
Club ARA, 22.45 WIB.
Suasana club ARA ramai seperti biasanya. Pelanggan tetap yang berasal dari kalangan menengah ke atas rutin melepas penat di sini. Di meja yang berada tidak jauh dari meja bartender, Bagas dan teman-temannya sedang menikmati minuman alkohol kesukaan mereka. Mereka semua nampak senang dan sesekali tergelak tertawa bahagia. Terlebih lagi Rendra.
Rendra adalah anak seorang pejabat penting. Ayahnya merupakan seorang menteri yang baru saja menjabat. Pengaruhnya tidak main-main. Dan diasangat arogan bahkan setelah banyak berurusan dengan polisi. Karna pengaruhayahnya, ia selalu saja lolos dari jerat hukum saat beberapa korbanpelecehannya melapor.
Di meja bartender, seorang wanita yang mengenakan jaket kulit berwarna hitam dengan rambut panjang yang terikat di belakang, sedang menikmati kokctail #blue rain yang baru saja di racikkan oleh bartender. Ia menurunkan maskernya yangjuga berwarna hitam itu sampai sebatas dagu. Ia membiarkan topinya yang jugaberwarna hitam itu menutupi sebagian wajahnya yang tersorot oleh lampu.
Penampilan wanita itu menarik perhatian Rendra. Bagaimana tidak, wanita yang duduk sendiri tanpa di temani oleh siapapun seperti itu, apalagi di sebuah bar, tentu saja akan mengundang pria-pria untuk menghampirinya.
Dengan langkah yang sempoyongan, Rendra bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati wanita itu. Bagas sempat mencoba menghentikan temannya itu namun sia-sia.
“Hei! Apa kau sendirian?” Tanya Rendra memulai perkenalannya. Ia duduk di kursi di samping wanita itu
Wanita itu tidak menggubris. Ia memilih untuk menikmati kokctailnya dan tidak menghiraukan gangguan kecil dari Rendra.
“Hei! Kau tidak mendengarkanku? Kalau kau sendiri, bergabunglah denganku dan teman-temanku. Aku akan mentraktirmu berapapun kau mau.” Bujuk Rendra lagi.
Wanita itu tetap tidak menggubrisnya. Ia hanya sedikit terbelalak saat tangan Rendra mulai menyentuh bahunya dan kemudian menyusuri punggungnya.
“Pergilah. Aku sedang tidak ingin di ganggu.” Wanita itu memperingatkan. Ia mencoba untuk tidak peduli kalau tangan Rendra sudah berada di bokongnya
“Jangan jual mahal begitu. Aku bisa membantumu menghilangkan stres.” Rayu Rendra lagi. Pria itu semakin berani. Tangannya bahkan sudah merayap di paha wanita itu
__ADS_1
Melihat kalau wanita itu hanya diam saja, Rendra semakin mere mas-re mas paha wanita itu dengan lembut. “Ayolah, tidak perlu sungkan-sungkan.”
Rendra sudah 70% mabuk. Dan itu membuatnya kehilangan akal dan semakin berani. Tangannya kini sudah berada di paha bagian dalam wanita itu.
Wanita itu menoleh dan tersenyum kepada Rendra. Sebuah senyuman manis yang mematikan bagi siapa saja yang melihatnya. Namun Rendra hanya bisa melihat wajah wanita itu sebatas hidung saja karna tertutup oleh topi yang di kenakan oleh wanita itu.
Selepas tersenyum kepada Rendra, wanita itu kembali ke posisinya dan menaikkan masker ke wajahnya. Kemudian ia memutar tempat duduknya dan menghadap tepat kepada Rendra.
Mata indah yang tersembunyi di bawah topi membuat Rendra tersihir. Ia tersenyum karna ia fikir wanita itu termakan rayuannya. Ia semakin dalam mere mas paha wanita itu dengan lebih berani.
Wanita itu membalasnya dengan menyentuh wajah Rendra. Mengelus pelan bagian pipi sampai pria itu terangsang dan memejamkan matanya. Menikmati setiap sentuhan lembut itu dengan perasaannya. Wanita itu terus meraba bagian wajah dan bergerak di sekitar telinga Rendra. Pria itu membiarkannya saja wanita itu menyentuhnya sesuka hati.
