masakan dari dalam lemari pendingin. Ada daging merah segar, tomat, daun bawang, jamur enoki, dan beberapa batang asparagus beserta bahan pelengkap lainnya. Sedangkan Anis hanya bisa pasrah saja menunggu masakan itu jadi. Ia merasa kesal tanpa bisa berbuat apa-apa.


__ADS_2