
“Bagaimana? Suka?”
“Ini indah sekali. Waaaowww.” Anis mengagumi bentangan pemandangan yang menyihir mata. Lampu berkerlap-kerlip. Seperti bintang.
“Tunggu sebentar disini, aku akan ke kamar mandi dulu.” Pamit Nawa.
“Baiklah.”
Nawa berjalan pergi ke kamar mandi. Ia mencuci tangan dan wajahnya. Nawa ingin menghilangkan kantuk. Karna sejak semalam ia tidak tidur. Dan kelopak matanya memberat.
Nawa membasuh wajahnya dengan kasar. Ia ingin mengusir rasa kantuk yang sedang bergelayut di kelopak matanya.
Saat ia mengangkat wajahnya, rasa kantuknya seketika menghilang saat melihat sesosok pria yang sedang bersedekap berdiri di belakangnya.
Bagaimana Nawa tidak terkejut, pria itu adalah Bagas.
Bagaimana Bagas bisa ada disini?
“Waahhh, ternyata kau sedang berbulan madu, ya?” Sindir Bagas.
“Bagaimana kau bisa ada disini?” Tanya Nawa. Ia melanjutkan mencuci muka. Mencoba bersikap biasa saja setelah tau ada Bagas di sana
“Aku merindukan Rumi, jadi aku datang.”
Mendengar nama Rumi disebut, membuat Nawa melihat kepada Bagas lewat cermin di depannya.
“Di dunia ini masih banyak gadis yang bernyawa. Kenapa masih mengharapkan gadis yang sudah mati?” Desis Nawa.
“Astaga, aku ingin menyumpal mulutmu itu.” Maki Bagas.
Nawa tidak menggubris. Ia mengeringkan tangannya kemudian ngeloyor pergi begitu saja. Malas sekali melihat wajah Bagas.
Setelah dari kamar mandi, Nawa kembali menghampiri Anis yang sedang sibuk berselfi ria dengan ponselnya. Saat jepretan terakhir, Nawa segera bergabung dan langsung mencium pipi Anis dengan mesra. Dan jadilah foto saat bibir Nawa menempel di pipi Anis.
“Ya ampun. Kau mengejutkanku.” Keluh Anis. Padahal wajahnya sudah merona.
__ADS_1
Nawa hanya tersenyum saja. Kemudian mengarahkan tubuh Anis ke depan kaca untuk kembali menikmati pemandangan. Sementara ia memeluk gadis itu dari belakang. Melingkarkan tangannya di perut Anis.
Sungguh, hati Anis berdegup dengan sangat kencang. Merasakan sensasi mendebarkan yang penuh cinta itu.
Nawa diam. Tidak memberitahu tentang pertemuannya dengan Bagas. Ia tidak ingin Anis merasa tergangu dengan itu.
Saat Nawa menoleh ke belakang, ia melihat Bagas yang juga tengah memperhatikan mereka dengan tatapan dingin. Lalu, Bagas segera keluar dari sana.
Nawa menghela nafas lega karna Anis tidak melihat Bagas. Ia benar-benar tidak ingin di ganggu oleh kehadiran musuhnya itu.
Lebih dari 1 jam mereka menghabiskan waktu disana. Sebelum rasa kantuk Nawa kembali bergelayut di kelopak matanya. Untungnya Anis mengetahui hal itu.
“Apa kau mengantuk?”
“Hem.” Nawa mengangguk.
“Ya ampun. Kenapa tidak bilang. Aku lupa kalau semalam kau pulang pagi. Ya sudah. Ayo kita pulang saja.” Ajak Anis setengah memaksa. Dia benar-benar merasa tidak enak hati kepada Nawa. Pria itu menahan kantuk demi bisa menghabiskan waktu bersama dengannya.
“Baiklah. Ayo.” Nawa kembali menggandeng mesra tangan Anis. Mereka turun dari tempat itu dan berjalan ke tempat parkir.
Sambil menunggu sopir datang, Nawa dan Anis duduk manis di kursi belakang.
Tidak lama kemudian, datang seorang pria muda dan langsung menghampiri Nawa. Nawa yang memang sudah mengenal pria itu hanya membiarkan saja pria itu masuk dan duduk di kemudi.
Mobil segera melaju menuju ke mansion Nakamura. Sesampainya disana, Nawa segera masuk ke dalam kamar dan langsung melemparkan diri ke atas kasur. Ia bahkan lupa melepas sepatunya.
