
Nawa terus saja memukul-mukul dada. Rasa nyerinya semakin menjadi. Matanya sampai berkaca-kaca. Memikirkan sebuah kemungkinan terburuk yang belum tentu kebenarannya. Tapi, rasa kecewa itu sudah terlanjur membuncah. Walaupun ia tetap berusaha mempertahankan kewarasan di logikanya.
Mobil terus melaju ke sebuah dermaga yang di beritahu oleh Bagas. Sepanjang perjalanan, Nawa terus mencengkeram kemudi kuat-kuat sebagai pelampiasan. Dia benar-benar akan menghabisi Bagas terlepas video itu benar atau salah.
Pukul 1 dinihari, Nawa sudah sampai di pelabuhan. Ia menghentikan mobil dan keluar. Matanya jelalatan fokus mencari sebuah kapal pesiar milik Bagas. Setiap ia melangkah, emosinya semakin bertambah besar.
Di ujung pelabuhan, ia melihat seseorang berdiri di pinggir kapal. Dari siluetnya, sosok itu jelas memperlihatkan postur tubuh seorang pria. Dan pria itu, tengah menghadap kepada Nawa. Perasaan Nawa mengatakan kalau pria itu tengah menunggu dirinya.
“Mari, silahkan. Anda sudah di tunggu.” Ujar pria itu meggunakan bahasa jepang. Mempersilahkan Nawa untuk masuk ke dalam kapal.
Nawa mengikuti pria itu masuk ke dalam kapal pesiar kecil itu. Duduk manis di dalamnya saat kapal mulai melaju menuju ke tengah lautan gelap. Nawa tidak menurunkan kewaspadaannya sedikitpun.
20 menit berlayar, kapal berhenti di tengah lautan. Nawa tidak tau ia sekarang berada dimana. Malam yang gelap membuatnya buta arah.
Nawa merasakan kapal berhenti. Ia melihat ada sebuah kapal yang lebih besar disana. Pria yang bersamanya meminta Nawa untuk pergi ke kapal besar itu. Setelah Nawa naik ke kapal besar, kapal yang mengantarnya kembali pergi entah kemana.
Kapal itu terasa sangat sunyi. Nawa terus menapaki langkahnya menuju ke arah dek. Di dek, Nawa hanya melihat sebuah laptop di atas meja. Laptop yang menampilkan video dalam keadaan di pause. Perlahan, Nawa berjalan mendekati laptop itu. Karna pandangannya sudah fokus kesana.
Tangan Nawa menjulur untuk menyalakan video itu. Dan videopun mulai berjalan. Benar dugaan Nawa. Itu adalah lanjutan dari potongan video yang dikirimkan ke ponselnya.
Saat menontonnya, bukannya hatinya mendingin, darah Nawa justru tambah mendidih tidak karuan. Hatinya seakan runtuh tak bersisa mendapati kalau wanita yang di cintainya, telah menghianatinya sedemikian rupa.
Penghianatan yang sama sekali tidak pernah masuk ke dalam skenario fikirannya. Melihat video itu, membuat kewaspadaanya menurun drastis.
Brak!
Nawa merasakan hantaman benda keras di tengkuknya. Seketika, pandangannya menjadi kabur dan perlahan menghilang. Gelap.
Saat terbangun, ia sudah dalam keadaan berbaring miring. Di depannya, berdiri Bagas dengan seringai kemenangannya.
__ADS_1
Nawa mengerjap-ngerjapkan matanya. Merasakan sakit yang luar biasa di tengkuknya. Perlahan, ia memaksa tubuhnya untuk bangun. Kembali mengumpulkan tenaganya. Dan saat ia merasa sudah bisa berdiri, dia segera berlari dan mendaratkan cengkeramannya di leher Bagas. Ia mendorong tubuh Bagas hingga menempel di dinding dek.
“Khk. Khk!” Bagas berusaha bernafas dari himpitan tangan Nawa di lehernya. Ia memegangi lengan kekar Nawa dan berusaha untuk melepaskan diri. Tapi, tenaga Nawa tidak sebanding dengannya.
Tidak, bukan itu. Bagas hanya membiarkan saja Nawa mencekik lehernya. Ia sengaja merasakan cengkeraman tangan kekar Nawa yang perlahan mulai kehilangan tenaganya.
“Apa maksud semua ini?” Cecar Nawa geram. Ia merasakan tangannya sedikit gemetar dan kekuatan cengkeramannya berkurang.
“Hhhhhhaaahahha.”
