
Setelah memastikan Anis sudah terlelap, perlahan Nawa bangun dari sisi ranjang dan pergi ke ruang kerjanya. Ia membuka brangkas kecil yang ada di laci meja kerjanya, kemudian mengambil sepucuk senjata api yang ia simpan di dalamnya.
Wajahnya memang datar. Namun sekarnagia sedang berada dalam emosi tingkat tinggi. Ia keluar dari ruang kerja dan menyambar kunci mobil lainnya.
Langkah Nawa melebar. Ia masuk ke dalam mobil dan segera melajukan mobilnya menuju ke sebuah tempat.
Nawa menghentikan mobil di depan sebuah studio. Ya, studio milik Bagas. Setelah memarkirkan mobilnya, ia segera turun dan langsung menendang pintu masuk dengan kakinya. Sementara ia memegang senjata di tangan kanan.
Beberapa anak buah Bagas yang sedang tertidur pulas terkejut dan angsung bangun. Menatap heran kepada Nawa.
Tidak menunggu ba-bi-bu, Nawa segera menghajar mereka satu-persatu.
Mendengar keributan di luar kamarnya, Bagas segera keluar. Ia bahkan hanya mengenakan celana pendek. Saat pintu terbuka, naw abisa melihat ada seorang wanita yang sedang tertidur di ranjang Bagas.
“Apa-apaan kau ini? Membuat keributan di pagi buta seperti ini.” Tanya Bagas. Bola matanya nampak tidak fokus. Aroma minuman keras menyeruak saat ia membuka mulut.
Prak!
Tanpa aba-aba, Nawa memukul kepala Bagas dengan pistolnya sampai pria itu tumbang dan tersungkur di lantai tak sadarkan diri.
Nawa menggeret satu kaki Bagas dan memasukannya ke dalam Bagasi mobilnya. Ia mengikat tangan dan kaki pria itu serta menyumpal mulutnya dengan lap mobil kotor yang ada di Bagasi. Setelah itu ia menutupnya dan kembali melajukan mobil menuju tempat favoritnya untuk menghajar musuhnya.
Sebuah gudang kosong yang berada di dekat hutan di daerah bandung, menjadi tujuannya.
Sesampainya di sana, Nawa segera membuka Bagasi. Ternyata Bagas masih pingsan. Ia segera mengambil jerigen berisi bensin dan langsung menyiramkannya ke wajah Bagas.
Bagas gelagapan. Ia tersadar dan hendak memberontak. Namun tangan dan kakinya terikat dan mulutnya tersumpal kain kotor dan bau oli. Ditambah kini sekujur tubuhnya telah basah oleh bensin yang menyengat.
“Mmmm... mmmmm.. mmmm..” entah apa yang ingin di katakan oleh Bagas.
Ekspresi Nawa datar. Ia sama sekali tidak mempedulikan erangan Bagas. Ia menarik keluar dan menggeret Bagas ke samping mobil. Melemparkan tubuh Bagas sampai terpental mengenai sisi mobil.
Bagas meng-aduh. Punggungnya sakit mengenai body mobil. Seketika rasa mabuknya menghilang entah kemana. Ia menatap Nawa ketakutan. Bagas menyadari sepenuhnya kalau posisinya sedang tidak menguntungkan. Apalagi, tatapan Nawa seperti haus darah. Penuh kemarahan. Seketika ia sadar kalau nyawanya sedang terancam.
Nawa menarik paksa kain yang menyumpal mulut Bagas. Seketika bagsa terbatuk-batuk dan hampir muntah.
“Seharusnya malam itu aku memastikan kalau kau benar-benar sudah mati.” Geram Bagas. Semakin memancing emosi Nawa.
__ADS_1
Plak!
Nawa menampar pipi Bagas dengan sangat kuat sampai kepalanya menoleh. Rasa perih menjalar di sekitar kepala pria itu.
Tangan Nawa bergerak dengan sangat cepat. Ia mencengkeram leher Bagas kuat. Menghentikan alur pernafasan musuhnya itu.
Nawa dendam. Bukan hanya karna Bagas sudah kampir melenyapkannya. Marahnya semakin menjadi saat melihat kondisi Anis yang terluka. Dan ia, harus melampiaskannya kepada seseorang. Dan Bagas adalah samsak terbaik untuk diberikan hadiah kepada Dianty.
Nawa memukuli wajah Bagas tanpa ampun. Sampai berdarah-darah. Sampai lemas tak bertenaga. Sampai Bagas memohon untuk di habisi. Setelah Bagas sudah tak berdaya, ia melepaskan semua ikatannya dan mendudukkannya di balik kemudi.