Anis yang melihat itu, berjalan mendekati Nawa. Ia membantu Nawa melepas sepatunya. Membenahi posisi pria itu kemudian menyelimutinya.
Setelah selesai, Anis pergi ke kamar mandi dan membersihkan wajahnya. Kemudian ia menyusul Nawa tidur di sebelah pria itu. Bahkan hanya butuh beberapa menit saja sampai Nawa benar-benar tertidur pulas. Terlihat dari suara nafasnya yang terdengar teratur.
Nawa mengerjap-ngerjapkan matanya yang terasa masih sangat berat untuk terbuka. Ia terganggu dengan getaran ponsel yang masih ada di saku celananya. Ia bahkan lupa untuk mengeluarkan ponsel itu dari sana saat sebelum tidur tadi.
Dengan malas Nawa merogoh ponsel itu dari dalam saku. Kemudian ia menempelkannya tanpa melihat identitas si penelfon.
“Ya ampun, Nawa. Apa kau tidur? Pantas saja aku mengirimimu pesan tapi kau tidak membacanya. Bangunlah. Kau harus melihat apa yang ku kirimkan padamu.”
__ADS_1
Nawa mengernyit. Ia memaksa kelopak matanya untuk terbuka dan melihat siapa yang menelfonnya. Itu Bagas. Ia malas menanggapi, jadi ia langsung mematikan telfon itu. Mengganggu saja.
Karna gangguan Bagas, Nawa sudah setengah bangun. Ia melihat ada pesan yang masuk ke ponselnya. Ia segera membuka pesan itu. Pesan video dari Bagas.
Nawa meraih earphone dari atas nakas kemudian memakainya di kedua telinganya. Ia tidak ingin mengganggu Anis yang sedang terlelap di sampingnya dengan suara video yang akan ia putar.
Setelah earphone sempurna terpasang, Nawa segera memutar video itu dengan duduk bersandar di dipan ranjang. Sebenarnya ia malas, tapi ia sudah terlanjur penasaran dengan video yang di kirimkan oleh Bagas itu.
Video itu hanya berdurasi 5 detik saja. Tapi itu sudah cukup membuat darah Nawa mendidih dibuatnya. Ratusan pertanyaan mulai berjubel mengenai kelanjutan video itu.
Dua kali Nawa memutar video itu. Dan rasa marahnya semakin memuncak. Ia menoleh kepada Anis yang nampak pulas di sampingnya. Keningnya berkerut. Nafasnya jadi memburu karna emosi yang tidak bisa ia tahan lagi.
Rasa kantuknya? Entah sudah menghilang kemana.
Nawa segera menelfon kembali nomor Bagas. Tersambung. Ia berjalan keluar kamar dan berdiri di teras dengan dada yang bergemuruh.
“Bagaimana? Apa kau suka?”
“Apa maksudmu mengirimkan ini?” Tegas Nawa.
“Datanglah ke alamat yang kukirimkan. Sendiri.”
“Aku tidak akan tertipu dengan permainan konyolmu itu.”
“Astaga Nawa. Aku tidak sedang bermain-main. Apa kau tidak penasaran dengan video lengkapnya? Datanglah kalau ingin tau yang sebenarnya.”
Tit.
Bagas memutus sambungan telfon secara tiba-tiba. Membuat Nawa semakin emosi. Sedetik kemudian, pesan masuk ke dalam ponsel Nawa. Bagas mengirimkan alamat pertemuan dan sebuah foto yang semakin membuat dada Nawa memanas marah. Foto seseorang yang tengah menyaksikannya semalam saat ia menghabisi pembunuh tuan Nakamura.
Fikiran Nawa menghitam. Dadanya yang bergemuruh dalam dekapan emosi membuatnya gelap mata. Ia tidak mempedulikan para anak buahnya yang menyapanya saat berpapasan. Ia hanya terus berjalan ke arah garasi dan masuk ke dalam mobil.
Menekan tombol start kemudian melaju begitu saja tanpa pengawalan dari siapapun. Menginjak pedal gas dengan sangat kuatnya.
Fikiran Nawa sedang kalang kabut. Saat ini, yang dia inginkan hanya bertemu dengan Bagas dan mendengar penjelasan dari pria itu. Setelah itu, dia akan menghabisinya.
__ADS_1
Nawa merasakan rasa nyeri di dadanya yang semakin menjadi. Rasa nyeri akibat ditelan sebuah kekecewaan.