Menikahi Iblis Berwajah Tampan

Menikahi Iblis Berwajah Tampan
BAB 27. Makan Malam Dingin.


__ADS_3

Nawa sudah selesai mandi, ia keluar dari kamar mandi dan berjalan ke ruang ganti. Namun saat ia hendak membuka pintu, pintu itu masihterkunci dari dalam. Yang berarti Anis masih berada di dalam.


Grek. Grek.


Nawa berusaha untuk membuka pintu itu, namun tidak bisa terbuka.


“Anis! Kau masih di dalam?!” Pekik Nawa sambil terus berusaha membuka  pintu.


Anis yang terkejut langsung kelabakan. Ia segera mengembalikan barang-barangnya ke dalam lemari kemudian berlari untuk membuka pintu.


“Kau tidur apa bagaimana? Berpakaian saja selama itu.” Dengus Nawa setelah pintu terbuka.


“Aku, sulit untuk mengancingkan ini.” Tanpa malu Anis menunjukkan pungungnya dengan kancing gaun yang belum tertutup dengan sempurna.


Dengan masih berbalut handuk di bagian bawah tubuhnya, Nawa menghela nafas sambil berjalan kembali mendekati Anis. Ia membantu Anis untuk mengancingkan gaunnya. Ada yang berdesir di hati Nawa saat melihat punggung mulus yang di tumbuhi bulu halus itu saat tangannya tidak sengaja menyentuhnya.


sial!  Maki Nawa dalam hati.


“Dimana kalungmu?” Tanya Nawa saat tidak mendapati kalung pemberian Dianty di leher gadis itu.


“Hah? Kalung?” Anis meraba lehernya dan benar tidak mendapati kalungnya disana. “Ah, tunggu sebentar.” Ujar Anis yang kemudian kembali ke lemari pakaiannya dan mengambil kalung yang terjatuh di dekat pintulemari. “Ini  dia.”


Anis segera mengenakan kalung itu dan keluar dari ruang ganti. Sementara Nawa menyelesaikan berpakaian, Anis menunggu di ruang tamu dan duduk di sofa.


Nawa dan Anis keluar dari penthouse bersama-sama. Mereka pergi tanpa di temani oleh Yoham karna Yoham sedang ada pekerjaan.


Sepanjang perjalanan, Anis memilih untuk lebih banyak diam daripada membuat Nawa marah dan mencekiknya lagi. Ia hanya menyibukkan diri bermain ponsel sambil sesekali memperhatikan jalan raya.


Tidak lama kemudian, mobil yang di kemudikan Nawa sudah memasuki area perumahan elit di kawasan Jakarta Selatan. Setelah menghentikan mobil di sebuah rumah mewah berlantai tiga, Nawa mengajak Anis untuk turun dari mobil.

__ADS_1


“Ayo.”


Anis menurut saja saat Nawa menarik tangannya dan meletakkanya di lengan pria itu. Ia hanya sibuk mengagumi kemewahan yang tersaji di hadapannya.


“Selamat datang, Tuan, Nona.” Sapa kepala pelayan pria di rumah itu.


“Malam.” Jawab Nawa seadanya. Nawa membenci kepala pelayan itu. Dia adalah kaki tangan Dianty yang paling setia. Dialah yang bertanggung jawab atas sebagian kecil hancurnya hidup Nawa. Kepala pelayan yang sudah bekerja di keluarganya bahkan saat ia masih kecil itu, berperan besar dalam meninggalnya sang ibu. Wajar jika Nawa menaruh dendam dan kebencian kepada pria itu.


“Mari saya antar, nyonya sudah menunggu anda.”


Nawa dan Anis mengikuti pria itu berjalan ke arah ruang makan. Saat melewati koridor, netranya mengarah ke sebuah figura ayah dan ibunya yang memang dari dulu sudah tergantung di sana. Bahkan setelah menikah dengan Dianty, ayahnya tidak mengijinkan siapapun untuk memindahkan figura itu. Sepertinya Dianty menghormati keinginan mendiang suaminya itu.


Hal itu menyulut rasa sakit di hati Nawa. Ia menghentikan langkah sejenak dan menatap trenyuh figura itu. Hal inilah yang tidak ia sukai jika bertandang ke rumah itu. Semua kenangan yang ada di sana amat menyakitkan untuknya. Kerinduan akan sosok ke dua orang tuanya, terutama sang ibu, meluluh lantahkan pertahanannya dan membuat emosinya meningkat. Ia jadi membenci semua yang ada di rumah itu.