BRAK!!!!!
Wanita itu membenturkan kepala Rendra dengan sangat keras ke atas meja sesaat setelah ia meraba bagian telinga pria itu.
“Aaaaaaaaaahh!!!!” Pekik Rendra yang kesadarannya sudah kembali utuh. Ia memegang telinganya dengan darah yang sudah mengucur dari sela-sela jemarinya. “Apa yang kau lakukan?!!!!” Pekik Rendra di sela kesunyian karna dentuman musik baru saja berhenti karna kejadian itu.
Wanita itu berjongkok mensejajarkan diri dengan Rendra yang sedang merintih kesakitan. Ia bertumpu pada kedua lengannya di atas paha. Kali ini tatapan pria itu nampak takut. Tidak seperti sebelumnya.
“Aku sudah bilang, jangan mengangguku. Kenapa kau tidak mendengarkanku?” Lirih suara wanita itu terdengar tegas dan dalam.
Tatapan mata Rendra nampak terkejut dan menahan sakit. Darah terus mengalir dari telinganya yang pecah.
__ADS_1
“Apa yang kau lakukan?!! Beri dia pelajaran!!” Pekik Rendra kepada dua anak buahnya yang langsung merangsek untuk menolong Rendra.
Bagas bahkan tidak beranjak dari tempat duduknya. Ia hanya menonton saja sambil menenggak sisa minumannya di dalam gelas. Ia seperti mendapat tontonan menarik dan ia tidak ingin mengganggu apalagi ikut campur tangan. Ia bahkan tersenyum di kursinya.
Dua anak buah Rendra langsung maju setelah membantu Rendra berdiri. Mereka melayangkan tinju dan pukulan serta tendangan ke arah wanita itu. Namun tidak ada satupun pukulan yang bisa mengenainya. Yang ada justru salah satu dari anak buah Rendra itu malah tertampar soleh sepatu wanita itu dengan sangat keras dan tersungkur.
Saat mendapat perlawanan dari yang lain, wanita itu menggeser langkahnya. Tangannya dengan cepat menarik lengan pria yang bahkan jauh lebih kekar itu kemudian melemparkannya ke atas meja bartender hingga semua yang ada di atas meja itu jatuh dan pecah berhamburan.
Beberapa wanita yang ada di sana nampak berteriak histeris menyaksikan adegan kekerasan yang terjadi di hadapan mereka. Tapi tidak ada yang berani melerai perkelahian itu. Bahkan security club hanya bisa terdiam karna mereka tau siapa wanita itu.
Anak buah Rendra belum juga berhenti untuk melayangkan pukulan mereka. Padahal mereka sudah berkali-kali mendapatkan bogem dan tendangan dari wanita itu.
Wanita yang nampak sangat profesional dalam ber adu itu, bahkan tidak menjatuhkan topi yang di kenakannya. Ia terus mengelak saat anak buah Rendra menyerangnya. Dia adalah seorang profesional.
Rendra yang sudah tidak tahan melihat ke tidak becusan anak buahnya, akhirnya ikut campur dalam pertarungan itu. Tapi lagi-lagi, dia hanyalah seorang pecundang yang berlindung di bawah nama ayahnya. Ia bahkan tidak mampu melemparkan tinjunya tepat sasaran dan malah meninju angin yang ada di depan wajah wanita itu. Rendra benar-benar bukan tandinganya dan malah nampak konyol dengan serangannya yang sia-sia.
Sebuah tamparan sudah cukup untuk melumpuhkan Rendra. Pria itu jatuh terduduk di lantai dengan wajah kemarahan dan juga takut.
“Kau akan menerima balasannya. Lihat saja.” Ancam Rendra dengan suara yang bergetar. Ia hendak menakuti wanita tangguh itu walaupun itu sama sekali tidak berguna.
Wanita itu malah menyeringai, nampak dari matanya yang menyipit.
“Aku tidak menyalahkanmu karna kau tidak tau siapa aku. Tapi aku yang akan menghancurkanmu lebih dulu sebelum kau terbangun dari tidurmu.” Wanita itu sengaja menekankan ancamannya hingga Rendra semakin meringsut dalam ketakutan.
__ADS_1