Sebelum menutup pintu, Nawa memfoto Bagas beserta mobilnya dan mengirimkannya kepada Dianty. Setelah itu, ia melemparkan korek api ke pangkuan Bagas. Seketika api langsung berkobar melahap apapun yangada di sekitarnya.
Nawa menelfon Yoham dan menyuruh untuk menjemputnya. Sambil menunggu, ia terus melihat kobaran api yang tengah melahap mobilnya beserta Bagas.
Sementara di rumah, Dianty yang baru saja menerima kiriman foto dari Nawa menjadi marah luar biasa. Bagaimana tidak, ia melihat putranya yang babak belur sedang duduk di balik kemudi mobil. Di tambah pemandangan sebuah korek api yang menyala.
‘Terimakasih sudah mengusik istriku.’
Begitulah pesan Nawa di bawah foto.
Sementara Nawa, sudah pulang saat rombongan Dianty tiba di lokasi. Dia hanya mendapati sebuah mobil yang tinggal kerangkanya.
Dianty berteriak histeris mendapati tubuh anaknya sudah hangus menjadi arang.
Sesampainya di rumah, Nawa bergegas mandi ketika Anis masih terlelap. Setelah mandi ia menghampiri istrinya itu dan mengecek kondisinya. Menempelkan tangan ke kening Anis untuk mengukur suhu tubuh.
Suhu tubuh Anis normal. Itu membuat Nawa menghela nafas lega. Ia kemudian mencium kening Anis lamaa sekali.
Merasa mendapat sedikit gangguan, Anis membuka matanya perlahan. Ia melihat wajah Nawa yang berada sangat dekat dengannya.
“Bagaimana keadaanmu? Masih sakit?”
“Masih. Tapi tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa.”
Mendengar kata ‘terbiasa’, membuat hati Nawa semakin pias. Sakit. Nyeri. Ia membayangkan tubuh Anis sering menerima luka seperti itu. Mencelos.
“Kau darimana? Tadi aku terbangun dan tidak melihatmu.”
__ADS_1
“Aku membalas perbuatan orang yang telah melakukan ini padamu.”
“Aku benar-benar ingin menghabisi Dianty.” Geram Anis.
“kita akan melakukannya nanti.” Nawa berjanji. Ia mengelus puncak kepala Anis lembut.
“Nawa, tolong jangan beritahu ayah tentang kondisiku.” Pinta Anis bersungguh-sungguh.
“aku tau.” Jawab Nawa menganggukkan kepala.
“dengan begini, aku tidak lagi punya alasan untuk mundur. Padahal semalam aku sempat berfikir untuk mundur dari kasus ini. Aku dan Dianty, kami sudah terlibat sangat jauh. Dan sudah tidak mungkin untuk mundur.”
“tidak apa. Aku akan melindungimu.”
Anis meraih tangan Nawa dari kepalanya dan meletakkannya di pipinya. Mereka saling tatap dengan pias. Nawa kemudian mendaratkan kecupan singkat di bibir istrinya itu.
“aku akan membuatkanmu sarapan.” Ujar Nawa. Ia bangun dan keluar dari kamar.
Tidak lama kemudian, ia sudah kembali dengan sepiring telur mata sapi beserta roti isi daging slice. Dengan telaten ia menyuapi Anis sampai makanannya habis.
“kau tidak makan?”
“nanti saja. Aku tidak lapar.” Jawab Nawa. “Anis?”
“hem?”
“aku harus ke kantor, apa tidak apa-apa kalau kau ku tinggal di rumah? Aku akan memperketat penjagaan.”
“pergilah. Aku tidak apa-apa. Hanya luka gores saja. Aku bahkan sudah bisa menghajar Dianty sekarang juga. Hehehehehe.” Anis tau, Nawa sedang mengkhawatirkan dirinya. Ia bisa melihat dari netra pria itu.
Nawa tersenyum. Ia kembali mengelus kepala Anis dan mendaratkan kecupan di keningnya.
“aku janji akan segera kembali. Begitu pekerjaan kantor sudah selesai, aku akan segera pulang.”
“tidak usah terburu-buru. Selesaikan saja pekerjaanmu dengan baik. Kau baru saja mendapatkan perusahaanmu kembali. Jangan sia-siakan kesempatan ini. Aku bisa menjaga diri di rumah. Kau tidak perlu khawatir.”
Nawa terdiam. Ia seperti sedang berfikir. Tega tidak tega meninggalkan Anis di rumah dalam kondisi yang belum sepenuhnya pulih seperti itu. Tapi, ia juga membenarkan apa yang di ucapkan oleh Anis, kalau ia tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan. Begitu sulitnya ia mendapatkan perusahaannya kembali.
__ADS_1