Diam-diam, Anis terus memperhatikan ekspresi Nawa. Gadis itu menangkap genangan yang muncul di sudut mata Nawa. Ia beralih mengikuti Nawa memperhatikan figura itu.


“Siapa mereka?” Tanya Anis lirih.


“Tuan...” Lirih kepala pelayan memperingatkan agar Nawa dan Anis segera menemui Dianty.


Mereka kembali berjalan ke ruang makan. Disana, sudah ada Dianty dan ke dua putranya yang memang sedang menunggu kedatangan Nawa.


“Duduklah.” Ujar Dianty mempersilahkan mereka duduk.


Nawa diam saja, ia hanya melengos melirik kepada Bagas yang nampak sibuk bermain game di ponselnya. Sementara Barra bersikap ramah sambil mengangkat tangannya untuk menyapa Nawa seperti yang biasa dilakukannya.


Anis yang ikut duduk di samping Nawa bisa merasakan atmosfer aneh yang mengelilingi mereka. Ia melirik sekali kepada Nawa sebelum Dianty mengajaknya mengobrol.


“Jadi bagaimana, Anis, apa putraku memperlakukanmu dengan baik?” Dianty membuka obrolan sambil menunggu pelayan menyiapkan makan malam mereka.

__ADS_1


Anis tercekat. Ia tidak tau harus menjawab apa. Ia ingin jujur namun ia takut kepada Nawa karna pria itu kini sudah menatap tajam padanya.


dia hampir membunuhku!


“Ba-baik, Ibu. Kami sangat baik.” Jawab Anis pada akhirnya.


“Aku lega mendengarnya.” Ujar Dianty dengan senyum samarnya. Ia sudah tidak sabar untuk meminta kalung itu dari Anis dan melihat semuanya. “Senangnya. Akhirnya di rumah ini tidak hanya ada aku saja.”


“Ku dengar kau sudah berhasil mendapatkan investor? Memang sih, kau hebat dalam pekerjaan.” Ujar Barra. Entah untuk memuji atau menyidir Nawa.


“Kenapa? Sekarang kau ingin mengambil alihnya lagi?” Tanya Nawa sambil menyuapkan makan malam ke mulutnya.


Rupanya Barra tersinggung dengan ucapan Nawa. Ia melotot kepada saudara tirinya itu.


“Sudahlah, selesaikan makan malam kalian.” Dianty menghentikan perang mata antara keduanya.


Sedangkan Anis sibuk sesekali memperhatikan Bagas yang duduk di hadapannya. Pria yang ia temui bersama Dianty tempo hari itu, nampak hanya diam saja tanpa mau ikut campur dalam setiap pembicaraan yang berlangsung dan lebih memilih untuk sibuk dengan gamenya.


Selesai makan malam, Dianty mengajak Anis untuk berkeliling di rumah itu. Mengobrol kesana kemari dan bercerita tentang kedekatan Anis dengan Tahara. Anis menceritakan secukupnya saja karna memang ia tidak terlalu dekat dengan Tahara.


Dianty mengajak Anis untuk melihat ruang kerjanya. Anis sempat kagum dengan ruang kerja yang luas itu. Didalamnya dihiasi berbagai furniture klasik. Di sisi kiri dinding, terdapat rak buku yang memenuhi seluruh dinding.


“Lepaskan kalungmu.” Pinta Dianty secara terbuka.


“Ya?” Anis tidak mengerti.


“Lepaskan kalungmu.” Pinta Dianty lagi.


Walaupun tidak mengerti kenapa Dianty memintanya melepaskan kalungnya, namun Anis tetap melepaskan kalung itu dan memberikannya kepada Dianty.

__ADS_1


Setelah menerima kalung itu, Dianty memanggil salah satu aistennya untuk masuk ke dalam ruang kerjanya. Ia memberikan kalung itu kepada asisten itu yang kemudian duduk di meja dan membuka laptop. Pria muda itu nampak mengeluarkan sesuatu dari dalam kalung itu dan menyambungkannya ke dalam laptop.


Anis hanya diam sambil terus memperhatikan setiap gerak-gerik aisten Dianty itu. Ia tidak menyangka jika kalung yang selalu ia kenakan itu bukanlah kalung biasa melainkan sebuah perekam. Ia menatap tidak percaya kepada Dianty. Ternyata selama ini wanita itu tidak pernah mempercayainya.


__ADS_2