“Apa yang kau lakukan padaku?” Nawa berusaha mengembalikan kekuatannya namun tidak berhasil. Yang ada, lututnya ikut melemas dan ia ambruk terduduk di lantai. Nafasnya seolah tercekat di tenggorokan. Ia semakin sulit bernafas. Ia tau gejala ini. Ini adalah geala saat ia mengkonsumsi seafood.
“Apa kau fikir aku sebodoh itu? Membiarkanmu tanpa persiapan?” Ujar Bagas menoleh kearah udang goreng yang berserakan di sana.
“Hahaha. Ternyata membunuhmu itu gampang sekali. Aku hanya membutuhkan tempura saja. Hahahahahaa.” Puas Bagas tertawa melihat Nawa semakin kehabisan nafas.
“Ah, akhirnya aku bisa membalas kematian Rumi. Selamat tinggal Nawa. Bawalah rahasia istrimu bersama dengan kematianmu. Tenang saja. Tidak lama lagi, istrimu akan menyusulmu karna ibu yang akan menghabisinya.” Tegas Bagas.
Bagas berjongkok. Meraih lengan Nawa kemudian menggeretnya paksa menuju ke tepian kapal. Nawa sudah tidak berdaya. Ia hanya bisa berfikir, kalau saat itu, adalah saatnya untuk pergi dari dunia. Kelengahannya akibat sebuah kenyataan menyakitkan telah membuatnya berada di ujung kematian.
Tubuh Nawa lemas. Tidak lagi bertenaga. Ternggorokannya semakin menyempit yang mengakibatkan ia semakin sulit bernafas. Nawa pasrah karna tidak bisa melawan.
Byurr!!
Bagas melemparkan Nawa ke kedalaman lautan yang gelap tanpa ampun.
Nawa bisa merasakan tubuhnya di terpa dingin akibat air laut. Ia sepenuhnya sadar tengah berada di dalam air. Tapi, ia tidak bia menggerakkan anggota tubuhnya.
Bagas tidak puas hanya dengan melemparkan tubuh Nawa ke dalam laut. Ia juga memberondongkan peluru dari senjata api ke arah Nawa. Dan sialnya, dua peluru berhasil bersarang di perut dan tangan kanannya.
__ADS_1
Sudah, Nawa berfikir, kalau ia sudah pasti mati. Mati konyol dalam dendam Bagas tanpa bisa melawan sedikitpun.
Apakah ini benar-benar akhir dari hidupnya? Masih banyak hal yang ingin di lakukan Nawa.
Anis. Ia ingin bertemu dengan istrinya itu dan meminta penjelasan. Kenapa gadis itu tega menghianati kepercayannya seperti ini? Setelah semua perngorbanan dan perasaan yang sudah ia curahkan kepada gadis itu.
Rasa kecewa Nawa membawa matanya terpejam. Berharap sedikit kejaiban tuhan untuknya. Sedikit saja.
Ia masih ingin hidup. Ia belum berhasil merebut perusahaan ayahnya dan mengungkap ketidak adilan yang dialami sang ayah. Masih banyak tugas yang harus ia selesaikan. Ia harus hidup bagaimanapun caranya.
Bagas tergelak puas dengan kelakuannya. Ia berbalik dan berjalan meninggalkan dek.
Byur!
Sayup ia mendengar suara sesuatu terjatuh ke dalam air. Ia segera berlari kembali ke pinggir dan melihat dengan senter. Tapi ia tidak menemukan apapun di bawah sana. Jadi ia kembali lagi menuju ke dalam.
Bagas tertawa dengan sangat puas. Ia kemudian memerintahkan anak buahnya untuk melajukan kapal kembali ke pelabuhan.
Di dalam perjalanan, Bagas menghubungi ibunya.
“Bu, aku sudah berhasil menyingkirkan Nawa. Aku memanfaatkan dendam Genta kepada Nakamura. Sekarang, giliran Ibu.” Tegasnya.
Di kamarnya, dianty mengu lum senyum penuh kemenangan. Bangga karna putranya itu berhasil menyingkirkan halangan terbesarnya.
“Baiklah, segeralah kembali.”
“Baik, Bu.” Bagas menutup sambungan telfon dengan seringai kepuasan. Bibirnya tersenyum lebar sekali. Merasa puas karna sudah berhasil menghabisi pria yang membunuh tunangannya, Harumi.
Dalam keputus asaan harapan Nawa seperti melihat malaikat yang turun dan menghampirinya. Mungkin itu adalah malaikat maut yang siap mencabut nyawanya. Tanpa sadar, Nawa tersenyum kepada malaikat dalambayangannya itu kemudian menutup matanya. Bersiap menyambut kematian.
__ADS_1